NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Light Behind the Storm

Enam bulan telah berlalu sejak badai yang dibawa Dante dan keluarga Choi mereda. Mansion Vincentius kini tidak lagi terasa seperti benteng mafia yang dingin, melainkan sebuah rumah yang penuh dengan kehidupan. Ingatan masa depan Jennie benar-benar telah memudar, menyisakan ruang bagi kenangan-kenangan baru yang jauh lebih indah.

Persiapan Kelahiran

Jennie berdiri di depan cermin besar, mengusap perutnya yang kini sudah membuncit sempurna. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih yang longgar. Di usia kehamilan sembilan bulan, ia merasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi mimpi buruk tentang gudang tua atau pengkhianatan.

"Dia sangat aktif pagi ini," bisik Jennie saat merasakan tendangan kecil dari dalam rahimnya.

Limario muncul di pantulan cermin, melingkarkan lengannya dari belakang dan meletakkan tangan besarnya di atas perut Jennie. Ia mengecup bahu istrinya dengan lembut. "Dia tahu ayahnya akan segera membawanya melihat dunia. Segalanya sudah siap, Jennie. Rumah sakit, tim dokter, bahkan kamar bayi sudah aku periksa sepuluh kali."

Jennie terkekeh. "Kau menjadi sangat protektif, Tuan Vincentius. Kadang aku merasa kau lebih khawatir daripada aku."

"Aku hanya tidak ingin kehilangan satu detik pun momen berharga ini," jawab Limario serius.

Momen Kebahagiaan Keluarga

Di ruang tengah, Ny. Maurel sedang asyik merajut sepatu bayi mungil bersama Kenzhi yang sibuk memilih warna benang.

"Grandma, apakah adik bayi nanti akan suka warna biru seperti Kenzhi?" tanya bocah itu dengan mata berbinar.

"Tentu saja, Sayang. Adikmu akan menyukai apa pun yang diberikan oleh kakak sehebat kau," jawab Maurel sambil tersenyum tulus. Ia menoleh saat melihat Jennie dan Limario turun. "Jennie, jangan terlalu banyak berjalan. Duduklah di sini bersama kami."

Jennie tersenyum, merasakan kehangatan yang dulu pernah ia hancurkan sendiri. Ia duduk di antara Maurel dan Kenzhi, menikmati teh herbalnya. Namun, di tengah canda tawa itu, rasa mulas yang luar biasa tiba-tiba menyerang pinggangnya.

Jennie meremas tangan Maurel. "Ibu... sepertinya... sekarang waktunya."

Perjuangan di Ruang Bersalin

Suasana mansion yang tenang seketika berubah menjadi sibuk namun terorganisir. Limario dengan sigap menggendong Jennie menuju mobil yang sudah siap siaga. Sirine pengawalan membelah jalanan kota menuju rumah sakit pribadi keluarga Vincentius.

Di depan ruang bersalin, Limario tidak bisa duduk tenang. Ia berjalan mondar-mandir, mengabaikan laporan bisnis yang masuk ke ponselnya. Baginya, seluruh kekaisaran bisnisnya tidak ada harganya dibandingkan nyawa Jennie dan anak mereka.

"Tuan, tenanglah. Nyonya Jennie sangat kuat," Hans mencoba menenangkan, namun ia sendiri tampak waspada menjaga area rumah sakit.

Berjam-jam berlalu, hingga akhirnya suara tangisan bayi yang melengking pecah dari dalam ruangan. Bahu Limario merosot lega, matanya seketika berkaca-kaca.

Seorang suster keluar dengan senyum lebar. "Selamat, Tuan Vincentius. Putranya lahir dengan sehat. Nyonya Jennie juga dalam kondisi stabil."

Nama di Balik Takdir

Limario melangkah masuk ke ruangan yang tenang itu. Ia melihat Jennie terbaring lemas namun dengan binar kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di pelukannya, ada seorang bayi laki-laki mungil yang terbungkus kain biru.

"Lihat, Lim... dia mirip sekali denganmu," bisik Jennie lemah.

Limario duduk di tepi ranjang, mencium kening Jennie lama sekali sebelum beralih menatap putranya. Ia menyentuh jari kecil bayi itu yang langsung menggenggam telunjuknya dengan erat.

"Siapa namanya?" tanya Limario parau.

Jennie menatap suaminya dengan penuh cinta. "Di kehidupan itu, dia tidak pernah punya nama. Tapi di sini, di kehidupan yang baru ini... aku ingin menamainya Arkano Vincentius. Cahaya yang melindungi."

"Arkano," Limario mengulang nama itu dengan bangga. "Nama yang indah untuk seorang pangeran."

Kenzhi dan Ny. Maurel masuk tak lama kemudian, menambah suasana haru di ruangan itu. Kenzhi mencium pipi adiknya dengan sangat hati-hati, sementara Maurel memanjatkan doa syukur yang mendalam.

Garis Waktu yang Baru

Malam itu, saat semua orang sudah pulang dan bayi Arkano tertidur di boks bayinya, Jennie dan Limario duduk bersandar di ranjang rumah sakit, menatap pemandangan kota dari jendela besar.

"Kau tahu, Lim?" Jennie memulai pembicaraan. "Aku tidak lagi ingat bagaimana rasanya rasa sakit di masa lalu itu. Semuanya sudah digantikan oleh momen ini."

Limario mengeratkan genggamannya pada tangan Jennie. "Itu karena kau sudah berhasil mengubah takdir kita, Jennie. Kau bukan lagi tawanan masa lalu. Kau adalah ratu di masa sekarang."

