Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Menyesakkan
Matahari baru saja merayap naik, menyentuh pucuk-pucuk gedung pencakar langit di Aeryon City dengan warna keemasan yang pucat. Bagi Seraphina Aeru, udara di ibu kota negara Aeruland ini terasa mencekik. Setelah drama meja makan yang menguras emosi, dia kini terduduk kaku di kursi belakang sedan mewah yang meluncur membelah distrik Upper-East Skytown. Di depan sana, hanya ada tengkuk kaku Dareen Christ yang fokus pada kemudi.
"Aku lapar," cetus Seraphina tiba-tiba, memecah kesunyian yang tegang. "Dan jangan harap aku mau menyentuh sisa roti panggang dingin dari rumah itu."
Dareen melirik melalui spion tengah. Matanya yang tajam tetap tenang. "Tuan Seldin menginstruksikan saya untuk mengantar Anda langsung ke Aeryon International Academy, Nona. Jadwal kuliah pertama Anda dimulai tiga puluh menit lagi."
"Persetan dengan instruksi Seldin! Aku tidak bisa berpikir dengan perut kosong," Seraphina mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga Dareen. "Cari tempat sarapan yang layak di wilayah Elysium. Bukan drive-thru, tapi tempat yang nyaman. Itu perintah, bukan permintaan."
Dareen terdiam sejenak, menimbang risiko kemarahan Seldin dibandingkan dengan ledakan emosi Seraphina yang bisa lebih merepotkan. Akhirnya, dia memutar kemudi ke arah jalanan berbatu di distrik tua yang elegan, menuju sebuah bistro kecil tersembunyi yang tampak privat.
Bistro itu beraroma kopi segar dan kayu manis. Seraphina duduk di sudut paling privat, sementara Dareen berdiri tegak dua meter di belakangnya, seperti patung penjaga yang salah tempat di antara dekorasi bunga tulip segar.
"Duduk," perintah Seraphina sambil menunjuk kursi di depannya.
"Saya bertugas untuk berjaga, Nona. Bukan untuk makan," jawab Dareen datar.
Seraphina membanting menu ke atas meja. Suaranya yang melengking membuat pelayan di kejauhan tersentak. "Aku benci makan sendirian sementara kau berdiri di sana seperti algojo yang menunggu giliranku dieksekusi! Duduk dan makan bersamaku, atau aku akan menelepon Seldin sekarang juga dan mengatakan kau telah melakukan tindakan asusila padaku. Aku akan memastikan kau dipecat dari seluruh wilayah Aeruland pagi ini juga."
Ancaman itu kotor, rendah, dan sangat khas Seraphina Aeru. Dareen menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit kilatan kekecewaan yang sangat tipis sebelum wajahnya kembali menjadi topeng porselen.
Tanpa suara, Dareen menarik kursi. Dia duduk dengan punggung tegak, tidak menyandar, tangannya yang terluka akibat injakan sepatu tadi diletakkan dengan sopan di atas meja, memperlihatkan memar keunguan yang mulai membiru di bawah cahaya lampu gantung.
"Pesan apa saja yang kau mau. Aku yang bayar," ujar Seraphina, nadanya melunak karena merasa menang.
Saat makanan datang—sepiring pancake lembut dengan sirup maple untuk Seraphina dan kopi hitam pahit untuk Dareen—gadis itu tiba-tiba merasakan tangannya lemas. Efek alkohol semalam yang bercampur dengan kelelahan mental membuat tangannya gemetar. Pisau peraknya berdenting berulang kali melawan piring, membuat wajahnya memerah karena malu di depan pengawalnya.
Tanpa diminta, Dareen mengulurkan tangan. Dia mengambil pisau dan garpu dari tangan Seraphina dengan gerakan yang sangat halus. Dengan ketelitian seorang ahli bedah, dia memotong pancake itu menjadi bagian-bagian kecil yang sempurna.
Lalu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Dareen menusuk satu potongan kecil, memastikannya berlumur sirup secukupnya, lalu mengarahkannya ke depan bibir Seraphina.
"Makanlah, Nona. Anda butuh tenaga untuk menghadapi hari ini," ucapnya lirih.
Seraphina terpaku. Ini bukan protokol. Ini bukan cara seorang pengawal melayani majikannya. Tatapan mata Dareen saat itu tidak lagi kosong; ada sedikit kehangatan yang asing, sebuah bentuk perhatian tulus yang tidak pernah Seraphina dapatkan dari Seldin yang selalu sibuk dengan urusan negara dan korporasi.
Seraphina membuka mulutnya, menerima suapan itu. Jantungnya berkhianat, berdetak dua kali lebih cepat. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa lebih hangat. Namun, begitu melihat Seraphina menelan makanannya, Dareen segera meletakkan alat makan itu kembali ke atas meja. Dia menarik diri, wajahnya kembali mengeras seolah-olah dia menyesal telah bersikap terlalu akrab.
"Saya hanya melakukan apa yang perlu agar kita bisa segera pergi," ucapnya cepat.
Seraphina mendengus, mencoba menyembunyikan getaran di hatinya. "Terserah. Aku tidak jadi ke kampus. Bawa aku ke butik pusat di Diamond Plaza. Teman-temanku menungguku di sana."
Sesampainya di pusat perbelanjaan termewah di Aeryon City itu, Seraphina melangkah keluar mobil dengan gaya angkuh, berharap Dareen akan tetap di parkiran. Namun, begitu dia masuk ke lobi butik merek ternama, dia mendengar langkah kaki yang berirama di belakangnya.
