"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari seseorang
Di sela waktu, saat rumah dalam keadaan sepi tepatnya setelah Nila berangkat kerja. Herman sering berkunjung dan menemui tuannya,
Demi mengurangi kecurigaan, mereka menjadikan rumah itu sebagai tempat berbincang. Karena terlalu beresiko jika Elang sering keluar atau berkunjung ke perusahaan,
"Jadi, Rangga menghubungi paman Nila? Apa kamu sudah memastikannya?" celetuk Elang menatap tajam pria yang tengah berdiri.
Dengan tubuh bersandar, menduduki sofa selayaknya tuan rumah.
"Sudah saya pastikan. Dia sendiri yang mengaku kepada saya dan setelah saya telusuri..." Herman melirihkan suara,
"Ternyata dulu paman nyonya sering menghubungi Pak Rangga untuk meminta uang."
"Anehnya kemarin Pak Rangga duluan yang menghubungi. Mungkin Pak Rangga merencanakan sesuatu?"
Elang terdiam, seakan memikirkan hal lain. Mulai menebak, alasan dibalik tindakan lawannya, sudah pasti karena masih menyimpan perasaan pada Nila.
"Apa dia sudah bosan dengan istrinya?" gumam Elang merendahkan suara.
"Dia pikir Nila akan menuruti perintah pamannya. Hhh! Tapi ternyata tidak, rencananya gagal total." mendengus angkuh,
"Pasti sekarang dia sedang mengamuk kesetanan..."
Elang menyeringai tampak puas membayangkan reaksi seseorang.
"Tapi, aku masih tidak menyangka Nila punya paman yang sangat licik. Beraninya dia mengancamku!" gertak Elang justru merasa tertantang,
"Anda sudah membuat karir putrinya hancur. Saya rasa itu sudah cukup? Kalau berlebihan, saya takut mereka menyimpan dendam dan menargetkan nyonya..." saran Herman nampak risau,
"Apa katamu? Dendam,"
Elang melirik tajam, kalimat tadi berhasil membuatnya naik pitam.
"Coba saja, kalau mereka berani menyentuh Nila..."
"Akanku buat keluarga itu lenyap dari muka bumi!" imbuh Elang mengepalkan tangan,
GLEK!
Herman menelan saliva, tubuhnya mematung ketakutan, dibuat merinding oleh aura pembunuh yang mengalir kuat di depannya.
"Ng...s-selanjutnya saya punya informasi, soal dana yang Tuan suruh selidiki."
"Maksudmu uang yang Rangga pakai buat membeli bisnis katering tempat Nila bekerja?" tebak Elang mendapat anggukan,
Raut di wajahnya berubah penasaran, terlihat antusias menunggu penjelasan.
"Informasi apa yang kamu dapat?"
"Sesuai dugaan, anda. Pak Rangga meminta bantuan pada ayahnya,"
"Tapi tidak ada catatan apa pun dalam buku pengeluaran perusahaan. Jadi bisnis itu bukan bagian dari WijayaGroup,"
"Mereka tidak mungkin membelinya dengan dana pribadi--"
"Karena nominalnya terlalu besar dan itu pasti bakal membuat kakek curiga. Iya, kan?" imbuh Elang menyela penjelasan,
"Benar sekali," Herman mengangguk singkat, mengiyakan dugaan Elang.
"Jadi satu-satunya cara adalah menggelapkan dana perusahaan. Tanpa sepengetahuan dewan direksi, paman memakai uang perusahaan dan memalsukan laporan keuangaan." ujar Elang berhasil menebak apa yang telah terjadi.
"Benar-benar bodoh. Karena terlalu memanjakan putranya dia berani melakukan cara kotor---"
"Atau mungkin, dari dulu mereka memang sering melakukannya?" bergumam dengan kedua alis terangkat,
"Coba selidiki! Apa saja yang sudah mereka beli dalam 10 tahun terakhir dan dari mana mereka membayar?!"
"Siap Tuan! Akan segera saya selidiki." Herman menunduk patuh, sigap mematuhi perintah.
Elang menghela nafas lega, satu per satu kebusukan telah terbongkar. Membuatnya semakin yakin perihal pelaku yang menyebabkan kecelakaan 10 tahun silam,
Pamannya adalah tersangka utama. Sebab,
Saat Surya sang kakek masih menjadi pimpinan perusahaan, dia memilih mengalihkan seluruh tanggung jawab kepada putra sulungnya, sebelum pensiun dari jabatan.
Elang bahkan ditunjuk sebagai ahli waris meski usianya lebih muda dari Rangga. Mungkin karena ayahnya anak pertama, atau mungkin kakeknya sangat hafal tabiat buruk putra keduanya.
"Oh ya, kamu bilang kakek memperkerjakan semua pelayan yang dulu bekerja pada ayahku kan?" celetuk Elang ingin memastikan sesuatu.
Setelah ayahnya meninggal, kakek tidak ada pilihan selain menyerahkan perusahaan kepada Lembang.
Dan dengan licik dia membeberkan kondisi Elang yang dinyatakan buta kepada dewan direksi, padahal sebelumnya hal itu ingin disembunyikan sampai Elang mendapat perawatan terbaik.
Kondisi Elang dianggap cacat, para dewan pun melengserkan Elang dari hak waris.
