NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak dan Sang Ksatria

Keheningan menyelimuti dojo tua itu setelah badai serangan Saeko mereda. Lampu gantung di langit-langit masih bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas lantai kayu yang lecet. Saeko berdiri mematung, menatap tangannya yang masih bergetar. Dia tidak pernah merasa sebodoh ini, namun di saat yang sama, dia tidak pernah merasa sehidup ini.

Riser berjalan menuju tengah dojo, tempat cahaya lampu paling terang menyinari. Dia berbalik, menatap Saeko yang masih mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.

"Dunia yang kau tinggali sekarang terlalu sempit untuk pedangmu, Saeko," ucap Riser, suaranya berat dan bergema. "Kau mencoba menekan instingmu karena kau takut akan dianggap sebagai monster oleh masyarakat yang lemah ini. Tapi bagiku? Insting itu adalah permata yang belum diasah."

Saeko mengangkat kepalanya, menatap Riser dengan sorot mata yang mulai kehilangan keraguan. "Jika aku mengikutimu... apa yang akan berubah? Apakah aku hanya akan menjadi pelayanmu?"

Riser tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar jujur. "Pelayan? Aku punya banyak pelayan di kastelku. Aku ke sini bukan untuk mencari seseorang yang bisa membuatkanku teh. Aku mencari Ksatria. Seseorang yang akan berdiri di garis depan bersamaku, seseorang yang akan menebas siapa pun yang berani menghalangi jalanku."

Riser merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna merah darah. Saat dia membukanya, sebuah bidak catur Knight (Ksatria) yang terbuat dari kristal transparan berpendar dengan cahaya ungu kemerahan yang mistis.

[ Item Terdeteksi: Evil Piece - Knight. ]

[ Status: Siap untuk proses reinkarnasi. ]

[ Peringatan: Subjek memiliki kompatibilitas tinggi (92%). Proses akan menyebabkan lonjakan energi yang signifikan. ]

"Ini adalah tiketmu menuju dunia yang sebenarnya," Riser mengangkat bidak itu. "Ini akan mengubah rasmu menjadi Iblis. Kau akan kehilangan kemanusiaanmu dalam artian biologis, tapi kau akan mendapatkan kekuatan, umur panjang, dan yang paling penting... tujuan yang nyata."

Saeko berjalan mendekat. Dia menatap bidak catur itu dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Dia bisa merasakan tarikan magnetis dari benda kecil tersebut. "Menjadi iblis... kedengarannya seperti sebuah dosa besar."

"Dosa hanyalah masalah sudut pandang, Saeko," balas Riser tenang. "Di duniaku, kekuatan adalah kebenaran. Dan aku berjanji padamu satu hal: di bawah kepemimpinanku, kau tidak akan pernah lagi merasa harus menyembunyikan siapa dirimu yang sebenarnya."

Riser mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang bidak Knight. "Pilihan ada di tanganmu. Tetap di sini sebagai manusia yang kesepian dengan pedang kayu, atau ikut bersamaku dan ukir namamu di sejarah dunia bawah dengan darah musuhmu."

Tanpa ragu lebih lama lagi, Saeko meletakkan tangan lembutnya di atas telapak tangan Riser yang panas. "Ambil aku, Riser Phenex. Jika kau bisa memberiku tempat di mana aku tidak perlu lagi menahan diri, maka jiwaku adalah milikmu."

Riser menyeringai. "Pilihan yang cerdas."

"Yui, mulai prosesnya," perintah Riser dalam hati.

[ Memulai Protokol Reinkarnasi. ]

[ Menyelaraskan Frekuensi Jiwa... ]

[ Integrasi Evil Piece: Knight - Saeko Busujima. ]

Seketika, bidak di tangan Riser terbang melayang di depan dada Saeko. Cahaya ungu yang sangat terang meledak, memenuhi seluruh ruangan dojo. Riser bisa merasakan energi kehidupan Saeko mulai menyatu dengan energi iblis yang dia suntikkan melalui bidak tersebut.

"Aaakh...!"

Saeko mengerang saat tubuhnya mulai mengalami perubahan seluler. Keringat dingin mengucur deras, dan aura kemerahan mulai menyelimuti kulitnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, ekspresi wajah Saeko justru tampak sangat puas. Dia merasa seolah-olah sebuah beban berat yang selama ini menekan dadanya perlahan-lahan terangkat.

[ Analisis Integrasi: ]

* Ketahanan Fisik: Meningkat 300%

* Kecepatan Reaksi: Meningkat 500%

* Bangkitnya Bakat Terpendam: Aura Pedang Crimson Edge terdeteksi.

Tiba-tiba, dari bayang-bayang di belakang Saeko, sebuah pedang muncul secara perlahan. Itu bukan pedang fisik biasa, melainkan manifestasi dari Sacred Gear yang terbangkitkan karena lonjakan energi iblis: 《Muramasa: Crimson Edge》. Sebuah katana dengan bilah hitam pekat dan garis merah darah di tengahnya.

[ Peringatan Sistem: Sacred Gear Terdeteksi. ]

[ Nama: Muramasa - Crimson Edge. ]

* Efek: Menghisap energi kehidupan dari luka yang ditimbulkan pada musuh.

* Skill Pasif: Bloodlust Empowerment - Semakin banyak darah yang tumpah, semakin tajam bilahnya.

Proses itu berakhir dengan sebuah dentuman energi yang cukup kuat untuk meretakkan kaca-kaca jendela dojo. Cahaya memudar, menyisakan Saeko yang kini berlutut dengan satu kaki di depan Riser. Penampilannya tidak banyak berubah secara fisik, namun auranya... kini dia terasa seperti pedang terhunus yang siap membelah dunia.

Saeko menatap tangannya, lalu menatap katana yang kini ada di sampingnya. Dia merasakan kekuatan yang meluap-luap, sebuah insting predator yang kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

"Bagaimana perasaanmu, Ksatria-ku?" tanya Riser, mengulurkan tangan untuk membantu Saeko berdiri.

Saeko menyambut tangan Riser, berdiri dengan keanggunan yang baru. Dia membungkuk hormat, bukan karena kewajiban sistem, tapi karena rasa hormat yang tulus. "Luar biasa. Saya merasa seolah-olah baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang, Tuanku."

Riser tersenyum puas. Dia bisa merasakan koneksi antara dirinya dan Saeko melalui bidak Knight tersebut. "Bagus. Tapi ini baru permulaan. Kau butuh senjata yang lebih baik daripada sekadar pedang kayu."

[ Komentar Yui: Selamat, Pemalas. Kamu baru saja mendapatkan satu pengikut setia yang sangat berbahaya. Dan omong-omong, dia sedang menatapmu dengan cara yang... yah, cukup 'haus'. ]

Riser mengabaikan komentar Yui, meski dia menyadari tatapan intens dari Saeko. "Istirahatlah malam ini, Saeko. Besok, aku akan membawamu ke Underworld untuk memulai latihan yang sesungguhnya. Kita punya Rating Game yang harus dimenangkan dalam sepuluh hari."

"Apapun perintah Anda, Tuanku," jawab Saeko, suaranya kini mengandung nada kepatuhan yang manis namun tetap mematikan.

Riser menatap ke luar jendela, ke arah langit malam kota Kuoh. Satu kepingan telah terpasang. Sekarang, pikirannya beralih ke target selanjutnya: seorang gadis dengan seragam perawat sekolah yang memiliki kemampuan penyembuhan yang sangat dia butuhkan.

"Selanjutnya... Shizuka Marikawa," gumam Riser.

Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam dojo tua itu masih terasa bergetar akibat sisa-sisa energi proses reinkarnasi. Saeko berdiri di hadapan Riser, jemarinya perlahan mengusap bilah Muramasa yang baru saja tercipta dari jiwanya. Ada keheningan yang nyaman di antara mereka, jenis keheningan yang hanya bisa dipahami oleh dua orang yang baru saja mengikat takdir melalui darah dan sumpah.

Riser memperhatikan Ksatria pertamanya itu dengan saksama. Dia bisa merasakan melalui koneksi bidak Knight bahwa Saeko sedang mengalami lonjakan emosi—campuran antara euforia kekuatan dan rasa syukur yang mendalam.

