David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 9) Dimana istriku
Siang itu, cahaya matahari menembus jendela kaca ruang perawatan seperti pedang emas yang membelah sunyi. Tirai putih bergoyang pelan diterpa angin dari pendingin ruangan, menciptakan bayang-bayang lembut di dinding yang pucat.
Bau antiseptik masih menggantung di udara. Aroma yang selama seminggu terakhir menjadi teman setia Dio dalam peperangan sunyi melawan kanker tulangnya.
Dokter menutup map rekam medis dengan suara lirih, seperti bab yang selesai ditulis.
"Secara kondisi," ujar dokter itu sambil menyesuaikan kacamatanya, "perkembangan anda sudah sangat baik, Pak Dio. Terapi merespons positif. Untuk saat ini, anda boleh pulang."
Kata pulang terdengar seperti lagu yang sudah lama tidak dinyanyikan.
Mira, yang sejak tadi duduk di sisi ranjang dengan tangan menggenggam jemari putranya, spontan meneteskan air mata. Ia tersenyum sambil terisak, seperti tanah kering yang akhirnya disentuh hujan.
"Syukurlah…" bisiknya, menunduk mencium punggung tangan Dio. "Ibu tahu kau kuat."
Dio tersenyum tipis. Wajahnya masih pucat, namun di benaknya ada bayangan yang terus terngiang-ngiang. Yaitu Laila.
"Yang penting sekarang istirahat cukup,” lanjut dokter. "Jangan terlalu banyak aktivitas berat hingga kelelahan. Pola makan harus dijaga. Tulangmu sedang dalam proses pemulihan."
Dio mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok."
Ketika dokter keluar, ruangan itu kembali hening. Hanya suara detak monitor jantung yang masih terpasang, meski tak lagi menandakan bahaya. Sunyi yang tak lagi menakutkan, namun menyisakan ruang kosong di hati Dio.
"Ibu…" suara Dio pelan, hampir seperti angin yang menyentuh daun.
"Ya, Nak?"
"Sudah seminggu berlalu, kenapa Lailaku belum ada kabar? Kata, dia sedang perjalanan pulang ke Indonesia. Seharusnya kalau sudah kembali, Laila pasti akan kemari. Memberiku satu pelukan hangatnya sembari menyemangatiku. Apa sedang terjadi sesuatu, ibu?"
Pertanyaan itu seperti batu kecil yang dijatuhkan ke permukaan danau tenang. Riaknya menjalar ke wajah Mira. Senyumnya sedikit memudar.
Setelah bergulat lama dalam pikiran dan memastikan jikalau inilah saat yang tepat untuk menyampaikan kebenaran, Mira pun berkata, "Sebenarnya... Selama setahun ke depan, Laila akan tinggal dan bekerja di Brazil demi menebus uang yang digunakan buat biaya operasimu, nak."
Deggg.
Kalimat yang bagaikan mata pisau tersebut, seketika menusuk hati Dio. Alangkah terkejutnya dia. Seorang yang selalu jadi alasannya untuk bertahan diujung kematian, meninggalkan secercah kabar yang membuat hatinya Terluka. Seakan bekas sayatan operasi, kembali terbuka. Perih dan sakit.
Perasaan itu makin menyeruak kala Mira menambahkan, "akhir-akhir ini, Laila juga sulit dihubungi. Dia tidak pernah lagi mengangkat telepon. Ibu jadi sedikit khawatir."
Dio tercengang, kedua matanya memerah. Pikirannya memencar. Dimana istrinya berada? Apa yang sekarang dia lakukan? Mengapa tiba-tiba ia menghilang tanpa kabar?
Tiada terasa air mata Dio mengalir membasahi pipi. Kepalanya tertunduk, rautnya murung dan semangatnya seolah rapuh.
Hal yang bisa ia katakan hanyalah, "aku benar-benar lelaki yang tidak berguna."
Mira langsung mendekap putranya. "Jangan berkata begitu, nak. Setelah kau pulih total, kita akan mencari-tahu tentang Laila. Berdoalah, semoga Laila baik-baik saja dimanapun dia berada."
Dibalik rengkuhan ibunya, Dio memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar sana, langit biru tampak luas dan tak terjangkau. Seperti jarak antara dirinya dan perempuan yang begitu ia cintai.
"Laila... Istriku... kau ada dimana?" batinnya sambil mengalunkan doa-doa penuh harapan dalam hatinya.
Di sisi lain, ditengah hiruk-pikuk keramaian pusat kota Sao Paulo, Laila tampak berjalan-jalan menyusuri trotoar bersama Mia pelayan pribadinya.
"Wahh, indahnya..." seru Laila menghirup aroma Sao Paulo. Akhirnya Laila sedikit merasakan ketentraman hati, sesudah melalui lika-liku kehidupan yang amat dramatis.
"Kalau dilihat-lihat, ibukota Brazil bukan kota yang buruk juga." Laila melebarkan senyum. "Meski Sao Paulo adalah sarangnya para kriminal, tetapi keindahan yang tertanam dibalik gedung-gedung klasik ini tidak dapat dipungkiri," batinnya mengamati sekitar.
