NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju hutan terdalam

Pagi datang ke Hutan Kabut Kematian bukan dengan cahaya emas yang hangat, melainkan dengan pergeseran gradasi dari hitam pekat menjadi abu-abu suram. Kabut terasa lebih berat, seolah-olah uap air itu sendiri telah jenuh dengan dosa-dosa malam sebelumnya.

Lu Daimeng membuka matanya.

Dia berada di dalam gua. Dia terbaring di cekungan batu tempat dia "mandi" semalam. Cairan di sekelilingnya telah mengering. Darah kultivator yang tadinya cair dan hangat kini telah menjadi kerak merah kehitaman yang membungkus tubuhnya seperti kepompong kaku.

Dia menarik napas panjang. Udara beracun hutan masuk ke paru-parunya, namun anehnya, tidak ada rasa sesak. Paru-parunya tidak lagi menolak racun itu; mereka menyaringnya, mengambil apa yang berguna dan membuang sisanya.

Krak.

Lu Daimeng menggerakkan lengannya. Kerak darah kering itu pecah, berjatuhan seperti serpihan tanah liat kuno.

Dia duduk tegak, merasakan sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Tidak ada rasa sakit dari tulang rusuk yang retak kemarin. Tidak ada rasa nyeri dari otot yang tegang.

Yang ada hanya... kepadatan.

Dia merasa berat. Bukan berat karena lemak atau beban, tapi berat jenis tubuhnya seolah meningkat. Dia merasa seperti patung besi yang diberi nyawa. Gravitasi terasa menariknya lebih kuat, namun otot-ototnya merespons dengan daya tolak yang setara.

Lu Daimeng melihat tangannya. Kulitnya yang tertutup sisa darah tampak lebih tebal. Pori-porinya rapat.

"Apakah aku masih manusia?" tanyanya pada keheningan hutan.

Itu pertanyaan retoris. Dia tidak peduli dengan klasifikasi biologis. Dia hanya peduli pada fungsi.

Di sampingnya, ada sebongkah batu granit seukuran kepala kerbau. Permukaannya licin dan keras, ditempa alami olah alam selama ratusan tahun.

Lu Daimeng meletakkan tangan kirinya di atas batu itu. Dia tidak mengambil ancang-ancang. Dia tidak menggunakan teknik pernapasan atau tidak menyalurkan Qi—karena dia memang tidak memilikinya.

Dia hanya... menekan.

Dia mengirimkan perintah sederhana dari otaknya ke otot trisep dan pektoralisnya: Hancurkan.

Otot-otot di lengannya menegang, serat-seratnya memadat seperti kabel baja yang ditarik maksimal.

KREK... PRAK!

Suara itu kering dan kasar.

Batu granit itu tidak meledak seperti jika dipukul oleh tenaga dalam kultivator. Batu itu retak, lalu hancur ke dalam, remuk di bawah tekanan fisik murni.

Lu Daimeng menarik tangannya. Serbuk batu dan pecahan tajam menempel di telapak tangannya, tapi kulitnya tidak tergores sedikit pun.

Dia menatap tumpukan batu yang hancur itu dengan tatapan datar, seolah sedang memeriksa hasil laporan eksperimen yang seimbang.

"Kekuatan fisik murni setara dengan... mungkin setengah kekuatan banteng liar," analisisnya dingin. "Tanpa Qi. Tanpa teknik. Hanya struktur otot yang berevolusi."

Ini gila. Di dunia kultivasi, tubuh fisik hanyalah wadah. Tanpa Qi, sekuat apa pun otot manusia, ia tidak akan bisa menghancurkan batu granit dengan remasan tangan. Tapi Lu Daimeng telah melanggar batasan itu. Dia bukan berkultivasi; dia bermutasi.

Dia menoleh ke arah dua mayat yang tergeletak di dekatnya.

Kultivator Iblis tanpa kepala, dan Kultivator Pedang yang dadanya berlubang.

Mereka sudah kering. Darah mereka telah habis dia gunakan. Daging mereka mulai membusuk karena racun hutan.

Namun, mata Lu Daimeng tertuju pada satu titik spesifik di tubuh mereka. Perut bagian bawah.

Dantian.

Pusat energi. Wadah di mana seorang kultivator menyimpan esensi hidup dan Qi mereka.

Perut Lu Daimeng berbunyi.

