Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Mbah Kar Wafat
"Mas... Mbah... Mbah mau pulang."
Suara itu lirih. Hampir tak terdengar di tengah deru mesin ICU. Mbah Kar terbaring di ranjang. Wajahnya pucat. Dari hidungnya, selang oksigen. Dari tangannya, infus. Tapi matanya masih tajam menatapku.
"Pulang, Mas. Mbah mau ketemu Risma."
Dokter bilang tak boleh. Kondisinya drop. Tekanan darah rendah. Paru-paru terisi cairan. Jika dipaksa pulang, risikonya besar.
Tapi Mbah Kar tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, saat pertama kali ia terima kami di rumahnya. Senyum yang sama seperti saat ia beri kami makan, saat ia gendong Risma, saat ia ajari Budi ngaji.
"Aku takut, Mas. Takut kalau terlambat."
Aku tahu maksudnya. Ia takut mati tanpa bisa memeluk Risma sekali lagi.
Aku lihat Dewi. Ia mengangguk. Aku lihat dokter. Ia menghela napas.
"Bawa pulang, Pak. Saya akan siapkan surat pengantar."
Malam itu, aku bawa Mbah Kar pulang. Dengan ambulans. Dengan tabung oksigen. Dengan hati yang hancur.
---
Ambulans melaju pelan di jalanan malam. Lampu-lampu kota berlalu seperti bias cahaya di mataku yang sembab. Di dalam, Mbah Kar terbaring. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Infus di tangannya. Tapi matanya terbuka. Menatap langit-langit ambulans dengan tenang.
Aku duduk di sampingnya. Pegang tangannya. Tangannya dingin. Sangat dingin.
"Mas." Suaranya lirih. Hampir tak terdengar di deru mesin.
"Aku di sini, Mbah."
Mbah Kar menoleh. Tersenyum. Senyum tipis yang selalu ia punya. Senyum yang sama seperti saat pertama kali kami datang ke rumahnya dulu. Saat kami tak punya apa-apa. Saat ia buka pintu dan berkata, "Masuk, le. Ini rumah Mbah ya rumah kalian juga."
"Mas, Mbah titip semuanya ya."
Aku pegang tangannya lebih erat. "Mbah sendiri yang jaga. Mbah harus sembuh. Risma butuh Mbah. Budi butuh Mbah."
Mbah Kar menggeleng pelan. "Mas, Mbah udah tua. Sudah waktunya Mbah ketemu istri Mbah. Sudah 10 tahun ia pergi. Mbah kangen."
Air mataku jatuh. Tak bisa kutahan.
"Tapi Mbah, aku belum siap. Aku belum bisa hidup tanpa Mbah."
Mbah Kar usap tanganku. Tangannya lemah. Tapi usapannya terasa hangat. Seperti biasa.
"Kamu bisa, Mas. Kamu kuat. Kamu sudah lewati banyak hal. Risma sakit, rumah kontrakan, semuanya. Kamu tetap bertahan."
"Aku bertahan karena ada Mbah."
"Sekarang bertahan karena ada keluargamu. Risma, Budi, Dewi. Mereka butuh kamu."
Aku hanya bisa mengangguk. Nangis.
Mbah Kar diam sebentar. Lalu berkata lagi.
"Mas, Mbah minta maaf."
"Aku yang minta maaf, Mbah. Aku yang merepotkan Mbah."
Mbah Kar tersenyum. "Nggak, Mas. Kamu bukan repot. Kamu berkah. Risma berkah. Budi berkah. Kalian buat Mbah bahagia di masa tua."
Ia tarik napas. Selang oksigennya berembun.
"Mas, kalung emas istri Mbah... Mbah ikhlas. Buat Risma. Itu hadiah pernikahan kami. Tapi Mbah ikhlas. Risma lebih berharga dari kalung."
Aku nangis makin keras. "Mbah... aku belum bisa bayar..."
"Nggak usah bayar, Mas. Itu hadiah. Dari Mbah buat Risma."
Aku peluk tangannya. Nangis di dadanya. Seperti anak kecil.
Mbah Kar usap kepalaku. Lembut. Seperti dulu, saat aku masih kecil dan tak punya siapa-siapa.
Sepanjang sisa perjalanan, kami diam. Aku pegang tangannya. Ia pegang tanganku. Saling menggenggam. Saling menguatkan.