"Nyonya, anda diam disitu. Saya mau foto." Ucap Mia menyergap tangannya untuk menghentikan langkah Laila. Mia langsung mengarahkan kamera ponselnya.
Dengan kikuk, Laila pun berpose di depan gedung museum klasik itu. Mengembangkan senyumnya yang paling indah. Seakan-akan tiada beban.
Cekrekk.
Mia berhasil mengabadikan satu foto. "Anda sangat cantik nyonya," gumamnya. Kemudian, ia pun diam-diam mengirimkan hasil jepretan tersebut ke Leo dengan keterangan: Aktivitas nyonya hari ini. Jalan-jalan berkeliling kota.
Laila menghampiri Mia. "Benarkah? Boleh aku lihat?"
Mia segera mengalihkan layar ponselnya. "Ini, nyonya. Cantik kan?" ujarnya, memperlihatkan potret Laila.
Laila mengangguk, "umm. Cantik sekali. Kau cocok menjadi fotografer, Mia."
"Hahaha, anda terlalu memuji nyonya." Balas Mia yang tidak lama dikejutkan oleh bunyi perut keroncongan Laila.
Kruyuuuk.
"Astaga. Sepertinya aku lapar," Laila memencet perutnya. Pipinya memerah. Tiada terasa, dia dan pelayannya itu sudah hampir tiga jam berpetualang ditengah kota tanpa makan dan minum, sehingga waktu pun menunjukkan pukul 1 siang.
Otomatis, kerongkongan Laila kering dan perutnya pun kosong melompong tiada nutrisi.
Mia tidak dapat membendung tawanya. "Maafkan aku, nyonya. Aku terlalu asyik menikmati pemandangan, sampai lupa untuk melayani anda." Ujarnya meringkuk.
"Tidak apa-apa Mia," Laila menarik tangan Mia. "Yuk, makan. Tadi aku melihat ada restoran di sekitar sana."
Laila dan si pelayan pun mengalunkan langkah ke arah yang dituju, sambil bersenda-gurau.
Sementara itu, adapun David serta asisten pribadinya Leo yang tengah bergelut dalam medsos.
Semua berawal tadi pagi, ketika Leo memberitahukan kepada David bahwa hari ini, Laila akan berjalan-jalan untuk sekedar mencari angin bersama Mia.
Di kotak pesan, Leo berkata: Tuan, pagi ini nyonya mau pergi jalan-jalan keluar rumah bersama pelayan pribadinya.
David membalas: Biarkan saja dia. Tapi tetap pantau terus gerak-geriknya dari kejauhan. Laporkan kepadaku kemana saja dia pergi dan apa yang dia lakukan. Dan satu lagi, berikan Laila uang berapapun yang dia mau. Setelah kembali, aku ingin memberikannya salah satu dari gold card milikku. Aku lupa memberinya waktu itu.
Leo menghela nafasnya, "anda kan memang pelupa level dewa, tuan muda."
Leo lantas membalas: Baik tuan.
Setelah berjam-jam tiada kabar, sang asisten meneruskan sebuah potret ke majikannya David Mendoza. Itu adalah foto Laila.
Disana, Leo menyampaikan: Nyonya terlihat menikmati jalan-jalannya, tuan muda.
David sontak membuka pesan itu. Mengklik foto Laila yang nampak tersenyum bahagia. Wajah David seketima berseri-seri. Panah asmara seolah menancap ke dadanya, hingga membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Istriku memang sangat cantik dan menggemaskan," batinnya tersenyum geli, seraya memegang dadanya yang deg-degan.
Mood David yang barusan berantakan karena tekanan pekerjaan, tiba-tiba menjadi berbunga-bunga. Kupu-kupu yang berterbangan, seakan mengelilingi dia. Suasana yang tadinya gerah mendadak sejuk seperti di kutub Utara.
Namun kesenangan kecil itu tertahan dulu sejenak. David berpesan kepada Leo: Laporan sudah aku terima. Sekarang, hapus foto istriku dari galeri hpmu.
Leo tersentak dan setelahnya buru-buru menuruti kehendak tuannya. Balasnya: Sudah tuan.
Tetapi balasan David setelahnya, membuat Leo tidak habis pikir.
David: Mana buktinya?
Leo mendengus kasar, "tuan benar-benar posesif terhadap nyonya Laila. Sampai-sampai satu foto pun tidak boleh tersimpan di galeri orang Lain. Itu cinta apa obsesi?" gerutu Leo menggeleng-geleng.
Dengan cekatan, Leo mescreenshot layar galerinya. Memperlihatkannya ke David seraya berkata: Ini tuan buktinya.
David akhirnya kembali tersenyum. Ia berulang kali mencium foto Laila tersebut sambil menggumamkan, "tunggu aku Laila. Kau jangan kemana-mana."
"Karena kau... benar-benar sudah membuatku gila..." ujarnya yang kemudian menjadikan foto Laila itu sebagai wallpaper utama layar ponselnya.