NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTANA DURI DAN RATU YANG TERLUKA

Malam itu, Jakarta tampak seperti lautan cahaya dari balik jendela mobil Rolls-Royce yang kedap suara. Namun bagi Alya Pramesti Wiratama, cahaya-cahaya itu tampak seperti mata iblis yang mengawasinya. Ia duduk merapat ke pintu mobil, seolah ingin menyatu dengan bodi baja kendaraan itu. Jemarinya yang kecil, yang ujungnya masih menyisakan bekas noda tinta sekolah, mencengkeram erat tas ransel lusuh di pangkuannya. Di dalamnya hanya ada dua pasang pakaian lama, buku harian dengan kunci plastik yang sudah patah, dan foto kusam keluarganya.

Di sampingnya, Zhang Liang duduk tegak dengan keanggunan seorang predator. Aroma parfum sandalwood dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh pria itu terasa mencekik bagi Alya yang terbiasa dengan bau matahari, keringat, dan sabun batangan murah. Pria itu tidak menatapnya. Liang sibuk dengan tablet di tangannya, jemarinya menari lincah di atas layar yang menampilkan grafik bursa saham yang fluktuatif.

"Tuan..." suara Alya memecah keheningan, nyaris seperti bisikan yang tertelan deru mesin.

Liang tidak menoleh, namun sudut matanya memberikan isyarat dingin. "Aku sudah memberitahumu di gang tadi. Panggil aku Mas Liang jika ada orang lain di sekitar kita. Selebihnya, kau tidak perlu bicara jika tidak ditanya. Aku membeli rahimmu, bukan suara sumbangmu."

Kata-kata itu menghantam Alya lebih keras daripada tamparan Pak Toni. Ia menunduk, menatap sandal jepitnya yang kotor oleh lumpur sisa hujan di gang. Ia merasa seperti barang curian yang sedang dikirim ke gudang pemilik baru.

Mobil itu akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan elit di Menteng. Gerbang besi raksasa setinggi tiga meter terbuka secara otomatis, menyingkap sebuah rumah bergaya kolonial modern yang sangat luas. Lampu-lampu kristal chandelier berkilauan dari balik jendela besar, menyiram pilar-pilar putih dengan cahaya emas yang megah.

Pintu besar dari kayu jati berukir terbuka bahkan sebelum mesin mobil mati sempurna. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan hitam-putih yang sangat kaku membungkuk hormat. Liang melangkah keluar tanpa menunggu Alya, meninggalkan gadis itu yang sempat kebingungan cara membuka pintu mobil yang rumit.

"Silakan turun, Nyonya Muda," ucap sopir dengan nada datar yang tidak memiliki emosi.

Alya melangkah keluar. Kakinya yang beralaskan sandal jepit terasa tidak pantas menginjak lantai marmer Italia yang begitu dingin dan mengkilap. Ia merasa seperti noda di atas kain sutra putih. Saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, ia terpaku. Ruangan itu lebih luas dari seluruh rumah petak keluarganya.

Di tengah ruangan, di atas sebuah sofa beludru berwarna krem, duduk seorang wanita yang kecantikannya membuat Alya menahan napas. Wanita itu memiliki kulit seputih porselen, namun tampak sangat rapuh. Tubuhnya dibalut gaun tidur sutra panjang yang halus, dan sebuah syal kasmir menutupi bahunya yang tampak menonjol karena kurus. Dialah Lin Mei Hua, istri pertama Zhang Liang.

"Liang... kau sudah pulang?" suara Mei Hua sangat lembut, hampir seperti tiupan angin, namun mengandung daya pikat yang kuat.

Perubahan pada Zhang Liang terjadi seketika. Keangkuhan yang ia tunjukkan pada Alya luruh begitu saja. Ia melangkah cepat, hampir berlari, lalu berlutut di samping Mei Hua. Ia menggenggam tangan wanita itu dan mengecup keningnya dengan penuh pengabdian.

"Kenapa belum tidur? Dokter Huang bilang kau butuh istirahat total, sayang," bisik Liang. Suaranya kini penuh dengan kasih sayang yang tulus—sebuah nada yang membuat dada Alya berdenyut nyeri tanpa alasan yang jelas.

Mei Hua tersenyum tipis, matanya yang sayu beralih ke arah Alya yang masih berdiri mematung di dekat pintu. Ia menatap Alya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada kebencian yang tampak, hanya sebuah tatapan menyelidik yang dibungkus dengan keramahan palsu.

"Jadi, ini gadis itu?" tanya Mei Hua. Ia bangkit perlahan, langkahnya gontai, membuat Liang dengan sigap memegang pinggangnya.

Mei Hua mendekati Alya. Saat jarak mereka hanya satu langkah, Alya bisa mencium bau obat-obatan yang tajam bercampur dengan aroma bunga melati yang menyengat. Mei Hua memegang tangan Alya. Tangannya sangat dingin, sekaku es yang membeku di puncak gunung.

"Jangan takut, Alya," ucap Mei Hua, jemarinya mengelus pipi Alya. "Aku yang meminta Liang mencarimu. Aku divonis menderita kanker ovarium, dan aku tidak ingin egois menghalangi garis keturunan keluarga Zhang. Aku butuh bantuanmu... untuk memberikan Liang apa yang tidak bisa kuberikan."

Alya tertegun. Ia mengira akan dicaci maki sebagai pelakor atau wanita murahan, namun ia justru disambut dengan kata-kata yang begitu mulia. "Terima kasih, Nyonya... saya... saya akan berusaha..."

"Panggil aku Kak Mei Hua," potong wanita itu dengan senyum manis. Namun, di balik senyum itu, matanya tetap sedingin es. "Di rumah ini, kau adalah bagian dari kami. Tapi ingat, Alya, ada aturan yang harus kita jaga agar tidak ada hati yang terluka."

Mei Hua menarik Alya lebih dekat, membisikkan sesuatu tepat di telinganya yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Berikan dia anak, lalu pergilah dengan tenang. Jangan pernah mencoba memiliki hatinya, karena hatinya adalah makam bagi cintaku."

Alya merinding. Saat Mei Hua melepaskan pelukannya, wanita itu kembali tampak seperti malaikat yang lemah di depan suaminya.

Alya dibawa oleh seorang pelayan menuju sayap kiri rumah. Kamar yang disediakan untuknya sangat luas, dengan tempat tidur king-size dan balkon yang menghadap ke kolam renang pribadi. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara.

Di atas meja rias, sudah terletak sebuah dokumen tebal bersampul hitam. Alya membukanya dengan tangan bergetar. Itulah "Kontrak Kediaman Zhang". Isinya jauh lebih kejam daripada apa yang dibicarakan di mobil.

Privasi: Alya dilarang memasuki area kamar utama tanpa izin tertulis dari Mei Hua.

Kesehatan: Alya wajib mengonsumsi suplemen herbal yang diracik khusus oleh perawat pribadi Mei Hua, tanpa bertanya apa isinya.

Keterasingan: Alya dilarang menghubungi keluarganya tanpa pengawasan ketat, untuk menjaga kerahasiaan identitas anak yang akan dilahirkan.

Tindakan Fisik: Zhang Liang hanya akan mengunjungi kamar Alya pada masa subur yang ditentukan secara medis. Tidak ada kewajiban bagi Liang untuk memberikan afeksi di luar urusan reproduksi.

Baru saja Alya selesai membaca poin keempat, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Chen Yiren, sang sekretaris pribadi yang tadi tidak terlihat, masuk dengan langkah angkuh. Ia masih mengenakan setelan kantor yang sangat ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang.

"Sudah baca kontraknya, Gadis Desa?" Yiren melemparkan sebotol kecil obat ke atas tempat tidur. "Itu untuk menyeimbangkan hormonmu. Nyonya Mei Hua sangat teliti. Dia ingin produk yang keluar dari rahimmu adalah kualitas terbaik."

Alya menatap botol itu dengan ragu. "Apakah ini aman?"

Yiren tertawa sinis, ia melangkah maju dan menjepit dagu Alya dengan kuku-kukunya yang panjang dan merah. "Dengar, Alya. Kau hanyalah rahim sewaan. Di rumah ini, kau berada di urutan terbawah dalam rantai makanan. Nyonya Mei Hua adalah ratunya, aku adalah pengatur kerajaannya, dan kau? Kau hanya tanah tempat bibit Tuan Liang akan ditanam. Jangan banyak tanya, telan saja apa yang diberikan padamu."

Setelah Yiren pergi, Alya terduduk di tepi ranjang. Ia menangis tanpa suara. Ia melihat ke arah jendela, di mana hujan kembali turun dengan lebat. Ia membayangkan ibunya yang mungkin sedang tidur di bangsal puskesmas, dan adiknya yang kini harus mengurus rumah sendirian.

Tengah malam, Alya tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar kamar sekadar mencari air minum. Rumah itu sangat sunyi, hanya ada suara detak jam besar di aula utama. Saat melewati ruang kerja Liang yang sedikit terbuka, ia mendengar suara perdebatan yang diredam.

"Liang, kau tidak bisa terus-menerus mengabaikan orang tuamu," itu suara seorang wanita yang lebih tua, mungkin Madam Liu Xian, ibu Liang.

"Ibu, Alya sudah di sini. Dia akan memberikan pewaris itu. Apa lagi yang kalian inginkan?" jawab Liang dengan nada frustrasi.

"Kami ingin kau memastikan dia tidak jatuh cinta padamu. Gadis seperti dia mudah terbawa perasaan. Jika dia hamil dan menolak menyerahkan bayinya, itu akan menjadi skandal besar bagi Zhang Maritime Group."

"Dia tidak akan jatuh cinta, Bu. Aku tidak akan memberinya alasan untuk itu," sahut Liang dingin. "Bagiku, dia hanya kontrak berjalan. Hatiku tetap milik Mei Hua."

Alya menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor yang dingin. Kata-kata "kontrak berjalan" itu bergema di kepalanya. Ia baru menyadari bahwa di rumah ini, ia bukan hanya dibenci oleh yang jahat, tapi juga ditiadakan oleh yang ia anggap baik.

Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Namun, saat ia baru saja akan menutup pintu, sebuah tangan menahan daun pintu tersebut. Alya terlonjak kaget.

Ternyata itu adalah Zhang Liyun, adik perempuan Liang. Wajahnya tampak jauh lebih ramah dan memiliki kemiripan dengan Liang, namun matanya memancarkan empati.

"Jangan dengarkan mereka," bisik Liyun. Ia masuk ke kamar Alya dan menutup pintu pelan. "Namaku Liyun. Aku tahu ini sulit bagimu. Kakakku... dia sebenarnya bukan orang jahat, dia hanya sudah mati rasa karena tekanan keluarga dan penyakit istrinya."

"Kenapa Anda mau bicara dengan saya?" tanya Alya waspada.

"Karena aku melihat bagaimana Mei Hua menatapmu tadi. Hati-hati, Alya. Kakak iparku itu... dia tidak selembut kelihatannya. Di rumah ini, bunga yang paling indah biasanya memiliki duri yang paling beracun."

Liyun memberikan sebuah cokelat kecil dari sakunya ke tangan Alya. "Makanlah. Ini satu-satunya hal manis yang mungkin kau dapatkan di rumah ini untuk sementara waktu."

Malam itu, Alya memakan cokelat itu sambil menatap bulan yang tertutup awan. Ia menyadari satu hal: di kediaman Zhang, ia harus belajar menjadi bayangan. Jika ia bersinar, ia akan dipadamkan. Jika ia bicara, ia akan dibungkam. Ia harus tetap menjadi Alya yang bodoh dan lugu, setidaknya sampai ia bisa menyelamatkan keluarganya dari jurang kemiskinan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!