Jennie tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Limario. Ia tahu, meskipun masa depan mungkin akan membawa tantangan baru, mereka tidak akan menghadapinya sendirian. Kesempatan kedua ini telah ia gunakan sebaik-baiknya—bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk benar-benar hidup dalam cinta yang abadi.

Kejutan Tak Terduga

Satu minggu setelah kepulangan Jennie ke mansion, sebuah kiriman bunga besar tiba. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah kartu kecil bertuliskan:

"Selamat atas kelahiran pewaris baru. Namun, ingatlah Jennie... dunia bawah tidak pernah benar-benar membiarkan cahaya bersinar terlalu lama."

Jennie tertegun. Ia meremas kartu itu. Meskipun Dante sudah tiada, ia sadar bahwa menjadi bagian dari keluarga Vincentius berarti akan selalu ada musuh yang mengintai. Namun kali ini, ia tidak takut. Ia memiliki Limario, dan ia memiliki kekuatan untuk melindungi masa depan yang telah ia perjuangkan.

Sumpah di Balik Kelambu

Setelah kegaduhan kecil saat Kenzhi bertanya tentang "belajar menembak", Ny. Maurel membawa Kenzhi keluar untuk makan siang, memberikan waktu privasi bagi pasangan itu. Ruangan VIP rumah sakit kembali sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung bayi Arkano yang teratur di dalam boks bayinya.

Pengakuan Limario

Limario duduk di kursi samping ranjang Jennie. Ia tidak lagi mengenakan jas formalnya; kemeja putihnya yang sedikit berantakan memperlihatkan sisi manusiawinya yang jarang terlihat. Ia menggenggam tangan Jennie, menatapnya dengan pandangan yang sangat dalam.

"Jennie," panggilnya lembut. "Saat kau bertarung di dalam sana tadi... aku sempat merasa sangat tidak berdaya. Aku bisa menguasai pasar saham, aku bisa menghancurkan musuh dalam semalam, tapi aku tidak bisa mengambil rasa sakitmu."

Jennie tersenyum lemah, jemarinya mengusap punggung tangan Limario. "Kau sudah melakukannya, Lim. Kau ada di sana. Di kehidupan lalu, aku sendirian. Tapi sekarang, aku merasakan kekuatanmu mengalir padaku."

Limario terdiam sejenak. Ia mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat napas Jennie tertahan. "Aku tahu kau sering menyebut tentang 'kehidupan lalu' seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang nyata. Aku tidak akan bertanya bagaimana itu mungkin. Tapi aku ingin kau tahu satu hal..."

Ia menjeda, matanya berkilat tajam namun penuh komitmen. "Siapa pun yang mengirim kartu ancaman tadi pagi, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berurusan dengan seorang pria yang sudah melihat neraka dan kembali hanya untuk menjagamu. Arkano tidak akan pernah merasakan apa yang kau takutkan."

Misteri Kartu Tanpa Nama

Jennie meraih kartu yang tadi sempat ia remas dan menyembunyikannya di bawah bantal. "Lim, kartu itu... simbol di pojok bawahnya. Itu bukan lambang keluarga Choi."

Limario mengambil kartu tersebut dari tangan Jennie. Ia memperhatikan sebuah simbol kecil berupa seekor ular yang melingkari pedang, tercetak sangat tipis dengan tinta transparan yang hanya terlihat di bawah sudut cahaya tertentu.

Wajah Limario seketika mengeras. Rahangnya mengatup rapat.

"Simbol ini..." gumam Limario.

"Kau mengenalnya?" tanya Jennie cemas.

"Ini adalah simbol The Serpent's Hand. Organisasi tentara bayaran internasional yang dulu bekerja untuk mendiang ayahku. Mereka seharusnya sudah dibubarkan setelah ayah meninggal," jelas Limario. Ia segera berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap keluar dengan waspada.

Jennie merasa jantungnya berdegup kencang. The Serpent's Hand? Mengapa di kehidupan lalunya ia tidak pernah mendengar tentang mereka? Apakah karena perubahannya yang drastis di kehidupan ini mulai memicu "efek kupu-kupu" yang membangkitkan musuh-musuh yang lebih berbahaya?

Kepulangan ke Mansion

Tiga hari kemudian, Jennie dan bayi Arkano diperbolehkan pulang. Kepulangan mereka tidak seperti biasanya. Limario mengerahkan tiga helikopter dan konvoi sepuluh mobil lapis baja untuk memastikan keamanan mereka.

Sesampainya di mansion, Limario langsung memerintahkan Hans untuk mengaudit seluruh staf rumah. "Mulai hari ini, tidak ada satu pun orang asing yang boleh masuk tanpa pemeriksaan latar belakang yang dilakukan olehku secara langsung. Dan Hans... cari tahu siapa yang masih memegang kendali atas The Serpent's Hand."

Malam itu, di dalam kamar bayi yang mewah, Jennie menggendong Arkano yang baru saja terbangun. Ia menatap wajah mungil itu dengan penuh tekad.

"Aku tidak tahu siapa lagi yang akan datang, Sayang," bisik Jennie pada bayinya. "Tapi Mummy sudah pernah mengalahkan kematian sekali. Mummy akan melakukannya lagi untukmu."

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel rahasia Jennie—ponsel yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan jaringan informannya.

"Dante hanyalah pion kecil. Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Nyonya Vincentius. Darah ayah Limario harus dibayar dengan darah pewarisnya."

Jennie menatap Arkano dengan ngeri. Musuh kali ini bukan hanya menginginkan harta, tapi mereka menginginkan nyawa putranya.

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!