NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume II — Interlude (Aurelia’s Perspective) Chapter 7 — Mastery of the First

Volume II — Interlude (Aurelia’s Perspective)

Before the Blade Moves Again

Malam itu sunyi, tapi matanya tetap terbuka. Aurelia berdiri di atas atap gedung yang sebagian runtuh, menatap kota barat yang mulai hidup kembali setelah misi Daniel. Angin malam menyapu rambutnya, tapi ia tidak merasa dingin. Hatinyalah yang terasa beku.

Daniel… dia masih menanggung beban itu sendirian.

Ia memikirkan cara dia bergerak tadi—tegas, cepat, tepat, namun berat. Aurelia tahu, ia melihat lebih dari sekadar aksi di medan perang. Ia bisa merasakan beban moral yang dipikul Daniel, beban yang bahkan kata-kata tidak mampu melepaskan.

“Aku harus membantunya,” gumam Aurelia pada dirinya sendiri. “Tapi bagaimana? Dia tidak pernah minta bantuan… dan dia tidak tahu apakah aku bisa diandalkan.”

Ia mengingat tatapan Daniel saat menuntun warga dari reruntuhan. Ada keteguhan, tapi ada juga kesedihan yang dalam—seolah setiap nyawa yang diselamatkan meninggalkan jejak luka di hati. Aurelia menelan ludah.

Dia melihat dunia dengan cara yang berbeda. Tidak seperti Hunter lain. Dia… manusia.

Mengamati dari Jarak

Aurelia menunduk sedikit, memeriksa jalur-jalur kota yang aman. Dari atap ini, ia bisa melihat kawasan yang baru dibersihkan Daniel dan Raven, dan bayangan iblis yang kabur mulai berkumpul lagi di sudut-sudut gelap.

Ia menyadari satu hal: Daniel hidup karena kesabaran dan instingnya, bukan hanya kekuatannya. Segel pertama memberinya stabilitas, tetapi beban batin tetap menempel. Aurelia mengerutkan alisnya. Ia harus menilai—apakah Daniel sudah siap menghadapi tantangan yang lebih besar?

Jika ia gagal, semua yang diselamatkannya bisa hilang. Dan beban itu… bisa menghancurkannya dari dalam.

Ia menarik napas dalam. Keputusan itu bukan tentang kekuatan fisik, melainkan strategi dan hati. Aurelia menatap kota dengan mata yang penuh tekad. “Aku akan berada di sisinya. Aku tidak akan membiarkan dia menanggung semuanya sendirian,” kata Aurelia pelan, tetapi tegas.

Rasa Takut dan Harapan

Ada ketakutan yang samar di dalam dirinya—bukan untuk keselamatan sendiri, tetapi untuk Daniel. Ia tahu setiap misi berikutnya akan lebih berbahaya, lebih kompleks, dan lebih menuntut keputusan yang berat.

Namun di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang lain: harapan. Harapan bahwa Daniel, dengan beban yang ia pikul, bisa bertahan, dan ia bisa membantunya menanggung sebagian dari beban itu.

Aku tidak akan hanya menonton. Aku tidak akan hanya menjadi bayangan di sisinya. Aku akan menjadi alasan dia bisa tetap berdiri.

Aurelia menunduk, menarik mantel gelapnya lebih rapat, lalu melangkah turun dari atap. Kota barat mungkin tidak aman sepenuhnya, tapi malam ini adalah waktu untuk bersiap, bukan menyerah.

Ia menatap arah di mana Daniel berada, di pos sementara Hunter. Mata merahnya redup oleh bayangan, tapi tekadnya menyala lebih kuat daripada lampu di jalanan.

Besok… kita akan menghadapi iblis yang lebih cerdik. Besok… Daniel tidak akan sendirian.

Dan di malam itu, dalam sunyi kota yang remuk, Aurelia menyadari satu hal: kedatangan Daniel bukan hanya mengubah jalan hidupnya sendiri, tapi juga membuatnya bertanggung jawab terhadap dunia yang lebih besar dari mereka berdua.

Volume II — The Weight of Survival

Chapter 7 — Mastery of the First Seal

Hening malam membungkus kota barat. Lampu darurat di pos sementara berkedip perlahan, menciptakan bayangan yang menari di dinding reruntuhan. Daniel duduk bersila di lantai beton yang dingin, katana tergeletak di sampingnya, dan napasnya teratur—tapi pikirannya tidak tenang.

Segel pertama di dadanya berdenyut lembut, stabil, tetapi tidak memberinya jawaban tentang beban moral yang terus menghantuinya. Ia masih merasakan setiap nyawa yang tidak bisa ia selamatkan, setiap keputusan sulit yang harus ia buat, dan setiap tatapan warga yang menaruh harapan padanya.

Aku harus lebih kuat. Bukan hanya untuk membunuh iblis… tapi untuk menjaga mereka tetap hidup.

