Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sujudnya Sang Jenderal dan Bayangan dari Tanah Jawa
Satu minggu berlalu sejak hancurnya Kuil Olympus di Barat. Tujuh hari yang mengubah sejarah peradaban manusia selamanya.
Di seluruh penjuru dunia, kekacauan merajalela. Hewan-hewan di kebun binatang bermutasi menjadi monster buas yang merobek kandang besi mereka. Orang-orang biasa yang mendadak mendapatkan kekuatan elemen—api, air, petir, atau kekuatan fisik super—mulai membentuk geng-geng kriminal baru, menjarah bank, dan menantang otoritas kepolisian. Senjata api konvensional kaliber kecil mulai kehilangan efektivitasnya terhadap mereka yang telah menyentuh tahap awal Kondensasi Qi.
Namun, anehnya, Kota Emerald tetap berdiri kokoh layaknya benteng utopia di tengah lautan api.
Tidak ada mutan liar atau "Awakener" arogan yang berani berbuat onar. Siapa pun yang mencoba membuat kekacauan, akan langsung dijemput oleh pasukan elit berpakaian hitam berlogo naga emas—pasukan gabungan Grup Kusuma dan Emerald Group yang kini dipimpin langsung oleh Han Shixiong dan dikawasi oleh sang Ratu Es, Nadia Kusuma.
Pusat dari segala kedamaian mutlak itu berada di utara kota.
Pagi ini, konvoi lima kendaraan taktis militer lapis baja berhenti tepat di kaki Puncak Zamrud Utara. Jenderal Sudirman turun dari mobil utama dengan wajah kuyu, kantung matanya menghitam akibat tidak tidur selama berhari-hari memimpin penanganan krisis nasional.
Di depannya, jalan aspal yang membelah pegunungan itu terhalang oleh sebuah dinding energi transparan berwarna keemasan yang menjulang hingga menembus awan.
Seorang prajurit Kopassus mencoba melangkah maju. Begitu tangannya menyentuh dinding emas itu, sebuah gaya tolak yang sangat lembut namun tak bisa dilawan melemparkannya mundur sejauh lima meter hingga jatuh terduduk, tanpa melukainya sedikit pun.
"Jangan bertindak bodoh," tegur Jenderal Sudirman dengan suara serak. "Ini adalah wilayah Sang Dewa. Senjata nuklir sekalipun tidak akan bisa menggores tirai ini."
Dari balik tirai emas, kabut pegunungan perlahan membelah. Han Shixiong melangkah keluar. Pria tua yang dulunya sering batuk-batuk itu kini tampak lima belas tahun lebih muda. Rambut putihnya mulai menumbuhkan helaian hitam, dan punggungnya tegap berisi Qi yang murni. Ia kini resmi menjadi Penatua Luar Istana Naga Langit.
"Jenderal Sudirman," sapa Han dengan tenang. "Guru Besar telah menanti Anda. Silakan masuk, namun perintahkan pasukan Anda untuk mematikan semua senjata api. Besi berkarat dilarang menodai tanah suci ini."
Sang Jenderal mengangguk patuh. Ia memerintahkan pasukannya untuk menunggu di luar, melucuti pistol di pinggangnya, dan melangkah seorang diri melewati formasi yang kini terbuka khusus untuknya.
Begitu melangkah masuk, Jenderal Sudirman terkesiap hingga napasnya terhenti.
Udara di dalam formasi ini sangat berbeda dengan dunia luar. Setiap tarikan napas terasa manis dan menyegarkan, seketika menyapu rasa lelahnya selama sepekan. Tumbuhan liar yang dulunya biasa saja kini memancarkan pendar cahaya. Di atas puncak gunung, ia bisa melihat samar-samar struktur paviliun-paviliun bergaya arsitektur kuno yang entah bagaimana telah dibangun Arya hanya dalam hitungan hari menggunakan manipulasi elemen bumi.
Han membawa sang Jenderal menaiki ribuan anak tangga batu putih yang baru saja diukir, menuju paviliun utama di puncak tertinggi.
Di sana, di atas singgasana batu giok yang diukir dengan relief sembilan naga, duduklah Arya. Ia masih mengenakan pakaian kasualnya yang sederhana, namun aura yang memancar darinya begitu agung hingga membuat sang Jenderal tanpa sadar ingin bersujud.
Di sebelah kanan Arya, duduk Nadia di atas kursi giok es. Ratu Emerald itu mengenakan gaun putih elegan, rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepit kristal. Hawa dingin dan wibawa mutlak memancar darinya, membuatnya benar-benar terlihat seperti dewi yang turun dari kahyangan.
Jenderal Sudirman menelan ludah, lalu membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat.
"Hormat saya, Tuan Arya... Nyonya Nadia," sapa Sang Jenderal dengan suara bergetar.
"Duduklah, Jenderal," Arya menunjuk sebuah kursi kayu cendana di depannya dengan dagunya. "Kau terlihat seperti manusia yang kehilangan negaranya."
Jenderal Sudirman duduk dengan canggung. Ia tersenyum pahit. "Anda tidak salah, Tuan Arya. Negara ini... dunia ini sedang berada di ambang keruntuhan. Kebangkitan energi ini membuat hukum fana tak lagi berlaku. Polisi dan tentara kami dibantai oleh remaja-remaja yang tiba-tiba bisa menembakkan laser dari tangan mereka."
Sang Jenderal menarik napas panjang, menatap lurus ke mata Arya dengan penuh permohonan.
