Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersangka
Vanylla mengangkat tangan.
"Kayson baik-baik aja. Dia sama Joel yang nemuin mayatnya. Maaf, tapi cuma itu yang gue tahu sekarang."
Stella tidak sepenuhnya percaya. Rasanya bukan karena Vanylla tidak tahu, melainkan karena Vanylla tidak mau mengatakan lebih banyak.
"Kami jadi pengawal lo!" lanjut Vanylla tegas. "Dan Kayson mau pastiin kami enggak kehilangan lo sedetik pun sampai—"
Stella sudah melangkah ke arah pintu.
“Lo mau ke mana?“ Wallen berseru sambil menghalangi jalannya. “Lo belum selesai periksa rekamannya.“
“Gue udah nonton tiga kali. Gue udah kasih nama semua pelanggan yang datang. Gue juga bilang artis yang nganter karya itu Raffi Sanders. Gue udah kasih semua yang gue tahu. Sekarang gue mau ketemu Kayson.“
Wallen menggeleng.
"Dia enggak mau lo ada di TKP."
Bodoh amat.
"Igor mati. Semua ini ada hubungannya sama gue. Gue enggak bisa cuma duduk di sini!"
Riggs mendekat. "Bunuh diri? Itu yang terjadi? Dia obses sama Stella terus bunuh diri?"
Dada Stella terasa makin sesak.
"Bukan bunuh diri," jawab Vanylla lugas.
Vanylla jelas tahu lebih banyak dari apa yang dia katakan.
Riggs mengembuskan napas kasar. "Yang jelas bukan mati yang wajar."
Hening menyelimuti ruangan. Rasa dingin merambat di punggung Stella.
"Terus kenapa, Igor dibunuh, kan?"
Wallen tetap diam. Dia memang tipe yang membawa kebiasaan diamnya terlalu jauh.
Stella menoleh ke Vanylla.
Vanylla mengangguk pelan.
Ya Tuhan.
Stella menoleh kembali ke Wallen.
"Minggir!"
Rahang Wallen mengeras.
"Gue cuma diperintah—“
“Ikut gue kalau mau, karena gue tetap bakal ke sana. Igor mati? Dia dibunuh?" Dan ketakutan yang paling dalam adalah kemungkinan bahwa Igor dibunuh gara-gara dia. "Kasih gue pengawalan level enam itu, terserah, tapi gue mau ke rumah itu. Gue harus tahu apa yang terjadi. Gue enggak bakal duduk diam di sini. Ini hidup gue!"
Pembunuhan.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Dan kenapa?
Apa yang pernah Stella lakukan sampai membuat seseorang kehilangan nyawa?
Stella tidak diizinkan mendekati lokasi kejadian, tapi itu tidak mengejutkan. Ada barang bukti yang harus dikumpulkan. Prosedur yang harus dijalankan. Sebuah jasad yang harus dipindahkan.
Jasad.
Ya Tuhan.
Igor benar-benar mati?
...────୨ৎ────...
Saat mereka tiba di lokasi, Stella, Riggs, Wallen, dan Vanylla datang dalam keadaan tegang dan tanpa banyak bicara.
Polisi sudah memenuhi area itu.
Para tetangga berdiri di luar rumah masing-masing, menatap dengan wajah tercengang. Ketika Stella melihat ke seberang jalan, dia melihat rumahnya sendiri. Sisi rumahnya masih menghitam akibat api. Garis kuning polisi membatasi area.
Sebuah van putih terparkir di dekat lokasi. Stella bergidik saat melihatnya.
Mobil forensik?
Dia menduga jasad Igor akan dibawa pergi dengan van besar yang tampak suram itu.
Jasad Igor.
"Ngapain dia ada di sini?"
Suara Kayson.
Tiba-tiba dia sudah berdiri di depan Stella. Stella masih menatap van itu, membayangkan Igor di dalamnya, ketika Kayson melangkah mendekat tanpa suara.
"Perlindungan level enam artinya dia enggak boleh berada dalam lokasi bahaya! Siaaall!! Wallen, Vanylla, kalian ngerti aturan ini, kan!"
Amarah jelas terdengar dalam suaranya.
Vanylla maju selangkah dan menahan tatapannya. "Iya, tapi level enam bukan berarti kita bisa ngikat dia ke kursi dan ..."
Kayson meringis.
"... nahan dia sampai lo balik! Dia bukan tahanan dan dia sendiri yang minta dibawa ke sini!" Vanylla menunjuk Stella dengan ibu jarinya. "Jadi ya , kami bawa. Dan kami tetap sama dia. Dia enggak bakal ke mana-mana tanpa kami."
Kayson mengusap wajahnya. Tatapannya beralih ke Stella.
"Lo enggak seharusnya ada di sini. Lo nggak ... lo enggak boleh lihat dia. Bukan di sini. Percaya sama gue."
"Apa yang terjadi sama Igor?" Mata Stella langsung mengarah ke pintu rumah.
Seorang wanita keluar. Dia mengenakan setelan hitam, rambut gelapnya diikat rapi ke belakang. Sebuah lencana terpasang di pinggangnya, dan Stella bisa melihat sarung senjata di bawah lengannya saat dia mendekat. Joel berjalan di belakangnya, wajahnya lebih muram dari yang pernah Stella lihat.
"Dia ... ditusuk." Kayson sempat ragu sepersekian detik sebelum mengatakannya.
Lengan Stella otomatis memeluk perutnya sendiri. Riggs langsung mengusap punggungnya pelan.
"Udah berapa lama dia meninggal?"
"Mungkin tiga hari. Itu cuma perkiraan gue. Nanti pemeriksa medis yang pastiin."
Tiga hari?
Selama itu dia terbaring di dalam rumah itu. Tak bernyawa.
Joel dan wanita misterius itu berjalan mendekat. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada Stella.
Kayson mengembuskan napas panjang.
"Detektif Citra Hamizah punya beberapa pertanyaan buat lo, Stella. Dia yang bareng Joel itu. Sial ... mungkin bagus juga lo datang. Kita bisa selesain pertanyaannya sekarang, terus lo bisa pulang."
Dia lupa kalau rumah Stella saat ini masih dibatasi garis polisi.
"Ke rumah kita." koreksi Kayson cepat, dengan nada kesal.
Tangan Riggs perlahan menjauh dari punggung Stella.
Seseorang membunuh Igor.
Kayson harus melakukan sesuatu.
Detektif itu sudah berdiri di hadapan mereka. Tatapan gelapnya menilai satu per satu. Kulitnya berwarna zaitun hangat yang mulus, bibirnya manis tanpa lipstik. Anting mutiara kecil menghiasi kedua telinganya.
"Stella Allesandra?"
Stella mengangguk.
"Saya Detektif Citra Hamizah. Anda perlu ikut saya ke kantor polisi."
"Apa?" Kayson langsung menyela. "Kenapa? Lo bisa tanya di sini aja dan—"
“Tidak, Saya tidak bisa.“ Suaranya tetap tenang. "Karena saya punya banyak pertanyaan. Ini penyelidikan pembunuhan dan saya yang memimpin. Saya tidak akan memberi Anda perlakuan khusus, Kayson! Meskipun kita pernah punya hubungan sebelumnya."
Pernah punya hubungan?
Detektif itu mengangkat satu alisnya tipis.
"Ini masalah serius."
Tentu saja serius. Ini pembunuhan.
Fokusnya kembali ke Stella.
"Nona Stella, saya akan membawa Anda ke kantor. Pengawal Anda boleh ikut, tapi Anda tidak akan meninggalkan ruang interogasi saya sampai semua pertanyaan saya dijawab."
Riggs maju selangkah.
"Maksudnya apa? Kenapa lo ngomong ke Stella kayak dia pelakunya? Dia tuh targetnya di sini!"
Detektif Hamizah menggeleng.
"Dia bukan target. Korban saya adalah pria yang diikat ke kursi dan disiksa itu. Dia mantan kekasih Anda, nona Stella. Dan ketika tim forensik saya membuka komputer yang disembunyikan di dalam rumah itu, mereka menemukan sebuah email dari Stella."
Itu tidak mungkin.
"Nggak." Stella menggeleng cepat. "Gue enggak pernah hubungi dia sejak—"
“Email itu dikirim enam hari lalu. Dari akun Anda di galeri Anda. Isinya meminta secara khusus agar Igor datang menemui Anda.“
Napas Stella tersenggal. Tatapannya mencari Kayson dengan panik. "Gue enggak ngirim itu. Sumpah gue nggak!"
"Di email itu, Anda bilang Anda merindukannya. Anda ingin dia kembali. Anda bahkan sudah menyiapkan tempat tinggal untuknya di sini. Dekat dengan Anda." Detektif itu meletakkan tangan di pinggang. "Jadi kita ke kantor polisi sekarang. Anda akan menjawab semua pertanyaan saya. Dan ya, sebaiknya Anda mulai mencari pengacara!"