NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Hari kedua Turnamen Sekte Luar menyuguhkan atmosfer yang jauh lebih pekat dan menekan dibandingkan hari pertama. Jika kemarin ribuan murid berkumpul dengan sorak-sorai penuh antisipasi akan pertarungan berdarah, hari ini mereka hadir dengan napas yang tertahan dan detak jantung yang bergemuruh.

Matahari bersinar sangat terik tepat di atas Arena Utama Puncak Awan. Panasnya memanggang panggung batu basal hitam di tengah amfiteater hingga permukaannya memancarkan gelombang udara yang meliuk-liuk. Bau debu kering, keringat gugup, dan logam senjata yang memuai berbaur menjadi satu di udara siang itu.

Di tribun kehormatan, para Tetua Puncak duduk dengan postur yang tak kalah tegaknya dengan patung dewa pelindung sekte. Mata mereka tak berkedip menatap ke arah panggung. Hari ini, mereka bukan datang untuk menilai teknik bela diri kelas rendahan; mereka datang untuk menyaksikan sebuah fenomena. Mereka datang untuk melihat benturan antara pedang paling tajam dan kekosongan paling absolut.

"Pertandingan pertama Babak Unggulan hari kedua!" Suara wasit bergema, membelah keheningan yang tegang. Urat leher wasit itu menonjol, menunjukkan betapa ia sendiri merasa tertekan oleh aura para penonton. "Jian Chen dari Puncak Pedang Berkabut, melawan Lin Fan dari Puncak Dapur Luar!"

Dari koridor timur, langkah kaki yang berat dan terseret terdengar.

Jian Chen muncul dari balik bayang-bayang. Pemuda yang biasanya berjalan tegak dengan aura pedang yang membelah angin itu, kini terlihat seperti orang yang baru saja merangkak keluar dari jurang neraka. Kantung matanya menghitam pekat, membengkak layaknya disengat lebah beracun. Kulit wajahnya pucat pasi, dan rambutnya yang biasa diikat rapi kini kusut masai.

Namun, yang paling mengerikan adalah matanya. Pupil mata Jian Chen dipenuhi jaring-jaring urat merah. Itu bukan tatapan seorang petarung yang siap membunuh, melainkan tatapan seorang pria yang kewarasannya sedang berada di ujung tanduk setelah dipaksa berbaring semalaman di atas batu dingin tanpa boleh memejamkan mata dan tanpa boleh mengayunkan pedang. Emosi frustrasi, kelelahan ekstrem, dan kebingungan spiritual meledak-ledak di dalam dadanya, terlihat jelas dari bagaimana jari-jarinya gemetar hebat saat menggenggam gagang pedangnya.

Di seberang arena, dari koridor barat, pintu masuk Dapur Luar menyajikan parade yang sudah mulai familiar namun tetap tidak masuk akal.

Wang Ta dan enam murid pelayan berotot melangkah maju, memikul tandu kayu raksasa. Di atasnya, 'Kursi Goyang Energi Qi' bertengger dengan anggun. Lin Fan sedang meringkuk di atas bantal sutra esnya. Telinganya ditutupi oleh dua gumpalan putih berkilau—kapas dari kepompong ulat sutra langit—yang meredam seluruh hiruk-pikuk dunia luar hingga ke tingkat ketiadaan absolut. Kipas angin otomatisnya berputar lembut, meniupkan udara sejuk yang mengusir hawa panas dari batu panggung.

Lin Fan tertidur begitu pulas hingga sebuah gelembung ludah kecil terbentuk dan pecah di sudut bibirnya secara teratur.

Tandu diturunkan perlahan. Wang Ta membungkuk hormat ke arah Lin Fan, lalu dengan cepat memimpin pasukannya turun dari panggung, meninggalkan sang 'Master' sendirian di tengah arena yang mendidih.

Wasit menelan ludah. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pertandingan... DIMULAI!"

Ribuan pasang mata serentak membelalak. Para murid di tribun mencondongkan tubuh mereka ke depan, bahkan ada yang menahan napas hingga wajah mereka memerah. Mereka menunggu ledakan Qi pedang dari Jian Chen. Mereka menunggu Lin Fan melakukan "Sentilan Ruang Hampa" yang digosipkan semalaman.

Jian Chen berdiri mematung. Otot-otot rahangnya bergemeretak keras. Ia menatap Lin Fan yang sedang tidur dengan wajah damai. Kebencian, rasa iri, dan kekaguman bercampur aduk di dalam benaknya.

