Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Aroma pelembut pakaian memenuhi kamar Azalea. Di atas ranjang terbentang dua mukena kecil berwarna putih dengan renda lembut di bagian tepi. Elora berdiri di depan cermin sambil memeluk mukenanya erat-erat.
“Mommy, ini mukena aku sudah wangi!” ucap gadis kecil itu girang, menghirup kain itu dalam-dalam.
Azalea tersenyum, melipat sajadah kecil milik putrinya. “Iya, Sayang. Mommy cuci khusus pakai pewangi yang kamu suka.”
Elora memutar tubuhnya kecil, mukena itu berkibar mengikuti geraknya. “Nanti malam kita ke masjid buat salat tarawih, ya?”
“Iya,” jawab Azalea lembut. “Ini tarawih pertama kita tahun ini. Harus semangat.”
Di ruang tengah, Erza sedang mencoba sarung barunya. Ia berdiri di depan cermin besar, menggulung dan mengikat kain itu dengan wajah serius.
“Mommy, ini sudah rapi belum?” tanya Erza sambil melangkah hati-hati agar sarungnya tidak melorot.
Azalea keluar dari kamar, membenarkan lipatan sarung itu. “Sudah. Anak Mommy sudah seperti da'i cilik.”
Erza tersenyum malu-malu. Akhirnya dia bisa memakai sarung sendiri.
Di sudut ruang keluarga, Enzo duduk di sofa panjang dengan laptop di pangkuannya. Cahaya layar menerangi wajahnya yang serius. Jemarinya bergerak cepat, membalas email dan mengecek laporan keuangan yang tak pernah benar-benar berhenti datang, bahkan di bulan Ramadan.
“Daddy ....” Elora berdiri di depan ayahnya, menghalangi pandangan layar. “Nanti ikut salat ke masjid, ya?”
Enzo terdiam. Tangannya berhenti mengetik.
Sudah lama sekali ia tidak ke masjid untuk tarawih. Bahkan untuk salat tepat waktu pun, ia sering lupa. Dunia bisnis telah menyita fokusnya, sedikit demi sedikit menjauhkan ia dari hal-hal yang dulu terasa penting.
“Daddy?” Elora memiringkan kepala.
Erza ikut menoleh. Azalea pun menghentikan kegiatannya dan memandang suaminya dengan tatapan lembut, tanpa tekanan.
Enzo mengangkat wajahnya. Ada ragu yang tak bisa ia sembunyikan.
“Daddy, kalau tidak salat dosa, loh,” lanjut Elora polos. “Nanti masuk neraka.” Wajahnya benar-benar terlihat takut dan khawatir.
Enzo tertawa kecil, tapi itu bukan tawa lega. Lebih seperti tawa canggung. “Siapa yang bilang begitu?”
“Ustaz di televisi. Terus kata Mommy juga,” jawab Elora mantap.
Azalea berjalan mendekat dan duduk di samping Enzo. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan. “Ramadan itu bulan yang baik untuk mulai lagi, Mas. Tidak ada kata terlambat untuk kembali.”
Kalimat itu tidak menghakimi. Tidak menuduh, hanya mengingatkan. Enzo menatap istrinya. Ada ketulusan di sana. Tidak ada paksaan. Ia menutup laptop perlahan.
“Iya,” jawab Enzo akhirnya pelan.
Elora langsung bersorak kecil. “Yeaaay! Daddy ikut!”
Erza tersenyum lebar. “Berarti kita satu saf, ya, Dad?”
Enzo mengusap kepala putranya. “Iya. Satu saf.”
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ruang keluarga itu terasa bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat bertumbuh.
Azan Isya berkumandang, memecah langit malam yang mulai gelap. Jalan menuju masjid itu ramai. Anak-anak kecil berlarian, para ibu mengenakan mukena warna-warni, para bapak berjalan sambil membawa sajadah.
Azalea menggenggam tangan Elora. Erza berjalan di sisi Enzo, langkahnya mantap.
Beberapa jamaah menoleh ketika melihat Enzo dan Azalea masuk bersama anak-anak. Mereka tersenyum ramah.
Enzo berdiri di saf kedua, tepat di samping Erza. Tangannya gemetar tipis ketika mengangkat takbir.
“Allahu Akbar ....” Sudah lama sekali Enzo tak mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh.
