NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Ketenangan yang Terusik

Tiga bulan telah berlalu sejak gema pertempuran di Galuh Pakuan mereda menjadi sekadar dongeng pengantar tidur di kedai-kedai teh. Bagi dunia, Ranu Wara mungkin telah menjadi legenda yang samar, namun bagi Desa Durja, ia hanyalah seorang pemuda yang sedikit lebih rajin dari biasanya.

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti hamparan sawah di kaki bukit, memberikan nuansa perak pada setiap pucuk daun jati. Ranu berdiri di tengah pematang, menghirup aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi bunga kopi dari kejauhan.

Tidak ada lagi jubah cahaya, tidak ada lagi pedang bintang, hanya ada sebuah cangkul tua yang kayunya sudah halus karena sering digenggam.

Ia menjalani hari-hari dengan ritme yang sangat manusiawi. Mencangkul, mengairi sawah, dan sesekali membetulkan saluran irigasi yang tersumbat batu kali.

Kulitnya yang dulu seputih pualam kini mulai kecokelatan, terbakar oleh matahari Benua Tengah yang terik, dan telapak tangannya mulai kapalan, sebuah tanda kehormatan bagi seorang petani yang mengandalkan otot daripada sihir.

Bagi Ranu, setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah terasa lebih nyata daripada ribuan tahun ia duduk di singgasana langit yang dingin.

Namun, kedamaian itu mulai menunjukkan tanda-tanda retakan yang halus tepat saat musim panen tiba.

Pagi itu, Ki Garna berjalan ke sawah dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Ia berhenti di tepi petak sawah paling luas, lalu terdiam membeku. Ranu, yang sedang membersihkan rumput liar, segera menghampiri ayahnya.

"Ada apa, Pak? Kenapa wajah Bapak seperti melihat hantu?" tanya Ranu sambil menyeka keringat di dahinya.

Ki Garna tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah hamparan padi yang seharusnya sudah menguning dan merunduk berat karena bulirnya.

Ranu mengikuti arah telunjuk ayahnya dan seketika jantungnya berdegup kencang. Bulir-bulir padi itu tidak berwarna kuning emas, melainkan berubah menjadi kristal bening yang transparan dan sangat keras.

Saat sinar matahari menyentuhnya, hamparan sawah itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun bukan cahaya kehidupan.

"Ini bukan padi biasa, Ranu," ucap Ki Garna dengan suara bergetar. Ia memetik satu tangkai, yang terdengar seperti bunyi dentingan kaca pecah.

"Ini adalah Padi Sukma. Legenda kuno di desa ini mengatakan, padi ini hanya akan tumbuh jika tanah tempatnya berpijak sedang dihisap energi kehidupannya oleh sesuatu yang terkubur sangat dalam di perut bumi. Tanah ini sedang memberi makan sesuatu yang lapar, Nak."

Ranu berjongkok, menyentuh salah satu bulir padi kristal tersebut. Begitu ujung jarinya bersentuhan dengan permukaan kristal, sebuah sensasi dingin yang sangat akrab merambat masuk ke dalam sumsum tulangnya.

Sensasi itu bukan berasal dari energi kehampaan Nadir yang telah ia jinakkan, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba, lebih liar, dan lebih mendasar. Itu adalah Hukum Rimba Langit, sebuah tatanan energi yang eksis bahkan sebelum Sembilan Langit diciptakan.

"Sesuatu sedang mencoba bangkit kembali, Pak," gumam Ranu dengan nada yang sangat serius. "Dan kali ini, ia tidak datang dari langit yang tinggi atau dimensi yang jauh. Ia datang dari akar bumi yang paling dalam, dari tempat di mana segala sesuatu yang dianggap mati sebenarnya hanya tertidur."

Ranu menyadari bahwa pengorbanan Prabu Siliwastu di Galuh Pakuan kemarin mungkin telah mengubah struktur energi bumi secara permanen. Pilar Jagat yang diperkuat oleh nyawa seorang raja telah memicu reaksi berantai yang kini menyentuh sudut-sudut terpencil seperti Desa Durja. Ketenangan yang ia puja-puji ternyata hanyalah masa tenang sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.

Sepanjang hari itu, suasana desa menjadi mencekam. Para petani lain mulai menemukan hal yang sama di sawah mereka. Ternak-ternak mulai menolak untuk makan, dan burung-burung yang biasanya berkicau riuh di dahan jati kini menghilang entah ke mana. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti Desa Durja.

