NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata Mata Bayaran

Hari kesembilan, jam 7 pagi.

Roby, pria bertubuh gempal itu duduk di kantin dengan nasi uduk setengah habis, matanya tidak lepas dari ponsel. Grup chat "Detektif Cinta" — nama yang dia buat sendiri, cuma ada dia dan Dewa — baru saja aktif.

Dewa: "Ibu Dian panggil gue lagi jam 4 di ruang dosen."

Roby: "Lagi? Ini hari ke-3 berturut-turut, bro."

Dewa: "Gue takut, Rob. Ibu Dian makin aneh."

Roby: "Aneh gimana?"

Dewa: "Kemarin... dia tanya warna kesukaan gue."

Roby tersedak, untung sendok nasi tidak tertelan, melupakan nasi uduk sementara

Roby: "Warna kesukaan?! Bro. Ini bukan interogasi tapi kencan."

Dewa: "'Kencan gigi lo, ibu Dian itu Dosen, beliau dosen Statistik, hitung hitung nya tepat dan cermat."

Roby : Gue gak menilai secara fisik luar, tapi analisa mental."

Dewa : Maksud Lo?"

Roby : Itu prilaku orang jatuh cinta, bisa jadi Ibu dian jatuh cinta ma Lo, atau lo jadi kelinci percobaan."

Dewa : Apa apaan sih Lo?"

Roby : Dah ah ..gue malas berdebat, sekarang Lo fokus aja menyelidiki tu dosen killer, kenapa?ada apa? mengapa ?"

Dewa : Gue bukan ngadain kuis penelitian, centong."

Roby ; " Ya udah, terserah Lo deh. Gue pengen nyari makan."

Dewa : "Gue ikut."

Roby ; Gak, urus aja dosen killer kesayangan Lo. Wkwkwk."

---

Jam 3 sore, ruang dosen Dian Wulandari, MSi

Dewa duduk dengan posisi sudah familiar — kaku, tegang, menunggu sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh akalnya.

Sementara di belakang meja, Perempuan dengan tangan kiri— akhir-akhir ini sering keluar dari sakunya, cincin terlihat jelas, tidak disembunyikan lagi — mengetik sesuatu di laptop.

"Anda suka warna apa?" tanyanya tanpa menoleh.

Dewa tergagap pertanyaan ini muncul kembali padahal dia sudah menjawab "biru" kemarin — sekarang datang lagi.

"Ungu, Bu?".

Ia menoleh menatapnya ragu. "Kemarin biru, sekarang ungu. Anda... tidak konsisten."

"Maaf, Bu. Saya... bingung dengan warna, sebenarnya saya suka warna hitam."

" What ? Ia menggeleng seolah-olah jawaban "bingung" adalah data error tapi dia tetap mencatat — entah di mana — lalu bertanya lagi seperti petugas sensus: "Makanan favorit?"

"Nasi goreng, Bu."

"Kemarin bubur ayam."

"Saya... suka keduanya."

Perempuan itu kembali mencatat, dengan jawaban amburadul.

Dewa melihat — melihat — di sebuah buku catatan kecil di meja bukan berkas akademik, daftar nilai. Tapi... profil pribadi, untuk apa?

"Dia... dia stalking gue?" pikirnya bercampur geli dan ngeri kalau dia mengajukan pertanyaan personal lagi.

---

Jam 5 sore, koridor kampus.

Roby menunggu di sudut, berpura-pura baca pengumuman beasiswa yang sudah dia baca 10 kali.

Dewa lewat, wajahnya bercampur aduk, pecel Lamongan.

"Bro?" Roby menyusul, berjalan seiring.

"Gue takut, Rob. Dia tanya terus. Hobi. Makanan. Warna. Ukuran sepatu."

"What ? Ukuran sepatu?" Roby hampir menjerit. "Bro, ini bukan dosen. Ini... ini cewek kasmaran yang lagi PDKT total!"

"Jangan ngaco, biji tongkol ."

"Gue ngaco?" Roby menarik Dewa ke taman kosong. "Lo lihat ini."

Dia mengeluarkan ponsel. Foto-foto — Dian — yang dia ambil diam-diam selama 3 hari.

Perempuan itu di kantin, duduk sendirian, tersenyum ke ponselnya sendiri. Ia di koridor, berhenti melihat cincin di jarinya sebelum masuk kelas. Dian di parkiran, melihat motor butut milik Dewa dengan ekspresi yang Roby sebut "rindu."

"Gue bayar anak kantin Rp50.000 buat foto-foto ini," kata Roby. "Investigasi, bro. Lo harus tahu kebenaran."

Dewa menatap foto-foto itu tidak percaya dan tidak mau percaya.

"Tapi... tapi dia masih galak, Rob. Kemarin gue telat 5 menit, dia lihat gue kayak macan kumbang mencakar gue hidup-hidup."

"Galak ke orang lain, kali. Ke lo? Ke lo dia..."