Di luar, kota berlalu. Lampu-lampu menyala. Orang-orang lalu lalang dengan hidupnya masing-masing. Mereka tak tahu, di dalam ambulans ini, seorang malaikat tanpa sayap sedang dalam perjalanan pulang. Untuk terakhir kalinya.
---
Ambulans berhenti di depan rumah kontrakan. Lampu teras menyala. Dewi sudah menunggu di pintu. Wajahnya tegang. Matanya sembab.
Aku turun. Bantu perawat menurunkan tandu. Mbah Kar digotong masuk. Melewati ruang tamu sempit. Melewati foto-foto keluarga di dinding. Menuju kamar Risma.
Begitu pintu kamar terbuka, Risma di dalam. Terbaring seperti biasa. Matanya terpejam. Napasnya teratur.
Tapi begitu mendengar suara langkah, matanya terbuka.
Dan lihat Mbah Kar.
Matanya langsung basah. Seketika. Tanpa suara. Tanpa isak. Tapi air mata mengalir deras di pipinya.
Tangannya bergerak. Tak terkontrol. Ingin meraih. Ingin menyentuh. Ingin memeluk.
"Risma... Cucuku..." Mbah Kar dipapah ke samping ranjang. Ia duduk pelan. Tangan yang penuh infus meraih tangan Risma.
Begitu tangan mereka bersentuhan, Risma memegang erat. Sangat erat. Jari-jari Risma yang biasanya lunglai, kali ini menggenggam dengan kuat.
Mbah Kar usap air mata Risma. "Jangan nangis, Nak. Mbah di sini. Mbah pulang."
Risma terus menatap Mbah Kar. Tak berkedip. Seperti takut kalau ia berkedip, Mbah Kar akan hilang.
Aku dan Dewi berdiri di pintu. Nangis. Budi di sampingku, pegang celanaku erat.
Mbah Kar bicara pelan. "Cucuku, Mbah sayang kamu. Dari pertama Mbah lihat kamu, Mbah udah sayang. Kamu anak baik. Anak sholehah. Mbah bangga jadi kakek kamu."
Risma nangis. Tapi tak ada suara. Hanya air mata yang terus mengalir.
"Mbah akan jagain kamu dari atas sana, Nak. Mbah doain kamu sembuh. Kamu bisa jalan lagi. Kamu bisa sekolah. Kamu bisa bahagia."
Risma menggenggam lebih erat. Seperti tak mau lepas.
Mbah Kar tersenyum. "Nanti kalau Mbah udah di surga, Mbah tunggu kamu ya. Tapi lama-lama ya. Jangan buru-buru. Nikmati dulu hidupmu. Bahagiakan Bapak Ibumu. Jagain Adikmu."
Ia cium kening Risma. Lama. Penuh cinta.
Risma terisak. Isak tanpa suara. Tapi seluruh tubuhnya bergetar.
Aku hampir rubuh. Dewi pegang aku dari belakang.
Di kamar kecil itu, di atas ranjang sederhana, seorang kakek berpamitan pada cucu kesayangannya. Cucu yang tak bisa bicara. Tapi hatinya bicara. Air matanya bicara. Genggamannya bicara.
Mbah Kar tak pergi dari samping Risma. Ia duduk di sana. Pegang tangannya. Menatapnya. Tersenyum.
Sampai matanya mulai sayu. Sampai napasnya mulai berat.
Aku dan Dewi papah ia ke kamarnya. Tapi sebelum pergi, Mbah Kar cium kening Risma sekali lagi.
"Nanti Mbah ke sini lagi, Nak. Mbah janji."
Risma lihat Mbah Kar pergi. Tangannya masih terulur. Air matanya tak berhenti.
Ia tahu. Mungkin ia tahu. Ini pertemuan terakhir.
---
Mbah Kar istirahat sebentar di kamarnya. Satu jam kemudian, ia minta Budi dipanggil.
"Mas, panggil Budi. Mbah mau ngomong sama dia."
Aku gendong Budi. Bawa ke kamar Mbah Kar.
Budi turun. Duduk di samping Mbah Kar. Wajahnya polos. Belum paham apa yang terjadi. Tapi matanya lihat selang oksigen, lihat infus, lihat Mbah Kar yang pucat. Matanya mulai berkaca.
