Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan di ujung senja
Mobil mewah Ares membelah kemacetan Jakarta dengan keanggunan yang tenang. Di dalam kabin yang kedap suara, hanya terdengar alunan musik klasik instrumental yang tipis, menciptakan atmosfer yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk di luar jendela. Ares tidak langsung menyuruh sopirnya mengarahkan kemudi menuju mansion. Ia justru memberikan isyarat untuk berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang memiliki restoran rooftop privat di puncaknya.
"Kita tidak langsung pulang, Mas?" Tanya Gia, menoleh ke arah suaminya dengan mata yang masih berbinar karena sisa semangat kuliahnya.
Ares melepaskan kancing lengan kemejanya, melipatnya sedikit ke atas hingga memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh.
"Tidak. Mas ingin kita merayakan keberhasilanmu hari ini tanpa gangguan siapa pun. Termasuk Mama!"
Mereka menaiki lift pribadi menuju lantai teratas. Begitu pintu lift terbuka, Gia terpaku. Restoran itu telah dipesan khusus oleh Ares, hanya ada satu meja di tengah ruangan kaca yang menghadap langsung ke arah cakrawala Jakarta yang mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan. Tidak ada tamu lain, hanya beberapa pelayan yang membungkuk hormat saat sang penguasa Ardiansyah Group melangkah masuk dengan merangkul pinggang istrinya.
"Duduklah!" ucap Ares, menarikkan kursi beludru untuk Gia.
Gia duduk dengan perasaan yang meluap. Di depannya, terbentang pemandangan kota yang luar biasa indah. Namun, bagi Gia, pemandangan yang paling menarik saat ini adalah pria yang duduk di hadapannya. Ares tampak lebih santai, guratan lelah di wajahnya setelah seharian memimpin rapat besar seolah memudar saat menatap Gia.
"Jadi..." Ares memulai, ia menuangkan air mineral ke gelas kristal di depan Gia.
"Ceritakan sama Mas. Apa bagian yang paling membuatmu senang hari ini di kampus? Selain kiriman makan siang dari Mas, tentunya!"
Gia tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair.
"Pujian Profesor Handoko, Mas. Beliau bilang lukisan Gia punya jiwa. Gia hampir tidak percaya. Selama ini, Bibi Sarah selalu bilang lukisan Gia hanya buang-buang waktu dan sampah"
Mendengar nama Sarah, rahang Ares sedikit mengeras, namun ia segera melunakkannya kembali.
"Dia tidak tahu apa-apa soal nilai sebuah karya. Dia hanya tahu nilai nominal uang. Mas sudah melihat bakatmu sejak pertama kali kamu mencoret-coret di buku catatan tua itu, Gia. Mas senang orang lain terutama ahli seperti Profesor itu akhirnya mengakuinya juga"
Pelayan mulai membawakan hidangan pembuka, namun pembicaraan mereka tetap mengalir deras. Gia bercerita tentang teknik melukis yang baru ia pelajari, tentang tekstur cat yang ia sukai, hingga tentang bagaimana ia merasa gugup saat harus memperkenalkan diri di depan kelas. Ares mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak memotong, ia tidak memeriksa ponselnya yang terus bergetar karena urusan kantor. Baginya, setiap detail cerita Gia adalah informasi paling penting hari ini.
"Mas..." Gia berhenti sejenak, menatap Ares dengan tatapan yang lebih dalam. "Kenapa Mas melakukan semua ini? Menguliahkan Gia, memberikan semua fasilitas ini, padahal Mas tahu hubungan kita awalnya hanya untuk menutupi skandal"
Ares meletakkan garpunya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap Gia dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan.
"Awalnya memang begitu, Gia. Mas tidak akan membohongimu. Mas butuh seseorang untuk berdiri di pelaminan. Tapi seiring berjalannya waktu, Mas menyadari bahwa kamu bukan sekadar pengganti. Kamu adalah kejutan yang tidak pernah Mas antisipasi dalam hidup Mas yang kaku ini"
Ares menjangkau tangan Gia di atas meja, menggenggamnya dengan erat.
"Mas ingin melihatmu bersinar. Mas ingin dunia tahu bahwa istri Aresta Ardiansyah adalah wanita yang cerdas dan berbakat, bukan sekadar pajangan. Melihatmu bahagia dengan kuas dan kanvasmu, entah kenapa itu memberikan kepuasan yang lebih besar daripada memenangkan tender triliunan rupiah"
Gia merasakan matanya memanas karena ucapan Ares yang menyentuh hati.
"Tapi Gia takut, Mas. Gia takut suatu saat saya mengecewakan Mas. Atau bagaimana kalau Siska kembali dan..."