Bukan bunyi lapar biasa. Itu adalah suara geraman dari dalam, seolah ada binatang buas yang tidur di dalam ususnya dan baru saja mencium bau sarapan. Hukum Kerakusan berdenyut di pelipisnya, mengirimkan impuls yang tak tertahankan.

Makan...

Intinya... makan intinya...

Lu Daimeng tidak melawan impuls itu. Dia adalah pragmatis sejati. Jika tubuhnya meminta sesuatu dengan begitu spesifik, pasti ada alasan evolusioner di baliknya.

Dia merangkak mendekati mayat Kapten Chu. Dia menggunakan tanduk besi di tangannya—yang kini dia gunakan sebagai pisau bedah kasar—untuk membelah perut bagian bawah mayat itu.

Dia tidak jijik. Dia melihat anatomi itu dengan rasa ingin tahu seorang ilmuwan gila.

Dia merobek lapisan otot perut, menyingkirkan usus yang pucat, dan menemukan organ itu. Dantian fisik. Bentuknya seperti simpul saraf yang memadat, seukuran kenari, berwarna putih kemerahan. Meski kultivasinya hancur, organ itu masih memancarkan sisa-sisa energi samar.

Lu Daimeng mengambilnya.

Dantian itu terasa hangat dan padat di tangannya.

Tanpa upacara, tanpa doa, Lu Daimeng memasukkannya ke dalam mulutnya.

Dia mengunyah.

Crot.

Cairan pahit dan manis meledak di lidahnya. Rasanya seperti memakan empedu yang dicampur dengan madu dan listrik statis. Teksturnya alot.

Lu Daimeng menelannya bulat-bulat.

GLUK.

Seketika, dia mematung.

Matanya melebar. Pupilnya bergetar.

Bukan rasa sakit yang menghantamnya kali ini.

Itu adalah... resonansi.

Di dalam perutnya—di tempat di mana Dantian seharusnya berada, tempat yang selama ini kosong dan hampa—sesuatu berkedip.

Itu bukan Dantian yang tumbuh. itu adalah hasil evolusi mutasi alami dari apa yang dimakan oleh Lu Daimeng selama ini, itu seperti kekosongan.

Kekosongan itu "melihat" Dantian yang masuk. Dan kekosongan itu... tersinggung.

Bagaimana bisa ada sesuatu yang "berisi" masuk ke dalam wilayah "ketiadaan"?

Dalam sepersekian detik, Lu Daimeng merasakan sensasi dingin yang menusuk tulang saat Dantian kapten itu dihapus. Bukan dicerna. Dihapus.

Energi yang terkandung di dalamnya tidak menyebar ke tubuhnya, melainkan disedot habis ke dalam titik singularitas itu.

Dan sebagai gantinya, titik singularitas itu memuntahkan sedikit... abu.

Abu abu-abu yang menyebar ke aliran darah Lu Daimeng. Abu yang terasa berat, purba, dan sangat padat.

"Ahhh..." Lu Daimeng teriak panjang. Menghembuskan Uap putih dari mulutnya.

Dia merasakan tulangnya bergetar. Abu itu menempel pada kerangka tubuhnya, memperkuat kalsium dengan esensi mutasi.

Dia segera beralih ke mayat Kultivator Iblis. Dia melakukan hal yang sama. Membedah, mengambil Dantian, dan memakannya.

Sekali lagi. Resonansi. Penghapusan. Dan muntahan abu yang memperkuat tulang.

Lu Daimeng jatuh terlentang, menatap atap gua yang suram. Napasnya memburu.

"Aku tidak membentuk Qi," bisiknya, menyadari kebenaran mengerikan tentang jalannya. "Aku tidak akan pernah memiliki Dantian."

Dia tertawa kecil. Tawa yang kering dan gelap.

"Aku memakan Dantian orang lain untuk memperkuat 'diriku' sendiri. Sunggu jalan yang mengerikan."

Dia mengepalkan tangannya lagi. Tulang-tulangnya terasa berdenyar. Dia tahu, jika dia memukul batu itu lagi sekarang, batunya akan remuk dengan pecahan yang lebih kecil.

Dia bangkit berdiri. Dia merasa lapar lagi. Tapi kali ini, dia butuh daging untuk mengisi perut fisiknya, bukan intisari untuk jiwanya.

Dia melihat pedang milik Kapten Chu yang tergeletak di tanah.

Pedang itu indah. Bilahnya terbuat dari baja dingin yang ditempa dengan teknik sekte awan biru, berkilau kebiruan. Gagangnya dililit kulit hiu putih. Benda yang elegan, senjata seorang bangsawan.