"Mbah, kok pucet? Sakit ya?"
Mbah Kar tersenyum. "Iya, Nak. Tapi Mbah seneng lihat Budi."
Budi mendekat. Pegang tangan Mbah Kar.
"Mbah, Budi doain Mbah cepet sembuh ya. Budi hafal doa buat orang sakit. Bu RT ngajarin."
Mbah Kar terharu. "Coba bacain, Nak."
Budi pegang tangan Mbah Kar. Pejamkan mata. Lalu baca doa. Pelan. Hafal. "Allahumma rabban naas, adzhibil ba'sa wasyfi anta syaafi laa syifaa-a illa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqaman."
Mbah Kar nangis. Aku nangis. Dewi nangis.
"Pinter... Budi pinter..." Mbah Kar usap kepala Budi.
Budi buka mata. "Mbah, Budi boleh minta sesuatu?"
"Minta apa, Nak?"
"Budi minta Mbah nggak pergi. Budi takut."
Mbah Kar diam. Lalu ia tarik Budi ke pelukannya. Budi kecil. Umur 3 tahun. Belum genap 3 tahun setengah. Tapi ia sudah merasakan kehilangan.
Mbah Kar bisik di telinganya. "Cucuku, Mbah sayang Budi. Mbah bangga punya cucu seperti Budi."
Budi nangis. "Tapi Budi sayang Mbah. Budi nggak mau Mbah pergi."
Mbah Kar usap punggungnya. "Mbah akan selalu sama Budi. Di sini." Ia letakkan tangan Budi di dada Budi. "Di hati Budi. Ingat Mbah? Ingat semua yang Mbah ajarin?"
Budi mengangguk sambil nangis.
"Jadi anak sholeh. Jagain Kakak. Jagain Bapak Ibu. Jangan nakal. Sholat lima waktu. Ngaji. Bantu orang tua. Mbah bangga kalau Budi jadi anak sholeh."
Budi nangis. "Budi janji, Mbah. Budi jadi anak sholeh."
Mbah Kar tersenyum. "Makasih, Nak. Makasih udah jadi cucu Mbah."
Ia cium kepala Budi. Lama. Penuh cinta.
Budi peluk Mbah Kar. Erat. Kuat. Seperti tak mau lepas.
Di luar, angin berhembus. Daun pintu berderit.
Mbah Kar terpejam. Lelah. Tapi senyum masih di bibirnya.
Aku gendong Budi. Bawa keluar.
Budi masih nangis. "Pa, Mbah Kar kenapa? Kok Mbah Kar kayak... kayak mau pergi?"
Aku tak bisa jawab. Aku hanya bisa gendong dia. Nangis.
Dari kamar, Mbah Kar tidur. Sendirian. Tapi senyum di wajahnya.
---
Malam itu, Mbah Kar tidur di samping Risma.
Aku dan Dewi yang gotong ia ke kamar Risma. Ia memaksa. "Mbah mau tidur sama Risma. Terakhir kali."
Kami tak bisa menolak.
Di kamar Risma, Mbah Kar berbaring di samping ranjang Risma. Tikar digelar. Bantal tipis. Selimut lusuh. Tapi ia tersenyum bahagia.
Risma pegang tangannya. Tak lepas. Sepanjang malam.
Aku, Dewi, dan Budi di kamar sebelah. Tak bisa tidur. Kami bergantian jaga. Setiap jam, aku lihat ke kamar Risma. Mbah Kar masih di sana. Bernapas. Masih hidup.
Jam 2 malam. Aku lihat lagi. Mbah Kar terbaring. Risma masih pegang tangannya. Tenang.
Jam 3 malam. Sama.
Jam 4 malam. Mbah Kar batuk. Aku masuk. Tawari minum. Ia minum sedikit. Lalu pegang tanganku.
"Mas, Mbah mau minta maaf."
"Atas apa, Mbah?"
"Kalau Mbah banyak salah. Kalau Mbah suka bawel. Kalau Mbah suka cerewet."
Aku nangis. "Mbah nggak pernah salah. Mbah selalu baik."
Mbah Kar tersenyum. "Mas, jaga mereka. Jangan putus asa. Rezeki Allah luas."
