Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 HARI PERNIKAHAN SEDERHANA
Beberapa hari berlalu begitu cepat, seolah waktu sengaja berlari tanpa memberi Khay kesempatan untuk benar-benar mencerna perubahan besar dalam hidupnya. Pagi itu, rumah sederhana milik orang tuanya telah berubah wajah. Halaman depan hingga ruang tengah didekorasi indah dengan nuansa putih dan krem. Rangkaian bunga melati dan mawar putih menghiasi setiap sudut, memberi aroma lembut yang menenangkan.
Tidak ada kemewahan berlebihan. Tidak ada tamu undangan ratusan orang. Acara hari itu hanya dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat sesuai permintaan Khay dan kesepakatan bersama.
Di dalam kamar, Khay berdiri di depan cermin. Gaun putih sederhana namun anggun membalut tubuhnya, memperlihatkan pundak mulus dan leher jenjangnya.
Rambutnya disanggul rapi, dengan beberapa helai dibiarkan menjuntai lembut di sisi wajah. Riasan wajahnya natural, menonjolkan kecantikan alaminya.
Mama Hera berdiri di belakangnya, menatap pantulan putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Putri Mama sudah menikah,” gumam Mama lirih.
Khay tersenyum, lalu berbalik memeluk Mama. “Mamah jangan nangis dong. Nanti riasannya luntur.”
Mama terkekeh kecil sambil mengusap air mata. “Mamah bahagia. Kamu kelihatan cantik sekali, Khay.”
“Karena Mamah yang melahirkanku,” jawab Khay ringan, membuat Mama tersenyum lebih lebar.
Di ruang tamu, Ayah duduk berdampingan dengan Kakek Darius. Keduanya tampak serasi dua pria dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh rasa saling percaya.
“Terima kasih sudah mempercayakan cucu Anda kepada kami,” ucap Ayah tulus.
Kakek Darius tersenyum bijak. “Justru saya yang berterima kasih. Khayla adalah gadis yang baik. Saya yakin Revan membutuhkan seseorang seperti dia.”
Ayah mengangguk pelan. “Saya juga percaya Revan pria yang bertanggung jawab.”
Tak jauh dari mereka, Revan berdiri dengan jas hitam rapi yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disisir rapi, wajahnya bersih tanpa janggut. Tatapannya tenang, namun ada ketegangan halus yang jarang terlihat darinya.
Bas berdiri di samping Revan, menepuk bahunya pelan. “Santai, Mas. Ini bukan rapat direksi.”
Revan meliriknya singkat. “Aku tidak tegang.”
Bas tersenyum penuh arti. “Kalau begitu, kenapa tanganmu mengepal dari tadi?”
Revan menurunkan tangannya perlahan, lalu berdehem. “Aku hanya ingin semuanya berjalan baik.”
Bas mengangguk. “Dan akan berjalan baik.”
Acara dimulai dengan sederhana. Prosesi akad berlangsung khidmat. Suara ijab kabul terdengar jelas dan mantap dari bibir Revan. Tanpa ragu. Tanpa salah ucap.
“Sah.”
Satu kata itu membuat dunia Khay seakan berhenti sesaat. Dadanya terasa hangat. Bukan karena cinta yang menggebu, melainkan karena rasa aman yang aneh rasa bahwa ia tidak melangkah sendirian.
Setelah prosesi selesai, suasana berubah lebih cair. Senyum menghiasi wajah semua orang. Mama Hera memeluk Khay erat, sementara Ayah menepuk bahu Revan dengan bangga.
“Jaga putri saya,” ucap Ayah singkat namun penuh makna.
Revan menatap Ayah dengan serius. “Saya akan bertanggung jawab, Pak.”
Kakek Darius mendekat, menatap Khay dengan senyum hangat. “Sekarang kamu cucu saya juga.”
Khay tersenyum cerah. “Terima kasih, Kek.”
Revan berdiri di samping Khay. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, mereka berdiri sebagai suami istri meski keduanya sama-sama tahu bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai.
Di meja makan, keluarga Khay dan keluarga Revan duduk bersama. Tidak ada kecanggungan. Percakapan mengalir hangat.
“Makanan ini enak sekali,” ucap Kakek Darius sambil menyeruput sup. “Masakan Mama Hera, ya?”
Mama tersenyum bangga. “Iya, Kek. Masakan kampung sederhana saja.”
“Justru itu yang membuatnya istimewa,” balas Kakek Darius tulus.
Revan melirik Khay sekilas. “Kamu sering makan masakan seperti ini?”
Khay mengangguk. “Setiap hari. Itu sebabnya aku betah di rumah.”
Revan mengangguk pelan. “Pantas.”
Khay mengernyit. “Pantas apa?”
“Kamu tumbuh dengan hati yang hangat,” jawab Revan singkat.
Khay terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Mas Revan juga tidak sedingin yang orang kira.”
Revan meliriknya. “Kamu baru menyadarinya sekarang?”
Khay terkekeh. “Iya.”
Mama dan Ayah saling berpandangan, tersenyum melihat interaksi itu. Tidak berlebihan, tidak dipaksakan namun terasa nyata.
Beberapa saat kemudian, Bas menghampiri mereka. “Mas, semua sudah beres. Tamu juga tinggal keluarga inti.”
Revan mengangguk. “Terima kasih.”
Khay berdiri, menatap semua orang. “Terima kasih sudah datang dan mendoakan kami.”
Ayah menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu bahagia?”
Khay mengangguk mantap. “Iya, Yah.” Dan saat ia mengatakan itu, ia benar-benar merasakannya.
Menjelang sore, acara selesai. Tamu satu per satu berpamitan. Rumah kembali tenang, hanya menyisakan keluarga inti dan kehangatan yang tertinggal di udara.
Khay berdiri di teras, memandangi langit yang mulai berubah warna. Revan berdiri di sampingnya, menjaga jarak seperti kesepakatan mereka.
“Hari ini melelahkan,” ucap Khay ringan.
“Iya,” jawab Revan. “Tapi berjalan lancar.”
Khay menoleh padanya, tersenyum cerah. “Terima kasih sudah menepati janjimu.”
Revan menatapnya balik. “Terima kasih juga… karena sudah memilihku.”
Mereka kembali memandang langit senja. Tidak ada janji cinta yang diucapkan. Tidak ada sentuhan berlebihan. Namun ada sesuatu yang tumbuh pelan rasa saling menghormati, yang kelak bisa berubah menjadi lebih dari sekadar perjodohan.
Dan di hari itu, di rumah sederhana yang penuh cinta, kisah mereka resmi dimulai sebagai suami dan istri.