Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aku angkat wajahku, menahan air mata yang sejak tadi sudah menggantung di pelupuk mata.
“Kamu dengar baik-baik mas,” suaraku bergetar tapi tegas. “Aku menikah sama kamu karena aku pikir aku satu-satunya istrimu. Bukan bayangan. Bukan cadangan. Apalagi pilihan kedua.”Mas Bram terdiam. Tangannya yang tadi berusaha meraihku jatuh lemas di samping tubuhnya.
“Rania… aku salah. Tapi cintaku ke kamu itu nyata,” ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan. “Aku akan bertanggung jawab. Aku bisa atur semuanya.”
Aku tertawa kecil, pahit.
“Mengatur apa? Perasaanku? Harga diriku? Atau statusku sebagai perempuan yang dengan bodohnya percaya sama janji kamu?”
Aku mundur selangkah, menjaga jarak. Dadaku sesak, tapi pikiranku justru terasa jernih.
“Aku gak mau hidup setiap hari dengan rasa dibohongi,” lanjutku. “Aku gak mau bangun pagi sambil mikir, hari ini aku istri yang ke berapa. Aku gak mau, mas.”
“Ran, tolong…” matanya memerah. “Aku gak bisa kehilangan kamu.”
Aku menggeleng pelan.
“Kamu sudah kehilangan aku sejak kamu memilih untuk gak jujur.”
kalimat itu jatuh di antara kami, berat dan dingin.
Aku menarik lenganku dari genggamannya, napasku tercekat menahan sesak di dada.
“Rania aku mohon—”
“Gak, mas. Jangan tahan aku,” suaraku pecah. “Tolong… jangan buat ini makin berat.”
“Rania, dengarkan penjelasan aku dulu,” pintanya, hampir berlutut di hadapanku.
Aku menggeleng keras. Air mataku akhirnya jatuh, tak bisa kutahan lagi.
“Jelasin apa lagi, mas? Semua udah terlalu jelas.”
Aku menatapnya lurus, dengan hati yang remuk tapi penuh kesadaran.
“Aku gak mau suatu hari nanti istri kamu tahu kalau aku ini istri kedua,” lanjutku lirih tapi menusuk. “Aku bisa ngerasain… bakal sesakit apa hatinya. Dan aku gak sanggup jadi perempuan yang melukai perempuan lain demi cinta yang egois.”
Mas Bram terdiam. Rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca.
“Kalau kamu benar-benar cinta sama aku,” aku menghela napas panjang, “kamu harus berani lepaskan aku. Karena cinta itu bukan cuma soal memiliki, mas… tapi juga soal gak menghancurkan.”
Akupun masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaian serta barang-barang berhargaku. Tanganku bergerak cepat, seakan takut hatiku berubah jika aku berlama-lama di tempat ini.
Mas Bram berdiri di ambang pintu, menghalangi langkahku. Wajahnya terlihat panik, tak seperti biasanya.
“Aku mohon, Rania,” ucapnya lirih.
Aku berhenti, menoleh sekilas tanpa menatapnya.
“Cukup, Mas! Aku tidak mau jadi yang kedua dan menyakiti hati siapa pun,” jawabku tegas, meski dadaku terasa sesak.
“Oke… oke,” suaranya terdengar tergesa, “aku akan menceraikan Monika.”
Ucapan itu membuat tanganku membeku.
Aku menutup koper perlahan, lalu menatapnya dengan senyum pahit.
“Kamu pikir semuanya akan selesai dengan perceraian?” suaraku gemetar. “Luka itu tetap ada, Mas. Dan aku tak mau menjadi alasan di baliknya.”
Mas Bram mendekat, wajahnya penuh penyesalan.
“Aku mencintai kamu, Rania. Sejak awal aku salah, aku akui. Tapi aku gak mau kehilangan kamu.”
Aku menggeleng pelan, senyum getir tersungging di bibirku.
“Mas, kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu gak akan menempatkanku di posisi serendah ini.”
Air mataku akhirnya jatuh juga.
“Kalau nanti Monika benar-benar kamu ceraikan, lukanya tetap karena aku. Dan aku gak sanggup hidup dengan rasa bersalah seumur hidup.”
Mas Bram mencoba meraih tanganku, namun aku mundur selangkah.
“Jangan mas… tolong hargai keputusanku kali ini.”
Aku mengangkat koperku, menatapnya untuk terakhir kali.
“Aku pergi bukan karena aku gak cinta. Tapi karena aku masih punya harga diri.”
Langkah kakiku keluar dari kamar terasa berat, tapi untuk pertama kalinya… aku yakin, keputusan ini adalah caraku menyelamatkan diriku sendiri.
