Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Perubahan Ganesha
Ceklek
Desti kedapatan duduk di depan, oh bukan...lebih tepatnya di sebrang pintu ruang janitor dengan wajah yang sudah mengantuk. Sementara Yahya, ia bersandar di samping Desti. Meratapi nasib, ia bahkan menghitung usianya yang berapa lama lagi menyentuh angka usia pensiun.
"Bu,"
Yahya mendengus lalu menggaruk alisnya mendadak gatal, lihatlah! Coba tebak apa yang sudah mereka lakukan di dalam tadi, sebab...wajah-wajah kaku, air muka keruh sudah berubah menjadi wajah anteng dan tentunya jas yang disampirkan itu adalah sebagian perubahan drastis penampakan kedua toddler 30 tahunan ini.
Anye membungkuk sopan pada Ganesha, "aku pulang." Cicit Anye yang diangguki Ganesha, "hati-hati. Kabari kalau sudah sampai kantor."
Desti bahkan dibuat mengatupkan mulutnya sendiri melihat perubahan signifikan itu.
"Yuk Des.."
Langkah Desti mengikuti ayunan kaki Anye, "permisi pak, mas..."
Yahya tertawa meski tak membuat Ganesha menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana tadi, seolah sudah tau dan yeah! Yahya merasa konyol saja. Tak habis pikir dengan keduanya. Begitu aja terus bang ke!
"Ngga usah nanya gue ngapain sama Anye di dalem."
Yahya menggidikan bahunya, "ngga perlu. Gue tau, pak. Udah ketebak banget..."
"Jangankan barusan di dalem sana, di kamar hotel aja gue tau."
Ganesha menoleh pada asistennya itu.
"Ya elah pak. Pak Dewa sama pak Lendra juga pasti tau. Lo adalah orang yang paling mudah ditebak jalan pikirannya." Tawa Yahya, "paling-paling digebukin Anye."
Imaginary telah mengerjakan project advertising unit villa Cisoga, dimana villa itu sering dipakai menjadi properti sewaan sebuah production house, maka target pasarnya pun tak jauh-jauh dari konglomerat dan PH stasiun televisi atau sebuah layar lebar.
Bukan, bukan hanya villa disana saja. Namun villa di daerah Bandung Utara juga Bali. Dalam kurun waktu beberapa minggu saja ada klien masuk dengan rentang waktu sewaan minimal seminggu sampai 6 bulan.
Ganesha
Sudah sebulan ia jarang bertemu dengan Anye sejak terakhir di ruang janitor itu, selain dari ia yang harus bolak balik ke luar kota membantu Dewa atau sekedar bertemu klien klien penting, ia juga tak memiliki cukup alasan selain dari bertanya via telfon tentang pekerjaan.
Setelah pembicaraan terakhir mereka itu, baik Anye ataupun Ganesha tak ada yang memulai untuk memperbaiki hubungan. Entahlah, Ganesha tak paham menurutnya ia sudah cukup menurunkan ego---pernyataannya yang terakhir itu cukup mendeskripsikan jika ia masih memiliki masa lalu untuknya sendiri. Masih berada diantara rasa yang belum selesai dengan Anye.
Namun Anye seolah-olah sedang menggantungkannya. Apakah ia harus menyerah sekarang?
Atau pernyataannya itu masih kurang dimengerti oleh wanita itu?
Ganesha baru saja pulang dari luar kota, bahkan ia masih duduk diantara kursi pesawat saat ini roda-roda pesawat itu baru saja keluar dan landing memutar di atas landasan.
Ia mengaktifkan kembali ponselnya ketika sudah benar-benar turun, beberapa pesan menyerbu nomornya.
Termasuk pesan dari Afiqah, yang meminta bertemu.
Afiqah
Sayang, udah sampe Jakarta lagi? Kabari aku ya, aku ke apartemen kamu aja gimana?
Ganesha
Ada yang mesti saya bilang juga ke kamu.
Ganesha menggeleng risih dengan panggilan Afiqah itu. Lantas Ganesha tak sengaja men-tap pembaruan status kontak. Entahlah, sejak ia berpisah dengan Anye, ia justru lebih tertarik untuk melihat aktivitas yang dilakukan mantan istrinya itu, hingga menjadi kebiasaan buruk yang terjadi sampai sekarang.
Setelah berpisah, kamu jadi terlihat semakin menawan di mataku, Anyelir...
Dan kini, ia melihat beberapa pembaruan status yang dibuat oleh wanita itu, kebanyakan keinginannya membeli sesuatu, entah itu makanan atau barang.
Seperti saat ini, Anye memposting gambar sebuah tas clutch kecil yang akan menjadi target belinya.
Kepala yang terasa masih pusing akibat jetlag tak cukup membuatnya menyerah untuk melakukan hal gila lainnya sekarang, "Ya..tas begini belinya dimana?" tanya nya menunjukan layar screenshot dan meng-crop nama kontak Anye.
Yahya menyipitkan matanya, "toko tas lah, ya kalii toko bangunan."
Ganesha menatap Yahya malas, "ya udah, kalo tau...belilah, satu."
Yahya menoleh horor, yang benar saja?! Bahkan mereka belum sampai rumah tapi Ganesha sudah membebaninya pekerjaan.
/
Sebuah paper bag berisi kotak cantik ciri khas sebuah branded ternama mendarat cantik di meja kerja Anye siang ini. Padahal baru tadi malam ia memposting foto tas dengan harga lumayan itu di pembaruan statusnya.
