NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆 JUARA 2 YAAW 2026 PERIODE 1 🏆

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Aroma pelembut pakaian memenuhi kamar Azalea. Di atas ranjang terbentang dua mukena kecil berwarna putih dengan renda lembut di bagian tepi. Elora berdiri di depan cermin sambil memeluk mukenanya erat-erat.

“Mommy, ini mukena aku sudah wangi!” ucap gadis kecil itu girang, menghirup kain itu dalam-dalam.

Azalea tersenyum, melipat sajadah kecil milik putrinya. “Iya, Sayang. Mommy cuci khusus pakai pewangi yang kamu suka.”

Elora memutar tubuhnya kecil, mukena itu berkibar mengikuti geraknya. “Nanti malam kita ke masjid buat salat tarawih, ya?”

“Iya,” jawab Azalea lembut. “Ini tarawih pertama kita tahun ini. Harus semangat.”

Di ruang tengah, Erza sedang mencoba sarung barunya. Ia berdiri di depan cermin besar, menggulung dan mengikat kain itu dengan wajah serius.

“Mommy, ini sudah rapi belum?” tanya Erza sambil melangkah hati-hati agar sarungnya tidak melorot.

Azalea keluar dari kamar, membenarkan lipatan sarung itu. “Sudah. Anak Mommy sudah seperti da'i cilik.”

Erza tersenyum malu-malu. Akhirnya dia bisa memakai sarung sendiri.

Di sudut ruang keluarga, Enzo duduk di sofa panjang dengan laptop di pangkuannya. Cahaya layar menerangi wajahnya yang serius. Jemarinya bergerak cepat, membalas email dan mengecek laporan keuangan yang tak pernah benar-benar berhenti datang, bahkan di bulan Ramadan.

“Daddy ....” Elora berdiri di depan ayahnya, menghalangi pandangan layar. “Nanti ikut salat ke masjid, ya?”

Enzo terdiam. Tangannya berhenti mengetik.

Sudah lama sekali ia tidak ke masjid untuk tarawih. Bahkan untuk salat tepat waktu pun, ia sering lupa. Dunia bisnis telah menyita fokusnya, sedikit demi sedikit menjauhkan ia dari hal-hal yang dulu terasa penting.

“Daddy?” Elora memiringkan kepala.

Erza ikut menoleh. Azalea pun menghentikan kegiatannya dan memandang suaminya dengan tatapan lembut, tanpa tekanan.

Enzo mengangkat wajahnya. Ada ragu yang tak bisa ia sembunyikan.

“Daddy, kalau tidak salat dosa, loh,” lanjut Elora polos. “Nanti masuk neraka.” Wajahnya benar-benar terlihat takut dan khawatir.

Enzo tertawa kecil, tapi itu bukan tawa lega. Lebih seperti tawa canggung. “Siapa yang bilang begitu?”

“Ustaz di televisi. Terus kata Mommy juga,” jawab Elora mantap.

Azalea berjalan mendekat dan duduk di samping Enzo. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan. “Ramadan itu bulan yang baik untuk mulai lagi, Mas. Tidak ada kata terlambat untuk kembali.”

Kalimat itu tidak menghakimi. Tidak menuduh, hanya mengingatkan. Enzo menatap istrinya. Ada ketulusan di sana. Tidak ada paksaan. Ia menutup laptop perlahan.

“Iya,” jawab Enzo akhirnya pelan.

Elora langsung bersorak kecil. “Yeaaay! Daddy ikut!”

Erza tersenyum lebar. “Berarti kita satu saf, ya, Dad?”

Enzo mengusap kepala putranya. “Iya. Satu saf.”

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ruang keluarga itu terasa bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat bertumbuh.

Azan Isya berkumandang, memecah langit malam yang mulai gelap. Jalan menuju masjid itu ramai. Anak-anak kecil berlarian, para ibu mengenakan mukena warna-warni, para bapak berjalan sambil membawa sajadah.

Azalea menggenggam tangan Elora. Erza berjalan di sisi Enzo, langkahnya mantap.

