Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 KESEPAKATAN
Wang Lee diam dalam waktu yang lama, matanya menyip menatap Kenzo dengan evaluasi yang mendalam.
Dia memang tua dan licik tapi dia tidak suka perang karena perang hanya akan membuat semua pihak kalah termasuk dirinya sendiri.
"Duduk," perintah Wang Lee dengan suara yang lebih lembut.
Kenzo duduk di kursi yang ditunjuk, menghadap langsung ke meja kecil dengan dua kursi yang berhadapan seperti arena pertarungan verbal.
Wang Lee membuka laci meja dan mengambil botol wiski dengan dua gelas, mengisinya dengan cairan keemasan dan meminum satu gelas dalam sekali teguk besar sebelum menawarkan yang lain ke Kenzo.
Kenzo menolak dengan anggukan kecil, dia tidak minum saat perang masih menggantung di udara.
Wang Lee minum sendiri dengan lahap, menikmati rasa hangat yang turun ke perutnya.
"Kerja sama bisa dilakukan," kata Wang Lee akhirnya, "tapi ada syarat yang harus dipenuhi."
"Apa syarat mu?"
"Setengah dari kekuasaan Cao Xiu, termasuk wilayahnya, bisnisnya, dan anggotanya, aku mau setengah dari semuanya."
Kenzo diam sambil menghitung cepat di kepalanya, Cao Xiu sudah mati dan wilayah utara sudah sepenuhnya miliknya, memberi setengah bukan masalah besar.
Tapi dia tidak bisa langsung setuju karena Wang Lee akan curiga jika terlalu mudah, licik selalu curiga pada yang mudah.
"Terlalu banyak untuk seorang informan," kata Kenzo mencoba menawar.
"Terlalu sedikit untuk harga hidupku," balas Wang Lee dengan tegas, "aku beri kau Hong Feng dengan segala datanya, buktinya, lokasinya, semuanya, itu adalah harga hidupku karena kalau kau gagal dia akan membunuhku tanpa ampun, setengah kekuasaan Cao Xiu murah untuk pertukaran itu."Kenzo diam lagi, membuat ekspresi seolah-olah sedang berpikir keras padahal keputusan sudah bulat.
Lalu dia bertanya dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Satu lagi?"
"Perlindungan dari pemerintah agar aku tidak dihukum setelah ini."
Kenzo menatap Wang Lee dalam waktu yang lama, mempertimbangkan permintaan yang rumit itu.
"Aku bukan pemerintah dan tidak punya kekuasaan untuk memberi perlindungan semacam itu."
"Tapi dia bisa." Wang Lee menunjuk jendela ke arah Xiu Zhu yang masih berdiri tegak, "The Eagle, dia bisa memberi perlindungan yang ku minta."
"Bukan keputusannya untuk dibuat sendiri dan bukan keputusanku untuk memaksanya."
"Tapi dia mendengar perintahmu meski kau tidak sadar."
Kenzo tidak menjawab dengan kata-kata tapi diamnya sudah cukup sebagai jawaban.
Wang Lee tahu dia menang setengah dari permainan ini.
Pintu terbuka tanpa ketukan dan Xiu Zhu masuk dengan santai seolah-olah punya hak untuk masuk kapan saja dia mau.
Wang Lee kaget karena tidak terbiasa dengan wanita yang berani sejauh ini.
"Kau mendengar semua percakapan kami?" tanya Wang Lee dengan nada yang tidak percaya.
"Semuanya," jawab Xiu Zhu dengan datar, "aku berdiri di luar tapi jendela terbuka dan suara kalian cukup keras untuk didengar dengan jelas."
Wang Lee melihat Kenzo dengan mata yang bertanya apakah dia tahu tentang ini.
Kenzo tidak tahu tapi juga tidak terkejut, Xiu Zhu adalah Komandan The Eagle yang terlatih untuk mendengar, mengintai, dan masuk tanpa izin kapan saja diperlukan.
"Kau bisa memberi perlindungan yang ku minta?" tanya Wang Lee pada Xiu Zhu.
"Bisa," jawab Xiu Zhu tanpa ragu, "tapi dengan syarat yang harus kau penuhi terlebih dahulu."
"Apa syarat mu?"
"Bantu kami menangkap Hong Feng dalam kondisi hidup, bukan mati, karena kami butuh informasi darinya."
Wang Lee ragu sejenak, Hong Feng jauh lebih berbahaya dari Kenzo yang ada di depannya ini.
Tapi Kenzo sudah di sini dan Hong Feng masih di kejauhan, pilihan menjadi lebih mudah dengan pertimbangan itu.
"Hidup?"
"Hidup, kami butuh bicara dengannya, butuh nama-nama yang mendukungnya di pemerintah, butuh bukti yang tidak bisa dibantah."
Wang Lee kaget untuk kedua kalinya, The Eagle tidak hanya membunuh tapi juga menyelidiki dan menghukum dengan hukum yang berlaku.
"Setuju," kata Wang Lee akhirnya dengan suara yang lelah.
Xiu Zhu menambahkan dengan tegas, "Maka kau sekarang di bawah perlindungan The Eagle sementara waktu, sampai Hong Feng tertangkap dan proses hukum selesai, setelah itu segalanya tergantung bukti dan keputusan pengadilan."
Wang Lee mengangguk dengan rasa pahit tapi setuju dengan tawaran itu, lebih baik di pengadilan daripada darah mengalir di jalanan tanpa keadilan.
Wang Lee bangkit dari kursinya dan berjalan ke lemari besi yang tertutup rapat di dinding, tersembunyi di balik lukisan yang tidak bernilai.
