Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Harapan yang sempat membumbung tinggi itu kembali dihempaskan oleh kenyataan pahit. Pagi ini, dokter spesialis ginjal datang dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. Hasil laboratorium terbaru menunjukkan bahwa fungsi ginjal Arlan menurun drastis dalam waktu singkat. Tubuhnya tidak lagi mampu mentoleransi penumpukan racun hanya dengan obat-obatan.
"Fungsi ginjalnya sudah di bawah lima belas persen, Bu Rania. Kita tidak punya pilihan lain selain melakukan hemodialisis atau cuci darah segera," ucap Dokter itu pelan.
Duniaku serasa berputar. Kata "cuci darah" terdengar seperti lonceng kematian bagi kebahagiaan yang baru saja kami susun. Aku menoleh ke arah Arlan. Ia terdiam, tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Bahunya yang sudah kurus tampak semakin merosot.
"Kapan, Dok?" suaraku bergetar, hampir tak terdengar.
"Sore ini. Kita akan memasang akses di pembuluh darahnya terlebih dahulu."
Setelah dokter pergi, hening yang menyakitkan menyelimuti ruangan. Aku menggenggam tangan Arlan, namun kali ini ia tidak membalas genggamanku.
"Ran... kamu dengar tadi?" bisik Arlan, suaranya terdengar sangat hampa. "Sekarang benar-benar terjadi. Aku akan terikat dengan mesin itu seumur hidupku. Aku hanya akan jadi raga yang separuh hidupnya bergantung pada listrik dan selang."
Aku segera memeluknya erat, menyembunyikan tangis di balik bahunya. "Enggak, Lan. Ini cuma prosedur untuk bikin kamu ngerasa lebih baik. Ini bukan akhir."
"Pulanglah, Rania," ucapnya tiba-tiba, dingin. "Jangan tonton aku saat aku terhubung dengan mesin itu. Aku tidak mau kamu melihatku seburuk itu. Pergilah ke kantor, temui Bang Haris, urus Arania Group. Jangan buang waktumu di sini."
"Aku nggak akan ke mana-mana, Arlan!" tegasku sambil terisak. "Mau kamu cuci darah seribu kali pun, aku tetap di sini!"
Sore itu menjadi sore yang paling memilukan. Aku berdiri di balik kaca pintu ruang tindakan, melihat Arlan yang dipasangi berbagai selang besar. Mesin itu mulai berderu, memutar darah Arlan untuk dibersihkan. Wajahnya meringis menahan sakit dan rasa tidak nyaman yang luar biasa.
Bang Haris datang dan berdiri di sampingku. Ia memegang bahuku kuat-kuat. "Dia sedang berjuang, Ran. Kamu juga harus kuat. Asistenku di Singapura baru saja mengirim kabar, operasional kantor aman. Kamu fokus di sini."
"Bang, dia minta aku pergi. Dia malu..." aku mengadu pada abangku.
"Wajar dia merasa begitu, Ran. Tapi jangan pernah turuti kemauannya untuk menjauh. Dia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa pahlawan sepertinya pun bisa jatuh sakit," ujar Bang Haris bijak.
Saat Arlan selesai dengan sesi pertamanya dan dibawa kembali ke kamar, ia tampak sangat lemah. Namun, bengkak di wajah dan kakinya sedikit berkurang. Ia menoleh ke arahku, matanya yang sayu mencari keberadaanku.
Aku mendekat, mencium keningnya yang berkeringat. "Aku masih di sini, Lan. Dan aku nggak akan ke mana-mana."
Arlan hanya bisa memejamkan mata, membiarkan jemariku menyisir rambutnya. Badai ini ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan, tapi di tengah deru mesin cuci darah itu, aku bersumpah dalam hati: Arania Group bisa menunggu, dunia bisa menunggu, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Arlan berjuang sendirian.
Harapan yang sempat membumbung tinggi itu kembali dihempaskan oleh kenyataan pahit. Pagi ini, dokter spesialis ginjal datang dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. Hasil laboratorium terbaru menunjukkan bahwa fungsi ginjal Arlan menurun drastis dalam waktu singkat. Tubuhnya tidak lagi mampu mentoleransi penumpukan racun hanya dengan obat-obatan.
"Fungsi ginjalnya sudah di bawah lima belas persen, Bu Rania. Kita tidak punya pilihan lain selain melakukan hemodialisis atau cuci darah segera," ucap Dokter itu pelan.
Duniaku serasa berputar. Kata "cuci darah" terdengar seperti lonceng kematian bagi kebahagiaan yang baru saja kami susun. Aku menoleh ke arah Arlan. Ia terdiam, tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Bahunya yang sudah kurus tampak semakin merosot.
"Kapan, Dok?" suaraku bergetar, hampir tak terdengar.
"Sore ini. Kita akan memasang akses di pembuluh darahnya terlebih dahulu."
Setelah dokter pergi, hening yang menyakitkan menyelimuti ruangan. Aku menggenggam tangan Arlan, namun kali ini ia tidak membalas genggamanku.
"Ran... kamu dengar tadi?" bisik Arlan, suaranya terdengar sangat hampa. "Sekarang benar-benar terjadi. Aku akan terikat dengan mesin itu seumur hidupku. Aku hanya akan jadi raga yang separuh hidupnya bergantung pada listrik dan selang."
Aku segera memeluknya erat, menyembunyikan tangis di balik bahunya. "Enggak, Lan. Ini cuma prosedur untuk bikin kamu ngerasa lebih baik. Ini bukan akhir."