"Kenapa kau ikut masuk?" tanya Seraphina, berbalik dengan kening berkerut.
"Perintah baru dari Tuan Seldin, Nona. Twenty-four-seven. Saya tidak boleh membiarkan Anda lepas dari pandangan saya selama kita berada di wilayah publik," Dareen menjawab sambil tetap berjalan di sampingnya.
"Kau bercanda?! Aku mau bertemu teman-temanku! Kau akan berdiri di sampingku saat aku mencoba gaun?"
"Jika perlu," jawab Dareen tanpa emosi.
Seraphina menggeram frustrasi. Dia melangkah menuju lift eksklusif yang akan membawanya ke lantai VIP. Mereka masuk ke dalam lift yang berdinding cermin mengkilap. Hanya ada mereka berdua.
Merasa sangat kesal karena bayangannya diikuti, Seraphina merogoh tasnya. Dia mengeluarkan botol parfum miliknya yang beraroma sangat menyengat dan manis. Dengan sengaja, dia menekan noselnya berulang kali, menyemprotkan cairan itu tepat di depan wajah Dareen hingga udara di lift yang sempit itu dipenuhi kabut wangi yang menyesakkan.
"Ups, tanganku licin," ejek Seraphina sambil terus menyemprot. "Bagaimana, Dareen? Masih mau ikut masuk dengan bau seperti toko bunga ini?"
Dareen terbatuk pelan, matanya sedikit menyipit karena perih, namun dia tidak menjauh. Dia justru melangkah satu langkah lebih dekat, membiarkan dirinya tenggelam dalam kabut parfum itu. "Bau ini jauh lebih baik daripada bau alkohol Anda semalam, Nona."
Tepat saat Seraphina ingin membalas ejekan itu, lift berguncang hebat.
Suara besi beradu terdengar kasar di atas langit-langit, diikuti dengan lampu yang berkedip lalu padam, menyisakan lampu darurat yang remang-remang kemerahan. Lift itu berhenti total di antara lantai 40 dan 41.
Hening.
Napas Seraphina mulai memburu. Jantungnya yang tadi berdegup karena marah, kini berdegup karena ketakutan yang primitif. Dia memiliki trauma pada ruang sempit dan kegelapan.
"Dareen ..." suaranya mencicit, hilang sudah keangkuhan tadi pagi.
"Hanya gangguan teknis kecil, Nona. Jangan panik," suara Dareen terdengar sangat dekat.
"Buka pintunya! Aku tidak bisa bernapas!" Seraphina mulai terengah, tangannya meraba-raba dinding lift yang dingin. Oksigen di dalam lift itu seolah menghilang, digantikan oleh aroma parfumnya sendiri yang kini terasa mencekik.
Dalam kegelapan itu, Seraphina tidak peduli lagi pada harga diri. Dia mencari pegangan dan menemukannya—lengan jas Dareen yang kokoh. Dia mencengkeram kain mahal itu dengan kuku-kukunya yang tajam, tubuhnya gemetar hebat.
"Tolong ... aku tidak bisa ... bernapas ..."
Dareen merasakan ketakutan yang nyata dari gadis di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, dia melanggar aturan emasnya. Dia meletakkan tangan kanannya di atas bahu Seraphina, menarik gadis itu mendekat ke arah dadanya. Tangan kirinya mengelus punggung Seraphina dengan gerakan pelan yang menenangkan.
"Bernapaslah bersamaku, Seraphina. Ikuti hitunganku," bisik Dareen. Suaranya tidak lagi seperti robot. Suaranya rendah, lembut, dan penuh perlindungan. "Satu ... dua ... buang. Kau aman. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu selama aku masih bernapas."
Seraphina menyandarkan dahinya di dada Dareen. Dia bisa mendengar detak jantung pria itu yang tenang dan stabil. Wangi parfum yang menyengat kini bercampur dengan aroma tubuh Dareen yang maskulin—bau sabun dan aroma kayu yang segar—yang entah bagaimana terasa jauh lebih menenangkan.
Untuk beberapa detik, dunia di luar lift itu menghilang. Tidak ada kasta, tidak ada status majikan dan pelayan. Hanya ada dua orang yang saling berpegangan dalam kegelapan Aeruland yang dingin.
Lampu utama menyala kembali. Lift itu tersentak pelan dan mulai bergerak naik. Begitu pintu terbuka di lantai tujuan, cahaya terang dari lobi mal menyeruak masuk.
Seketika, Dareen menarik tangannya kembali. Dia melangkah mundur, kembali ke posisi profesionalnya seolah-olah dekapan hangat tadi tidak pernah terjadi. Wajahnya kembali kaku, matanya kembali dingin menatap lantai.
"Kita sudah sampai, Nona," ucapnya datar, suaranya kembali seperti semula—tanpa emosi.
Seraphina berdiri terpaku, jemarinya masih terasa hangat bekas mencengkeram jas Dareen. Dia menatap Dareen, mencari-cari sisa kehangatan di mata pria itu, namun yang dia temukan hanyalah dinding es yang telah dibangun kembali dengan sangat cepat.
"Ya ... kita sudah sampai," bisik Seraphina, hatinya terasa lebih sesak daripada saat lift itu berhenti tadi.
Dia melangkah keluar lift dengan langkah goyah, menyadari bahwa jarak profesional yang selama ini dia benci, kini telah runtuh di dalam dirinya sendiri—dan dia tahu, mulai detik ini, segalanya akan menjadi jauh lebih rumit.