Dia tidur... dia benar-benar tidur lagi! batin Jian Chen menjerit. Guru benar. Aura kekosongannya begitu sempurna hingga tidak ada satu pun celah untuk diserang. Jika aku menebasnya sekarang, pedangku hanya akan membelah udara kosong dan energi Qi-ku akan berbalik menghancurkan meridianku sendiri!

Tangan Jian Chen yang memegang pedang gemetar semakin hebat. Keringat dingin menetes dari ujung hidungnya, jatuh berdesis di atas batu panas. Di dalam kepalanya, doktrin tiga puluh tahun latihan pedang berbenturan keras dengan instruksi gurunya semalam.

Bunuh dia! teriak insting pedangnya.

Tidur! Kau harus tidur lebih nyenyak darinya untuk menang! gema suara gurunya.

Dengan satu erangan panjang yang terdengar seperti lolongan serigala terluka, Jian Chen membuat keputusan yang akan mengukir namanya dalam sejarah sekte sebagai hal yang paling membingungkan.

KLANG!

Jian Chen melepaskan genggamannya. Pedang pusaka kelas menengah yang selalu ia rawat lebih dari nyawanya sendiri itu jatuh membentur lantai batu. Suara logam yang beradu dengan batu itu bergema nyaring, menyentak jantung setiap orang yang mendengarnya.

Tanpa mempedulikan pedangnya, Jian Chen tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke belakang.

Bruk!

Tubuh kekarnya menghantam lantai panggung yang panas. Ia merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar-lebar, membentuk postur Bintang Jatuh persis seperti yang diinstruksikan gurunya. Ia menutup matanya rapat-rapat, mengertakkan gigi, dan mencoba memaksa paru-parunya untuk bernapas lambat dan dalam, berusaha meniru ritme dengkuran Lin Fan yang sayangnya tidak bisa ia dengar karena jarak mereka cukup jauh.

Keheningan yang mematikan turun menyelimuti amfiteater raksasa itu.

Bahkan angin di Puncak Awan seolah-olah ragu untuk berhembus. Tiga ribu murid luar, ratusan murid dalam, dan belasan Tetua ternganga. Tidak ada yang bersuara. Seekor burung gagak spiritual yang terbang melintas bahkan nyaris menabrak tiang bendera karena saking bingungnya melihat arena pertarungan di bawah sana.

Di tengah panggung, dua petarung terkuat di turnamen itu kini sedang berbaring tak bergerak.

Satu di atas kursi goyang super mewah, tertidur nyenyak dilindungi penutup telinga dan dikipasi angin sejuk.

Satu lagi terkapar di atas batu basal hitam yang panasnya mencapai lima puluh derajat celcius, bermandi keringat, dengan otot wajah yang berkedut-kedut karena menahan siksaan mental dan fisik.

Kreeet... kreeet... zzzzz...

Suara derit kursi goyang dan dengkuran halus Lin Fan adalah satu-satunya melodi yang memecah kebisuan absurd tersebut.

Di tribun Tetua, Pemimpin Sekte Linghu perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya mencengkeram erat lengan kursinya. Matanya menyipit, memancarkan cahaya analisis tingkat tinggi.

"Luar biasa," bisik Tetua Puncak Pedang di sebelahnya, suaranya bergetar menahan kebanggaan dan ketegangan. Air mata haru nyaris menetes dari matanya. "Pemimpin Sekte... apakah Anda melihatnya? Jian Chen, murid bodohku yang kaku itu... akhirnya dia menyadari kesombongannya! Dia membuang senjatanya! Dia sedang menantang Master Lin dalam 'Pertempuran Alam Mimpi' (Dreamscape Battle)!"

Pemimpin Sekte Linghu mengangguk pelan, wajahnya memancarkan keseriusan yang mutlak. "Benar. Ini bukan lagi pertarungan fisik. Ini adalah benturan murni dari dua jiwa di dimensi astral. Siapa yang pikirannya memiliki riak paling sedikit, dialah yang akan menguasai lautan kekosongan. Pedang Jian Chen telah berubah menjadi ketiadaan. Sungguh sebuah pertandingan yang belum pernah terjadi selama lima ratus tahun terakhir."

Di tribun bawah, desas-desus mulai menyebar seperti api. Murid-murid yang tadinya kebingungan kini mulai berbisik-bisik dengan nada penuh pemujaan, terpengaruh oleh interpretasi para tetua.

"Astaga... jadi mereka sedang bertarung di alam pikiran?" bisik Zhao Er yang menggigit jarinya karena tegang. "Pantas saja Master Lin meminta penutup telinga! Beliau sedang mengisolasi indra pendengarannya agar jiwanya bisa melesat ke dimensi lain tanpa gangguan!"