Aku mengangguk. Nangis.
Mbah Kar pegang tangan Risma lagi. Terpejam.
Jam 5. Azan Subuh berkumandang dari masjid dekat rumah. Suaranya merdu. Menenangkan.
Aku bangun. Bergegas ke kamar Risma.
Mbah Kar masih di sana. Masih berbaring. Masih pegang tangan Risma. Tapi tubuhnya dingin.
Dingin sekali.
"Mbah... Mbah!"
Tak ada jawaban.
"Mbah! MBAH!"
Aku pegang tangannya. Dingin. Aku raba nadinya. Tak ada. Aku dekatkan wajahku ke hidungnya. Tak ada napas.
"MBAH! JANGAN, MBAH! JANGAN TINGGAL KAMI!"
Dewi lari masuk. Lihat Mbah Kar. Ia langsung tahu. Ia roboh di sampingku. Nangis. Nangis sejadi-jadinya.
Budi datang. Lihat Mbah Kar. Ia diam. Lalu lari ke Mbah Kar. Goyang-goyang tubuhnya.
"Mbah... Mbah bangun... Budi belum siap... Budi belum mau Mbah pergi..."
Risma di ranjang. Matanya terbuka. Lihat semua. Air matanya mengalir. Tak berhenti. Tangannya masih memegang jari Mbah Kar. Jari yang sudah dingin. Jari yang tak akan pernah bergerak lagi.
Tapi ia tak lepas. Ia genggam erat. Seperti Mbah Kar masih ada. Seperti Mbah Kar masih hidup.
Di luar, azan Subuh masih berkumandang. "Hayya alash shalaah... Hayya alal falaah..."
Mari menuju kebahagiaan.
Mbah Kar telah menemukan kebahagiaannya.
Di sisi Allah.
Bersama istri tercinta.
Meninggalkan kami. Dengan luka. Dengan duka. Dengan cinta yang tak pernah mati.
---
Pemakaman Mbah Kar sore harinya.
Matahari teduh. Awan mendung. Seperti langit ikut berduka.
Tetangga datang. Bu RT, Bu RW, Pak RT, semua. Mereka bantu urus semuanya. Dari memandikan, mengafani, sampai menyolatkan.
Aku lihat jenazah Mbah Kar terakhir kali sebelum dikafani. Wajahnya tenang. Tersenyum. Seperti tidur.
"Terima kasih, Mbah. Terima kasih untuk semuanya," bisikku.
Air mataku jatuh di wajahnya. Perawat makam usap pelan. "Ikhlas, Pak. Almarhum orang baik. Tenang wajahnya."
Aku mengangguk. Tapi hatiku hancur.
Pemakaman di TPU desa. Tanah merah. Liang lahat digali. Jenazah diturunkan dengan tali. Perlahan. Hening.
Budi di sampingku. Pegang tanganku erat. Matanya lihat peti kayu itu turun. Masuk ke liang lahat.
"Pa, Mbah Kar di dalam koper?"
"Bukan, Nak. Itu peti. Tempat tidur Mbah Kar yang terakhir."
"Enak nggak Pa?"
Aku diam. Dewi nangis di samping.
Tanah mulai ditimbun. Suara tanah jatuh di atas peti. Buk... buk... buk... Setiap bunyi seperti palu yang menghantam hatiku.
Budi maju. Tabur bunga.
"Mbah, ini bunga buat Mbah. Budi janji jadi anak sholeh. Jagain Kakak. Jagain Bapak Ibu. Mbah tenang ya."
Semua nangis. Bu RT nangis. Bu RW nangis. Bapak-bapak yang ikut ngubur juga nangis.
Aku lihat pusara itu. Gundukan tanah merah. Nama ditulis di papan kayu sederhana.
Mbah Kar
Malaikat Tanpa Sayap
Kakek bagi Semua
Doa dipanjatkan. Tahlil dibaca. Kemudian satu per satu pelayat pulang.
Aku, Dewi, dan Budi tetap di sana. Berdiri. Memandang pusara.
Aku ingat semua. Ingat Mbah Kar pertama kali terima kami. Ingat Mbah Kar gendong Risma. Ingat Mbah Kar marah-marah karena aku telat makan. Ingat Mbah Kar jual kalung emas untuk Risma. Ingat Mbah Kar batuk darah di rumah sakit.
