Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thames River
##SELAMAT MEMBACA##
London menyambut mereka dengan hujan rintik-rintik dan kabut tebal yang menyelimuti Sungai Thames. Tim mendarat di bandara kecil pinggiran kota untuk menghindari pantauan otoritas.
Suasana masih canggung, terutama antara Arsen Satya Madya dan Aira Narumi Sagara. Arsen secara teknis adalah "bawahan" Aira dalam misi ini, dan ia berusaha keras menahan lidahnya setiap kali melihat celah dalam rencana.
"Kita tidak bisa ke kedutaan atau hotel besar," tegas Aira sambil menyesuaikan jaket paritnya. "Oliver punya apartemen aman di daerah Greenwich. Kita akan tinggal di sana sampai Wira bisa melacak sinyal terakhirnya."
---
Masalah pertama muncul: Apartemen Oliver terletak di kawasan yang sangat padat dan diawasi CCTV lingkungan. Agar tidak mencurigakan, mereka harus menyamar. Arkan dan Aurora bertugas mengambil kunci cadangan di sebuah kotak pos rahasia.
Arkan memutuskan bahwa penyamaran terbaik di London adalah menjadi Punk Rocker jalanan agar orang tidak berani menatap mereka terlalu lama.
Arkan memamerkan style-nya kepada Aurora dengan gaya sedikit arogan dan kepercayaan diri tingkat dewa, "Rora, lihat! Jaket kulit berduri ini sangat keren. Dan aku sudah mewarnai rambutku pakai semprotan sementara warna hijau neon."
Sedangkan Aurora memakai wig warna ungu elektrik dengan muka sangat masam, "Arkan, kita seharusnya menyatu dengan lingkungan, bukan menjadi atraksi sirkus. Kenapa aku harus memakai rok mini kotak-kotak dan sepatu bot setinggi lutut ini?!"
Arkan berdecak mendengar kekesalan Aurora,"Ck...Ini estetika London, Rora! Kalau kita pakai baju taktis hitam-hitam di Greenwich, polisi akan menangkap kita sebelum kita bilang 'Fish and Chips'!"
Saat mereka berjalan menuju kotak pos, Arkan mencoba berakting dengan berjalan sedikit sempoyongan. Tiba-tiba, seorang turis sungguhan mendekati mereka dan meminta foto bareng karena mengira mereka adalah performer jalanan.
**Turis:** "Oh, *Look at you guys!* Sangat autentik! Boleh foto bersama?"
**Aurora:** (Sambil meremas gagang payung yang sebenarnya berisi belati) "Satu foto... lima poundsterling."
**Arkan:** "Hey! Jangan dipajak juga! Tapi oke, Monsieur, silakan foto!"
Ada saja tingkah laku dari keturunan Ankara dan Alan. Tidak tahu saja dulu ayah mereka pernah berada di titik yang tak pantas dikatakan sebagai sahabat atau pasangan normal.
Jika jiwa Arimbi tidak berpindah ke tubuh Arindi, mungkin tidak ada yang namanya Arsen, Aira, Aurora bahkan Arkan dalam garis keturunan keluarga Satya, Madya ataupun Rumi dan Sagara.
*
*
*
Beralih ke apartemen aman Oliver. Ternyata jauh lebih kecil dari yang mereka bayangkan. Hanya ada satu ruang tengah dan satu kamar tidur kecil dengan satu tempat tidur berukuran queen.
"Arkan dan Aurora tidur di ruang tengah dengan kantong tidur. Wira memantau dari van di parkiran bawah. Itu artinya..." Ucap Aira yang belum selesai, namun sudah dipotong oleh Arsen.
"Itu artinya aku dan kau di kamar ini. Jangan menatapku begitu, Aira. Aku akan tidur di lantai." Seru Arsen.
"Lantai di London itu dingin, Arsen. Dan kakimu masih masa pemulihan. Tidurlah di kasur, tapi jangan melewati batas tengah yang kubuat dari bantal guling ini." Meskipun sempat kecewa dengan Arsen, dia tidak tega melihat Arsen tidur dilantai sementara dirinya menikmati hangatnya kasur nan empuk.
Malam itu, suasana di kamar sangat sunyi. Hanya suara detak jam dinding dan deru angin di luar. Mereka berbaring membelakangi satu sama lain, namun keduanya sama-sama terjaga.
"Aira? Kau tidur?" Arsen mencoba memecah keheningan dalam kamar.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau aku bisa mendengar napasmu yang berisik karena rasa bersalah itu?" Aira berusaha menekan kegugupannya saat ini dengan pura-pura mencibir Arsen.
Arsen mendengus saja, sudah lelah jika harus berdebat dengan masalah sepele karena hembusan napasnya yang dianggap berisik oleh Aira. Kemudian dia menanyakan tentang serum merah milik Julian.
"Aku hanya ingin bilang... serum merah yang kau ambil dari Julian. Wira sudah menganalisisnya lewat data jarak jauh. Itu benar-benar alat pelacak biologis. Jika Julian menyuntikkannya pada Oliver, dia tidak hanya tahu di mana Oliver berada, tapi dia bisa menghentikan jantung Oliver lewat transmisi satelit."
Aira berbalik pelan, menatap punggung Arsen, "Jadi Julian tidak berbohong soal itu? Dia benar-benar memegang nyawa Oliver di ujung jarinya?"
Arsen berbalik menghadap Aira, "Ya. Tapi ada satu hal lagi. Wira menemukan bahwa kode aktivasi satelit itu terhubung dengan frekuensi yang hanya ada di satu tempat di London: Galeri Seni bawah tanah milik keluarga Thorne yang sudah lama ditutup. Kita harus ke sana besok."