Sementara seluruh sekte sedang membayangkan pertempuran epik antara naga emas dan raksasa es di dimensi mimpi, realitas yang terjadi di atas panggung sangatlah jauh dari kata epik.

Jian Chen sedang tersiksa.

Sangat, sangat tersiksa.

Batu basal hitam di bawah punggungnya terasa seperti wajan penggorengan raksasa. Panasnya mulai membakar menembus seragam murid dalamnya. Punggungnya melepuh, tapi ia tidak berani bergerak satu inci pun karena takut merusak "Formasi Bintang Jatuh" -nya.

Lebih buruk lagi, ia tidak bisa tidur. Pikirannya yang terbiasa aktif menganalisis kelemahan lawan kini berputar liar tanpa arah. Ia memaksa energi Qi-nya yang agresif dan berunsur logam tajam untuk berhenti mengalir. Namun, Qi tidak bisa dihentikan begitu saja tanpa penyaluran yang tepat. Ibarat membendung sungai beraliran deras dengan papan kayu tipis, tekanan di dalam Dantian (pusat energi) Jian Chen mulai menumpuk.

"Tidur... aku harus tidur..." gumam Jian Chen dalam hati, bibirnya bergetar hebat. Matanya yang terpejam tertutup sangat rapat hingga kulit di sekitar matanya memutih. "Kalahkan dia dengan kemalasan... rileks... RILEKS SIALAN!"

Pertentangan antara tekad kerasnya untuk menang dan usahanya untuk memaksakan kemalasan menciptakan sebuah paradoks energi yang mematikan di dalam tubuhnya. Meridiannya, yang terbiasa menyalurkan energi secara linear dan meledak-ledak, kini saling bertabrakan satu sama lain.

Lima menit berlalu. Bagi para penonton, ini adalah lima menit pertarungan batin yang menegangkan. Bagi Jian Chen, ini adalah lima abad penyiksaan di neraka kedelapan.

Di seberang sana, kursi goyang Lin Fan terus berayun dengan ritme yang sempurna. Lin Fan sedang bermimpi tentang kasur air yang bisa memijat punggung. Hembusan angin dari kipasnya secara tidak sengaja membawa sedikit hawa sejuk ke arah Jian Chen, yang diinterpretasikan oleh Jian Chen sebagai "Serangan Badai Es Mental" dari Master Lin.

"Dia... serangannya begitu kuat... napasnya saja sudah cukup untuk membekukan pikiranku..." rintih Jian Chen dalam hatinya, pertahanannya mulai runtuh. "Aku... aku tidak bisa menahannya lagi. Keheningannya terlalu berat... kekosongannya terlalu luas..."

KRAAAK!

Sebuah suara retakan pelan terdengar dari dalam tubuh Jian Chen. Bendungan energinya jebol. Qi pedangnya yang tajam berbalik menyerang organ dalamnya sendiri karena tidak disalurkan ke luar.

Jian Chen membuka matanya secara tiba-tiba. Bola matanya merah total, dipenuhi darah dari pembuluh kapiler yang pecah akibat tekanan energi. Ia bangkit setengah duduk, tangannya mencengkeram dadanya dengan kuat seolah ingin merobek jantungnya sendiri keluar. Wajahnya berubah menjadi topeng penderitaan yang mengerikan.

"GURU! AKU... AKU TIDAK BISA... TIDUR!"

Teriakan putus asa Jian Chen menggelegar ke seluruh penjuru amfiteater, disusul oleh muncratan darah segar berwarna merah gelap dari mulutnya. Darah itu menodai lantai batu yang panas dan langsung mendesis menguap.

Tubuh Jian Chen bergetar hebat selama dua detik sebelum akhirnya ia ambruk kembali ke lantai arena, sepenuhnya kehilangan kesadaran dengan mata yang setengah terbuka, menatap kosong ke arah langit yang menyilaukan.

Hening.

Angin kembali berhembus, membawa bau karat darah Jian Chen.

Wasit, yang sedari tadi menahan napas hingga wajahnya membiru, nyaris tersandung kakinya sendiri saat berlari mendekati Jian Chen. Ia menempelkan jarinya ke leher jenius pedang itu. Ia masih hidup, tapi meridiannya kacau balau karena serangan balik energi Qi Deviation tingkat tinggi.

Wasit berdiri dengan gemetar, menatap bergantian antara Jian Chen yang berlumuran darah dan Lin Fan yang masih berayun di kursi goyangnya tanpa lecet sedikit pun. Wasit mengangkat bendera putihnya tinggi-tinggi.

"Jian Chen mengalami Serangan Balik Dimensi Mental! Pemenangnya... LIN FAN!"

Suara wasit bagai pemantik api yang dijatuhkan ke lautan minyak.

Ledakan sorak-sorai yang terjadi kali ini seratus kali lipat lebih dahsyat dari hari pertama. Tribun Dapur Luar nyaris runtuh karena para pelayan melompat dan berteriak histeris, memeluk satu sama lain sambil menangis. Para murid dalam yang tadinya meremehkan Dapur Luar kini menundukkan kepala mereka, wajah mereka pucat pasi dipenuhi teror yang mendalam.

"Master Lin benar-benar menghancurkan pikiran seorang jenius tingkat 8 hanya dengan napasnya!" teriak seorang murid dengan suara parau. "Beliau menjebaknya dalam mimpi buruk abadi!"

Di tribun Tetua, Tetua Puncak Pedang jatuh terduduk di kursinya, air mata mengalir di pipi keriputnya. "Dia kalah... muridku kalah di alam jiwanya sendiri. Kekosongan Master Lin terlalu agung untuk dipahami oleh akal fana. Setidaknya... Jian Chen telah belajar bahwa ada langit di atas langit."

Kebisingan yang luar biasa itu, meski telah diredam oleh kapas kepompong sutra langit di telinga Lin Fan, akhirnya berhasil menembus alam bawah sadar pemuda malas itu. Getaran suara yang begitu masif membuat lantai panggung bergetar, dan getaran itu menjalar ke kursi goyang rotannya.

Kelopak mata Lin Fan bergerak lambat. Ia membuka matanya dengan susah payah, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang terang. Ia mengangkat tangannya dengan malas, menarik keluar dua gumpalan kapas dari telinganya.

Seketika, suara raungan ribuan orang yang meneriakkan namanya, "MASTER LIN! MASTER LIN!", menghantam gendang telinganya seperti badai topan.

Lin Fan berjengit kaget, nyaris terjatuh dari kursinya. Ia mengusap matanya dan menatap sekeliling. Di depannya, terkapar sosok Jian Chen yang berlumuran darah, sedang ditandu keluar oleh para medis sekte.

"Hah?" Lin Fan menganga bingung. Pikirannya yang masih setengah tertidur mencoba memproses informasi di sekitarnya.

Ada apa ini? Bukankah aku baru saja tidur? batin Lin Fan, menggaruk kepalanya yang gatal. Siapa pria yang muntah darah itu? Apakah dia memakan daging babi basi sebelum bertanding?

Ia melirik ke arah Wang Ta yang sedang berlari menaiki panggung dengan wajah berlinang air mata kebahagiaan, siap untuk kembali menggotong kursi goyangnya.

[Ding! Misi Turnamen Selesai: Mengalahkan Jenius Pedang tanpa melepas bantal!]

[Menerima Pengalaman Kultivasi +2000.]

[Inisiasi Terobosan Otomatis: Selamat! Host telah mencapai Pemurnian Tubuh Tingkat 9 (Puncak)!]

[Efek Tambahan: Memancarkan 'Aura Master Mutlak' secara pasif selama 24 jam.]

Lin Fan merasakan ledakan energi yang sangat dahsyat di dalam Dantian-nya. Ia membuang napas perlahan, dan tanpa disengaja, uap Qi yang keluar dari mulutnya membentuk cincin udara transparan yang menyapu seluruh panggung, menyapu bersih sisa darah Jian Chen dan mendinginkan batu yang panas seketika.

Melihat "keajaiban pembersihan arena" itu, sorak-sorai di tribun semakin menggila.

Lin Fan hanya bisa mendesah pasrah. Ia menyandarkan kepalanya kembali ke kursi. Sistem ini benar-benar tidak akan membiarkanku hidup tenang. Tingkat 9? Sebentar lagi aku akan menembus Alam Pendirian Fondasi, dan mereka pasti akan memaksaku menjadi Tetua Sekte. Aku harus memikirkan cara untuk pensiun dini.

"Wang Ta," panggil Lin Fan malas saat sang kepala koki dan pasukannya mengangkat tandu kursi goyangnya. "Tolong bawa aku kembali ke dapur dengan sangat pelan. Jantungku sedikit berdebar... sepertinya aku terlalu banyak tidur."

"Siap, Master Lin! Kami akan memastikan perjalanan Anda semulus menaiki awan surgawi!" isak Wang Ta, benar-benar salah mengartikan keluhan detak jantung Lin Fan sebagai efek dari "pertempuran batin yang epik".

Tandu itu kembali diarak keluar panggung, meninggalkan legenda baru yang akan diceritakan turun-temurun di Sekte Awan Mengalir: Kisah seorang pemuda yang menaklukkan pedang tajam hanya dengan selimut dan bantal.

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!