"Jangan terlalu lama terpaku pada pedang itu, Saeko. Dia adalah bagian dari dirimu sekarang. Dia akan tumbuh seiring dengan keinginanmu untuk menang," ucap Riser, suaranya melunak, kehilangan nada provokatif yang dia gunakan saat bertarung tadi.

Saeko menyarungkan katananya dengan gerakan yang sangat halus. Suara dentingan logam yang bertemu dengan sarungnya terdengar seperti tanda titik yang sempurna bagi latihan malam ini. Dia melangkah mendekati Riser, langkahnya kini jauh lebih ringan, hampir tidak bersuara di atas lantai kayu.

"Terima kasih, Tuanku Riser," bisik Saeko. Dia berdiri cukup dekat sehingga Riser bisa mencium aroma keringat dan sisa-sisa energi iblis yang menguar dari tubuhnya. "Bukan hanya untuk kekuatan ini, tapi karena Anda melihat... monster itu, dan Anda tidak berpaling."

Riser tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Saeko dan mengangkat wajahnya agar mata mereka bertemu. "Monster adalah istilah bagi mereka yang takut akan kekuatan yang tidak mereka pahami. Bagiku, kau adalah karya seni yang paling mematikan yang pernah kutemukan."

[ Sinkronisasi Jiwa: 25% ]

[ Status Subjek: Loyalitas meningkat pesat. Detak jantung subjek tidak stabil. ]

[ Saran: Kamu bisa melanjutkan momen romantis ini, atau kita bisa fokus pada agenda berikutnya sebelum matahari terbit. Aku menyarankan yang kedua jika kamu tidak ingin kehabisan waktu. ]

Yui, kau benar-benar pengganggu suasana yang profesional, batin Riser dengan nada jengkel yang jenaka.

Riser melepaskan tangannya dan berbalik menuju pintu dojo. "Bersihkan dirimu dan siapkan barang-barangmu yang paling penting. Aku akan menunggumu di luar. Kita punya satu persinggahan lagi sebelum kembali ke Underworld."

"Tentu saja. Saya tidak akan lama," jawab Saeko dengan patuh.

Sepuluh menit kemudian, Saeko keluar dari dojo. Dia tidak lagi mengenakan seragam kendonya, melainkan pakaian kasual yang terdiri dari celana pendek hitam dan kemeja putih yang sedikit longgar, dengan tas panjang berisi pedangnya yang disampirkan di bahu. Keanggunannya sebagai putri keluarga Busujima tetap terpancar, namun kini dengan aura predator yang lebih tajam.

Mereka berjalan menembus sunyinya kota Kuoh. Riser memimpin jalan dengan bantuan navigasi dari Yui. Target berikutnya adalah sebuah apartemen yang tidak jauh dari area sekolah Akademi Kuoh.

"Siapa yang akan kita cari sekarang, Tuanku?" tanya Saeko, berjalan selangkah di belakang Riser.

"Seorang dokter—atau lebih tepatnya, perawat sekolah," jawab Riser tanpa menoleh. "Kita butuh penyembuh. Di medan perang, pedangmu bisa patah dan tubuhku bisa terluka. Shizuka Marikawa adalah variabel yang akan memastikan kita tetap berdiri di saat yang lain tumbang."

[ Lokasi Target: Apartemen Green Terrace, Lantai 3. ]

[ Status: Subjek sedang tidur. ]

[ Catatan: Subjek memiliki gelombang otak yang sangat... unik. Tingkat kecerobohannya di atas rata-rata manusia normal. ]

Riser mendongak menatap gedung apartemen kelas menengah di depannya. Dia menghela napas pendek. Dia tahu Shizuka Marikawa dari memori dunianya yang dulu—seorang wanita yang diberkati dengan fisik yang luar biasa namun memiliki kepribadian yang sangat santai, hampir ke titik linglung.

"Saeko, tetaplah di bayang-bayang. Biarkan aku yang bicara. Dia tipe wanita yang mudah terkejut," instruksi Riser.

Riser tidak menggunakan pintu depan. Dengan satu lompatan ringan yang didukung oleh energi iblisnya, dia mendarat di balkon lantai tiga. Pintu geser balkon itu tidak terkunci—sangat khas Shizuka. Riser melangkah masuk ke dalam ruangan yang sedikit berantakan dengan buku-buku medis dan beberapa botol minuman ringan yang kosong.

Di atas sofa besar, seorang wanita berambut pirang panjang tertidur dengan posisi yang sangat tidak beraturan. Dia mengenakan baju tidur tipis yang hampir tidak bisa menutupi lekuk tubuhnya yang sangat provokatif.

Riser berdeham pelan, namun tidak ada reaksi. Dia mendekat dan mengetuk meja kaca di samping sofa.

"Dokter Marikawa?"

Shizuka menggeliat. Dia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali menatap sosok pria asing yang berdiri di ruang tamunya di tengah malam. Bukannya berteriak histeris, dia justru menguap lebar dan mengucek matanya.

"Hmm? Apa ini sudah pagi? Dan... siapa kau? Apa kau pasien baru yang tersesat?" tanya Shizuka dengan suara serak yang mengantuk.

Riser terdiam sejenak. Tingkat ketenangan—atau kebodohan—wanita ini benar-benar di luar nalar.

"Aku bukan pasien, Shizuka," Riser duduk di kursi tunggal di depan sofa, menyilangkan kakinya dengan tenang. "Aku datang untuk memberimu tawaran pekerjaan yang tidak bisa kau tolak. Pekerjaan yang melibatkan lebih dari sekadar mengobati luka lecet siswa SMA."

Shizuka akhirnya duduk tegak, yang sayangnya justru membuat pakaian tidurnya semakin melorot, sesuatu yang tampaknya tidak dia pedulikan sama sekali. Dia menatap Riser dengan mata cokelatnya yang besar, mulai menyadari bahwa pria di depannya memiliki aura yang sangat tidak biasa.

"Pekerjaan? Tapi aku sudah punya pekerjaan di sekolah... meskipun gajinya sering habis untuk belanja," gumam Shizuka, memiringkan kepalanya dengan polos.

Riser tersenyum. "Bagaimana jika kubilang aku bisa memberimu fasilitas medis terbaik yang belum pernah ada di dunia ini, keamanan absolut, dan... koleksi minuman berkualitas yang tidak akan pernah habis?"

Mata Shizuka berbinar mendengar kata 'minuman' dan 'fasilitas'. "Kedengarannya menarik... tapi kau terlihat sedikit berbahaya. Seperti tipe pria yang akan membawa kabur perawatnya ke tempat terpencil."

"Tempat itu memang terpencil, dan ya, aku memang berbahaya," jawab Riser sambil bangkit dan berjalan mendekatinya. Dia mengeluarkan bidak Bishop (Uskup) dari sakunya. Pendaran cahaya hijau dari bidak itu segera menarik perhatian Shizuka.

"Wah... kristal yang cantik," ucap Shizuka, mencoba menyentuhnya.

[ Peringatan: Sinkronisasi dengan Shizuka Marikawa dimulai. ]

[ Status: Subjek memiliki potensi tersembunyi sebagai Great Healer. ]

[ Komentar Yui: Cepatlah, sebelum dia tertidur lagi. Wanita ini benar-benar unik dalam artian yang merepotkan. ]

Riser menangkap tangan Shizuka yang hendak menyentuh bidak itu. "Sentuh ini, dan hidupmu tidak akan pernah membosankan lagi, Shizuka. Kau akan menjadi penyembuh pribadiku, jantung dari timku."

Shizuka menatap mata Riser yang berpendar kemerahan di kegelapan malam. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya merasa aman, sebuah dominasi yang tidak menindas, melainkan melindungi.

"Baiklah, Tuan Tampan yang Berbahaya. Aku selalu buruk dalam menolak hal-hal yang terlihat berkilau," ucap Shizuka dengan tawa kecil yang ceria.

Sesaat setelah jarinya menyentuh bidak Bishop, cahaya hijau zamrud meledak di dalam apartemen, memulai transformasi yang akan mengubah perawat sekolah yang ceroboh ini menjadi salah satu penyembuh paling ditakuti di duni bawah.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!