Daniel menutup mata, membiarkan sensasi segel pertama menyebar melalui tubuhnya. Ia fokus pada napas, merasakan denyutnya sendiri, dan mencoba mendengarkan ritme yang tidak biasa—ritme yang hanya muncul saat segel bekerja.

Menemukan Ritme Sendiri

Ia mengangkat katana perlahan, memutarnya di udara. Setiap ayunan terasa berat pada awalnya, namun segel pertama menstabilkan ototnya, membuat gerakannya lebih presisi.

Kekuatan bukan hanya tentang tebasan yang kuat… tapi tentang kontrol tubuh dan pikiran.

Daniel mulai berlatih pola serangan dan pertahanan dasar, menyesuaikan gerakan dengan ritme segel. Ia menebas udara, memutar pedang, mengubah arah setiap ayunan. Setiap kali gerakan salah atau terlalu kasar, tubuhnya terasa menolak—segel pertama seperti mengoreksi kesalahan secara halus, menuntunnya menuju efisiensi.

Setelah beberapa jam, ia mulai merasakan ketidakterpisahan antara pikiran, tubuh, dan pedang. Segel pertama bukan hanya stabilitas; ia menjadi perpanjangan insting Daniel, memberi peluang untuk bereaksi sebelum bahaya muncul.

Pergulatan Batin

Tetapi latihan fisik bukan satu-satunya yang menantang. Setiap kali ia menutup mata, wajah-wajah warga yang ia selamatkan dan yang gagal ia selamatkan muncul. Bayangan iblis, reruntuhan, dan aroma logam hangus terasa nyata.

Daniel menahan napas, menggenggam katana erat. Segel pertama menenangkan tubuhnya, tetapi tidak bisa menenangkan pikirannya yang kacau. Ia sadar satu hal: kontrol fisik tidak cukup tanpa kontrol batin.

Jika aku kehilangan fokus atau digerakkan oleh rasa bersalah, pedang ini hanya akan menjadi alat kehancuran, bukan penyelamat.

Ia mulai melakukan latihan mental: menutup mata, membayangkan setiap tebasan pedang, setiap gerakan, dan setiap serangan iblis yang mungkin muncul. Ia membayangkan diri menolong warga tanpa ragu, menghadapi iblis tanpa panik, dan tetap tenang bahkan saat dunia runtuh di sekitarnya.

Segel pertama berdenyut lebih kuat, seakan menguji ketenangannya. Daniel menarik napas dalam-dalam dan berkata pada dirinya sendiri:

“Aku tidak boleh takut pada kegagalan. Aku harus tetap fokus pada yang bisa aku lakukan sekarang… bukan pada yang sudah terjadi.”

Sinkronisasi Kekuatan dan Pikiran

Setelah beberapa jam latihan, Daniel mulai merasakan sinkronisasi yang belum pernah ia alami sebelumnya. Katana terasa seperti bagian dari tubuhnya sendiri—tidak lagi hanya alat, tetapi perpanjangan dari niat, keputusan, dan instingnya.

Ia melakukan simulasi pertempuran sendirian: menghadapi bayangan iblis, menghindari serangan yang muncul dari arah berbeda, menebas dengan presisi. Setiap gerakan yang benar membuat segel pertama berdenyut lebih lembut, seakan memberi pengakuan, sementara kesalahan kecil memunculkan denyutan lebih cepat—sebagai peringatan.

Aku bisa mengontrol segel ini… jika aku tetap tenang dan sadar.

Daniel tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sepenuhnya tergantung pada segel. Ia bisa menggunakannya sebagai alat, bukan penopang tunggal.

Kesadaran Baru

Di pagi hari, setelah latihan panjang, Daniel duduk di pinggir reruntuhan. Tubuhnya lelah, tetapi napasnya tenang. Segel pertama berdenyut lembut, stabil. Namun yang lebih penting: pikiran dan tubuhnya mulai sejalan.

Ia menyadari satu hal penting: kekuatan fisik tanpa kontrol mental adalah bahaya terbesar bagi dirinya dan orang lain. Dan setiap misi yang akan datang, setiap iblis yang menunggu, tidak hanya akan menguji pedangnya, tetapi keteguhan batinnya.

Aku hidup bukan hanya untuk bertahan… tapi untuk menjadi penopang bagi mereka yang bergantung padaku.

Di kejauhan, cahaya fajar menembus reruntuhan kota. Daniel menatap katana di tangannya, tersenyum tipis, dan berkata pelan:

“Aku siap. Tidak hanya untuk pertempuran… tapi untuk semua yang datang setelahnya.”

Dan dengan itu, latihan penguasaan segel pertama selesai, meninggalkan Daniel dengan keyakinan baru dan kesiapan mental yang lebih kuat untuk menghadapi misi berikutnya—yang akan lebih berbahaya dan lebih menuntut dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!