Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguras Harta Karun
Api kecil di telapak tangan Boqin Changing bergetar pelan, memantulkan cahaya pada ukiran pedang yang baru saja ia temukan. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam, membiarkan ingatannya dari kehidupan pertama bertabrakan dengan kenyataan di hadapannya.
Namun kali ini, ia tidak hanya berhenti pada satu gambar. Tatapannya bergerak. Perlahan… sangat perlahan… Boqin Changing mulai menelusuri keseluruhan rangkaian ukiran yang mengelilingi gambar pedang itu. Api di tangannya naik sedikit, membuat bayangan dinding menari dan memperlihatkan detail yang sebelumnya tersembunyi.
Ia memandang keseluruhan alur cerita yang terhampar di dinding goa itu. Banyak bagian yang membingungkannya. Simbol-simbol asing, adegan yang tidak memiliki kesinambungan jelas, serta tulisan yang hanya mampu ia pahami sebagian. Namun beberapa potongan cerita tetap berhasil ia tangkap.
Seorang pengelana dari dunia lain. Kehilangan sesuatu. Menemukan Pedang Penebas Dewa. Menggunakannya lalu… mengembalikannya. Dan setelah itu, tatapan Boqin Changing berhenti bergerak. Matanya tertarik pada satu arah di ujung ruangan.
Di sana, pada bagian pojok yang hampir tidak tersentuh cahaya, berdiri sebuah benda yang sejak awal luput dari perhatiannya. Sebuah cermin emas.
Bingkainya besar, dihiasi ukiran awan dan bintang yang saling berkelindan. Permukaannya tidak memantulkan bayangan seperti cermin biasa, melainkan tampak seperti lembaran air tenang berwarna keemasan.
Boqin Changing menatapnya tanpa berkedip. Lalu perlahan, ia kembali memandang dinding goa. Api di tangannya bergeser, menyinari bagian ukiran lain yang sebelumnya ia abaikan. Di sana tergambar sosok pengelana itu berdiri di depan sebuah cermin yang identik dengan yang berada di ruangan ini.
Boqin Changing menyipitkan mata. Menurut cerita yang ia tangkap… pemilik Pedang Penebas Dewa kembali ke alamnya. Ia pergi melalui cermin itu.
Tatapannya kembali pada cermin emas di pojok ruangan.
“Jadi… ini jalannya?” gumamnya sangat pelan.
Namun pertanyaan lain segera muncul. Jika ia kembali ke alamnya… lalu mengapa semua harta ini ditinggalkan di sini?
Emas, berlian, artefak, bahkan mahkota kerajaan semuanya tetap berada di goa ini. Tidak ada penjelasan pada ukiran mengenai hal itu. Seolah sang pemilik pedang tidak menganggap harta ini penting untuk dibawa pulang. Atau… Ia memang tidak bisa atau tidak mau membawanya.
Pikiran Boqin Changing berputar cepat. Tatapannya kembali pada cermin. Ia kini merasakan sesuatu.
Fluktuasi energi yang sangat halus. Hampir tidak ada. Namun bagi indera spiritualnya, itu cukup untuk memastikan satu hal.
Cermin yang ada di ruangan ini bukan benda biasa. Ini adalah gerbang. Gerbang menuju alam lain.
Ingatan dari tulisan yang sempat ia pahami kembali muncul. Alam yang diceritakan dalam ukiran itu digambarkan sangat sejahtera. Kekayaan alamnya melimpah. Energi langit dan bumi jauh lebih padat. Yang paling mencolok, Para pendekarnya lebih kuat dibandingkan alam ini.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki goa, Boqin Changing merasakan sesuatu yang jarang muncul dalam dirinya. Ketertarikan murni. Matanya memancarkan kilau tipis. Ia berbalik.
“Paman,” panggilnya.
Sha Nuo yang sejak tadi berdiri di belakang langsung mendekat.
“Apa kau menemukan sesuatu?”
Boqin Changing mengangguk kecil, lalu mulai menceritakan apa yang ia tangkap dari rangkaian cerita di dinding goa. Tentang pengelana dari dunia lain. Tentang Pedang Penebas Dewa. Tentang kepulangan melalui cermin. Tentang kemungkinan keberadaan alam lain yang jauh lebih makmur dan kuat.
Sha Nuo mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama, matanya semakin melebar.
“Alam lain…” gumamnya.
Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba, Sha Nuo tersenyum.
Bukan senyum biasa. Senyum penuh gairah yang jarang terlihat di wajahnya.
“Tempat baru. Kekayaan luar biasa. Pendekar kuat.”
Ia tertawa pelan. Adrenalinnya langsung meningkat. Tatapannya beralih ke cermin emas itu dengan sorot tajam.
“Menarik.”
Ia menoleh pada Boqin Changing. Tanpa ragu sedikit pun, Sha Nuo berkata,
“Kalau begitu, kita pergi ke sana sekarang.”
Boqin Changing tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada cermin emas di pojok ruangan, sementara api kecil di telapak tangannya terus bergetar lembut. Kilau keemasan cermin itu memantul di pupil matanya, menciptakan bayangan seperti riak air yang tak berujung.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan,
“Paman… tetaplah tenang.”
Sha Nuo sedikit mengernyit. Gairah yang sebelumnya menyala di wajahnya tidak langsung padam, namun ia memilih menahan diri.
Boqin Changing melanjutkan,
“Kita tidak perlu terburu-buru pergi ke sana.”
Ia berbalik, menatap Sha Nuo dengan sorot serius yang jarang muncul tanpa alasan jelas.
“Jika mengacu pada cerita di dinding ini, orang-orang di alam sana kemungkinan lebih kuat dari kita. Masuk tanpa persiapan hanya akan menjadi tindakan bodoh.”
Kata-kata itu diucapkan tenang, namun bobotnya terasa berat.
Sha Nuo terdiam. Semangatnya tidak hilang, tetapi ia memahami logika di balik ucapan itu. Boqin Changing bukan tipe orang yang menghindari bahaya… tetapi ia juga bukan seseorang yang gegabah.
Boqin Changing menarik napas pelan.
“Aku ingin mengajak Paman ke sebuah tempat dulu.”
Sha Nuo tampak bingung. Ia menatap Boqin Changing seolah menunggu penjelasan lanjutan, namun tidak satu kata pun keluar dari mulutnya. Ia hanya mengangguk tipis, memilih percaya.
Boqin Changing kemudian memandang sekeliling ruangan.
Tatapannya bergerak perlahan, menyapu seluruh goa yang dipenuhi harta. Gunungan emas. Permata dan berlian yang memancarkan cahaya redup.
Api kecil di tangannya memantul di setiap permukaan berharga itu.Lalu pandangannya berhenti ke sisi kiri.
Tanpa banyak gerakan, Boqin Changing mengangkat tangan kirinya. Cincin ruang di jarinya berkilau samar.
Seketika,
Huuuummmm....
Aliran energi ruang bergetar tipis. Gunungan harta di sisi kiri ruangan mulai bergetar, lalu satu per satu terangkat seperti ditarik oleh pusaran tak kasat mata. Peti emas, tumpukan koin, hingga bongkahan logam langka semuanya melesat menuju cincin ruang Boqin Changing.
Masuk.
Lenyap.
Masuk.
Lenyap.
Sha Nuo menatap pemandangan itu dengan mata membesar. Bahkan bagi seseorang yang telah menempuh banyak perjalanan hidup, jumlah harta di goa ini tetap terasa luar biasa. Setiap benda di sini bisa mengguncang dunia luar jika kemunculannya diketahui.
Namun Sha Nuo tidak bergerak. Tidak ada keinginan mengambilnya. Tidak ada keserakahan. Di dalam hatinya, keputusan itu sederhana. Harta ini milik tuannya.
Boqin Changing terus bergerak tanpa suara. Tangannya hampir tidak tampak bergerak, tetapi cincin ruangnya terus menelan harta di sisi kiri goa. Seolah bagian itu perlahan menghilang dari keberadaan.
Hingga akhirnya, iaberhenti. Sisi kiri ruangan kini jauh lebih kosong dibanding sebelumnya. Boqin Changing memandang hasilnya sejenak, lalu berbalik. Tatapannya jatuh pada Sha Nuo.
“…Bagian sisi kanan,” ucapnya tenang, “adalah milik Paman Nuo.”
Sha Nuo tertegun.
“Kau bisa mengambilnya. Sisakan hanya cermin emas itu.”
Kata-kata itu jatuh begitu saja, seolah hal itu adalah keputusan paling wajar di dunia. Namun bagi Sha Nuo, itu bukan hal kecil.
Matanya langsung melebar. Tubuhnya bahkan sedikit tersentak.
“A-apa?”
Ia menatap harta di sisi kanan, lalu kembali pada Boqin Changing. Dalam sepersekian detik, Sha Nuo buru-buru menggeleng.
“Tidak. Tuan muda, ini...”
Penolakannya keluar hampir refleks. Namun sebelum kalimat itu selesai, Boqin Changing sudah memotongnya.
“Aku tidak menerima penolakan.”
Suaranya tidak keras. Tidak pula mengandung emosi berlebih. Tetapi nada tenang itu justru terasa lebih mutlak dibanding perintah apa pun. Api kecil di telapak tangannya bergetar pelan, menerangi wajahnya yang tampak dingin dan tak tergoyahkan.
Sha Nuo terdiam.
Boqin Changing menatapnya lurus, lalu berkata lagi,
“Anggap saja ini bayaran… karena Paman akan menemaniku memasuki dunia yang lain.”
Ucapan itu membuat dada Sha Nuo terasa berat. Ia tahu Boqin Changing bukan orang yang sembarangan memberi sesuatu. Terlebih lagi harta sebesar ini.
Sha Nuo membuka mulut, ingin menolak lagi.
“Tuan muda, aku...”
Kalimatnya berhenti di tengah jalan. Tatapan Boqin Changing sudah lebih dulu menahannya. Tidak ada tekanan energi. Tidak ada aura menekan. Hanya sepasang mata tenang yang memandang lurus ke dalam dirinya. Namun justru di situlah kekuatannya. Tatapan itu membawa keyakinan absolut… sekaligus keputusan yang tak memberi ruang perdebatan.
Beberapa detik hening. Sha Nuo akhirnya menghela napas panjang.
“…Baiklah.”
Ia menyerah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sha Nuo berbalik menuju sisi kanan goa. Tangannya terangkat, memperlihatkan cincin ruang di jarinya yang mulai berpendar samar. Getaran energi ruang segera menyebar tipis.
Huuummm.....
Satu demi satu harta mulai terangkat. Peti koin emas. Batangan emas. Harta berbentuk gelang, mahkota, hingga bongkahan kristal berwarna ungu gelap. Semuanya melesat menuju cincin ruang Sha Nuo dan menghilang tanpa suara.
Masuk.
Lenyap.
Masuk.
Lenyap.
Gerakannya cepat, namun tetap rapi. Sha Nuo tidak menunjukkan ekspresi kegirangan ataupun keserakahan. Ia hanya bekerja, seolah menjalankan tugas yang telah diputuskan.
Sementara itu, Boqin Changing tidak lagi memperhatikan harta. Tatapannya beralih. Ia mengangkat tangannya, dan cincin ruangnya berkilau redup. Sebuah riak energi ruang muncul sangat singkat… lalu sesuatu jatuh ke telapak tangannya.
Sebuah artefak. Sebauah Pagoda kecil. Ukurannya hanya sebesar kepalan tangan, namun detailnya luar biasa halus. Setiap tingkat pagoda dipenuhi ukiran awan dan simbol kuno yang tampak hidup ketika terkena cahaya api di telapak tangan Boqin Changing.
Artefak itu tampak sederhana pada pandangan pertama. Namun fluktuasi energi yang dipancarkannya… jauh dari sederhana.
Boqin Changing menatap pagoda kecil itu tanpa berkedip. Api di telapak tangannya bergetar pelan, membuat bayangan pagoda memanjang di dinding goa. Kilau samar muncul di matanya, bukan karena keserakahan, melainkan pengenalan.
Ia tahu benda ini. Pagoda Serpihan Surga..
Sementara di belakangnya, suara harta yang terus tersedot ke dalam cincin ruang Sha Nuo masih terdengar pelan, menjadi latar sunyi bagi momen itu.
Boqin Changing menggenggam pagoda kecil tersebut sedikit lebih erat. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...