"Pemerintah Pusat memohon dengan sangat. Kami ingin mengangkat Anda sebagai Pelindung Tertinggi Negara secara resmi. Kami bersedia menyerahkan sepertiga dari anggaran militer nasional kepada Istana Naga Langit, asalkan Anda bersedia turun gunung dan menertibkan kekacauan ini, atau setidaknya... melatih pasukan khusus untuk kami."
Mendengar tawaran yang bisa membuat konglomerat mana pun gila itu, Arya hanya tersenyum tipis. Nadia di sebelahnya bahkan tidak berkedip; sepertiga anggaran negara tidak ada artinya dibandingkan dengan sehelai rumput spiritual di pegunungan ini.
"Jenderal," suara Arya mengalun datar. "Aku mendirikan sekte ini bukan untuk menjadi anjing penjaga pemerintah fana. Kekacauan di luar sana adalah seleksi alam. Umat manusia sedang berevolusi. Jika aku turun tangan setiap kali ada anak nakal yang bermain api, kapan kalian akan belajar berjalan sendiri?"
Wajah Jenderal Sudirman memucat. Harapan terakhir negaranya baru saja menolak.
"Namun..." Arya melanjutkan, memutar cincin di jarinya. "Istana Naga Langit tidak akan menutup pintunya sepenuhnya. Tiga hari lagi, aku akan membuka Tangga Ujian Seribu Anak Kiamat di kaki gunung ini."
Mata sang Jenderal kembali berbinar. "M-maksud Anda...?"
"Kirimkan seratus prajurit terbaik atau pemuda paling berbakat yang negara kalian miliki. Siapa pun yang bisa menaiki anak tangga itu hingga ke puncak dengan selamat, akan kuterima sebagai Murid Luar Istana Naga Langit," ucap Arya. "Mereka akan mempelajari teknik kultivasi sejati, bukan sihir liar jalanan. Setelah mereka lulus, terserah kalian mau menggunakan mereka untuk menjaga negara atau hal lain."
Jenderal Sudirman langsung berdiri dan bersujud di atas lantai paviliun. Air mata kelegaan menetes dari matanya. "T-terima kasih, Tuan! Terima kasih! Kebaikan Anda akan dicatat dalam sejarah bangsa ini selama ribuan tahun!"
"Bangkitlah," sahut Arya santai. "Tapi jangan senang dulu. Aku tahu kedatanganmu kemari bukan hanya untuk mengeluh soal preman kampung yang bermutasi. Kau menyembunyikan ketakutan yang lebih besar. Bicaralah."
Sang Jenderal tersentak. Ia mengusap keringat dingin di dahinya dan kembali duduk tegang.
"Mata Anda setajam elang, Tuan," bisik Jenderal Sudirman, suaranya kini bergetar karena teror yang berbeda. "Masalah mutan liar masih bisa kami tahan dengan senjata berat. Tapi... tiga hari yang lalu, sebuah gempa bumi berkekuatan sembilan skala Richter membelah Gunung Merapi di Jawa Tengah."
Arya mengangkat sebelah alisnya. "Gunung berapi? Reruntuhan lain terbuka?"
"Bukan reruntuhan yang mati, Tuan," jawab Sang Jenderal dengan wajah pucat pasi. "Dari dalam kawah yang terbelah itu, muncul sebuah sekte kuno yang ternyata tertidur selama ratusan tahun. Mereka menyebut diri mereka Sekte Api Neraka Nusantara."
Nadia mengerutkan kening. "Sekte lokal?"
"Benar, Nyonya. Dan mereka sangat arogan," Sang Jenderal mengeluarkan sebuah gulungan kain merah dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. "Pemimpin mereka, seorang pria yang memanggil dirinya Raja Api, telah mengirimkan ultimatum ini ke Istana Presiden. Mereka menuntut pemerintah Indonesia menyerahkan kedaulatan penuh kepada mereka, atau mereka akan membumihanguskan pulau Jawa."
"Dan apa hubungannya denganku?" tanya Arya santai, meski matanya mulai menunjukkan kilatan ketertarikan.
Jenderal Sudirman menelan ludah. "Sekte kuno itu... mereka rupanya memiliki artefak pendeteksi energi. Mereka menyadari keberadaan kubah emas di utara Kota Emerald ini. Raja Api menganggap deklarasi Istana Naga Langit sebagai bentuk penghinaan karena Anda berani mengklaim gelar 'Langit' di tanah yang sama dengan mereka."
Sang Jenderal menunjuk gulungan itu. "Mereka telah mengirimkan tiga utusan elit dari sekte mereka. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke mari, Tuan Arya. Mereka berniat untuk... menghancurkan sekte Anda sebelum Anda sempat menerima satu pun murid, untuk membuktikan pada pemerintah siapa penguasa absolut di negara ini."
Hening merajai paviliun itu sejenak.
Lalu, tawa pelan terdengar dari bibir Arya. Tawa itu tidak keras, namun entah mengapa membuat suhu udara di puncak gunung itu anjlok, bahkan nyaris menyamai hawa dingin dari Nadia.
"Bagus sekali," gumam Arya, matanya memancarkan kilatan emas yang membakar. "Aku baru saja berpikir bahwa anak tangga batuku di depan sana terlalu bersih dan membosankan. Sepertinya para dewa fana dari tanah Jawa ini bersedia menyumbangkan darah mereka untuk mewarnai karpet merah pembukaan sekte kita.