Lu Daimeng memungutnya.

Terasa ringan. Terlalu ringan untuk kekuatan barunya. Dan canggung.

Lu Daimeng tidak pernah belajar seni pedang. Keluarga Lu tidak pernah mengizinkannya menyentuh senjata pusaka. "Sampah tidak butuh pedang," kata mereka. "Sampah hanya butuh sapu."

Dia mengayunkan pedang itu.

Wush.

Ayunan yang buruk. Penuh celah. Keseimbangannya salah. Seorang murid sekte tingkat dasar pun akan tertawa melihat cara dia memegang gagang itu—seperti memegang tongkat pemukul anjing.

"Tidak masalah," gumam Lu Daimeng. "Aku hanya butuh ketajaman."

Dia menyelipkan tanduk kelinci di pinggangnya, dan memegang pedang itu dengan tangan kanan. Dia juga mengambil cincin spasial milik kedua kultivator itu. Dia tidak bisa membukanya. Dia mengalungkannya di leher menggunakan tali dari kain, menyembunyikannya di balik rambut panjangnya yang kotor.

Dia bergerak menjauh dari lokasi pembantaian itu. Bau darah di sana sudah terlalu menyengat, dan meskipun dia kuat, dia tidak bodoh. Bau ini akan mengundang sesuatu yang tidak bisa dia tangani.

Tiga jam kemudian.

Lu Daimeng berjongkok di atas dahan pohon besar yang tertutup lumut hitam. Di bawahnya, seekor binatang buas sedang mengunyah bangkai rusa.

Serigala Punggung Pedang (Sword-Backed Wolf).

Binatang ini dua kali lebih besar dari serigala biasa. Bulunya biru kelabu, dan di sepanjang tulang punggungnya, tumbuh deretan tulang pipih yang tajam menyerupai bilah pedang bergerigi. Giginya mampu menghancurkan baju zirah besi.

Ini adalah predator tingkat menengah di area luar hutan. Setara dengan Kultivator Pembentukan Qi Tahap 3 atau 4.

Jauh di atas level Lu Daimeng jika kita bicara soal energi.

Tapi Lu Daimeng tidak bermain adu energi.

Dia mengamati serigala itu. Dia melihat bagaimana serigala itu makan—rakus, tidak waspada.

Lu Daimeng melompat turun.

Dia tidak berteriak. Dia tidak mengeluarkan aura membunuh. Dia jatuh seperti batu yang dijatuhkan dari langit.

Serigala itu mendengar suara angin. Ia menoleh ke atas.

Yang dilihatnya adalah seorang manusia purba yang jatuh dengan pedang terhunus.

Lu Daimeng tidak menggunakan teknik "Pedang apapun". Dia menggunakan gravitasi.

Dia memegang pedang Kapten Chu dengan kedua tangan, ujungnya menghadap ke bawah, membidik tepat ke pangkal leher serigala itu, di antara tulang belikat.

JLEB!

Pedang baja dingin itu menembus daging serigala, didorong oleh berat badan Lu Daimeng yang meningkat dan momentum jatuh.

"GWOOOAR!"

Serigala itu meraung kesakitan. Tulang punggungnya yang tajam tidak bisa menahan tusukan vertikal.

Namun, binatang itu kuat. Ia mengibas tubuhnya dengan brutal.

Lu Daimeng terlempar. Pegangannya pada pedang terlepas. Pedang itu masih menancap di punggung serigala.

Serigala itu berbalik, matanya merah menyala, mulutnya berbusa darah. Ia marah. Ia siap mencabik manusia kecil ini.

Lu Daimeng mendarat dengan berguling, lalu segera bangkit dengan kuda-kuda rendah. Dia tidak memiliki senjata di tangan.

Serigala itu menerjang. Giginya mengarah ke tenggorokan.

Lu Daimeng tidak mundur.

Saat rahang itu terbuka di depan wajahnya, Lu Daimeng melakukan sesuatu yang nekat. Dia menghantamkan kepalan tangan kirinya—yang tulangnya telah diperkuat oleh abu Dantian—ke arah hidung serigala itu.

Pukulan uppercut yang kasar.

BUKK!

Suara tulang hidung yang hancur terdengar.

Kepala serigala itu tersentak ke atas karena kekuatan benturan fisik yang tidak masuk akal itu. Momentum terjangannya terhenti.