Beberapa jamaah menoleh ketika melihat Enzo dan Azalea masuk bersama anak-anak. Mereka tersenyum ramah.

Enzo berdiri di saf kedua, tepat di samping Erza. Tangannya gemetar tipis ketika mengangkat takbir.

“Allahu Akbar ....” Sudah lama sekali Enzo tak mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh.

Di saf perempuan, Azalea berdiri di samping Elora. Ia melirik sekilas ke arah Enzo dari balik pembatas. Hatinya bergetar.

Rakaat demi rakaat berjalan. Bacaan imam menggema, menyentuh sudut-sudut hati yang lama kosong.

Di sujud terakhir, Enzo menahan napasnya yang terasa berat. Ada rasa sesak yang selama ini ia pendam. Rasa bersalah pada Jasmine, pada anak-anaknya, pada dirinya sendiri.

“Ya Allah,” bisiknya dalam hati. “Kalau masih ada kesempatan … bimbing aku.”

Di sampingnya, Erza menoleh sebentar, memastikan ayahnya masih berdiri di sana.

Sepulang dari masjid, mereka kembali duduk di ruang keluarga. Angin malam masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.

Elora merebahkan kepalanya di pangkuan Azalea. “Capek, tapi senang.”

“Kamu hebat, salatnya sudah bisa fokus,” puji Azalea kepada putrinya yang gerakan salatnya sudah benar, tidak banyak gerak, atau mengajak bicara.

“Kan, Mommy yang ajarin aku kalau salat harus khusyuk. Jangan ngajak bicara," kata Elora dengan celotehan khasnya yang cerewet.

Azalea tersenyum, mengusap rambutnya perlahan.

Erza yang duduk di sebelah Enzo, masih mengenakan sarungnya yang sedikit miring. “Daddy, tadi Daddy kok sujudnya lama.”

Enzo terdiam sejenak. “Iya.”

“Ngapain?”

“Ngobrol sama Allah,” jawab Enzo pelan.

Erza mengangguk seolah mengerti. “Ngomong apa?”

Enzo menatap anaknya. Lalu pandangannya beralih sekilas ke Azalea dan Elora. Hatinya menghangat.

“Ngucap terima kasih,” jawabnya lirih. “Karena Daddy masih dikasih kesempatan.”

Azalea menunduk. Matanya berkaca-kaca.

Kesempatan bagi Enzo. Kesempatan menjadi ayah yang lebih baik. Kesempatan menjadi suami yang lebih hadir. Kesempatan memperbaiki diri tanpa harus kehilangan lagi.

“Besok kita tarawih lagi?” tanya Erza penuh harap.

“Iya,” jawab Enzo mantap. “Besok kita berangkat bareng lagi.”

Elora yang hampir terlelap bergumam pelan, “Daddy sekarang harus rajin salat, nanti biar bisa masuk surga bareng kita, ya?”

Enzo tertawa kecil, suaranya parau. “Aamiin.”

Azalea menyaksikan momen itu dengan hati penuh syukur. Ia tahu, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Tapi malam itu, ada satu langkah kecil yang begitu berarti.

Bukan hanya anak-anak yang belajar tentang Ramadan. Tapi tentang seorang ayah yang perlahan kembali. Tentang keluarga yang saling menggenggam, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menguatkan. Dan di antara doa-doa tarawih pertama itu, keharmonisan mereka tumbuh pelan, hangat, dan penuh harap.

Malam semakin larut. Satu per satu mereka bangkit dari ruang keluarga. Erza menggandeng tangan ayahnya menuju kamar. Dia minta dibacakan cerita.

Sementara Azalea menggendong Elora menuju kamarnya sendiri.

Sebelum masuk ke kamar, Enzo sempat menoleh ke arah Azalea. Tatapan mereka bertemu sebentar. Tidak ada kata-kata, tetapi ada pengertian. Ada rasa saling menjaga.

Di dalam kamar, Enzo duduk di tepi ranjang. Erza sudah lebih dulu merebahkan diri.

“Daddy,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Aku senang Daddy ikut tarawih.”

Enzo mengusap kepala anaknya. “Daddy juga senang kamu ajak.”

Di kamar depan, Azalea menyelimuti Elora yang hendak tertidur, setelah selesai dibacakan cerita tentang Nabi Muhammad.

“Mommy,” gumamnya setengah sadar. “Jangan jauh-jauh dari aku, ya?”

Azalea tersenyum dan berbaring di sampingnya. “Mommy tidak ke mana-mana.”

***

Sambil menunggu update bab berikutnya, yuk, baca juga karya temanku ini.

1
Someone
👍💪
Someone
💪💪
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah inilah kenapa jangan makan uang haram, atau ngambil suami orang, jadi nggak berkah kan idup nya 🙏☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah setidaknya lea dr keluarga baik2 bukan hasil anak gundik yg ngerebut kebahagiaan keluarga orang kayak yg ngatain 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bayangin aja udah sejahat apa dia sm lea tp suami nya lea mutasi dia aja masih baik banget di boyong se-nadia & nadin nya 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
udah kalah di duit kalah juga dr dia ngetreat lea di masalalu, kok bisa semantep itu ngajak rujuknya wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kenapa ada manusia manusia modelan begini di muka bumi ini sih wkwk suka banget ngasih kesimpulan dr apa yg di liat trus di omong2in ke orang2 😩 capek2 di buat dr debu sm Tuhan masa fungsi nya cuma ghibah 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ih makasih lho mbak nad udah ngambil cowo medhit nan kikir ini wkwk kalo bisa jangan di lepas ya biar jd ladang pahala mbak nad seumur hidup biayain laki medhit ini 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
sumpah ini kalo enzo ketemu sm reza pasti otak dia bayangin sekecil apa punya reza 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
random sih tp lucu banget "berdiri mami elsa yg duduk di kursi roda" 😅 bayangin berdiri sambil duduk 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ternyata oma elsa kalo waras bijak banget, bangga deh oma 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
paham sih enzo ngalamin kayak birthday blue karena ngingetin dia sama hr kematin mendiang isteri, tapi di sisi nya si anak dia juga berhak di rayakan walapun hr lahir nya juga harus membersamai hr meninggal nya ibu nya, toh ga ada manusia di dunia ini yg pengen hr lahirnya juga jd hari kematian orang yg di sayang 🙂🙏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Aah i see, dia jd trauma sama orang2 dr kampung atau di anggap miskin karena di anggap selalu jadiin "nikah sm orang kaya" sebagai jalan pintas bahkan sampe jd simpenan. Tapi semoga di bisa liat ketulusannya lea sama keluarga dia ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
yeee bilang aja situ medhit, orang isteri sendiri masa di bilang numpang hidup 😒 lah ibu mu juga numpang idup dong dr bapak mu 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
oalah pantesan, akhirnya terjawab sudah pertanyaan ku wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah jd beneran mertua nya jasmine sm adek nya jasmine ga kenal? 😅 penasaran banget pas nikahan dulu emang si jasmine ga ngenalin keluarga nya apa gimana
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok kenalan lagi sih emang pas kakak lu dilamar sampe nikahan ni keluarga ga saling kenalan kah? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hah gimana sih bukannya ini mama mertua nya jasmine kakak nya lea kan? emang dia pas nikahan jasmine sm enzo ga ketemu sama keluarga menantu nya sampe adek dr menantu nya ga ngenalin? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo emang si reza sama nadia selingkuh ya udahlah ya tapi masalahnya ini dia pake jabatan nya dia buat bikin orang yg ga ada masalah personal sm dia jd ga bisa kerja, bener2 ya 😒
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
biarin aja bude, coba dia ganti isteri pengen tau rejeki nya masih sama apa enggak 😏 kata orang kan beda pasangan beda rejeki, nah kalo habis ini dia kere brati bener doa isteri nya yg bikin rejeki dia deres 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!