"Cieee, baru semalem posting, udah beli aja. Gilaa yak, bos gue gituhh, beli tas seharga motor kaya beli cakwe pinggir jalan, tinggal comot..." Bukan Desti melainkan Angel yang kebetulan sekali menerima paket tersebut dan mengantarnya ke ruangan Anye.
Anye mengernyit heran sepeninggal Angel. Siapa? Pertanyaan besarnya.
Apa Ibas? Bukan tak mungkin, tapi rasanya ragu saja, sebab untuk membeli ini mungkin tabungannya akan terkuras. Bukan meremehkan, tapi untuk ukuran seorang Ibas yang hanya karyawan, gajinya bahkan tak lebih besar dari pendapatan Anyelir.
Dan nama dengan kemungkinan terbesar adalah, Ganesha....tapi apa iya? Anye sedikit khawatir sekarang.
Bukan, bukan hanya itu saja kekhawatiran Anye sebenarnya. Sebab, sejak peristiwa malam menyenangkan di hotel itu, ia belum kunjung mendapatkan tamu bulanannya, celaka!
Salahnya yang menghentikan KB sejak memutuskan berpisah dari Ganesha, tapi mana ia tau jika setelah bercerai justru mereka melakukan kecerobohan itu.
Anye menyenderkan punggungnya di kursi, begitu mumet otaknya belakangan ini.
Ia bukan wanita bodoh yang tak paham dengan tanda-tandanya mulai dari merasa mual, eneg dan sangat menginginkan sesuatu. Sebab dulu... pernah ada keinginannya untuk memiliki keturunan. Namun lagi-lagi Ganesha yang mematahkan mimpinya menjadi seorang ibu itu dengan menyodorkan secarik kertas perjanjian pernikahan.
Anye ingat....dengan terang-terangan lelaki itu menyatakan ketidakmampuannya mencintai Anye karena besaran rasa cintanya pada seorang wanita lain.
Namun, dikarenakan desakan momynya untuk menikah, yang secara kebetulan mengenalnya sebagai teman kampus Ganesha, dan pernah beberapa kali dilibatkan dalam proyek kampus bersama, hingga membuat Anye beberapa kali datang ke rumah Ganesha. Akhirnya Ganesha mencoba memenuhi permintaan momy Ica untuk meminangnya.
1 tahun, Ganesha memutuskan untuk memberikan waktu 1 tahun untuk ia move on dan merasai cinta, tapi nyatanya itu sia-sia. Mereka seperti tak pernah merasa cocok dan melengkapi.
Anye menatap perutnya yang masih rata. Dua periode. Ia melewatkan dua periodenya. Anye menggeleng, sepulang kerja nanti ia akan membeli sesuatu terlebih dahulu.
**Ganesha**
*Suka? Anggap aja reward buat Imaginary yang selalu bekerja dengan baik*.
See, ia selalu begitu. Hingga Anye sulit untuk menolak dan memakinya. Ganesha selalu memiliki alasan yang logis meskipun ia sempat menolak demi profesionalitas.
**Anyelir**
*Abang terlalu berlebihan. Ngga perlu kasih reward toh memang sudah menjadi kesepakatan, kan? Atau jangan-jangan ini dihitungkan dari komisi*?
**Ganesha**
*Bakar aja kalau kamu ngga suka*.
Anye berjalan masuk ke dalam rumah dengan menenteng paper bag berisi tas mewah pemberian Ganesha. Ia pulang sedikit lebih awal, sehingga ia dapati rumah kosong sebab ibu tengah mengikuti pengajian rutin ibu-ibu komplek.
Jadi, hanya sepi yang menemaninya menggerus rasa lelah. Bukan lagi, sejak ia merasa tubuhnya tidak baik-baik saja itu, berat badannya bahkan turun sekitar 3 kilo.
Pikiran ribut kembali menghampiri Anye, jika seandainya malam di hotel itu membuahkan hasil, maka hal pertama yang akan dilakukannya adalah memberitahu si lelaki breng sek itu.
Satu persatu lelahnya terurai, mulai dari kaki----sepasang sepatu hak tinggi yang selalu menunjang penampilannya itu ia tanggalkan. Kemudian, Anye membuka pintu kamar lalu menaruh tas dan paper bag beserta rasa lelahnya sejenak. Melepas blazer yang juga memeluk tubuhnya begitu erat.
Sebelum terlupa sesuatu, Anye memilih melakukan itu tanpa ada ibu di rumah, kalaupun hasilnya sesuai prediksinya, ia akan menangis dengan puas tanpa harus diketahui ibu. Meratapi kebodohannya itu.
Tak dapat dipungkiri, perasaan gugup, panik, khawatir menjadi satu sekarang.
Anye membuka bungkusan, tidak hanya satu melainkan tiga, lalu mencelupkan alat-alat itu ke dalam air seninya.
Ada helaan nafas pasrah, ia sudah menduganya.
Mendadak kepalanya dibuat pusing dan sakit cenat-cenut, hingga ia harus menangkup jidat. Ia sedang tak pandai mengumpat atau mengomel sekarang. Terlalu lelah dan----jemarinya mengetik dengan bergetar di layar sentuh itu.
Anyelir
Boleh aku main ke apartemen abang? Ada yang harus aku omongin....
Ganesha
Kapan? Mau dijemput?
Lagi-lagi Anye mendengus sebal. Perubahan Ganesha ini...apakah ada sangkut pautnya dengan dirinya yang mengandung?Atau biasanya itu terjadi pada calon-calon almarhum? Jangan dulu! Lelaki itu harus tanggung jawab!
.
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak