"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Happy reading<<<<<<<
Imlie yang membaca itu langsung terbelalak. "50 jt? Lumayannlah buat jaga jaga sampai Gue gajian di restoran. Kan sekarang Gue kagak punya uang sama sekalih. Apalagi kalau Mama, Papa pulang bisa bisa Gue kagak makan." gumam Imlie. Dan...
Imlie>>>>>
"Oke, Dell... Daftarin Gue."
Bro>>>>>>
"Oke, Di tempat biasa ya."
Imlie>>>>>
"Sip, tapi seperti biasa, Lo paham kan?"
Bro>>>>>>
"Santai aja Gue paham dan masih ingat."
Setelah saling mengirim pesan dengan nomor kontak yang bernama Bro. Imlie langsung tersenyum bahagia.
"Rezekinya anak sholehah, hehheheh." kekeh Imlie dan entah kenapa dia sudah tidak berfikir mengenai sakit di kepalanya.
Sedangkan di sekolah sejak tadi Aryan melihat handphonenya yang dari kemarin pesan dan telfonnya tidak di respon oleh Imlie.
"Ck, kemana gadis ini." desis Aryan mencengkram hanpdhonenya.
"Ar..."
Aryan tidak menggubris panggilannya Viona dan malah pergi keluar kelasnya menuju kelasnya Imlie.
Saat sampai di depan kelasnya Imlie Aryan langsung masuk saja tanpa memperdulikan ada Pak Boyon di depan.
"Di mana Imlie?" tanya Aryan to the point pada Yoyo karena melihat kursinya Imlie kosong.
"Nggak tau." jawab Yoyo sedikit takut melihat tatapan tajamnya Aryan.
"Lo. Di mana?" Aryan balik bertanya pada Emina.
"Gue juga kagak tau. Tadi pagi memang belum datang." ujar Emina yang memang belum di kasih tau oleh Wardah kalau Imlie sedang sakit.
"Lo.." Aryan berbalik bertanya pada Wardah dan Wardah hanya mengedikkkan bahunya.
"Jawab Gue sialan..di mana gadis Gue, Gue tau betul pasti Lo tau." bentak Aryan pada Wardah.
"Dih, Lo kan Cowoknya mana mungkin Lo kagak tau." ujar Wardah sewot.
"Jawab saja sialan." desis Aryan.
"ARYAN KELUAR KAMU. KAMU SANGAT TIDAK SOPAN." bentak Pak Boyon.
"Diam, kalau tidak mau di pecat." ujar Aryan tanpa menghadap Pak Boyon. Pak Boyon kesal dan hanya diam tidak bisa berbuat apa apa karena Aryan adalah anak dari pemilik sekolah ini. Jadi, kalau mau aman dan setiap bulan masih mau dapat gaji besar cara satu satunya diam.
"Lo kan punya hp, lah tinggal telfon lah." ujar Wardah.
"Sialan, Gue nggak bakal nanya ke kalian kalau dia angkat telfon Gue." balas Aryan kesal.
Semua orang terdiam kaget. Imlie bisa bisanya tidak membalas dan mengangkat telfon dari pangeran sekolah ini? Padahal semua gadis sering ngeDM Aryan di Ig tapi satu pun tak Aryan baca. Tapi, Imlie? Wah, kebalikan sih... Pesona pawang memang paling di depan. Tapi, apakah Imlie tidak takut nanti Cowoknya bosan dan mutusin dia. Seperti itulah pikiran para siswi.
"Ooh berarti dia muak kali sama Lo." jawab Wardah asal dan membuat para siswa siswi makin kaget.
"Gue tanya sekalih lagi di mana Gadis Gue. Atau hidup Lo bakal hancur." ancam Aryan.
"Ck, taunya cuman ngancam... Oke, Gue bakal beritahu, tapi Lo jangan gangguin dia dulu karena dia lagi mager. Imlie kagak sekolah dia ada di rumahnya lagi istirahat karena kepalanya pusing." ujar Wardah dingim dan Aryan langsung pergi tanpa berterimakasih, minta maaf, atau mengucapkan salam.
"Ck, kenapa dia kagak telfon Gue. Dasar gadis nakal." batin Aryan dan tidak kembali ke kelasnya lagi malahan putar jalan ke parkiran. Dan tempat tujuannya adalah rumah Imlie.
Bruuum bruuum
Piiip piiiip
Aryan membunyikan motornya agar gerbang di buka dan Mang Opit langsung membuka pintu itu.
"Mau ketemu siapa Den? Nyonya dan Tuan tak ada di rumah." ujar Mang Opit.
"Ketemu gadis Gue." jawab Aryan.
"Non Loli juga lagi pergi Den." jawab Mang Opit yang tidak tau kalau Aryan adalah pacarnya Imlie.
"Imlie, Gue mau ketemu Imlie." ujar Aryan.
"Baiklah, biar Saya antar Den." Ucap Mang Opit ramah.
"Tidak usah Saya bisa sendiri. Saya sudah mengabarinya tadi." jawab Aryan.
"Baiklah, silahkan Den." jawab Mang Opit dan Aryan berjalan dengan santai. Sedangkan Imlie yang berada di balkon kamarnya melihat dengan jelas Aryan di bawah sana.
"Kak?" lirih Imlie sedikit senang, Aryan rela jauh jauh menemuinya ke rumah berarti Aryan masih sangat peduli padanya. Begitulah pemikiran Imlie.
Tak lama pintu kamarnya di ketuk dari luar karena Aryan main nyelonong saja.
Ceklek
"Kak." ujar Imlie dan memeluk Aryan.
"Lo, udah berani ya abaikan chat sama telfon Gue, hah?" marah Aryan dengan suara rendahnya tapi masih membiarkan Imlie menuntunya ke sofa kamar milik Imlie.
"Maaf Kakx Aku lagi malas main hp." jawab Imlie.
"Lo boleh males, tapi kalau Gue telfon ata ngechat Lo harus bales debgan cepat." tekan Aryan.
"Yauda maaf Kak. Kalau gitu Kakak mau minum apa? Biar Aku ambilin." tawar Imlie.
"Nggak usah, sini duduk." ujar Aryan dan Imlie duduk di sampingnya.
"Lo sakit kan? Jadi, suruh prmbantu aja buat ambil minumnya." ujar Aryan menatap lama Imlie.
"Nggak separah itu kok Kak. Aku cuman pusing sedikit aja." jawab Imlie.
"Tapi namanya pusing kan? Berarti tubuh Lo nggak sehat. Jadi, duduk di sini..Gue nggak butuh minum." ujar Aryan dan Imlie mengangguk kemudian Imlie merasakan sepasang tangan yang memijit kepalnya.
"Biar Gue redahin pusingnya. Udah minum obat, hmm?" tanya Aryan Imlie ssungguh senang di perhatiin begini.
"Udah Kak." jawab Imlie dan Aryan sibuk memijit kepala gadisnya.
"Kak, Kakak kenapa bolos? Habis ini Kakak balik lagi ya ke sekolah. Aku nggak papa kok." ujar Imlie setelah memecahkan keheningan di antara mereka.
"Lo ngusir Gue?" tanya Aryan tak terima dan Imlie menggeleng keras.
"Nggak Kak. Aku cuman nggak mau aja Kakak bolos sekolah. Kalau nilai Kakak.....
"Itu sekolah Gue. Jadi, suka suka Gue." jawab Aryan santai dan Imlie mencibir.
"Dih, sombong banget." gumam Imlie.
"Ngomong apa tadi, hmm?" tanya Aryan yang jelas mendengar perktaan Imlie tapi memilih bertanya lagi.
"Eh, ngg-ak Kok Kak. Aku cuman kagum aja sama Kakak." jawab Imlie. Dan Aryan hanya diam sambil memijit kepalanya Imlie.
"Kak, boleh nggak. Aku pinjam hpnya?" tanya Imlie dan Aryan mengangguk. Imlie langsung membuka hpnya Aryan.
Imlie langsung kaget setelah membuka pin-nya. Karena walpapernya adalah fotonya Aryan dan Viona.
"Kak, kenapa Walpaper kita di ganti dengan fotonya Kakak sama Viona?" tanya Imlie kesal.
"Viona yang ganti." jawab Aryan.
"Dia suka main hp Kakak?" tanya Imlie tak terima.
"Hm." dehem Aryan.
"Ck." decak Imlie nggak terima.
"Kak, bisa nggak jangan biarin orang lain main hp Kakak. Buka buka dan ganti walpapernya." ujar Imlie.
"Jangan ngatur ngatur Gue." ujar Aryan santai.
"Tapi Kak, Kakak nggak risih hpnya di buka buka sama orang....
"Viona bukan orang lain." tekan Aryan.
"Tapi, Aku nggak suka Kak. Apalagi sampai dia tukar walpapernya sama foto dia dan Kakak." kesal Imlie.
"Itu tidak jadi masalah yang paling penting Lo tetap cewek Gue." balas Aryan.
"Tapi, Aku tetap nggak......
"Dia?! Krafina jangan mancing emosi Gue." bentak Aryan walaupun dengan suara rendah tapi sangat dingin dan manis menusuk.
"Baiklah." pasrah I.lie dan kembali berniat mengganti walpaper itu. Tapi...
"Jangan di ganti." ujar Aryan yang melihat tangan Imlie yang mengotak ngatik hpnya.
"Loh, kenapa Kak?" Kesal Imlie.
"Gue nggak mau Viona ngambek."
"Hah?"