Malam harinya, di bawah cahaya bulan sabit yang tampak kemerahan, Ranu duduk di serambi gubuknya.

Ia menatap telapak tangannya, mencoba memanggil setitik saja cahaya Bintang Kedelapan, namun hasilnya nihil. Ia benar-benar hanya manusia biasa sekarang. Tanpa kekuatan dewa, tanpa otoritas langit, ia merasa seperti seorang jenderal yang dipaksa berperang tanpa pedang.

Tiba-tiba, Nara muncul dari kegelapan paviliun samping. Langkahnya tidak bersuara, namun busur barunya sudah berada di genggaman. "Ranu, kau merasakannya? Udara di sini mulai terasa seperti... mati."

"Ya, Nara. Oksigen ini tidak lagi mengandung nutrisi roh. Semuanya tersedot ke arah timur," jawab Ranu tanpa menoleh.

Tak lama kemudian, seorang tamu muncul di ambang gerbang bambu mereka. Sosok itu tidak datang dengan suara gaduh, melainkan seperti bayangan yang terlepas dari pohon.

Ia mengenakan jubah hijau lumut yang sudah compang-camping, namun cara ia berdiri menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang memiliki martabat tinggi. Wajahnya tertutup cadar sutra tipis, dan di punggungnya tergantung sebuah kecapi kuno yang senarnya terbuat dari akar pohon dewa.

Nara segera mengangkat busurnya, membidik tepat ke arah jantung tamu asing itu. "Siapa kau? Berhenti di sana atau panah ini akan membawamu ke alam baka."

Sosok itu tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan, lalu memetik satu senar kecapinya.

Suara yang dihasilkan begitu rendah namun meresonansi ke dalam jiwa siapapun yang mendengarnya. Seketika, busur di tangan Nara melunak, berubah menjadi cabang pohon yang mendadak berbunga melati, menghapus segala niat membunuh di tempat itu.

Ranu berdiri dari duduknya, matanya menyipit menatap tamu tersebut.

"Teknik Getaran Hijau... Aku hanya tahu satu tempat yang masih menyimpan rahasia itu. Kau adalah Utusan dari Lembah Keabadian Hijau di Benua Timur, bukan? Aku pikir ras kalian sudah punah atau setidaknya sudah mengasingkan diri sejak zaman penciptaan bintang pertama."

Tamu itu perlahan membuka cadarnya. Ia adalah seorang wanita dengan kecantikan yang terasa "liar". Telinganya sedikit meruncing dan matanya berwarna zamrud cerah yang seolah-olah menyimpan hutan belantara di dalamnya.

"Wira Candra, atau haruskah aku memanggilmu Ranu sang petani?" suara wanita itu terdengar seperti gesekan daun.

"Kami tidak pernah punah. Kami dipaksa bersembunyi di dalam celah-celah dunia karena ribuan tahun lalu, kau menyegel sumber energi kami dengan alasan 'keteraturan'. Dan sekarang, setelah kau membuang semua kekuatanmu untuk menyelamatkan manusia-manusia fana ini, segel itu terbuka secara paksa karena tidak ada lagi otoritas yang menahannya."

Ranu menghela napas panjang, ia merasa secangkir teh hangat di tangannya mendadak terasa pahit.

"Begitu rupanya. Setiap tindakan heroikku sebagai dewa di masa lalu ternyata adalah penjara bagi pihak lain. Keseimbangan yang kuperjuangkan di langit ternyata adalah ketidakadilan di bumi."

"Tepat sekali," sahut utusan itu. "Dan sekarang, ketidakadilan itu menuntut bayarannya. Namaku adalah Elara, dan aku datang bukan untuk membalas dendam. Aku datang karena sebuah bencana yang lebih besar sedang merayap. Padi kristal di sawahmu itu hanyalah gejala awal. Tanah di Benua Timur mulai berubah menjadi kristal kehidupan yang beku. Jika ini terus berlanjut, seluruh dunia ini akan menjadi taman patung kristal yang indah namun mati."

Ranu menatap ke dalam gubuk, di mana Ki Garna dan Nyai Sumi sedang tidur dengan tenang.

Ia tahu, jika ia membiarkan hal ini terjadi, suatu hari nanti ia akan bangun dan menemukan orang tuanya telah berubah menjadi kristal abadi yang tidak bisa lagi memeluknya.

"Lalu, apa yang kau inginkan dariku? Aku sudah bukan lagi Penguasa Sembilan Langit. Aku hanyalah pemuda yang bahkan sulit membelah kayu bakar tanpa kapak," ucap Ranu dengan nada pahit.

Elara melangkah mendekat, auranya yang sejuk membuat udara yang tadinya mati terasa sedikit lebih segar.

"Ada sebuah Prasasti Tanpa Nama di dalam jantung Benua Timur yang Hilang. Prasasti itu diciptakan oleh entitas yang lebih tua dari para dewa. Ia hanya bisa dibaca dan diaktifkan kembali oleh seseorang yang pernah merasakan kematian, menyentuh ketiadaan, dan kembali lagi dengan sukma yang utuh. Kau adalah satu-satunya di seluruh jagat raya yang memenuhi syarat itu."

"Benua Timur yang Hilang..." bisik Nara dari samping. "Itu adalah tempat yang dihuni oleh monster laut raksasa dan dikelilingi oleh Samudra Kabut yang bisa menghapus ingatan siapa pun yang melintasinya."

"Itu sebabnya aku membutuhkan kalian," lanjut Elara. "Bulan darah akan muncul dalam waktu seratus hari. Jika prasasti itu tidak diaktifkan sebelum itu, maka proses pengkristalan ini tidak akan bisa dihentikan."

Ranu menoleh ke arah kegelapan desa, lalu ke arah kamar di mana Pangeran Lingga dan Ki Sastro sedang mendengkur pelan. Ia menyadari bahwa takdirnya memang tidak pernah diizinkan untuk berhenti di satu tempat. Menjadi manusia bukan berarti ia bisa melarikan diri dari tanggung jawab terhadap dunia yang telah ia bentuk selama eon.

"Sastro! Lingga! Bangun!" teriak Ranu, suaranya memecah keheningan malam Desa Durja.

Dalam hitungan detik, Lingga melompat keluar jendela dengan pedang terhunus, sementara Sastro berlari keluar sambil membawa panci penggorengan, matanya masih setengah tertutup. "Ada apa?! Iblisnya datang lagi?! Apa mereka mau mencuri kerupuk udangku?!"

"Siapkan sepatu bot kalian dan kumpulkan perbekalan paling awet," perintah Ranu sambil mulai melilitkan syal birunya kembali ke leher. "Masa pensiun kita hanya bertahan tiga bulan. Kita akan melakukan perjalanan ke tempat yang tidak ada di dalam peta."

Lingga menatap Elara dengan pandangan menyelidik, lalu menatap padi kristal di kejauhan yang memantulkan cahaya bulan. "Benua Timur? Ranu, kau sadar kan kalau itu berarti kita harus melewati wilayah para bajak laut roh dan Kraken purba?"

"Aku tahu, Lingga. Tapi aku lebih suka bertarung dengan Kraken daripada melihat ibuku berubah menjadi patung kaca," jawab Ranu tegas.

Sastro menghela napas panjang, ia menurunkan pancinya dengan lesu. "Hamba baru saja belajar cara menanam kangkung yang benar, Den. Tapi baiklah, demi nasi jagung yang tidak berubah jadi batu, hamba akan ikut sampai ke ujung dunia."

Ranu menatap kedua orang tuanya sekali lagi dari ambang pintu. Ia meninggalkan sebuah catatan kecil di atas meja makan, berjanji bahwa ia akan kembali sebelum jagung di ladang mereka siap dipanen—walaupun ia sendiri tidak yakin apakah ia bisa menepati janji itu.

Dengan Elara sebagai pemandu, rombongan kecil itu meninggalkan Desa Durja saat fajar belum lagi menyingsing. Mereka berjalan menuju arah matahari terbit, menuju wilayah yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos oleh para pendekar paling hebat sekalipun.

Di kejauhan, Samudra Kabut sudah menunggu, dan di baliknya, rahasia tentang penciptaan dunia yang selama ini disembunyikan oleh Sembilan Langit akan segera terungkap.

Ranu merasakan jantungnya berdegup kencang. Kali ini, ia tidak berangkat dengan kekuatan bintang, tapi dengan kekuatan harapan seorang manusia. Dan di matanya, itu jauh lebih berbahaya bagi musuh-musuhnya daripada petir manapun yang pernah ia ciptakan di langit.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!