Air mata ini mengalir begitu deras, tak bisa lagi kutahan. Aku tak pernah membayangkan hidupku akan hancur dengan cara seperti ini.
Dadaku terasa sesak, langkah kakiku kehilangan arah.
Aku tidak tahu harus ke mana sekarang, juga tidak tahu bagaimana caranya menyusun kembali hidup yang telah runtuh dalam sekejap.
Yang kutahu, aku harus pergi… meski hatiku tertinggal bersama luka yang belum sempat sembuh.
Malam ini aku menatap langit yang begitu cerah, dihiasi taburan bintang dan cahaya bulan yang redup namun setia. Langit tampak tenang, bertolak belakang dengan hatiku yang porak-poranda.
Setelah berjalan entah berapa lama, kakiku akhirnya menyerah. Aku duduk di sebuah halte bus yang sunyi—menunggu sesuatu yang tak mungkin datang, karena malam telah larut.
Aku tersenyum pahit. Entah aku sedang menunggu bus, atau berharap keajaiban kecil datang menjemputku dari hidup yang terasa semakin sepi.
Aku menengadah lagi ke langit, dan entah kenapa ingatanku justru melayang ke masa lalu.
Aku teringat malam-malam ketika aku dan Bram duduk berdampingan di bawah langit yang sama. Saat itu aku bersandar di bahunya, tertawa tanpa beban, merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Bram menggenggam tanganku erat, seolah tak ingin melepasku meski hanya sedetik.
“Kita nanti bakal bahagia, Ran,” katanya waktu itu.
Aku percaya. Tanpa ragu. Tanpa curiga.
Ingatan lain menyusul. Pagi-pagi saat dia menyiapkan sarapan seadanya, canda kecil yang terdengar sepele, pesan singkatnya yang selalu membuatku merasa dipilih dan dicintai. Semua kenangan itu dulu terasa hangat—sekarang berubah jadi pisau yang pelan-pelan mengoyak dadaku.
Aku tertawa lirih, getir.
Ternyata bahagia bisa berubah menjadi luka sedalam ini.
Air mataku jatuh lagi. Di halte bus yang sunyi, aku memeluk diriku sendiri, sadar bahwa kenangan terindahku justru berasal dari kebohongan paling menyakitkan.
Tin…
Suara klakson itu mengagetkanku. Tubuhku refleks menegang, jantungku berdegup keras seolah ingin meloncat dari dada. Aku menoleh cepat, berharap—entah kenapa aku masih berharap.
Namun harapan itu runtuh seketika.
Mobil yang berhenti di depanku bukan milik Mas Bram.
Dadaku terasa sesak. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang kembali jatuh tanpa permisi.
Dengan punggung tangan, kuusap pipiku kasar. Aku benci diriku sendiri karena masih menangis untuk pria yang sudah jelas-jelas berkhianat.
Aku mengangkat wajah perlahan, menatap mobil itu lagi. Cat hitamnya mengilap, terlalu asing untuk jadi sesuatu yang berarti dalam hidupku. Perlahan, kaca mobil di sisi pengemudi terbuka.
Seorang pria paruh baya muncul dari balik kemudi. Wajahnya tenang, sorot matanya teduh namun penuh kehati-hatian. Ia menatapku sejenak, seolah memastikan sesuatu.
“Mbak… kamu gak apa-apa?” tanyanya akhirnya.
Aku tercekat. Tenggorokanku terasa kering. Aku ingin bilang aku baik-baik saja, tapi kebohongan itu terlalu berat untuk keluar dari bibirku. Aku hanya menggeleng pelan.
Pria itu mematikan mesin mobil lalu turun. Jarak kami tak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatku gugup. “Saya lihat mbak berdiri di sini dari tadi,” ucapnya hati-hati. “Wajah mbak pucat.”
“Aku cuma… nunggu,” jawabku lirih. Suaraku bergetar, bahkan aku sendiri tak tahu siapa yang kutunggu.
Ia mengangguk kecil, seolah mengerti meski mungkin tidak sepenuhnya paham. “Kalau mbak butuh bantuan, bilang saja. Cuaca mau hujan.”
Aku tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka yang dipaksakan menutup.
“Terima kasih, .”
Aku kembali menatap jalan di depanku. Aspal itu masih sama, tapi rasanya hidupku sudah berubah total. Aku tak tahu apakah Mas Bram akan datang, atau jika ia benar-benar datang… apakah aku masih cukup kuat untuk menatapnya tanpa runtuh lagi.
****