Dia bukan siapa-siapa. Hanya tetangga. Hanya orang tua yang kebetulan punya rumah kontrakan.
Tapi dia lebih dari keluarga.
Dia adalah penyelamat.
Dia adalah malaikat.
Dan sekarang malaikat itu pergi.
Dari kejauhan, Budi bertanya, "Pa, Mbah Kar di surga kan?"
Aku lihat ke langit. Awan putih bergulir. Sinar matahari tembus di antaranya.
"Iya, Nak. Mbah Kar di surga. Lagi sama istri Mbah. Lagi bahagia."
"Kakak tahu nggak Pa?"
"Kakak tahu, Nak. Kakak tahu."
Aku bayangkan Risma di rumah. Sendirian. Dijaga tetangga. Air matanya tak berhenti sejak pagi. Ia tahu. Ia tahu kakeknya telah pergi.
Aku pegang tangan Dewi dan Budi.
"Yuk, pulang. Kita jagain Kakak."
Kami tinggalkan pusara itu. Meninggalkan Mbah Kar. Tapi Mbah Kar tak akan pernah pergi dari hati kami.
Di rumah, Risma menunggu.
Dengan mata basah.
Dengan hati yang hancur.
Sama seperti kami.
---
Tiga hari setelah pemakaman. Rumah terasa hampa.
Tak ada suara sandal Mbah Kar di teras. Tak ada suara "Cucuku" yang memanggil Risma. Tak ada nasi bungkus yang tiba-tiba muncul di meja. Tak ada cerita-cerita masa muda yang diulang-ulang.
Hening.
Aku duduk di teras. Sendirian. Pandangi langit. Masih pukul 6 pagi. Biasanya Mbah Kar sudah bangun. Sudah bikin kopi. Sudah duduk di sampingku.
Sekarang hanya kursi kosong.
Budi keluar. Duduk di pangkuanku.
"Pa, kangen Mbah."
Aku usap kepala Budi. "Pa juga, Nak."
"Boleh nangis Pa?"
Aku tersenyum getir. "Boleh, Nak. Nangis itu nggak apa-apa."
Budi nangis di dadaku. Aku nangis juga. Nangis berdua di teras. Di kursi yang biasa ditempati Mbah Kar.
Dari dalam, Dewi panggil. "Mas, Risma."
Aku masuk. Risma di kamar. Matanya ke pintu. Ke tempat biasa Mbah Kar duduk kalau jagain dia.
Mulutnya bergerak.
"Mb... Mbah..."
Aku tersentak. "Nak?"
Risma menatapku. Matanya basah. Lalu bibirnya bergerak lagi. Jelas. Lembut.
"Mbah... Mbah..."
Aku nangis. Risma panggil Mbah Kar. Di tengah duka, ada keajaiban kecil. Risma bisa panggil. Bukan "Pa" kali ini. Tapi "Mbah". Orang yang paling ia cintai.
Tapi di balik tangis itu, ada sesuatu yang aneh. Risma tersenyum. Senyum tipis. Lalu tangannya menunjuk ke atas. Ke langit-langit. Seperti ada sesuatu di sana.
Aku ikut melihat. Tak ada apa-apa.
Tapi Risma terus menunjuk. Tersenyum. Seperti melihat Mbah Kar. Seperti Mbah Kar masih ada.
"Pa lihat? Mbah Kar di situ. Tersenyum."
Aku nangis. "Pa nggak lihat, Nak. Tapi Pa percaya. Mbah Kar jagain kita dari sana."
Risma mengangguk pelan. Lalu terpejam. Tidur dengan tenang. Senyum di wajahnya.
Di luar, angin berhembus. Daun pintu berderit. Seperti Mbah Kar yang datang. Memberi salam. Memberi kabar bahwa ia baik-baik saja di sana.
Malam itu, aku tak bisa tidur. Aku duduk di teras. Pandangi langit berbintang.
Satu bintang jatuh.
Aku tersenyum.
"Selamat jalan, Mbah. Terima kasih untuk semuanya. Kami akan baik-baik saja. Kami janji."
Bintang itu jatuh. Menghilang di ufuk.
Tapi cinta Mbah Kar tak akan pernah hilang.
Tak akan pernah.
---