Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Semua Disiapkan
Hari itu aku datang paling pagi lagi. Bukan karena rajin, tapi karena kalau datang belakangan, aku keburu malas. Malas lihat orang. Malas dengar komentar. Datang pagi bikin semuanya masih sepi dan sunyi, jadi aku bisa kerja tanpa mikir macam-macam.
Gudang masih dingin. Lampu belum semua nyala. Aku buka pintu pelan, masuk, taruh tas, lalu duduk sebentar di lantai. Niatnya cuma lima menit, tapi kepalaku berat. Bukan ngantuk. Lebih ke penuh. HP-ku bunyi. Grup panitia.
Pesan masuk satu-satu. Tanya ini, tanya itu. Ada yang nanya konsumsi. Ada yang nanya susunan acara. Ada juga yang cuma ngetik, “Aku telat ya.”
Aku baca semuanya, tapi nggak langsung jawab. Aku tarik napas dulu. Bukan karena aku nggak mau jawab, tapi karena capek rasanya jadi orang yang selalu harus siap.
Tara datang sekitar setengah jam kemudian. Mukanya datar, tapi matanya kelihatan belum tidur cukup. “Pagi,” katanya.
“Pagi.” Kami nggak pakai basa-basi. Langsung buka gudang, cek barang. Aku ambil daftar, Tara bantu angkat.
Satu per satu kami cek: frozen food masih utuh, plastik rapi, saus ada, minuman aman. Aku cocokkan dengan catatan. Tanganku agak gemetar waktu ngecek angka, padahal ini cuma daftar. Tapi sejak kejadian uang itu, hal kecil jadi berasa besar.
“Lengkap,” kata Tara.
Aku angguk. Ada lega dikit, tapi nggak sampai senyum. Beberapa menit kemudian Sela datang. Rambutnya diikat seadanya, tangannya bawa dua kantong besar. “Aku bawa tambahan plastik sama tisu,” katanya. “Takut kurang.”
“Makasi,” kataku.
Kami bertiga mulai kerja. Nggak ada pembagian resmi, tapi semuanya jalan. Tara nyusun barang di sudut, Sela nempel label, aku catat dan atur posisi. Tanganku gerak terus, kepalaku fokus. Selama kerja, aku hampir lupa rasa nggak enak itu. Sampai suara langkah kaki di luar gudang bikin aku berhenti. Rara.
Dia berdiri di pintu, tas selempang di bahu, rambut rapi, ekspresi biasa. Terlalu biasa, malah. “Udah mulai?” tanyanya.
“Udah,” jawabku singkat. Dia masuk, lihat-lihat sekeliling. Matanya muter, berhenti di tumpukan barang. “Ini nuggetnya kurang deh,” katanya. Aku refleks lihat daftar. “Sesuai list.”
“Harusnya lebih,” dia jawab cepat.
Aku diem. Bukan karena bingung, tapi karena nahan. Tara nengok ke aku sebentar, lalu pura-pura fokus lagi. “Ini sesuai kebutuhan yang disepakati,” kataku akhirnya. Nada suaraku netral. Sengaja.
Rara menghela napas. “Yaudah. Tapi nanti kalau kurang, jangan panik.” Kalimatnya biasa aja. Tapi entah kenapa rasanya nusuk. Kayak aku disiapin buat disalahin kalau ada apa-apa.
Dia duduk di kursi plastik, buka HP. Ngetik sesuatu. Nggak ikut angkat, nggak ikut susun. Cuma liat. Sela ngelirik ke aku, matanya nanya. Aku geleng pelan. Lanjut kerja.
Beberapa anak lain mulai datang. Gudang jadi rame. Ada yang nyapa, ada yang cuma lewat. Ada yang bantu, ada yang cuma duduk.
Aku sibuk ngatur alur. Siapa ambil apa, siapa taruh di mana. Aku jelasin pelan-pelan, satu per satu. Suaraku mulai serak.
“Aku ambil minum ya,” kata salah satu.
“Jangan diambil dulu. Tunggu instruksi,” jawabku.
“Kenapa?”
“Biar nggak acak-acakan.”
“Oh.”
Jawabannya pendek. Terus dia pergi. Aku nggak tahu dia dengerin atau nggak.
Sekitar jam sepuluh, panas mulai kerasa. Gudang pengap. Keringat lengket di leher. Aku buka jaket, ikat rambut lebih tinggi. Rara berdiri, mendekat ke meja catatan. “Ini catatan siapa?” tanyanya.
“Aku,” jawabku.
Dia baca sebentar. “Detail banget.”
Aku nggak tahu itu pujian atau sindiran. “Biar jelas,” kataku. Dia angguk. “Iya sih.”
Lalu dia ninggalin meja, tanpa nambah apa-apa. Aku ngerasa aneh. Di satu sisi, aku yang ngerjain. Di sisi lain, aku yang selalu harus siap dikomentarin. Kayak posisiku bukan pelaksana, tapi cadangan kesalahan.
Siang makin dekat. Barang mulai siap dipindah ke lokasi acara. Anak-anak mulai ribut sendiri. Ada yang bercanda, ada yang foto-foto.
Aku berdiri di tengah gudang, lihat semua itu. Rasanya kayak nonton dari luar. Aku ada, tapi nggak benar-benar masuk.
Tara nyamperin. “Kamu belum makan?”
Aku geleng.
“Beli bentar ya?”
“Nanti,” jawabku. “Abis ini aja.”
Padahal perutku udah minta diisi. Tapi aku nggak pengin ninggalin tempat. Takut ada yang berantakan. Takut ada yang salah. Takut aku nggak ada pas dibutuhin, tapi ada pas disalahin.
Sekitar satu jam kemudian, barang siap dipindah. Aku bagi tugas. Semuanya bergerak, meski nggak rapi banget. Aku ikut angkat beberapa kardus, padahal tanganku pegal.
Rara berdiri agak jauh, ngobrol sama beberapa orang. Sesekali matanya ke arah kami. Aku nggak tahu dia mikir apa. Pas barang terakhir diangkat, aku duduk di lantai. Nafasku berat. Kaosku basah keringat. Tara duduk di sampingku, kasih air mineral. “Minum.”
Aku terima tanpa ngomong. Airnya dingin. Tenggorokanku perih tapi enak.
“Kamu nggak salah kok,” katanya pelan.
Aku ketawa kecil. “Aku belum dituduh, Tar.”
“Justru itu.”
Aku ngerti maksudnya. Kadang yang bikin capek bukan omongan, tapi dugaan. Sore itu, aku pulang paling akhir lagi. Gudang sudah kosong. Lampu dimatiin satu-satu.
Di motor, jalanan terasa panjang. Angin sore kena muka, tapi kepalaku tetap panas. Aku mikir satu hal yang muter terus sejak tadi: kenapa aku masih di sini?
Kenapa aku masih ngerjain semua ini? Jawabannya nggak heroik. Nggak juga mulia.
Karena kalau aku berhenti, semua ini bakal makin berantakan. Dan entah kenapa, aku masih peduli. Sampai rumah, aku rebahan tanpa ganti baju. HP-ku bunyi lagi. Grup panitia rame.
Ada yang bilang makasih. Ada yang nanya besok jam berapa. Ada juga yang nyeletuk, “Semoga besok lancar ya.” Aku baca semuanya. Nggak langsung bales.
Aku capek. Bingung. Greget. Tapi besok aku bakal datang lagi. Dan jujur aja, aku juga nggak tahu kenapa.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