Lu Daimeng tidak memberi jeda. Dia melompat ke punggung serigala itu, mencengkeram bulu kerasnya dengan tangan kiri, dan tangan kanannya meraih gagang pedang yang masih menancap.

Serigala itu melompat-lompat, mencoba menjatuhkannya. Punggung pedang di tubuh serigala itu menggores paha dan dada Lu Daimeng, menciptakan luka-luka panjang.

Lu Daimeng tidak peduli. Dia memutar pedang itu di dalam luka.

"Mati kau, anjing besar," geramnya.

Dia menarik pedang itu keluar dengan sentakan kasar, lalu menusukkannya kembali berkali-kali ke sisi leher serigala itu.

Tusuk. Tarik. Tusuk. Tarik.

Seperti mesin jahit yang rusak. Brutal. Berdarah. Tanpa seni sama sekali.

Darah menyembur ke wajahnya, membutakan matanya sejenak. Serigala itu akhirnya ambruk, kejang-kejang, lalu mati.

Lu Daimeng jatuh di sampingnya, terengah-engah.

"Buruk," kritiknya pada diri sendiri. "Terlalu banyak gerakan sia-sia. Terlalu banyak tenaga terbuang. Aku harus belajar cara membunuh yang lebih bersih."

Dia menyeka darah dari wajahnya. Dia baru saja akan mulai membedah serigala itu untuk makan siang dan seketika...

Wusss... Wusss... Wusss...

Suara angin terbelah di kejauhan.

Bukan satu. Ada empat sumber suara.

Telinga Lu Daimeng yang tajam menangkap suara langkah kaki yang ringan—langkah kaki yang diringankan oleh Qi. Dan suara percakapan.

"Baunya di sini... kuat sekali. Bau aura Kapten Chu."

"Sialan, siapa yang berani? Mungkinkah binatang Iblis Tingkat Tinggi?"

"Atau mungkin penyergapan dari Sekte Iblis?"

Lu Daimeng membeku.

Jantungnya berdetak satu kali dengan sangat keras, lalu dia memaksanya tenang dengan metode hukum Kemalasan. Tenang. Panik adalah kematian.

Empat kultivator. Teman-teman Kapten Chu. Dan dari suaranya, mereka marah.

Lu Daimeng melihat sekeliling. Dia tidak bisa lari. Jika dia berlari sekarang, gerakan dan jejak kakinya akan terlihat. Mereka bergerak terlalu cepat. Mereka akan menyusulnya dalam satu menit.

Dia melihat bangkai serigala di depannya. Perut serigala itu sudah terbuka akibat tusukan brutalnya.

Ide gila muncul. Sebuah strategi yang menjijikkan.

Lu Daimeng tidak ragu. Dia menggunakan pedangnya untuk membelah perut serigala itu lebih lebar, mengeluarkan sebagian usus dan lambungnya yang bau.

Lalu, dia masuk ke dalamnya.

Dia menyusupkan tubuhnya ke dalam rongga perut serigala yang masih hangat itu. Dia menarik kulit dan bulu serigala itu untuk menutupi dirinya. Dia melumuri seluruh tubuh dan rambutnya dengan isi perut serigala untuk menutupi bau darah manusia dan bau kultivator yang menempel padanya.

Dia menjadi isi perut serigala.

Dia menahan napas. Dia menutup matanya, hanya menyisakan celah kecil di antara bulu serigala untuk mengintip.

Satu menit kemudian, mereka tiba.

Empat sosok mendarat di area itu. Mereka mengenakan seragam putih Sekte Awan Putih, sama seperti Kapten Chu. Tiga pria, satu wanita. Semuanya memancarkan aura Pembentukan Qi yang kuat.

Wajah mereka tegang, pedang mereka terhunus.

"Baunya mengarah ke sana," kata salah satu pria yang memiliki luka di pipi. Dia menunjuk ke arah gua, ke tempat di mana mayat Kapten Chu dan Kultivator Iblis berada.

Mereka bergerak cepat, mengabaikan bangkai serigala yang tergeletak di bawah pohon. Bagi mereka, itu hanya bangkai binatang biasa yang mati karena pertarungan wilayah. Hal yang lumrah di hutan ini.

Lu Daimeng mengamati mereka dari celah bulu berdarah. Matanya dingin, merekam setiap detail. Wajah mereka, senjata mereka, cara mereka bergerak.

Tidak lama kemudian, teriakan kemarahan terdengar dari arah gua.

"KAPTEN!"

"SIALAN! Siapa yang melakukan ini?!"

"Jantungnya hancur! Dan... Dantian-nya hilang! Seseorang mengambil Dantian-nya!"

"Ini pasti ulah Kultivator Iblis sesat! Teknik pemakan organ! Kejar! Dia pasti belum jauh!"

Gelombang Qi meledak.

BOOOM!

Salah satu kultivator itu menebas sembarangan karena marah. Cahaya pedang melesat, menghantam tebing batu di gua tempat Lu Daimeng tinggal. Gua itu runtuh seketika, terkubur di bawah tonik batu.

Tanah bergetar.

Lu Daimeng di dalam perut serigala tidak bergerak sedikit pun. Cacing-cacing parasit dari perut serigala mulai merayap di kulitnya, tapi dia mengabaikannya. Dia adalah batu. Dia adalah mayat.

Keempat kultivator itu kembali ke area tempat Lu Daimeng bersembunyi. Mereka berdiri hanya tiga meter dari bangkai serigala itu.

"Jejaknya hilang di sini," kata wanita dalam kelompok itu. Dia memegang kompas pelacak. "Energi Kapten Chu menyebar ke mana-mana. Pelakunya pasti menggunakan teknik penyebaran aroma untuk membingungkan kita."

"Kita harus lapor ke Tetua aula luar," kata pria lainnya. "Jika ada iblis pemakan Dantian di sini, ini ancaman bagi seluruh murid."

"Tapi cincin Kapten..." kata si pria berparut. "Cincin itu berisi peta reruntuhan kuno. Kita tidak bisa membiarkannya hilang."

Jantung Lu Daimeng berdesir. Peta?

Jadi itu sebabnya mereka begitu putus asa. Cincin yang tergantung di lehernya, di bawah tumpukan usus serigala ini, bukan sekadar harta. Itu adalah kunci.

"Cari di sekitar sini! Dia mungkin bersembunyi!" perintah si pemimpin kelompok.

Tatapan si pria yang memiliki luka menyapu area itu. Matanya berhenti sejenak pada bangkai serigala.

Lu Daimeng menahan napasnya hingga titik di mana paru-parunya mulai sakit. Dia menyiapkan pedang di tangannya yang berlumuran darah di dalam sana. Jika pria itu menusuk bangkai ini, Lu Daimeng akan meledak keluar dan mencoba membunuh satu orang sebelum dia mati.

Pria itu melangkah mendekat. Satu langkah.

Hidungnya berkerut.

"Bangkai busuk," gumamnya, lalu meludah ke arah serigala itu. "Ayo pergi. Kita cari ke arah dalam hutan. Iblis itu pasti lari ke sana."

Mereka berbalik. Dalam sekejap, empat sosok itu melesat pergi, meninggalkan jejak angin di belakang mereka.

Lu Daimeng menunggu sepuluh menit penuh.

Baru setelah dia yakin mereka benar-benar pergi, dia bergerak.

Dia mendorong tubuh serigala itu terbuka. Dia merangkak keluar, basah kuyup oleh darah, lendir, dan kotoran. Baunya mengerikan, bahkan untuk standarnya.

Tapi dia hidup.

Lu Daimeng berdiri, membersihkan lendir dari wajahnya. Dia menatap ke arah perginya para kultivator itu.

Senyumnya perlahan muncul. Kali ini, senyum itu penuh dengan ejekan.

"Kultivator..." cemoohnya. "Kalian bisa terbang, kalian bisa menghancurkan batu besar dengan mudah... tapi kalian bisa ditipu oleh isi perut anjing."

Dia meraba cincin di dadanya. Benda dingin itu kini terasa lebih berat. Peta reruntuhan kuno.

Lu Daimeng tahu satu hal: dia tidak bisa tinggal di pinggiran hutan ini lagi. Empat orang itu akan kembali membawa bala bantuan. Mereka akan menyisir setiap inci.

Dia menoleh ke arah hutan yang lebih dalam. Ke tempat di mana kabut yang lebih tebal hingga cahaya matahari tidak pernah ada. Tempat di mana binatang buas tingkat tinggi berkeliaran.

Itu adalah jalan kematian bagi manusia fana.

Tapi tinggal di sini adalah kepastian kematian di tangan manusia.

"Ke dalam lubang harimau," bisik Lu Daimeng, memungut pedangnya.

Dengan langkah yang diseret namun pasti, sosok berlumuran darah itu berjalan masuk menuju kegelapan abadi Hutan Kabut Kematian. Bayangannya ditelan oleh kabut.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!