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" Aira bertanya tentang alasan Arsen melakukan hal itu.
"Karena aku takut kau akan langsung lari ke sana tanpa persiapan. Dan... aku takut kau akan menyalahkanku lagi karena menyimpan informasi." Terang Arsen pada Aira.
Hening sejenak, lalu suara Aira melunak, "Aku marah bukan karena kau ingin melindungiku, Arsen. Aku marah karena kau menganggapku tidak mampu berdiri di sampingmu. Kau selalu ingin berada di depanku sebagai perisai, padahal aku ingin kita saling menutupi punggung."
Arsen meraih tangan Aira di atas kasur, namun Aira menariknya pelan sebelum kontak itu menjadi terlalu lama. "Belum, Arsen. Selesaikan misi ini dulu. Selamatkan Oliver, baru kita bicara tentang kita."
"Baiklah, aku akan menunggu", Jawab Arsen dengan nada sedikit kecewa (kalimat ini seperti Dejavu — percakapan Ankara ke Arindi)
---
Pagi harinya, Arsen dan Aira keluar dari kamar hanya untuk menemukan ruang tengah berantakan. Arkan sedang mencoba membuat English Breakfast menggunakan kompor listrik kecil yang hampir meledak.
"Selamat pagi! Aku mencoba membuat kacang merah kalengan, tapi sepertinya aku salah buka kaleng. Ini ternyata makanan kucing milik Oliver."
Aurora duduk di lantai sambil mengasah pisaunya dengan wajah datar, jengah melihat makhluk ciptaan Tuhan satu itu. "Dia sudah memakannya tiga suap sebelum sadar baunya amis. Jangan tanya bagaimana rasanya."
Disisi Arsen, dia sampai mengusap wajahnya kasar, "Arkan, kita punya misi penting hari ini. Tolong jangan meracuni dirimu sendiri dengan makanan kucing."
"Tapi Kak, di kalengnya tulisannya 'Premium Tuna'! Aku pikir ini tuna mewah untuk sarapan kaum bangsawan London!"
Semua orang tergelak mendengar penuturan dari Arkan. Terserah dirinya saja, yang penting tidak makan ternak warga London sekitar!
A few moment later.....
Sambil menahan tawa melihat Arkan yang sibuk berkumur-kumur dengan kopi pahit, mereka mulai membedah peta galeri seni bawah tanah.
"Wira, berikan visualnya." Aira mencoba fokus untuk mengalihkan perhatiannya terhadap tingkah laku Arkan.
Wajah Wira nampak di layar tablet, "Galeri ini dijaga oleh sensor tekanan lantai. Jika berat badan yang lewat tidak sesuai dengan profil staf, alarm akan bunyi. Arkan dan Aurora akan masuk lewat saluran ventilasi untuk mematikan sensor tekanan. Kak Arsen dan Aira masuk lewat pintu utama dengan menyamar sebagai kolektor seni."
Arsen mendengar dengan seksama penjelasan itu, lalu mencoba bertanya pada Wira. "Kolektor seni? Kita butuh identitas palsu yang kuat."
Wira menggangguk, "Sudah kusiapkan. Arsen, kau adalah 'Lord Sebastian', bangsawan muda dari Asia yang ingin membeli lukisan gelap. Aira adalah tunanganmu yang sangat pemilih."
Aira memutar bola matanya jengah, "Tunangan lagi? Wira, apakah tidak ada status lain? Sepupu? Adik-kakak?"
Wira meringis sambil mengusap belakang kepala saat mendengar protes dari Aira, "Maaf, Kak. Profil 'Lord' biasanya membawa tunangan glamor, bukan sepupu yang memakai jaket parit."
*
*
*
Sore harinya, Arsen dan Aira tiba di galeri seni tua di kawasan East London. Arsen tampil sangat gagah dengan setelan jas bespoke abu-abu, sementara Aira tampak luar biasa dengan gaun koktail hitam dan topi berjaring kecil yang misterius.
Saat mereka melangkah masuk, seorang pria dengan aksen Inggris yang sangat halus menyambut mereka. Namun, Arsen menyadari sesuatu yang salah. Pria itu memakai pin kecil di kerahnya: *Simbol Koin Hitam*.
**Penjaga Galeri:** "Selamat datang, Lord Sebastian. Tuan Julian sudah menunggu Anda di ruang bawah tanah. Beliau bilang... 'Mawar London' akhirnya pulang ke rumah."
Aira menggenggam lengan Arsen dengan erat. Di telinga mereka, suara Arkan terdengar panik.
**Arkan:** "Kak! Jangan masuk! Ventilasi ini bukan saluran udara! Ini adalah jebakan gas saraf! Aurora pingsan! Kak, aku juga..."
*Bzzzzt—hening.*
Arsen dan Aira terjebak. Pintu besi di belakang mereka tertutup rapat dengan dentuman keras.
"Aira, tetap di belakangku!" Arsen berusaha melindungi Aira.
"Sudah kubilang, Arsen! Samping ke samping!" Protes Aira.
Aira menarik pistol dari balik gaunnya, sementara Arsen bersiap dengan tongkat lipat taktisnya. Di ujung lorong galeri yang gelap, lampu perlahan menyala satu per satu, memperlihatkan Julian Thorne yang sedang berdiri di samping Oliver yang terikat, dengan sebuah tombol pemicu di tangannya.
"Selamat datang di pesta kepulangan kalian. Mari kita lihat, apakah cinta bisa mengalahkan kecepatan satelitku?" Ucap Julian dengan seringai tipis.
----
Bersambung....