Dia membuka dengan kombinasi yang diputar dengan lambat dan hati-hati, mengambil berkas tebal yang terdiri dari tiga map dan menyerahkannya ke tangan Kenzo.
"Ini lokasi markas rahasia Hong Feng, tiga tempat yang berganti setiap minggu tanpa pola yang bisa ditebak."
"Jadwal pertemuannya dengan siapa saja dan di mana saja, lengkap dengan waktu dan nama."
"Rekening banknya dengan aliran uang masuk dan keluar, bukti perdagangan manusia dengan nama, umur, dan harga jual setiap korban."
Kenzo melihat isi berkas itu tanpa terkejut karena dia sudah tahu semua ini terjadi, tapi sekarang dia punya bukti yang bisa dipegang dan ditunjukkan.
"Ada lagi yang perlu ku ketahui?" tanya Kenzo sambil menutup map terakhir.
"Hong Feng tidak bekerja sendiri, dia punya pendukung kuat di pemerintah, posisi tinggi, sangat tinggi."
"Siapa orangnya?"
"Itu tidak termasuk dalam deal kita, itu harga lain untuk waktu lain."
Kenzo menatap Wang Lee dalam waktu yang lama, menimbang apakah worth it untuk menekan lebih jauh.
Wang Lee memang licik sampai akhir, menyimpan kartu terakhir untuk pertarungan yang akan datang.
"Nanti," kata Kenzo akhirnya, "kalau kau masih hidup setelah Hong Feng tertangkap, kita bicara lagi tentang ini."
Wang Lee tertawa kering lagi, suaranya menggema di ruangan yang sepi.
"Berjanjilah padaku."
"Tidak, aku tidak berjanji apapun, aku hanya bilang nanti dan itu sudah cukup."
Mobil melaju di jalanan Bai Ma yang sudah dingin di malam hari, lampu-lampu kota berkedip lewat jendela dengan cepat seperti waktu yang tidak bisa ditangkap.
Kenzo menyetir dengan tangan kanan di setir dan tangan kiri bersandar di jendela, Xiu Zhu duduk di kursi penumpang dengan berkas tebal di pangkuannya.
Mereka diam dalam waktu yang lama, hanya suara mesin mobil dan suara ban menggilas jalan yang menjadi pengisi keheningan.
"Terima kasih," kata Kenzo tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
"Untuk apa?"
"Untuk perlindungan yang kau berikan ke Wang Lee, untuk semua yang kau lakukan hari ini."
Xiu Zhu tidak menjawab langsung, dia hanya menatap jendela dan melihat kota yang lewat dengan cepat seperti waktu yang terus berjalan tanpa ampun.
"Itu bukan untukmu," akhirnya dia berkata dengan suara yang terlalu datar untuk dipercaya, "itu untuk misi, untuk menangkap Hong Feng, bukan untukmu secara pribadi."
Kenzo tahu itu bohong dan Xiu Zhu juga tahu bahwa Kenzo tahu, tapi tidak ada yang bicara lagi tentang hal ini.
Mereka terus diam sampai mobil sampai di Wangguan, sampai kamar masing-masing, sampai tidur sendiri-sendiri dengan pikiran yang berbeda-beda.
Malam ini tidak seperti malam tadi, jarak ada di antara mereka meski tubuh pernah bersatu.
Di markas rahasia yang tersembunyi di bawah tanah dan tidak ada di peta manapun, Hong Feng duduk sendirian di kursi kulit yang empuk dan mahal.
Mata-matanya melapor lewat telepon dengan suara pendek yang tidak bisa disalahartikan.
"Wang Lee bertemu Kenzo dalam waktu yang lama dan keluar dengan senyum di wajahnya."
Hong Feng tidak marah dan tidak melempar gelas atau berteriak seperti orang kehilangan kendali.
Dia memang tua dan dia tahu ini akan terjadi, Wang Lee memang licik dan licik selalu memilih pemenang sebelum pertarungan usai.
Tapi Hong Feng punya satu kartu yang Kenzo tidak ketahui keberadaannya, satu kartu yang akan mengubah semua perhitungan.
Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan yang panjang kemudian mengirimnya ke nomor yang sudah lama tidak dihubungi.
Dia menunggu dengan sabar selama tiga menit yang terasa seperti tiga jam.
Jawaban masuk dengan satu kata singkat yang berarti segalanya: "Setuju."
Hong Feng tersenyum seperti ular yang melihat mangsanya terjebak, seperti Long Fei dulu sebelum mati dieksekusi.
"Waktunya tiba," bisiknya ke udara kosong seolah-olah berbicara dengan bayangan, "waktunya bermain kotor dan melihat siapa yang benar-benar menguasai kota ini."
Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela, menatap kota Bai Ma yang dulu menjadi miliknya sepenuhnya atau setidaknya sebagian besar.
"Kenzo," kata dia dengan suara yang hampir seperti doa atau kutukan, "kau mengambil utara, kau mengambil Wang Lee, kau mengambil Cao Xiu, kau mengambil banyak hal dari banyak orang."
"Tapi kau tidak mengambil yang terpenting dari semuanya."
Dia mengetuk jendela tiga kali dengan ritme yang sama, kebiasaan lama yang menjadi ritual sebelum melakukan sesuatu yang besar.
"Kau tidak mengambil rasa takut dari hatiku, dan sekarang aku akan memberimu rasa takut itu dengan berlimpah ruah sampai kau tidak bisa tidur di malam hari."
...$ BERSAMBUNG $...