Di saf perempuan, Azalea berdiri di samping Elora. Ia melirik sekilas ke arah Enzo dari balik pembatas. Hatinya bergetar.
Rakaat demi rakaat berjalan. Bacaan imam menggema, menyentuh sudut-sudut hati yang lama kosong.
Di sujud terakhir, Enzo menahan napasnya yang terasa berat. Ada rasa sesak yang selama ini ia pendam. Rasa bersalah pada Jasmine, pada anak-anaknya, pada dirinya sendiri.
“Ya Allah,” bisiknya dalam hati. “Kalau masih ada kesempatan … bimbing aku.”
Di sampingnya, Erza menoleh sebentar, memastikan ayahnya masih berdiri di sana.
Sepulang dari masjid, mereka kembali duduk di ruang keluarga. Angin malam masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Elora merebahkan kepalanya di pangkuan Azalea. “Capek, tapi senang.”
“Kamu hebat, salatnya sudah bisa fokus,” puji Azalea kepada putrinya yang gerakan salatnya sudah benar, tidak banyak gerak, atau mengajak bicara.
“Kan, Mommy yang ajarin aku kalau salat harus khusyuk. Jangan ngajak bicara," kata Elora dengan celotehan khasnya yang cerewet.
Azalea tersenyum, mengusap rambutnya perlahan.
Erza yang duduk di sebelah Enzo, masih mengenakan sarungnya yang sedikit miring. “Daddy, tadi Daddy kok sujudnya lama.”
Enzo terdiam sejenak. “Iya.”
“Ngapain?”
“Ngobrol sama Allah,” jawab Enzo pelan.
Erza mengangguk seolah mengerti. “Ngomong apa?”
Enzo menatap anaknya. Lalu pandangannya beralih sekilas ke Azalea dan Elora. Hatinya menghangat.
“Ngucap terima kasih,” jawabnya lirih. “Karena Daddy masih dikasih kesempatan.”
Azalea menunduk. Matanya berkaca-kaca.
Kesempatan bagi Enzo. Kesempatan menjadi ayah yang lebih baik. Kesempatan menjadi suami yang lebih hadir. Kesempatan memperbaiki diri tanpa harus kehilangan lagi.
“Besok kita tarawih lagi?” tanya Erza penuh harap.
“Iya,” jawab Enzo mantap. “Besok kita berangkat bareng lagi.”
Elora yang hampir terlelap bergumam pelan, “Daddy sekarang harus rajin salat, nanti biar bisa masuk surga bareng kita, ya?”
Enzo tertawa kecil, suaranya parau. “Aamiin.”
Azalea menyaksikan momen itu dengan hati penuh syukur. Ia tahu, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Tapi malam itu, ada satu langkah kecil yang begitu berarti.
Bukan hanya anak-anak yang belajar tentang Ramadan. Tapi tentang seorang ayah yang perlahan kembali. Tentang keluarga yang saling menggenggam, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menguatkan. Dan di antara doa-doa tarawih pertama itu, keharmonisan mereka tumbuh pelan, hangat, dan penuh harap.
Malam semakin larut. Satu per satu mereka bangkit dari ruang keluarga. Erza menggandeng tangan ayahnya menuju kamar. Dia minta dibacakan cerita.
Sementara Azalea menggendong Elora menuju kamarnya sendiri.
Sebelum masuk ke kamar, Enzo sempat menoleh ke arah Azalea. Tatapan mereka bertemu sebentar. Tidak ada kata-kata, tetapi ada pengertian. Ada rasa saling menjaga.
Di dalam kamar, Enzo duduk di tepi ranjang. Erza sudah lebih dulu merebahkan diri.
“Daddy,” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Aku senang Daddy ikut tarawih.”
Enzo mengusap kepala anaknya. “Daddy juga senang kamu ajak.”
Di kamar depan, Azalea menyelimuti Elora yang hendak tertidur, setelah selesai dibacakan cerita tentang Nabi Muhammad.
“Mommy,” gumamnya setengah sadar. “Jangan jauh-jauh dari aku, ya?”
Azalea tersenyum dan berbaring di sampingnya. “Mommy tidak ke mana-mana.”
***
Sambil menunggu update bab berikutnya, yuk, baca juga karya temanku ini.
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi