"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Perjanjian Berdarah di Perpustakaan Tua
[Waktu: Sabtu, 18 April, Pukul 20.45 PM]
[Lokasi: Perpustakaan Rahasia, Gedung Tua Suzhou (Era Republik)]
Detak jam dinding yang bergerak mundur itu terdengar seperti suara bom waktu di telinga Lin Xia. Tik, tok, tik, tok. Setiap detiknya seolah menarik Lin Xia lebih jauh dari realitas dunia modern di Shenzhen dan menguncinya dalam sejarah kelam kota Suzhou.
Lin Xia menatap laptopnya yang terbuka di atas meja kayu jati itu. Layarnya menyala, menampilkan kursor yang berkedip di akhir kalimat yang terakhir ia tulis tadi malam: “Marsekal Gu Yan perlahan menutup matanya, darah membasahi seragam birunya...”
“Ini tidak mungkin,” suara Lin Xia hampir hilang, tertelan oleh rasa takut. “Ini hanya efek visual. Kau... kau pasti staf yang sangat ahli meretas, kan? Siapa yang menyuruhmu mengambil laptopku?”
Gu Yan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengambil sebuah pisau belati kecil bergagang perak dari atas meja. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang, ia menggoreskan ujung pisau itu ke telapak tangannya sendiri.
Darah merah segar menetes, jatuh tepat di atas keyboard laptop Lin Xia.
“Jika ini hanya akting, apakah darah ini juga palsu?” tanya Gu Yan dingin. Ia mengulurkan tangannya yang terluka ke depan wajah Lin Xia. Bau anyir darah yang tajam merasuk ke indra penciuman Lin Xia, membuatnya mual sekaligus sadar sepenuhnya. Ini nyata. Darah itu hangat, baunya asli, dan pria di depannya benar-benar terluka.
Lin Xia mundur hingga punggungnya menabrak rak buku yang tinggi. “Apa yang kau inginkan dariku?”
Gu Yan melangkah maju, memerangkap Lin Xia di antara kedua lengannya yang kekar di rak buku. Tatapannya yang tadi sedingin es kini tampak berkilat dengan amarah yang tertahan.
“Di dunia nyata, namaku adalah Gu Jingshen,” bisik pria itu, suaranya kini lebih manusiawi namun tetap mengintimidasi. “Dan adikku, Gu Yanran, menghilang setelah memainkan naskah buatanmu sebulan yang lalu. Polisi bilang itu kecelakaan, tapi aku tahu dia terjebak di sini. Di dalam duniamu.”
Lin Xia terbelalak. “Gu Yanran? Aku ingat nama itu. Dia adalah salah satu penguji naskah beta-ku. Tapi... bagaimana mungkin seseorang terjebak di dalam cerita?”
“Itu yang harus kau cari tahu, Nona Penulis,” Gu Yan—atau Gu Jingshen—menarik kembali tangannya. Ia mengambil sapu tangan putih dan melilitkannya pada lukanya dengan santai, seolah rasa sakit itu bukan apa-apa. “Seseorang telah mengubah naskahmu menjadi penjara dimensi. Dan aku masuk ke sini untuk membawanya pulang. Tapi untuk melakukannya, aku butuh 'Tuhan' dari dunia ini. Yaitu kau.”
Lin Xia mencoba mencerna informasi itu. Jika apa yang dikatakan pria ini benar, berarti ada pihak ketiga yang menggunakan naskahnya untuk tujuan jahat. Wahana imersif di Suzhou ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah eksperimen berbahaya.
“Tapi aku tidak tahu cara mengendalikannya!” protes Lin Xia. “Aku hanya menulis ceritanya, aku tidak tahu cara kerja mesin atau portal yang membawa kita ke sini!”
“Maka belajarlah dengan cepat,” balas Gu Jingshen tajam. “Karena menurut naskah yang kau buat, tiga puluh menit dari sekarang, markas ini akan diserang oleh pasukan pemberontak. Dan di akhir adegan itu, karakter Marsekal Gu Yan—yang sedang aku perankan sekarang—harus mati tertembak.”
Jantung Lin Xia mencelos. Ia ingat bagian itu. Itu adalah twist besar di tengah cerita di mana sang pahlawan tewas secara tragis.
“Jika kau mati di sini sebagai Gu Yan... apa yang terjadi padamu di dunia nyata?” tanya Lin Xia dengan suara gemetar.
Gu Jingshen menatap jendela di mana salju semakin lebat menyelimuti Suzhou. “Jantungku di Shenzhen akan berhenti berdetak. Aku akan mati sebagai pengidap serangan jantung mendadak dalam tidur.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Lin Xia merasa beban yang sangat berat jatuh ke pundaknya. Ia bukan lagi sekadar penulis yang sedang riset; ia adalah pemegang kendali atas hidup dan mati pria di depannya.
“Tolong aku mengubahnya,” ucap Gu Jingshen, kali ini dengan nada yang hampir menyerupai permohonan, meski matanya tetap tajam. “Tulis ulang adegan itu. Cari cara agar kita bisa bertahan hidup sampai fajar tiba. Di kota Suzhou ini, hanya kau yang punya kekuatan untuk mengubah takdir.”
Lin Xia segera menghampiri laptopnya. Jarinya gemetar saat menyentuh trackpad. “Aku akan mencoba. Tapi aku butuh informasi. Di mana Xiao Li? Sahabatku yang datang bersamaku?”
“Dia aman,” jawab Gu Jingshen pendek. “Dia memainkan peran sebagai pelayanmu. Dia tidak tahu apa-apa tentang situasi ini. Biarkan seperti itu. Semakin sedikit orang yang tahu, semakin aman mereka.”
Lin Xia mulai mengetik dengan cepat. Ia mencoba menghapus baris kalimat tentang serangan itu, tapi anehnya, kata-kata itu tidak bisa dihapus. Layar laptopnya berkedip merah, dan sebuah peringatan muncul: [Skenario Utama Tidak Dapat Diubah Kecuali Syarat Terpenuhi].
“Sial! Terkunci!” seru Lin Xia frustrasi. “Ada syarat yang harus dipenuhi. Skenario menuntut sebuah 'pengorbanan perasaan' untuk mengubah alur kematian.”
Tiba-tiba, suara ledakan keras terdengar dari kejauhan, menggetarkan seluruh gedung tua itu. Debu berjatuhan dari langit-langit perpustakaan. Suara teriakan para prajurit dan rentetan tembakan mulai terdengar di halaman depan.
“Mereka sudah datang,” gumam Gu Jingshen. Ia mencabut pistol dari sarungnya di pinggang dan memeriksanya dengan cekatan. “Pengorbanan perasaan? Apa maksudnya?”
Lin Xia menatap layar dengan panik, membaca sub-teks yang muncul di naskah otomatisnya. “Marsekal tidak boleh mati jika ia memiliki alasan yang lebih kuat untuk hidup. Dalam naskah asliku, dia adalah pria kesepian yang tidak punya siapa-siapa. Tapi jika dia punya seseorang yang sangat ia cintai... seseorang yang bersedia mati untuknya... naskah akan berubah.”
Gu Jingshen menatap Lin Xia lama. Di tengah suara gaduh peperangan yang mendekat, tatapan itu terasa sangat intim dan menyesakkan.
“Kalau begitu, buatlah mereka percaya bahwa kau adalah alasan itu,” kata Gu Jingshen. Ia melangkah mendekat, menarik pinggang Lin Xia hingga tubuh mereka merapat.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Lin Xia kaget.
“Akting,” jawab Gu Jingshen singkat. “Mulai detik ini, kau bukan hanya Nona Muda Keluarga Lin. Kau adalah wanita yang dicintai Marsekal Gu Yan lebih dari nyawanya sendiri. Kita harus menunjukkan 'pengorbanan' itu di depan semua orang, termasuk para pengkhianat yang ada di dalam gedung ini.”
Tanpa peringatan, Gu Jingshen merunduk dan mencium kening Lin Xia dengan lembut namun penuh penekanan. Itu adalah ciuman yang terasa seperti sebuah janji sekaligus sebuah ancaman.
“Jangan lepaskan tanganku, Lin Xia,” bisiknya di depan bibir Lin Xia. “Jika kau melepaskannya, kita berdua akan terkubur di Suzhou tahun 1935 selamanya.”
Pintu perpustakaan hancur ditendang dari luar. Sekelompok pria berseragam hitam dengan senjata lengkap merangsek masuk. Lin Xia mencengkeram lengan seragam Gu Jingshen dengan kuat, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja.
Di bawah lampu yang berkedip-kedip dan suara desing peluru yang mulai memecahkan kaca jendela, Lin Xia menyadari satu hal: Permainan ini baru saja naik ke level yang jauh lebih mengerikan.
[Waktu: Sabtu, 18 April, Pukul 21.00 PM — Serangan Dimulai]
[Lokasi: Markas Besar Militer, Suzhou]
“Marsekal Gu! Menyerahlah!” teriak salah satu penyusup.
Gu Jingshen menarik Lin Xia ke belakang tubuhnya, melindunginya dengan jubah hitamnya yang lebar. Ia mengangkat pistolnya dengan tenang, matanya berkilat penuh tekad pembunuh.
“Dalam naskahku, aku mungkin mati,” desis Gu Jingshen. “Tapi malam ini, aku yang memegang senjatanya.”
...****************...