Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: PENDAFTARAN
Dua hari berlalu sejak Ha-neul mengunjungi arena bawah tanah.
Ia menghabiskan waktu itu untuk memulihkan tenaga, memastikan Soo-ah nyaman di losmen, dan berlatih ringan di atap losmen saat malam hari. Tubuhnya sudah pulih sepenuhnya dari perjalanan melelahkan. Kini ia siap untuk langkah selanjutnya.
Pagi itu, Soo-ah bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di dipan, menatap kakaknya yang sedang bersiap di depan cermin pecah yang menempel di dinding.
"Oppa mau ke mana?"
Ha-neul menoleh. "Ada urusan. Oppa akan daftar turnamen."
Soo-ah terdiam. Lalu perlahan ia bertanya, "Turnamen... yang berbahaya itu?"
"Tidak terlalu berbahaya. Oppa sudah lihat levelnya. Masih bisa diatasi."
Tapi Soo-ah tidak percaya begitu saja. Ia turun dari dipan, berjalan mendekat, dan menarik lengan kakaknya.
"Oppa, jangan bohong. Soo-ah tahu itu berbahaya. Tapi Soo-ah juga tahu Oppa harus lakukan ini." Matanya bulat, serius. "Cuma... Oppa janji, kalau sudah dapat uang cukup, kita cari kerja lain. Jangan terus-terusan bertarung."
Ha-neul tersenyum. Ia mengusap kepala adiknya. "Janji."
---
Arena bawah tanah itu bernama "Lingkaran Darah" — nama yang cukup menggambarkan isinya.
Ha-neul datang siang hari, saat arena sepi. Hanya beberapa orang yang lalu lalang, membersihkan bekas pertarungan malam sebelumnya. Bau anyir darah masih tercium samar, bercampur dengan bau arak tumpah dan keringat.
Pria tua berkumis tebal yang kemarin menyapanya sedang duduk di sudut, menghitung uang. Ia mendongak saat Ha-neul mendekat.
"Oh, bocah kemarin. Mau nonton lagi?"
"Mau daftar."
Pria itu mengangkat alis. Tangannya berhenti menghitung uang. Ia mengamati Ha-neul dari ujung rambut sampai ujung kaki—tubuh kurus, pakaian tambalan, tanpa senjata bawaan.
"Kau? Daftar jadi petarung?" Ia tertawa keras. "Bocah, ini bukan tempat latihan. Di sini orang bisa mati. Apa kau sudah siap mati?"
Ha-neul menatapnya tenang. "Saya sudah siap."
Tawa pria itu berhenti. Ia menatap Ha-neul lebih lama, mencari tanda-tanda kebohongan atau ketakutan. Tapi mata Ha-neul kosong—bukan kosong karena takut, tapi kosong seperti air tenang yang dalam.
"Berani juga kau." Pria itu menggaruk dagunya. "Baik, ikut aku."
Ia membawa Ha-neul ke ruangan belakang. Sebuah ruangan sempit dengan meja kayu dan tumpukan kertas. Di dinding tergantung berbagai macam senjata—pedang, pisau, cambuk, bahkan kapak besar.
"Duduk."
Ha-neul duduk. Pria itu mengambil formulir sederhana—kertas kasar dengan tulisan tangan.
"Nama?"
"Kang Ha-neul."
"Usia?"
"Delapan belas."
"Asal?"
Ha-neul ragu sejenak. "Tidak punya klan. Yatim piatu."
Pria itu mengangkat alis lagi, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Ia menulis sesuatu di kertas.
"Pengalaman bertarung?"
"Pernah melawan dua orang sekaligus. Menang."
"Lawan siapa?"
"Preman."
Pria itu tersenyum tipis. "Preman jalanan beda dengan petarung arena. Tapi sudahlah, nanti kau lihat sendiri." Ia meletakkan pena. "Syaratnya: setiap pertarungan, kau dapat dua puluh persen dari total taruhan yang masuk untuk pertarunganmu. Kalau kau menang, kau dapat bonus lima koin perak. Kalau kalah dan selamat, kau tetap dapat sepuluh persen sebagai uang santunan. Kalau mati..." Ia mengangkat bahu. "Ya sudah."
