NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: TURBULENSI DI TITIK LAGRANGE

Udara di dalam mobil Bintang terasa jauh lebih sejuk daripada koridor sekolah yang baru saja menjadi medan perang, namun keringat dingin masih menempel di tengkuk Keyla. Hening menggantung di antara mereka, hanya dipecahkan oleh dengungan halus mesin mobil sport yang terparkir di sudut area parkir VIP—tempat di mana tidak ada mata siswa lain yang bisa mengintip.

Keyla menatap lututnya sendiri, di mana buku catatan fisika bersampul biru tua itu tergeletak. Benda itu adalah penyelamatnya hari ini. Bukan buku strategi basket curian yang dituduhkan Rio, melainkan kumpulan rumus Astrofisika dan kutipan Carl Sagan yang disalin Keyla dengan tulisan tangan rapinya. Sebuah umpan yang sempurna.

"Jantungku rasanya mau meledak waktu Pak Haryo membuka tas itu," bisik Keyla, memecah keheningan. Suaranya bergetar, sisa adrenalin yang perlahan surut meninggalkan rasa lemas di persendian.

Bintang menoleh, melepaskan sabuk pengamannya agar bisa menghadap Keyla sepenuhnya. Tatapannya tidak lagi tajam seperti saat ia menghardik Rio dan Vanya di kelas tadi. Kini, mata itu kembali menjadi nebula hangat yang selalu membuat Keyla merasa aman.

"Kamu hebat, Key," ujar Bintang lembut. Tangannya terulur, menangkup jemari Keyla yang masih gemetar di atas buku. "Aktingmu di depan kelas tadi... pura-pura gugup, memancing mereka untuk yakin kalau buku itu ada isinya... itu brilian."

Keyla tersenyum tipis, getir. "Aku nggak akting, Bin. Aku beneran takut. Kalau saja kita nggak menukar isinya tadi pagi..."

"Tapi kita melakukannya. Kita selangkah lebih maju," potong Bintang tegas. Ia mengeratkan genggamannya. "Rio kena skorsing karena tuduhan palsu dan membawa sampah ke sekolah. Vanya kehilangan kredibilitas di depan Pak Haryo. Ini kemenangan mutlak, La."

"Kemenangan..." Keyla mengulang kata itu, merasakannya di lidah. Rasanya tidak manis. Rasanya seperti logam. "Kenapa rasanya aku justru semakin takut? Vanya bukan tipe orang yang mundur setelah kalah. Dia seperti... entropi. Kekacauan yang akan terus meningkat."

Bintang menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke jok kulit. Ia tahu Keyla benar. Vanya Clarissa tidak mengenal kata menyerah; dia hanya mengenal jeda untuk menyusun ulang strategi. Tapi Bintang tidak ingin ketakutan itu mendominasi momen ini. Ia ingin Keyla merayakan keberaniannya, bukan tenggelam dalam paranoia.

"Dengar," Bintang mengangkat dagu Keyla pelan agar gadis itu menatap matanya. "Biarkan dia mencoba apa saja. Selama kita berada di orbit yang sama, gravitasinya nggak akan bisa menarikmu jatuh. Aku nggak akan membiarkan itu. Kau dengar aku?"

Keyla mengangguk, berusaha menyerap keyakinan yang dipancarkan Bintang. "Iya, Kapten."

Bintang terkekeh pelan, lalu mengusap puncak kepala Keyla. "Sekarang, pulanglah. Istirahat. Nanti malam aku telepon. Kita bahas soal... strategi peluncuran hubungan kita ke publik yang lebih aman. Tanpa drama buku curian."

Keyla keluar dari mobil Bintang dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada rasa hangat yang mekar di dadanya—perasaan dicintai dan dilindungi. Namun di sisi lain, firasat buruk berdenyut di belakang kepalanya seperti bintang yang hendak meledak menjadi supernova.

***

Di gerbang sekolah, Dinda sudah menunggu dengan wajah masam sambil mengunyah permen karet dengan agresif. Begitu melihat Keyla, gadis tomboi itu langsung menyambar lengan sahabatnya.

"Heh, sumpah ya! Kalau bukan karena ada guru piket, udah tak jambak rambut ekstension-nya si Vanya itu!" sembur Dinda dengan logat Surabaya yang kental. Matanya menyala-nyala. "Gendeng! Bisa-bisanya dia main fitnah kayak gitu. Untung otakmu encer, La. Kalau nggak, wes wassalam beasiswamu."

Keyla tersenyum lemah. "Udah, Din. Yang penting kan nggak kejadian."

"Bukan soal nggak kejadian, La!" Dinda mendengus kasar, lalu merendahkan suaranya saat mereka berjalan menuju halte angkot. "Ular kayak Vanya itu bisanya nggak cuma satu jenis. Kalau dia gagal nyerang lewat depan, dia bakal nyari jalan tikus. Hati-hati, La. Firasatku nggak enak."

Kata-kata Dinda terus terngiang di telinga Keyla sepanjang perjalanan pulang di dalam angkot yang panas dan sesak. Jalanan Surabaya yang macet seolah memperlambat waktu, membuat kecemasannya semakin menumpuk.

Keyla turun di ujung gang perumahan padat penduduk tempat ia tinggal. Kontras yang tajam antara dunia Bintang yang gemerlap dengan realitas Keyla yang sederhana selalu terasa menohok setiap kali ia pulang sekolah. Di sini, tidak ada mobil sport atau AC dingin. Hanya ada aroma got yang samar, suara dangdut dari radio tetangga, dan perjuangan untuk bertahan hidup.

Biasanya, saat jam segini, aroma masakan Ibu sudah tercium sampai ke teras. Ibu Keyla menerima pesanan katering rantangan untuk karyawan pabrik di sekitar rungkut, dan sore hari adalah waktu tersibuknya menyiapkan menu makan malam.

Namun hari ini, rumah itu sunyi.

"Assalamualaikum, Bu?" Keyla membuka pintu yang tidak terkunci. Sepi. Tidak ada suara oseng-oseng wajan atau denting spatula.

Keyla melangkah masuk, meletakkan tasnya di kursi tamu yang busanya sudah mulai kempes. "Bu? Keyla pulang..."

Langkahnya terhenti di ambang pintu dapur. Ibunya, Bu Sarah, duduk di kursi kayu kecil di dekat meja makan. Di hadapannya bukan bahan makanan yang harus diolah, melainkan sebuah ponsel tua dan selembar kertas—surat perjanjian beasiswa Keyla yang biasanya disimpan rapi di dalam lemari plastik.

Bu Sarah tidak menoleh. Bahunya yang ringkih terguncang pelan. Isak tangis tertahan terdengar menyayat hati di ruangan yang sempit itu.

"Ibu?" Keyla mematung. Darahnya seolah berhenti mengalir. "Ibu kenapa? Ada apa?"

Bu Sarah mengangkat wajahnya. Matanya merah dan bengkak. Wajah yang biasanya tegar dan penuh senyum lelah itu kini tampak hancur. Ia menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara ketakutan, kebingungan, dan kekecewaan.

"Keyla..." suara ibunya parau. "Barusan... ada telepon."

Jantung Keyla mencelos. "Telepon dari siapa, Bu?"

"Dari pihak yayasan sekolah... atau perwakilan OSIS, Ibu kurang jelas karena panik," Bu Sarah menelan ludah susah payah, tangannya gemetar memegang kertas perjanjian beasiswa. "Mereka bilang... mereka bilang posisi beasiswamu sedang ditinjau ulang. Katanya ada laporan masuk soal perilaku buruk. Soal... pergaulan bebas. Katanya kamu pacaran sama anak orang kaya sampai lupa diri, nilai turun, dan bikin onar di sekolah."

Dunia Keyla runtuh. Lantai tempatnya berpijak rasanya lenyap. Vanya.

"Bu, itu nggak bener!" Keyla langsung berlutut di kaki ibunya, menggenggam tangan wanita paruh baya yang kasar karena kerja keras itu. "Itu fitnah, Bu! Keyla nggak pernah bikin onar. Nilai Keyla masih bagus. Ibu tahu kan Keyla selalu belajar?"

"Ibu tahu kamu anak baik, Nduk," air mata Bu Sarah menetes jatuh ke tangan Keyla. "Tapi orang di telepon itu suaranya tegas sekali. Dia bilang... 'Kami tidak membiayai siswa untuk hura-hura dan pacaran, Bu. Kalau benar putri Ibu melanggar klausul moralitas, kami terpaksa mencabut bantuan dana mulai bulan depan.'"

Bu Sarah mencengkeram bahu Keyla, matanya penuh keputusasaan. "Kalau beasiswa dicabut, kita bayar pakai apa, Key? Katering Ibu lagi sepi. Bapakmu... kamu tahu sendiri Bapakmu nggak bisa diandalkan kirim uang. Kalau kamu dikeluarkan, masa depanmu gimana?"

Keyla tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat oleh gumpalan rasa bersalah dan amarah yang meledak bersamaan. Ia melihat ketakutan murni di mata ibunya—ketakutan akan kemiskinan, ketakutan akan kegagalan. Dan semua ini karena Keyla berani jatuh cinta. Karena Keyla berani mendongak menatap Bintang.

Serangan Vanya kali ini tidak main-main. Dia tidak menyerang Keyla di sekolah di mana Bintang bisa melindunginya. Dia menyerang dapur rumahnya. Dia menyerang ketenangan ibunya. Dia menyerang satu-satunya hal yang membuat Keyla bisa bersekolah di tempat elit itu: uang.

"Siapa yang tega ngelakuin ini, Key? Apa kamu punya musuh?" tanya Bu Sarah lirih.

Keyla ingin berteriak menyebut nama Vanya. Tapi melihat kondisi ibunya yang rapuh, Keyla tahu ia tidak bisa menambah beban pikiran beliau dengan drama persaingan cinta remaja. Ibunya tidak akan mengerti. Ibunya hanya akan menyuruhnya menjauhi Bintang demi keamanan.

"Nggak ada, Bu... mungkin... mungkin salah paham administrasi," Keyla berbohong, meski hatinya perih. "Besok Keyla urus. Keyla janji, beasiswa itu nggak akan dicabut. Ibu tenang ya?"

Setelah berhasil menenangkan ibunya dan membawanya ke kamar untuk istirahat, Keyla masuk ke kamarnya sendiri yang sempit. Ia duduk di tepi kasur, menatap langit-langit yang ditempeli stiker bintang glow-in-the-dark yang mulai redup.

Ponselnya bergetar di saku seragam. Sebuah pesan masuk.

Keyla membukanya dengan tangan gemetar. Nomor tidak dikenal. Tapi ia tidak butuh nama kontak untuk tahu siapa pengirimnya.

**+62812xxxx:**

*"Gimana kabar Ibu? Semoga jantung beliau kuat ya. Oiya, itu baru peringatan lho, Cassiopeia. Gue belum kirim foto-foto atau bukti 'kenakalan' lo yang lain ke Yayasan. Jauhi Bintang, atau lo yang gue paksa menjauh dari sekolah ini. Selamanya. Your choice."*

Keyla membanting ponselnya ke kasur. Napasnya memburu. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Bukan air mata sedih, tapi air mata kemarahan yang mendidih.

Di sekolah, Keyla mungkin bisa bersembunyi di balik punggung Bintang atau strategi cerdas Dinda. Tapi di sini, di rumahnya yang rapuh ini, Keyla sendirian. Gravitasi kenyataan menariknya paksa kembali ke tanah, mengingatkannya bahwa Cinderella pun punya batas waktu sebelum keretanya kembali menjadi labu.

Keyla menatap cermin di lemari plastiknya. Gadis di pantulan itu terlihat lemah, matanya bengkak. Tapi di balik tatapan basah itu, ada sesuatu yang berubah. Rasa takut itu masih ada, ya. Tapi kini bercampur dengan insting bertahan hidup.

Vanya sudah melewati batas. Dia menyentuh Ibu.

Keyla mengambil kembali ponselnya. Ia tidak membalas pesan Vanya. Ia justru membuka kontaknya, mencari nama 'Bintang Rigel'. Jarinya melayang di atas tombol panggil. Ia butuh Bintang, tapi menceritakan ini berarti menyeret Bintang ke dalam lumpur kemiskinannya—sesuatu yang selama ini mati-matian ia tutupi.

Keyla membatalkan panggilan itu. Ia menghapus air matanya kasar.

"Lo mau main kotor, Vanya?" desis Keyla pada kegelapan kamarnya. "Oke. Gue juga bisa main di lumpur."

Untuk pertama kalinya, Keyla Aluna tidak memikirkan puisi atau rasi bintang. Malam ini, ia hanya memikirkan perang.

1
Mariana Silfia
😍😍😍
Mariana Silfia
eh ya ampun si othor iki sllu bisa bikin dag dig dug kok w🤣🤣 ok ok lanjut kak q setia menunggu bab selanjutnya
Mariana Silfia
kak q nunggu'n bab lanjut nya yak tolong jangan di gantung🤭q gak bisa tdr ini klo blm tau ending nya
Mymy Zizan
bagussssssssss
S. Sage: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!