Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Mata Bayaran
Hari kesembilan, jam 7 pagi.
Roby, pria bertubuh gempal itu duduk di kantin dengan nasi uduk setengah habis, matanya tidak lepas dari ponsel. Grup chat "Detektif Cinta" — nama yang dia buat sendiri, cuma ada dia dan Dewa — baru saja aktif.
Dewa: "Ibu Dian panggil gue lagi jam 4 di ruang dosen."
Roby: "Lagi? Ini hari ke-3 berturut-turut, bro."
Dewa: "Gue takut, Rob. Ibu Dian makin aneh."
Roby: "Aneh gimana?"
Dewa: "Kemarin... dia tanya warna kesukaan gue."
Roby tersedak, untung sendok nasi tidak tertelan, melupakan nasi uduk sementara
Roby: "Warna kesukaan?! Bro. Ini bukan interogasi tapi kencan."
Dewa: "'Kencan gigi lo, ibu Dian itu Dosen, beliau dosen Statistik, hitung hitung nya tepat dan cermat."
Roby : Gue gak menilai secara fisik luar, tapi analisa mental."
Dewa : Maksud Lo?"
Roby : Itu prilaku orang jatuh cinta, bisa jadi Ibu dian jatuh cinta ma Lo, atau lo jadi kelinci percobaan."
Dewa : Apa apaan sih Lo?"
Roby : Dah ah ..gue malas berdebat, sekarang Lo fokus aja menyelidiki tu dosen killer, kenapa?ada apa? mengapa ?"
Dewa : Gue bukan ngadain kuis penelitian, centong."
Roby ; " Ya udah, terserah Lo deh. Gue pengen nyari makan."
Dewa : "Gue ikut."
Roby ; Gak, urus aja dosen killer kesayangan Lo. Wkwkwk."
---
Jam 3 sore, ruang dosen Dian Wulandari, MSi
Dewa duduk dengan posisi sudah familiar — kaku, tegang, menunggu sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh akalnya.
Sementara di belakang meja, Perempuan dengan tangan kiri— akhir-akhir ini sering keluar dari sakunya, cincin terlihat jelas, tidak disembunyikan lagi — mengetik sesuatu di laptop.
"Anda suka warna apa?" tanyanya tanpa menoleh.
Dewa tergagap pertanyaan ini muncul kembali padahal dia sudah menjawab "biru" kemarin — sekarang datang lagi.
"Ungu, Bu?".
Ia menoleh menatapnya ragu. "Kemarin biru, sekarang ungu. Anda... tidak konsisten."
"Maaf, Bu. Saya... bingung dengan warna, sebenarnya saya suka warna hitam."
" What ? Ia menggeleng seolah-olah jawaban "bingung" adalah data error tapi dia tetap mencatat — entah di mana — lalu bertanya lagi seperti petugas sensus: "Makanan favorit?"
"Nasi goreng, Bu."
"Kemarin bubur ayam."
"Saya... suka keduanya."
Perempuan itu kembali mencatat, dengan jawaban amburadul.
Dewa melihat — melihat — di sebuah buku catatan kecil di meja bukan berkas akademik, daftar nilai. Tapi... profil pribadi, untuk apa?
"Dia... dia stalking gue?" pikirnya bercampur geli dan ngeri kalau dia mengajukan pertanyaan personal lagi.
---
Jam 5 sore, koridor kampus.
Roby menunggu di sudut, berpura-pura baca pengumuman beasiswa yang sudah dia baca 10 kali.
Dewa lewat, wajahnya bercampur aduk, pecel Lamongan.
"Bro?" Roby menyusul, berjalan seiring.
"Gue takut, Rob. Dia tanya terus. Hobi. Makanan. Warna. Ukuran sepatu."
"What ? Ukuran sepatu?" Roby hampir menjerit. "Bro, ini bukan dosen. Ini... ini cewek kasmaran yang lagi PDKT total!"
"Jangan ngaco, biji tongkol ."
"Gue ngaco?" Roby menarik Dewa ke taman kosong. "Lo lihat ini."
Dia mengeluarkan ponsel. Foto-foto — Dian — yang dia ambil diam-diam selama 3 hari.
Perempuan itu di kantin, duduk sendirian, tersenyum ke ponselnya sendiri. Ia di koridor, berhenti melihat cincin di jarinya sebelum masuk kelas. Dian di parkiran, melihat motor butut milik Dewa dengan ekspresi yang Roby sebut "rindu."
"Gue bayar anak kantin Rp50.000 buat foto-foto ini," kata Roby. "Investigasi, bro. Lo harus tahu kebenaran."
Dewa menatap foto-foto itu tidak percaya dan tidak mau percaya.
"Tapi... tapi dia masih galak, Rob. Kemarin gue telat 5 menit, dia lihat gue kayak macan kumbang mencakar gue hidup-hidup."
"Galak ke orang lain, kali. Ke lo? Ke lo dia..."
Roby berhenti, wajahnya berubah pucat menunjuk. "Itu dia, lihat."
Dewa menoleh. Dian Wulandari — di ujung koridor — berjalan dengan langkah biasa. Tapi kemudian, matanya memindai berhenti sejenak. Tangan kirinya — secara refleks — ke arah cincin mengusapnya seolah memastikan cincin itu masih ada.
Lalu dia melanjutkan berjalan tidak menyapa maupun tersenyum. Tapi — Dewa yakin — pipinya memerah.
"Lo lihat, kan?" tanya Roby. "Lo lihat, kan?"
Dewa tidak menjawab hanya merasakan sesuatu bukan takut ataupun panik. Tapi hangat di dadanya, di perut, di tempat yang tidak bisa ia dijelaskan.
---
Jam 8 malam, kosan Roby-Dewa.
Roby menyebarkan foto-foto di lantai. Membuat peta investigasi dengan spidol.
"Fakta 1: Ibu Dian pakai cincin terus. Fakta ke 2: Dia senyum-senyum sendiri. Fakta 3: Ia nanya-nanya lo terus. Fakta 4..."
Ia berhenti menatapnya
"Fakta 4: Lo bilang cincin itu 'cocok.' Lo lihat cincin di tangan dia. Tapi lo diem aja."
Dewa duduk di kasur melihat peta di lantai. "Gue gak bisa bilang, Rob. Gue lihat mukanya dia... dia bahagia dengan cincin gue, dengan kebodohan gue dia bahagia."
"Jadi lo mau diemin?"
"Gue gak tahu harus berbuat apa."
Roby berdiri mematung, selama 2 tahun ini dia kenal, Dewa selalu punya jawaban untuk semua masalah, kecuali masalah yang satu ini.
"Oke. Plan B. Gue yang cari tahu. Gue yang konfrontasi ke pada Ibu Dian. Gue bilang..."
"Jangan!" Dewa berdiri cepat "Gue yang tanggung jawab untuk satu ini, karena itu kesalahan gue, gue yang kirim dan harus jelasin kepadanya."
"Kapan?"
Dewa diam tidak tahu jawabannya. Besok? Minggu depan? Setelah lulus? Setelah... setelah apa?
---
Jam 10 malam, apartemen A-12B.
Dian duduk di meja kerja. Buku catatan kecil di depannya. Profil Dewa — yang dia kumpulkan selama 3 hari — terbuka.
· Warna: biru ( ungu, hitam, tidak konsisten)
· Makanan: nasi goreng, bubur ayam, mi instan
· Hobi: kerja, kerja, kerja
· Ciri khas: selalu datang tepat waktu sekarang, duduk paling depan, menatap... menatap apa?
Ia menatap cincin berkilau. Cincin yang — dia yakin — punya cerita, punya pemilik, punya...
"Dewa," gumamnya. "Apakah kamu... apakah kamu yang kirim?"
Tidak ada jawaban hanya kilauan biru yang — dia yakin — berkedip.
Ia menutup buku catatan berjalan ke arah jendela melihat ke bawah — ke jalan — ke tempat motor butut biasanya parkir.
Kosong, malam ini, kosong.
Ia merasa... kecewa tidak melihat motor butut itu. Kecewa karena tidak melihat laki laki lembut konyol itu dan kecewa karena — dia akui sendiri — ada rasa rindu.
Rindu. Kata yang tidak pernah dia pakai, tidak ada di dalam kamus statistiknya.
Tapi malam ini, di apartemen sterilnya, dengan cincin orang asing di jari, Dian Wulandari merasa rindu pada seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang dia.
Atau — pikiran yang lebih berbahaya — mungkin dia tahu tapi diam, bilang "cocok." Tapi menunggu.
"Besok," katanya pada bayangan di kaca. "Besok, saya akan tahu."
Tapi dia tidak tahu — tidak yakin — apa yang akan dia lakukan kalau memang benar. Kalau Dewa memang pengirimnya. Kalau semua — semua kegugupan, pertanyaan aneh, rasa rindu — adalah salah alamat.