Tak lama setelah keputusan itu, Lembang mengasingkan keponakannya keluar negeri dengan dalih mencarikan pengobatan.
Padahal dia membuang, tak mengirimi uang sepeserpun, hanya menyiapkan rumah hunian sederhana dengan pembantu kasar.
"Iya, mereka semua masih bekerja sampai saat ini. Tapi sepertinya ada 1 orang yang sudah mengundurkan diri,"
"Kalau tidak salah, dia bertugas sebagai tukang kebun---Oh, ya! Dia mengundurkan diri satu minggu setelah kecelakaan."
Elang mengernyit, dibuat penasaran oleh jawaban tadi.
"Aneh, padahal saat itu masih dalam keadaan berkabung. Kenapa dia mengundurkan diri? Apa kamu, apa alasannya?"
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu---tapi saya bisa mencari alamatnya. Apa anda ingin saya menemuinya?" lugas Herman dengan senang hati menawarkan bantuan,
"Iya, cari tahu alamatnya tapi jangan kamu temui dulu. Untuk sekarang coba kamu tanyakan pada pelayan lain, mungkin mereka ada yang tahu.."
"KRUKK..." terdengar bunyi nyaring dari perut Herman.
Seketika membuat pria tadi tertegun menatap bawahannya. "Apa kamu lapar?"
"Saya baik-baik saja." menggelengkan kepala, "Krukk!" sekali lagi perutnya berbunyi, Herman pun hanya bisa tertawa kikuk.
"Suaranya membuatku jijik. Cepat makan! Kebetulan Nila masak sebelum berangkat kerja," cibir Elang dengan tatapan risih.
"Gapapa. Saya bisa makan nanti," tolaknya secara halus, merasa sungkan jika harus menumpang makan.
Elang mendengus geram, tak terbiasa melihat pria itu bersikap malu. Padahal dia sudah sering memaklumi sikap lancang bawahannya,
"Sudah sana. Ambilkan juga untukku! Aku juga belum mencicipi masakannya," menyuruh dengan nada ketus.
"Aa--baiklah, kalau Tuan memaksa. Saya akan siapkan sekarang," jawab Herman menyengir, bergegas pergi melaksanakan perintah.
Dia kembali menyajikan dua piring makanan ke atas meja. Pemandangan yang sangat langka, ini pertama kalinya mereka makan bersama.
Herman tampak ragu saat menduduki sofa, namun tidak dengan perutnya yang terus berteriak meminta asupan.
Satu suapan mendarat ke dalam, sontak Herman terbelalak. Sensasi apa tadi? Benar-benar memanjakan lidah,
"Wah! Enak banget. Ternyata nyonya jago masak!" ujarnya dalam mulut penuh makanan, tak henti berceloteh. "Pantas saja Tuan gemukan. Setiap hari makan-makanan enak!"
"Apa saya boleh nambah?"
"....?!" Elang menatap sinis, tanpa bersuara tapi berhasil membuat Herman tak berkutik.
Sigap pria itu memalingkan pandangan, semacam ada laser yang baru saja menembus ke arahnya.
"Kayaknya ga boleh.." bergumam lirih, hanya bisa menjilati piring.
Sekilas Herman melirik kembali, menatap Elang yang tampak acuh sambil menikmati santapannya.
Kedua piring itu pun bersih dalam waktu singkat. Tergeletak di atas meja dalam keadaan kosong tanpa sebutir nasi yang tersisa,
"Ga terasa, hampir satu tahun. Apa tuan sudah memutuskan langkah selanjutnya?" celetuk Herman berbasa-basi,
Mengingat perjanjian yang dulu pernah tuannya buat. Elang dan Nila hanya akan menikah selama satu tahun, kemudian bercerai.
"Dulu Tuan menikah buat menghindari pertemuan ga penting, dan ga mencolok di mata Pak Lembang."
"Oh,ya...sekalian ingin menganggu Pak Rangga, kan?"
"Sekarang bagaimana? Apa Tuan akan menceraikan nyonya sesuai perjanjian?" tanya Herman penasaran.
Dalam waktu beberapa bulan sudah banyak hal yang terjadi, mereka juga telah melewati berbagai masalah.
Walau masih ragu, Herman menduga kalau tuannya mulai menaruh perasaan kepada Nila.
"Sesuai rencana awal. Aku akan menceraikannya," tegas Elang merendahkan suara, tidak tahu mengapa suaranya terdengar berat.
"Tapi apa nyonya bakal setuju begitu saja? Karena saya lihat, selama ini nyonya benar-benar tulus menjaga dan merawat Tuan seperti suaminya sendiri."
"Hhh..."
Aneh, apa ada yang salah dengan ucapan tadi? Herman dibuat bingung. Tanpa sengaja dugaan Herman malah menerbitkan senyum di wajah Elang,
"Kalau dia menolak...Apa boleh buat? Berarti aku tidak punya pilihan selain menurutinya."
"Lagian ada untungnya----tiap hari aku bisa nyantai, makanan sudah dimasakin, dan ga perlu bayar orang buat bersihin rumah. Iya, kan?"
Jangan lupa tinggalkan komen ya/Pray//Kiss/
Komen kalian menambah semangat author dalam menulis, biar lebih sering updatenya. Hehe...