Roby berhenti, wajahnya berubah pucat menunjuk. "Itu dia, lihat."

Dewa menoleh. Dian Wulandari — di ujung koridor — berjalan dengan langkah biasa. Tapi kemudian, matanya memindai berhenti sejenak. Tangan kirinya — secara refleks — ke arah cincin mengusapnya seolah memastikan cincin itu masih ada.

Lalu dia melanjutkan berjalan tidak menyapa maupun tersenyum. Tapi — Dewa yakin — pipinya memerah.

"Lo lihat, kan?" tanya Roby. "Lo lihat, kan?"

Dewa tidak menjawab hanya merasakan sesuatu bukan takut ataupun panik. Tapi hangat di dadanya, di perut, di tempat yang tidak bisa ia dijelaskan.

---

Jam 8 malam, kosan Roby-Dewa.

Roby menyebarkan foto-foto di lantai. Membuat peta investigasi dengan spidol.

"Fakta 1: Ibu Dian pakai cincin terus. Fakta ke 2: Dia senyum-senyum sendiri. Fakta 3: Ia nanya-nanya lo terus. Fakta 4..."

Ia berhenti menatapnya

"Fakta 4: Lo bilang cincin itu 'cocok.' Lo lihat cincin di tangan dia. Tapi lo diem aja."

Dewa duduk di kasur melihat peta di lantai. "Gue gak bisa bilang, Rob. Gue lihat mukanya dia... dia bahagia dengan cincin gue, dengan kebodohan gue dia bahagia."

"Jadi lo mau diemin?"

"Gue gak tahu harus berbuat apa."

Roby berdiri mematung, selama 2 tahun ini dia kenal, Dewa selalu punya jawaban untuk semua masalah, kecuali masalah yang satu ini.

"Oke. Plan B. Gue yang cari tahu. Gue yang konfrontasi ke pada Ibu Dian. Gue bilang..."

"Jangan!" Dewa berdiri cepat "Gue yang tanggung jawab untuk satu ini, karena itu kesalahan gue, gue yang kirim dan harus jelasin kepadanya."

"Kapan?"

Dewa diam tidak tahu jawabannya. Besok? Minggu depan? Setelah lulus? Setelah... setelah apa?

---

Jam 10 malam, apartemen A-12B.

Dian duduk di meja kerja. Buku catatan kecil di depannya. Profil Dewa — yang dia kumpulkan selama 3 hari — terbuka.

· Warna: biru ( ungu, hitam, tidak konsisten)

· Makanan: nasi goreng, bubur ayam, mi instan

· Hobi: kerja, kerja, kerja

· Ciri khas: selalu datang tepat waktu sekarang, duduk paling depan, menatap... menatap apa?

Ia menatap cincin berkilau. Cincin yang — dia yakin — punya cerita, punya pemilik, punya...

"Dewa," gumamnya. "Apakah kamu... apakah kamu yang kirim?"

Tidak ada jawaban hanya kilauan biru yang — dia yakin — berkedip.

Ia menutup buku catatan berjalan ke arah jendela melihat ke bawah — ke jalan — ke tempat motor butut biasanya parkir.

Kosong, malam ini, kosong.

Ia merasa... kecewa tidak melihat motor butut itu. Kecewa karena tidak melihat laki laki lembut konyol itu dan kecewa karena — dia akui sendiri — ada rasa rindu.

Rindu. Kata yang tidak pernah dia pakai, tidak ada di dalam kamus statistiknya.

Tapi malam ini, di apartemen sterilnya, dengan cincin orang asing di jari, Dian Wulandari merasa rindu pada seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang dia.

Atau — pikiran yang lebih berbahaya — mungkin dia tahu tapi diam, bilang "cocok." Tapi menunggu.

"Besok," katanya pada bayangan di kaca. "Besok, saya akan tahu."

Tapi dia tidak tahu — tidak yakin — apa yang akan dia lakukan kalau memang benar. Kalau Dewa memang pengirimnya. Kalau semua — semua kegugupan, pertanyaan aneh, rasa rindu — adalah salah alamat.

1
D_wiwied
harusnya kamu nanya dirimu sendiri Di, apa kamu sanggup?
Ddie: gaya nya Bu dian aja mba, padahal hatinya resah
total 1 replies
D_wiwied
sorry bu, Dewa mau pergi hiling ke luar negri sama aku.. jd gausah ditunggu yaaa 🤭🤭
D_wiwied: moso ke luar negeri bantar gebang, emoh ah
total 2 replies
D_wiwied
mbuhlah Di, sakarepmu
D_wiwied: tau tu bu dosen, ikutan plin plan ky si Dewa
total 2 replies
D_wiwied
ego mengalahkan cinta,, putus ya putus aja mungkin lbh baik saling menjauh dulu agar kalian mengerti arti kehadiran seseorang setelah orang itu tdk ada di sisimu
Ddie: heheh...nyeplos kadang membuat ngakak ya mba, tapi ada ilmu yang terselip ...
total 3 replies
D_wiwied
kapokmu kapan Wa kamu be to the go sih, membiarkan ketidakjujuran smpe berlarut-larut, wes terima nasib aja kalo nanti kamu didepak bu D.. rekor ini belum lama jadian udah di putusin aja 😆😆🤭
berjuang dong Wa, tunjukkan kesungguhan mu smg bisa meluluhkan hati Dian
Ddie: hahahah🤣🤣🤣🤣...aduh tuhan
total 3 replies
D_wiwied
itu bukan cinta tp obsesi, sebenarnya kamu tau kans mendapatkan Dewa kembali sdh tdk ada,, dahlah stop smpe disini aja
Ddie: namanya juga usaha mba..siapa tahu berubah, sifat manusia begitu, penyesalan datang disaat semuanya telah terjadi. Sasha gak akan mengerti, tapi usaha nya tidak akan mempan..Dewa bukan seperti laki laki cengeng...dia pasti berusaha
total 1 replies
D_wiwied
resiko yg hrs kamu tanggung Wa, resiko yg hrs kamu bayar krn kepengecutanmu yg tdk mau terus terang,, rasain kamu klo bu D ntar ngambek 🤣🤣
D_wiwied: wkwkwk pengen ku tampol pake parutan kelapa 🤣🤣
total 2 replies
D_wiwied
cinta ternyata bisa bikin orang jd bodoh ya, mau2 nya kamu diperalat sm si micin masuk ke dlm jebakan yg bisa membuat kamu kehilangan integritas, selamat menikmati kehancuran pakdos 😆😆
D_wiwied: nahh, sok2 an pake acara menyesal segala.. kenapa penyesalannya hrs nunggu smpe 15 tahun? kemarin2 kemana kamuuu, andai istri Arif ga meninggoy pasti ga bakalan ada cerita mengejar cinta lama ya kaaan
total 2 replies
D_wiwied
ngarang banget bocah sstu ini, bukan Dewa yg mengkhianati tp kamu yg ninggalin dia krn kamu mikirnya Dewa adalah mahasiswa kere, dan setelah sekarang kamu tau Dewa anak orkay kamu ngejar dia lagi.. dasar gatau malu
Ddie: 🤣🤣🤣 oke siiip ...gak deh
total 3 replies
D_wiwied
nahkaan kumat lg kan di Dewa nya ngfreeze 🤣🤣
D_wiwied: jangan2 pengalaman pribadi ya thor 🤭😆✌
total 6 replies
D_wiwied
kenapa mlh jd insecure bu D, mana Dian yg galak yg tegar yg selalu percaya diri.. tunjukkan pesonamu bu D😆💪
D_wiwied: /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
total 4 replies
D_wiwied
sabar Wa sabaaar bu D ga kemana-mana🤭😆
D_wiwied
wah wah giliran bu D yg ngebet pengen dicium, tp ya ga di dkt ruang bedah mayat dong bu ntar kalo ada yg ikutan nimbrung gimana 😆😆🤣🤣🤭
Ddie: 🤣🤣🤣🤣..awas ya mba ...
total 3 replies
D_wiwied
woyy mulai berani ya kamu Wa,, sptnya krn sdh cerita sama bu D bikin perasaan dan hati kamu jd lbh plong ya Wa, jd lbh hidup n jd normal lg 🤭🤭
Ddie: 🤣🤣🤣...Dewa itu kadang baik dan sopan, terkadang acak adul, mba, tapi dia memang sayang dengan Bu Dian sepenuh hati😄
total 1 replies
D_wiwied
yaa cewek kan emang gitu Wa, awalnya aja jaim ntar kalo dah jadian keluar deh manjanya 🤭
Ddie: hehehe...mba wied benaran tuh, cewek emang susah ditebak...jinak jinak merpati 🤭
total 1 replies
sitanggang
udah bab 20 kok masalah cincin saja gak kelar2 yaa, gak lucu, parah 😂🤣😂🤣🤦🤦
Ddie: kalau di jelasin, ntar novel nya cepat tamat bang
total 1 replies
D_wiwied
jiaaaan.. malah lari 🤣🤣
tp lumayanlah buat ukuran seorang Dewa cukup kasih kecupan di kening dulu ya Wa 🤭😁
D_wiwied: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
D_wiwied
waahhhh Dewaaaa malu2 in aja kamu 🤣😁
biasain dong 🤣🤣🤣
Ddie: hahaha...mba tu sirikan ama Sasha ...🤣
total 3 replies
D_wiwied
dan gayungpun bersambut, akhirnya ya kak Ddie... tengkyuu buat part ini 🥰🥰
D_wiwied: Dewa bikin gumushh 🤭🤭
total 5 replies
D_wiwied
akhirnya... terucap jg kata sayang itu
D_wiwied: suka gemes liat Dewa kek siput, lama slowly suwiiii
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!