NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Balutan Jaket Kebesaran

Pagi itu, SMA Garuda Kencana tampak lebih bising dari biasanya. Karline Dharmajaya berdiri di depan gerbang, menarik napas panjang di balik masker hitam yang menutupi separuh wajahnya. Ia membetulkan letak topi baseball yang sengaja ditarik rendah hingga menutupi dahi. Jaket oversized berwarna abu-abu gelap yang ia kenakan tampak kontras dengan rok seragamnya, menyembunyikan lekuk tubuh yang sebenarnya proporsional di balik tumpukan kain longgar.

​"Eh, murid baru ya?" tegur seorang guru piket di gerbang.

​Karline hanya mengangguk kecil. Ia tidak bersuara, hanya menyodorkan map dokumen perpindahan sekolahnya.

​"Oh, Karline. Langsung ke ruang kepala sekolah di lantai dua, ya. Mari saya tunjukkan arahnya."

​"Terima kasih, Pak. Saya bisa sendiri," jawab Karline singkat. Suaranya lembut, namun terdengar diredam oleh masker.

​Ia berjalan menyusuri koridor dengan kepala tertunduk. Di balik kacamatanya yang tidak berlensa hanya properti tambahan untuk mengalihkan perhatian ia bisa melihat kerumunan siswi yang berteriak histeris di pinggir lapangan voli.

​"Dean! Kak Dean, semangat!"

​"Aduh, keringatnya Kak Dean kenapa estetik banget sih!"

​Karline menghentikan langkah sejenak. Pandangannya terjatuh pada lapangan outdoor. Di sana, seorang pemuda jangkung dengan kulit kecokelatan yang terbakar matahari tampak melompat tinggi. Tubuhnya atletis, tingginya pasti di atas 185 senti. Dengan satu gerakan smash yang tajam, bola menghujam keras ke area lawan.

​Itu Deandra. Atau Dean, sebagaimana semua orang memanggilnya.

​"Gila, servisnya nggak ada obat," gumam seorang siswa di sebelah Karline.

​Karline tidak tertarik lebih lama. Ia kembali berjalan, namun sialnya, sebuah bola voli melambung liar keluar lapangan, memantul keras ke arah koridor, dan tepat menggelinding di depan kakinya.

​"Woi, tolong ambilin dong!" teriak sebuah suara berat dari tengah lapangan.

​Karline terpaku. Ia melihat Dean berjalan santai ke arah pinggir lapangan. Keringat membasahi jersey tanpa lengannya, memperlihatkan otot bisep yang kencang. Dean berdiri di sana, menatap Karline dengan tatapan cuek yang melegenda.

​Karline membungkuk, mengambil bola itu dengan jemari lentiknya yang putih pucat hampir sewarna susu dengan rona pink tipis di kuku namun segera ia sembunyikan di balik lengan jaket yang panjang.

​"Ini," ucap Karline sambil menyodorkan bola tanpa menatap mata Dean.

​Dean menerima bola itu. Ia sempat terdiam sesaat, memperhatikan sosok di depannya yang tampak aneh. "Anak baru?"

​"Iya," jawab Karline pendek.

​"Kelas berapa?"

​"Sebelas."

​Dean memutar-mutar bola di tangannya. "Kenapa pakai jaket sama masker? Gerah tahu. Ini sekolah, bukan pasar pagi."

​Karline tidak menjawab. Ia justru memutar tubuh dan melangkah pergi begitu saja tanpa pamit.

​"Heh, ditanyain malah pergi," gumam Dean. Ia hanya mengangkat bahu, lalu kembali ke tengah lapangan tanpa memikirkan kejadian itu lebih jauh. Baginya, gadis itu hanyalah satu lagi orang asing yang berusaha mencari perhatian dengan cara yang berbeda.

​Di ruang kelas barunya, XI-IPA 2, suasana mendadak hening saat wali kelas masuk membawa Karline.

​"Anak-anak, kita kedatangan teman baru. Silakan perkenalkan dirimu, Nak."

​Karline berdiri di depan kelas. Topinya sudah dilepas sesuai aturan, namun maskernya tetap terpasang erat. Rambutnya yang hitam legam disanggul asal ke atas, namun beberapa helai jatuh menjuntai di tengkuknya yang putih bersih.

​"Nama saya Karline Dharmajaya. Pindahan dari Bandung. Salam kenal," ucapnya datar.

​"Lho, Karline, maskernya boleh dibuka? Biar teman-temannya tahu wajahmu," ujar Bu Siska, sang wali kelas.

​Karline menggeleng cepat. "Maaf, Bu. Saya sedang flu berat. Khawatir menular."

​"Oh, begitu. Ya sudah, kamu duduk di kursi kosong paling belakang itu, ya."

​Karline berjalan cepat menuju kursinya. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik dari teman-teman sekelasnya. Beberapa siswi berbisik-bisik, menertawakan jaketnya yang kedodoran.

​"Dih, sok misterius banget," bisik seorang gadis berambut pendek di barisan depan.

​"Palingan aslinya jerawatan, makanya ditutupin," timpal yang lain sambil tertawa kecil.

​Karline tidak peduli. Ia justru merasa lega. Semakin mereka menganggapnya aneh atau tidak menarik, semakin tenang hidupnya. Ia hanya ingin belajar, menyelesaikan sekolah, dan menulis novelnya dengan tenang tanpa gangguan drama remaja.

​Saat jam istirahat tiba, Karline memilih untuk tetap di kelas, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Namun, ketenangannya pecah saat segerombolan siswa kelas tiga lewat di depan kelasnya. Di tengah rombongan itu, tentu saja ada Dean.

​"Dean, kantin yuk! Gue yang traktir," ajak salah satu temannya, seorang cowok berambut ikal bernama Raka.

​"Gue mau ke perpus. Ada tugas Pak mamat," jawab Dean malas.

​"Sejak kapan lo rajin? Paling mau numpang tidur doang kan karena AC nya dingin?"

​Dean hanya nyengir tipis senyum yang nyaris tidak terlihat tapi mampu membuat siswi di sepanjang koridor menahan napas. "Tahu aja lo."

​Langkah kaki mereka berhenti tepat di depan pintu kelas Karline. Dean secara tidak sengaja menoleh ke dalam dan melihat gadis "masker" tadi sedang asyik menulis.

​"Eh, itu kan cewek yang tadi di lapangan?" tunjuk Raka. "Gila, penampilannya mirip ninja gitu. Siapa sih?"

​Dean memperhatikan Karline dari kejauhan. Dari posisi ini, ia bisa melihat tangan gadis itu yang bergerak lincah di atas kertas. Kulit tangan itu terlihat sangat bersih, kontras dengan jaket kusam yang dikenakannya.

​"Nggak tahu. Anak baru katanya," jawab Dean singkat.

​"Lo nggak penasaran? Biasanya kan lo jago nebak spek cewek," goda Raka.

​"Biasa aja. Paling cupu," sahut Dean ketus sebelum melanjutkan langkahnya.

​Karline mendengar itu. Jemarinya sempat berhenti menulis. Ia menghela napas, lalu menyentuh masker yang menutupi pipinya. Di balik kain itu, tersimpan sebuah rahasia sebuah senyum manis dengan lesung pipi kecil di sebelah kanan yang bisa membuat siapa pun terpana. Namun, biarlah rahasia itu tetap tersimpan. Baginya, menjadi "si cupu yang tidak terlihat" jauh lebih aman daripada menjadi pusat perhatian.

​"Lagian, siapa juga yang mau urusan sama cowok sombong kayak dia," batin Karline sambil menutup buku catatannya rapat-rapat.

​Namun, takdir sekolah menengah biasanya tidak pernah membiarkan seseorang bersembunyi selamanya. Dan Karline belum tahu, bahwa pertemuannya dengan bola voli tadi pagi hanyalah awal dari rangkaian kejadian yang akan memaksa jaket kebesarannya itu terlepas.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!