Ha-neul mengangguk. "Kapan saya bisa mulai?"
"Besok malam. Lawan pertamamu..." Pria itu membuka buku catatan tebal. "...Goo Do-shik. Julukannya Beruang Gila. Pengalaman sepuluh tahun, rekor 43 menang, 12 kalah, 5 mati di arena. Kau cocok?"
Ha-neul merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi ia tetap tenang. "Cocok."
Pria itu mengangguk puas. "Nama aku Ketua Jang. Panggil saja begitu. Selamat datang di Lingkaran Darah, Kang Ha-neul. Semoga kau tidak mati besok."
Ia menyodorkan secarik kertas—tanda terima pendaftaran. Ha-neul menerimanya, melipat, dan menyimpannya di saku.
Saat ia berbalik, Ketua Jang memanggil. "Hei, bocah."
Ha-neul menoleh.
"Ada yang aneh dengan matamu. Aku sudah puluhan tahun di sini, melihat ratusan petarung. Mata mereka biasanya penuh ambisi, atau kosong karena putus asa. Tapi matamu..." Ia menggeleng. "Matamu seperti orang yang sudah melihat neraka. Kau yakin belum pernah bertarung di arena?"
Ha-neul tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu pergi.
---
Sore harinya, Ha-neul kembali ke losmen. Soo-ah sedang duduk di depan pintu kamar, membaca buku pinjaman dari tetangga losmen—seorang gadis sebaya yang ternyata ramah.
"Soo-ah, Oppa pulang."
Adiknya menutup buku, bangkit. "Gimana?"
"Besok malam lawan pertama."
Soo-ah menggigit bibir. "Oppa pasti bisa."
Ha-neul tersenyum. Ia masuk ke kamar, duduk di lantai. Soo-ah ikut duduk di sampingnya.
"Oppa, tadi Soo-ah ngobrol sama Mi-ji—itu tetangga kita. Katanya di pasar ada lowongan jaga toko herbal. Gajinya kecil, tapi bisa sambil belajar ramuan."
"Oh ya?"
"Iya. Mi-ji bilang pemilik toko itu orang tua baik hati. Mau ngajarin siapa saja yang serius."
Ha-neul menatap adiknya. "Kau mau coba?"
"Kalau Oppa izin."
"Tentu saja. Itu ide bagus." Ha-neul mengelus kepala Soo-ah. "Kau bisa belajar ramuan, dapat uang tambahan, dan Oppa tidak perlu khawatir kau di sini sendiri."
Soo-ah tersenyum lebar. Lalu tiba-tiba ia bertanya, "Oppa, besok... Soo-ah boleh nonton?"
Ha-neul mengerutkan kening. "Tidak. Tempat itu berbahaya. Bukan buat anak-anak."
"Aku sudah enam belas."
"Tetap tidak. Oppa tidak mau kau lihat Oppa bertarung. Apalagi kalau..." ia tidak melanjutkan.
Soo-ah mengerti. Ia memeluk lengan kakaknya. "Oppa pasti menang. Soo-ah tunggu di sini, siapin ramuan buat Oppa kalau capek."
Ha-neul tersenyum hangat. "Itu ide bagus."
---
Malam itu, saat Soo-ah tidur, Ha-neul duduk di atap losmen. Bulan sabit menggantung rendah, langit bertabur bintang. Angin malam berhembus sejuk.
"Gugup?" suara Hyeol-geon.
"Sedikit."
"Wajar. Lawan pertamamu bukan preman kampung. Dia petarung profesional. Tapi kau punya keunggulan."
"Apa itu?"
"Dia tidak tahu apa yang kau bisa. Sedangkan kau, besok akan lihat semua kelemahannya sebelum bertarung. Gunakan itu."
Ha-neul mengangguk. Ia meraba cincin di jarinya.
"Guru, terima kasih sudah menemaniku."
Hyeol-geon diam sejenak. Lalu, "Heh. Sudah tugas guru menemani murid bodoh. Jangan baper."
Ha-neul tersenyum. Ia memandangi langit malam, membayangkan besok.
Lawan pertamanya. Beruang Gila.
Ia akan lihat siapa yang benar-benar gila.