Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tiga hari setelah jamuan makan malam yang menghancurkan itu, suasana di apartemen kecil Lia terasa mencekam. Lia menghabiskan waktunya dengan mengemas buku-bukunya ke dalam kardus, gerakan tangannya mekanis, seolah jiwanya sudah tidak ada di sana.
Suara ketukan pintu yang terburu-buru mengejutkannya. Ia tahu itu siapa. Hanya satu orang yang mengetuk dengan irama penuh kecemasan seperti itu.
Saat pintu terbuka, Regas berdiri di sana dengan napas memburu. Penampilannya berantakan—dasi yang miring dan kemeja yang tidak lagi rapi. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah masuk dan langsung menggenggam kedua tangan Lia.
"Lia, dengarkan aku," suara Regas serak, ada binar nekat di matanya. "Aku sudah bicara dengan Papa dan Mama. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Aku tidak butuh koneksi bisnis, aku hanya butuh kamu."
Lia terpaku, namun ia tidak membalas genggaman itu.
"Ayo menikah, Lia," cetus Regas tiba-tiba. Kalimat itu meluncur begitu saja, membawa beban yang teramat berat. "Kita menikah sekarang. Aku akan membawamu keluar dari sini. Kita bangun hidup kita sendiri, tanpa campur tangan mereka. Aku akan menjamin semuanya."
Lia menarik tangannya perlahan. Dadanya sesak. "Menikah, Kak? Aku baru semester tiga. Dan setelah semua hinaan dari ibumu tempo hari, apa Kakak pikir aku bisa bahagia hidup di bawah bayang-bayang mereka?"
"Aku akan melindungimu, Lia! Aku janji!" seru Regas, suaranya naik satu oktav.
"Dengan cara apa? Dengan uang ayahmu?" Lia menatap Regas dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak ingin dipandang rendah selamanya, Kak. Aku tidak ingin menjadi 'beban' yang kamu bawa-bawa di setiap pertemuan bisnismu."
Lia berjalan menuju meja belajar, mengambil selembar kertas yang baru saja ia cetak. Surat penerimaan beasiswa itu.
"Ini impianku, Kak. Sejak aku masih kecil, sebelum aku mengenalmu. Aku mendapat beasiswa penuh ke London. Ini kesempatanku untuk menjadi sastrawan yang sesungguhnya. Untuk membuktikan bahwa mahasiswi sastra yang hidup sendiri ini punya harga diri."
Regas tertegun membaca kertas itu. "London? Tapi... kenapa harus sekarang?"
"Karena semesta tahu aku butuh alasan untuk pergi darimu," bisik Lia pilu. "Aku menolak lamaranmu, Kak. Bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi karena aku lebih mencintai masa depanku. Jika aku menikahimu sekarang hanya karena pelarian, aku akan membencimu suatu hari nanti."
Regas terduduk di kursi plastik kecil milik Lia, wajahnya disembunyikan di balik telapak tangan. Bahunya gemetar. Keheningan di antara mereka terasa lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun.
"Jadi, ini akhirnya?" tanya Regas parau.
"Ini adalah tanda titik yang harus kutulis, Regas. Agar kamu bisa menjalani babmu sebagai penerus keluarga Adhitama, dan aku bisa menulis sajakku sendiri di negeri orang."
Malam itu, Regas pergi dengan punggung yang terlihat rapuh. Dan seminggu kemudian, tanpa pamit lagi, Lia melangkah masuk ke gerbang keberangkatan bandara. Ia meninggalkan semua kenangan tentang kantin teknik, es teh plastik, dan pria yang pernah menjanjikannya dunia.
Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak tahu bahwa di sudut bandara, Regas berdiri menatap pesawat yang membawanya pergi, sambil menggenggam sebuah kotak cincin yang tak pernah sempat ia sematkan di jari Lia.