"Pulanglah, Rania," ucapnya tiba-tiba, dingin. "Jangan tonton aku saat aku terhubung dengan mesin itu. Aku tidak mau kamu melihatku seburuk itu. Pergilah ke kantor, temui Bang Haris, urus Arania Group. Jangan buang waktumu di sini."
"Aku nggak akan ke mana-mana, Arlan!" tegasku sambil terisak. "Mau kamu cuci darah seribu kali pun, aku tetap di sini!"
Sore itu menjadi sore yang paling memilukan. Aku berdiri di balik kaca pintu ruang tindakan, melihat Arlan yang dipasangi berbagai selang besar. Mesin itu mulai berderu, memutar darah Arlan untuk dibersihkan. Wajahnya meringis menahan sakit dan rasa tidak nyaman yang luar biasa.
Bang Haris datang dan berdiri di sampingku. Ia memegang bahuku kuat-kuat. "Dia sedang berjuang, Ran. Kamu juga harus kuat. Asistenku di Singapura baru saja mengirim kabar, operasional kantor aman. Kamu fokus di sini."
"Bang, dia minta aku pergi. Dia malu..." aku mengadu pada abangku.
"Wajar dia merasa begitu, Ran. Tapi jangan pernah turuti kemauannya untuk menjauh. Dia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa pahlawan sepertinya pun bisa jatuh sakit," ujar Bang Haris bijak.
Saat Arlan selesai dengan sesi pertamanya dan dibawa kembali ke kamar, ia tampak sangat lemah. Namun, bengkak di wajah dan kakinya sedikit berkurang. Ia menoleh ke arahku, matanya yang sayu mencari keberadaanku.
Aku mendekat, mencium keningnya yang berkeringat. "Aku masih di sini, Lan. Dan aku nggak akan ke mana-mana."
Arlan hanya bisa memejamkan mata, membiarkan jemariku menyisir rambutnya. Badai ini ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan, tapi di tengah deru mesin cuci darah itu, aku bersumpah dalam hati: Arania Group bisa menunggu, dunia bisa menunggu, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Arlan berjuang sendirian.
Malam itu, di ruang perawatan yang hening, hanya terdengar suara detak jantung dari monitor dan deru pelan pendingin ruangan. Arlan tertidur pulas, kelelahan setelah sesi cuci darah pertamanya yang menguras tenaga. Aku masih setia duduk di sampingnya, memandangi wajahnya yang kini terlihat lebih damai meski sangat pucat.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Sosok Ayah berdiri di sana. Ia tidak datang dengan setelan jas mahalnya, melainkan dengan jaket santai, seolah menanggalkan jabatan Direktur Utama demi menjadi seorang ayah.
"Bagaimana kondisinya?" bisik Ayah sambil melangkah mendekat.
"Baru selesai sesi pertama, Yah. Dia... dia sempat menyerah, dia minta Rania pergi," jawabku lirih, menahan air mata yang kembali mendesak keluar.
Ayah menepuk bahuku, lalu menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia pria yang punya harga diri tinggi, Ran. Wajar kalau dia merasa hancur. Tapi kamu harus tahu, Ayah sudah bicara dengan tim dokter terbaik di Singapura lewat koneksi Haris. Kita akan cari jalan untuk transplantasi jika kondisinya sudah stabil."
Aku tertegun. "Transplantasi, Yah?"
"Apapun, Rania. Ayah tidak akan membiarkan orang yang sudah menyelamatkan perusahaan kita dan membahagiakan putri Ayah menderita seumur hidup di atas mesin itu," ucap Ayah tegas. "Besok, orang tua Arlan akan sampai dari Jogja. Haris sudah menjemput mereka dengan mobil khusus agar mereka nyaman."
Esok Harinya.
Suasana haru menyelimuti kamar saat Ibu dan Bapak Arlan tiba. Begitu melihat putra tunggal mereka terbaring dengan akses cuci darah di lengannya, Ibu Arlan langsung luruh di pelukan Arlan. Tidak ada kata-kata, hanya isak tangis yang memecah kesunyian pagi itu.
"Lan... kenapa nggak bilang sama Ibu, le?" tanya Ibu sambil mengelus rambut Arlan.
Arlan hanya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Arlan nggak mau bikin Ibu sama Bapak kepikiran. Arlan kira Arlan kuat."
Bapak Arlan, yang biasanya tegar, kini hanya bisa duduk di sudut ruangan sambil memegang tasbih, bibirnya tak henti berkomat-kamit merapalkan doa. Ia menatapku dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Rania. Kamu masih mau menemani anak Bapak yang sudah seperti ini."
"Bapak jangan bicara begitu," balasku sambil menggenggam tangan Ibu Arlan. "Arlan adalah hidup saya. Mau bagaimanapun kondisinya, kami akan hadapi bersama."
Sore itu, Bang Haris datang membawa kabar dari kantor. Ia menunjukkan beberapa foto di tabletnya. "Lihat ini, Lan. Para staf di Arania Group membuat papan harapan di lobi. Mereka semua mendoakanmu. Bahkan klien-klien kita mengirimkan bunga. Kamu punya banyak alasan untuk sembuh."
Arlan melihat foto-foto itu, dan untuk pertama kalinya sejak didiagnosis cuci darah, binar di matanya kembali muncul. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia punya aku, keluarganya, Bang Haris, dan seluruh orang yang kini menghormatinya.