Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Lantai tiga koridor rumah sakit itu biasanya hanya menyisakan dengung mesin pendingin ruangan dan derap langkah suster yang terjaga. Jam dinding digital di atas meja jaga menunjukkan angka satu dini hari lewat lima belas menit—sebuah titik jenuh di mana dunia seolah menahan napas dalam keheningan yang mencekam.
Namun, keheningan itu robek seketika.
Dari balik pintu kamar bersalin, sebuah teriakan melengking memecah atmosfer sunyi. Itu bukan sekadar suara; itu adalah suara dari bukti otentik yang mempertaruhkan perjuangan antara hidup dan mati. Keringat dingin membasahi pelipis sang ibu, jemarinya meremas sprei hingga buku-bukunya memutih. Di antara udara di dalam ruangan yang terasa berat dan dipenuhi aroma antiseptik yang tajam, terlintas bayang mendiang suaminya memenuhi pikirannya.
Sementara, setiap detik terasa seperti jam yang merambat lambat. Dari balik pintu kamar bersalin itu, keduanya tak henti mondar-mandir dengan perasaan cemas dan penuh gelisah. Satu menit terasa seperti satu jam, dan satu jam terasa seperti keabadian.
"Ayo, sekali lagi... Bu! Sedikit lagi!"
Suara bidan itu memicu setengah kelegaan di hati mereka. Sedikit lagi. Artinya, sebentar lagi rasa sakit itu akan segera hilang. Surya, pria berusia tiga puluh enam tahun itu lantas menatap lurus ke wajah sang istri.
Seolah saling memahami apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing, baik Surya maupun Maudi yang menggendong anak pertama mereka saling melempar senyum penuh kelegaan.
Tak lama kemudian, terdengar erangan terakhir itu begitu panjang, sebuah puncak dari segala rasa sakit yang bisa ditanggung manusia.
Lalu, tiba-tiba... hening.
Maudi segera menarik lengan Surya dan menatapnya ketakutan. "Mas..."
Oekkk... Oekkk!
Suara tangis bayi yang cempreng dan kuat itu memecah ketegangan seolah-olah fajar baru saja terbit di jam satu pagi itu. Tangisan itu adalah melodi paling indah yang pernah mereka dengar.
Surya tersenyum penuh lega, begitu juga Maudi yang melepaskan cengkraman pada lengan suaminya, kini mengelus-ngelus dada. Sesekali, ia mengayunkan tubuhnya pelan, berusaha menenangkan sang anak yang digendongnya merengek.
Beberapa saat kemudian, daun pintu terbuka perlahan. Sontak, Surya dan Maudi lantas bersamaan berbalik dan mendekati seorang bidan yang keluar dengan wajah yang sulit dilukiskan—campuran antara kelelahan luar biasa, sisa-sisa air mata, dan binar kebahagiaan yang tak terbendung sekaligus seraut wajah yang membuat keduanya saling menatap.
"Bagaimana, Bu Bidan?" Tanya Surya. "Bagaimana kondisi Ibu itu?"
Maudi hanya mengangguk cemas menatap wajah sang bidan penuh pengharapan.
"Bayi yang di lahirkan selamat."
Surya dan Maudi mengembuskan napas lega hampir bersamaan. Ketegangan yang sejak tadi menjerat dada mereka perlahan luruh, digantikan rasa syukur yang tak terucap.
Maudi memejamkan mata sejenak, jemarinya bergetar saat menangkupkan tangan, sementara Surya meremas bahunya pelan—seolah memastikan bahwa kabar baik itu benar adanya
"Tapi..."
Deg.
Jantung Maudi seakan jatuh menghantam dadanya sendiri. Sedangkan, senyum lega Surya membeku seketika dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Tatapan bidan berubah ragu, jeda yang terlalu singkat namun cukup untuk menumbuhkan ketakutan yang paling sunyi.
"Ta-tapi apa, Bu?" Tanya Surya khawatir. "A-Apa yang terjadi pada wanita itu?"
“Maafkan kami… kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” ucap sang Bidan pelan. “Pendarahan terjadi sangat hebat setelah persalinan. Kondisi rahim Ibu tidak berkontraksi dengan baik sehingga darah terus keluar.”
Wanita berusia empat puluh tahunan itu setengah tertunduk. “Kami sudah memberikan obat, melakukan tindakan darurat, bahkan mencoba transfusi,” jelasnya jujur. “Namun tubuh Ibu tidak merespons. Tekanan darahnya turun sangat cepat, dan organ vitalnya gagal bertahan. Hingga … nyawa Ibu tidak bisa kami pertahankan.”
Hening menyergap.
Surya dan Maudi sama-sama terdiam, seakan kehilangan kata untuk merespons kenyataan yang terlalu berat. Tatapan mereka kosong, sementara duka perlahan merayap, menekan dada tanpa ampun.
Nyaris, Maudi lebih dulu runtuh. Lututnya melemah, namun tubuhnya berhasil di tangkap oleh pelukan Surya. Tangisnya pecah—sunyi, tercekik, seperti ditahan terlalu lama.
Surya sendiri memeluk istrinya erat, rahangnya mengeras, matanya memerah, namun tak satu pun air matanya jatuh. Ia memilih diam, menelan duka itu bulat-bulat.
"Kami ingin bertemu dengan bayinya." Kata Surya.
Bidan itu mengangguk pelan. Ia melangkah pergi sebentar, meninggalkan Surya dan Maudi dalam diam yang kembali menekan.
Hingga tak lama kemudian, bidan itu kembali dengan seorang bayi mungil dalam balutan kain putih. Tangisnya lirih, terputus-putus—seakan ikut merasakan suasana duka di ruangan itu.
“Ini bayinya,” ucap sang bidan lembut. “Perempuan. Sehat. Berat dan kondisinya baik.”
Maudi menatap raga kecil itu tanpa berkedip. Sementara, Surya merasa dadanya sesak, tangannya gemetar saat sang bidan perlahan mengarahkan bayi itu ke dalam pelukannya.
Mula-mula, bola mata Maudi hanya berkaca-kaca. Namun perlahan, tangisnya pecah—kali ini tanpa bisa ditahan.
"Hai." Sapa Surya menatap lembut bayi mungil di pangkuannya itu. "
Jari telunjuknya bergerak pelan, menyentuh jemari kecil yang menggenggam refleks.
Dadanya menghangat sekaligus perih—perasaan yang tak pernah ia bayangkan akan datang bersamaan. “Kamu kuat, Nak.” Bisiknya, suaranya bergetar meski berusaha tegar. “Kamu datang… meski Ibumu harus pergi.”
Maudi menatap keduanya dengan mata basah. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi bayi itu hati-hati, seolah takut sentuhan sekecil apa pun bisa melukai. Senyumnya terbit—rapuh, namun penuh cinta.
“Kita jaga dia, Mas.” Ucap Maudi lirih.
Tanpa pikir panjang, Surya mengangguk setuju. Detik berikutnya, ia menatap sang bidan yang sejak tadi mengunci gerak mereka dengan mata berlinang, ikut larut dalam suasana duka itu.
“Tolong uruskan surat kelahirannya, Bu,” ujar Surya tegas. “Atas nama kami.”
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,