"Siska tidak akan pernah kembali ke posisi yang sekarang kamu tempati" Potong Ares dengan suara yang dingin namun meyakinkan.
"Dia sudah membuat pilihannya sendiri saat dia melarikan diri. Dan Mas sudah membuat pilihan Mas saat Mas memutuskan untuk membawamu ke rumah ini. Kamu adalah Nyonya Ardiansyah, sekarang dan selamanya. Jangan pernah biarkan bayang-bayang masa lalu mengusik kepercayaan dirimu"
Ares kemudian memberikan isyarat kepada pelayan untuk membawakan hidangan utama.
"Sekarang, makanlah. Mas tidak ingin melihatmu kurus karena terlalu banyak berpikir. Mas ingin kamu punya tenaga untuk hari esok. Mas sudah mengatur jadwal agar setiap sore Mas bisa menjemputmu, kecuali jika ada urusan yang benar-benar mendesak"
"Mas tidak perlu menjemput setiap hari, saya bisa pulang dengan sopir" Ucap Gia, merasa tidak enak hati karena kesibukan suaminya.
"Mas ingin melakukannya, Gia" Tegas Ares.
"Menjemputmu adalah caraku untuk memastikan bahwa kamu benar-benar kembali ke pelukanku setiap hari. Dunia di luar sana terlalu luas, dan Mas ingin tetap menjadi pusat gravitasimu"
Makan malam itu berlangsung hingga malam benar-benar jatuh dan lampu-lampu Jakarta menyala seperti bintang yang tumpah di bumi. Mereka bicara tentang banyak hal, mulai dari rencana liburan singkat di akhir semester hingga koleksi buku yang ingin Ares belikan untuk Gia. Tidak ada kata cinta yang meledak-ledak, namun setiap kalimat yang terucap dipenuhi oleh komitmen dan rasa sayang yang mulai mengakar.
Saat mereka bangkit untuk meninggalkan restoran, Ares menarik Gia ke dalam pelukannya sejenak di dekat jendela kaca yang besar. Di bawah siraman cahaya rembulan dan lampu kota, ia mengecup puncak kepala istrinya.
"Selamat atas hari pertamamu, Gia. Mas bangga padamu" Bisik Ares.
Gia memeluk pinggang Ares erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Terima kasih, Mas. Untuk semuanya!" Gia menatap mata gelap Ares dengan intens.
Seolah terhipnotis dengan jernihnya mata Gia. Ares tak dapat berpaling. Dia tenggelam dalam tatapan mata itu. Wajahnya semakin mendekat, mengikis jaraknya dengan Gia.
Gia pun sama, malah diam seolah memberi ijin pada Ares. Dia merasa tak ada gunanya juga dia menolak atau menghindar dari Ares. Pria itu adalah suaminya, pelindungnya, orang yang paling berarti untuknya.
Perlahan Gia memejamkan matanya saat hidung Ares mulai menyentuh ujung hidung Gia. Pria itu tak langsung meraup bibir Gia dengan nafsu. Tapi mengecupnya dengan begitu lembut. Ares seolah takut menyakiti Gia dengan ciumannya itu.
Jantung Gia berdetak tak nyaman. Bibir Ares yang lembut itu menggetarkan seluruh jiwanya.
Cup...
Kali ini kecupan kedua lebih dalam, dan lebih menekan. Ares mulai berani, bahkan Gia mulai merasakan bibirnya basah karena Ares membuka bibirnya.
Ini ciuman pertama Gia, bukan hanya dengan Ares namun memang ciuman pertama Gia seorang seorang pria. Bibirnya kaku, dia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Merasakan bibir Ares yang terasa menghisap bibir bawah dan bagian atasnya secara bergantian, Gia hanya bisa membuka sedikit mulutnya, mengikuti gerakan Ares untuk memberikan akses padanya.
Ares menjauh, mengusap sisa perbuatannya yang ada di ujung bibir Gia. Bibirnya tersenyum dengan tipis namun wajahnya tampak memerah.
"Cukup untuk hari ini. Mas tidak mau merusak kuliahmu yang baru sehari dengan keinginan meski rasanya tak bisa ditahan!"
Wajah Gia memerah sempurna dan tak berani menatap Ares saat ini karena Ares termasuk gamblang mengatakan jika Ares menginginkannya.
Mansion Ardiansyah menyambut mereka dengan kemegahan yang tenang. Saat mereka melangkah masuk, Nyonya Besar sedang duduk di ruang tengah, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, Ares tidak melepaskan genggaman tangannya pada Gia. Ia membawa istrinya berjalan melewati ibunya dengan kepala tegak, menunjukkan pada seluruh dunia dan penghuni rumah itu bahwa Gia adalah ratu yang sesungguhnya di hati sang penguasa Ardiansyah
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus