NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23. Kebenaran di Balik Hutang Nyawa

Ruang rapat itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa semakin menggigit. Shafira berdiri di tengah kepungan tatapan penuh penghakiman, namun ia tidak menunduk. Ia menatap Dave, mencoba menemukan pria yang semalam bersumpah untuk mempercayainya.

"Tunjangan kesetiaan?" Bu Sarah mengulangi kata-kata Shafira dengan nada mengejek. "Dave, jangan biarkan wajah polos ini menipumu lagi. Bukti ini tidak bisa berbohong. Ayahmu memberikan uang itu agar reputasi Mahesa Group tetap bersih. Dan sekarang, putri sang pemeras ini ingin menguasai hati dan hartamu."

Dave berdiri, tangannya menumpu pada meja jati. Ia menatap lembaran rekening itu, lalu beralih ke Shafira.

"Shafira, apakah kau tahu apa yang terjadi di Surabaya dua puluh tahun lalu?"

"Saya masih balita saat itu, Pak Dave," suara Shafira bergetar namun tetap jernih.

"Tapi saya tahu satu hal. Ayah saya tidak pernah memiliki barang mewah. Uang itu... Ayah selalu bilang itu adalah tabungan untuk pendidikan saya dan Farhan. Jika itu uang pemerasan, Ayah tidak akan menghabiskannya untuk memberikan makanan halal ke mulut kami."

"Cukup!" bentak Bu Sarah. "Sekarang, para anggota dewan, mari kita lakukan pemungutan su—"

"Tunggu," potong Dave. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang membuat Bu Sarah terdiam.

"Ada yang aneh. Jika Pak Rahman memang memeras Ayah, kenapa pengiriman uang ini berhenti tepat saat Ayah jatuh koma? Seorang pemeras yang cerdas pasti akan menuntut lebih banyak saat keadaan sedang kacau, atau setidaknya memastikan aliran dananya tetap lancar."

"Itu karena dia takut padaku!" sahut Bu Sarah cepat.

"Atau," Dave melangkah mendekati ibunya, "karena uang ini sebenarnya bukan uang tutup mulut. Rio, hubungkan panggilan ke rumah sakit. Sekarang."

Layar besar di ruang rapat menyala, menampilkan visual dari ruang VVIP rumah sakit. Di sana, Pak Devan tampak sudah sadar sepenuhnya. Ia bersandar di bantal, wajahnya masih pucat namun matanya menyorotkan ketegasan yang sudah lama hilang. Di sampingnya, Pak Rahman duduk di kursi roda dengan selang infus yang masih terpasang.

"Dave... Sarah..." suara Pak Devan terdengar parau melalui speaker.

"Mas Devan? Kau sudah sadar?" Bu Sarah tampak memucat, tangannya gemetar di atas map merah.

"Aku mendengar semuanya melalui asistenku," ujar Pak Devan. Ia menatap langsung ke kamera, seolah menatap satu per satu anggota dewan.

"Uang yang selama dua puluh tahun ini aku kirimkan ke Rahman... itu bukan uang pemerasan. Itu adalah hutang nyawa."

Seluruh ruangan terkesiap. Dave menahan napas.

"Dua puluh tahun lalu di Surabaya," Pak Devan melanjutkan, "kecelakaan gudang itu memang terjadi karena kelalaian sistem. Tapi yang tidak kalian ketahui, Sarah-lah yang memerintahkan untuk mematikan sensor keamanan malam itu demi mengejar target pengiriman. Saat investigasi dimulai, Rahman tahu segalanya. Dia bisa saja menghancurkan Mahesa Group dan memenjarakan Sarah."

Pak Devan terbatuk sejenak sebelum menyambung, "Tapi Rahman memilih diam. Bukan karena uang, tapi karena dia melihat Dave yang masih kecil dan tidak ingin melihat keluarga kita hancur.

Dia setuju untuk pindah ke Jakarta, menjadi tukang kebun untuk menutupi identitasnya agar investigasi itu tidak pernah sampai ke pintu rumah kita. Uang itu adalah kompensasi ku atas karier dan hidupnya yang hancur demi melindungi istriku."

Keheningan yang mencekam kembali melanda. Kali ini, semua mata tertuju pada Bu Sarah. Wajah wanita itu kini tidak lagi angkuh, melainkan penuh ketakutan yang telanjang.

"Jadi..." Dave menoleh ke arah ibunya, suaranya sarat dengan kekecewaan yang mendalam.

"Selama dua puluh tahun ini, Pak Rahman melindungi Mama, dan Mama justru membalasnya dengan mencoba membunuhnya melalui tangan Clara, lalu memfitnahnya sebagai pemeras?"

"Dave, Mama melakukan ini untukmu! Untuk perusahaan ini!" Bu Sarah mencoba membela diri, namun suaranya terdengar hampa.

"Tidak, Ma. Mama melakukannya untuk ego Mama sendiri," ujar Dave dingin.

Ia berbalik ke arah dewan komisaris. "Saya rasa agenda rapat ini sudah selesai. Bukti telah berbicara. Saya meminta dewan untuk segera memproses pemberhentian permanen Ibu Sarah dari seluruh posisi di Mahesa Group atas dasar pelanggaran etika berat dan manipulasi data."

Para komisaris mengangguk serempak. Mereka menyadari bahwa kekuatan telah berpindah tangan secara mutlak.

Setelah ruangan rapat kosong, hanya tersisa Dave dan Shafira. Shafira menyandarkan tubuhnya ke dinding, merasa seluruh energinya terkuras habis. Dave berjalan mendekat, kali ini ia tidak ragu untuk melampaui batas jarak yang biasanya.

"Shafira," panggil Dave lembut.

Shafira mendongak, matanya masih basah. "Pak Dave... saya ingin pulang. Saya ingin melihat Ayah."

"Aku akan mengantarmu," ujar Dave. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tulus,

"Maafkan aku karena sempat ragu. Ternyata, selama ini aku tinggal bersama monster, sementara pahlawan yang sebenarnya sedang memotong rumput di halaman belakang rumahku."

Shafira tersenyum tipis di balik sisa tangisnya. "Kebenaran memang seperti fajar, Pak Dave. Dia butuh waktu untuk mengusir malam, tapi dia pasti akan datang."

Saat mereka melangkah keluar gedung, Dave menyadari satu hal. Ia mungkin masih menjadi CEO, tapi mahkota yang ia kenakan kini terasa berbeda. Ia bukan lagi pemimpin yang berkuasa karena harta, tapi karena ia akhirnya mengerti arti dari sebuah integritas.

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!