Lima tahun. Enam puluh bulan. Ribuan sajak telah Lia tulis di bawah langit London yang sering muram, namun tak satu pun dari sajak itu yang mampu menghapus memori tentang aroma es teh plastik dan jaket biru tua milik Regas.
Lia kembali ke Jakarta bukan lagi sebagai mahasiswi beasiswa yang rapuh. Ia kini Azzalia Caesarea, M.Hum., lulusan terbaik dari salah satu universitas bergengsi di Inggris. Rambutnya yang dulu sering diikat asal-asalan kini tertata rapi, senada dengan blazer guru yang ia kenakan.
"Selamat pagi, Bu Lia," sapa rekan gurunya saat ia melangkah masuk ke koridor SD Internasional "Global Nusantara".
Lia tersenyum tulus. Mengajar sastra pada anak-anak adalah gairah barunya. Ia ingin mereka mencintai kata-kata sebelum dunia memaksa mereka mencintai angka dan kekuasaan.
Namun, ketenangan pagi itu pecah saat ia berdiri di depan papan pengumuman kelas. Dari kejauhan, ia melihat sosok yang sangat familiar. Sosok yang selama lima tahun ini hanya muncul dalam mimpi buruk dan puisi-puisi sedihnya.
Lia membeku. Dunia di sekitarnya seolah kehilangan gravitasi.
Di ujung koridor, berdiri Regas Adhitama. Pria itu tampak jauh lebih matang. Jas formalnya melekat sempurna di tubuh tegapnya, auranya memancarkan otoritas seorang pemimpin. Namun, yang membuat jantung Lia hampir berhenti berdetak adalah sosok kecil di sampingnya.
Seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun, mengenakan seragam sekolah yang sama dengan murid-murid Lia. Rambutnya dikuncir dua, dan matanya... Tuhan, matanya adalah salinan sempurna dari mata Regas yang tajam namun hangat.
"Papa, nanti jemput Ghea tepat waktu ya? Ghea mau tunjukkan tugas puisi ke Ibu Guru baru," suara cempreng gadis kecil itu memecah keheningan di kepala Lia.
Regas berjongkok, merapikan kerah seragam putrinya. "Iya, Sayang. Papa janji. Belajar yang rajin ya, Ghea."
Saat Regas berdiri kembali, pandangannya tak sengaja beradu dengan Lia yang masih terpaku beberapa meter di depannya.
Waktu seolah berhenti. Suara anak-anak yang berlarian, bunyi bel sekolah, semuanya lenyap. Hanya ada mereka berdua, dipisahkan oleh koridor panjang yang terasa seperti jarak lima tahun yang mereka lalui masing-masing.
Regas tertegun. Genggamannya pada tas sekolah Ghea mengerat. Bibirnya bergetar, mencoba memanggil nama yang selama ini hanya ia bisikkan pada angin malam.
"Azzalia ..?"
Lia menelan ludah yang terasa pahit. Ia ingin lari, namun kakinya seolah tertanam di lantai koridor. Matanya beralih dari wajah Regas ke wajah polos Ghea yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.
"Papa mengenal Ibu Guru?" tanya Ghea polos.
Regas tidak menjawab. Matanya masih terkunci pada Lia, seolah sedang memastikan bahwa wanita di depannya bukan lagi bayang-bayang masa lalu. Ada luka, ada kerinduan, dan ada ribuan pertanyaan yang tak terucap di sana.
Lia akhirnya menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali profesionalismenya yang nyaris runtuh.
"Selamat pagi, Pak Regas," ucap Lia dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, meski hatinya menjerit. "Saya Azzalia, guru sastra Ghea."
Regas tersenyum getir, senyuman yang menyiratkan bahwa titik yang Lia tulis dulu ternyata hanyalah sebuah jeda panjang yang melelahkan.
"Selamat pagi, Bu Guru," jawab Regas dengan penekanan pada kata terakhir, yang terdengar seperti belati bagi Lia. "Ternyata, takdir memang punya cara sendiri untuk menghapus tanda titik."