Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESEPAKATAN
Keesokan paginya, paviliun Pangeran Mahkota tidak lagi terasa mencekam, melainkan terasa seperti markas militer yang sangat sibuk.
Pasukan Bayangan Jayden kini benar-benar berada di setiap sudut, bahkan ada yang bergelantungan di dahan pohon persik di depan jendela.
Calista sedang duduk santai di teras paviliun, menyesap teh herbal yang sudah diperiksa tiga kali oleh Owen, pria itu sekarang lebih sigap daripada Calista sendiri.
Di pangkuan Calista, ada Lorenzo yang sedang berusaha keras menggigit jari telunjuknya yang mungil.
"Nona Calista," panggil Owen yang datang dengan wajah sedikit kusut.
"Grand Duke meminta Anda datang ke kediamannya sore nanti, ada perjamuan teh kecil-kecilan," lanjut Owen, sopan.
Walaupun Calista hanya seorang Ibu Susu dan bukan dari keluarga bangsawan, tapi Owen sangat menghormati Calista, setelah melihat kemampuan Calista, membunuh pembunuh bayaran hanya dengan tusuk konde.
"Perjamuan teh? Di tengah badai merpati yang dikirim Isabella?" tanya Calista mengangkat sebelah alisnya.
"Justru karena itu Nona, beberapa bangsawan dari faksi netral mulai ketakutan karena ancaman terselubung dari Ibu Suri. Grand Duke ingin menunjukkan bahwa senjata rahasia miliknya, yaitu Anda, benar-benar nyata," jawab Owen, menghela nafas nya panjang.
"Oh, jadi aku sekarang adalah senjata pameran?" ucap Calista tersenyum miring.
"Katakan pada tuanmu, aku akan datang jika makanannya enak. Aku bosan dengan bubur istana," lanjut Calista, mengibaskan tangannya.
Owen hanya bisa tersenyum kecut sebelum pamit undur diri.
Setelah Owen pergi, Calista kembali menikmati waktu bersantai nya dengan Pangeran kecil nya, menikmati matahari pagi, yang mulai tinggi.
"Pangeran, kamu dengar tadi kan, ternyata paman mu itu sudah mengakui keberadaan kakak," bisik Calista, menyeringai.
"Padahal malam itu paman mu itu menuduh kakak, akan membunuh mu, dan tatapan mata nya benar-benar menyebalkan, ingin rasanya kakak colok," gumam Calista, geram mengingat kejadian malam itu.
Pangeran Lorenzo bukan nya takut, saat mendengar cerita dari ibu susu nya, justru dia terlihat berbinar dan tertarik dengan cerita Calista.
Tiba-tiba Jayden muncul, pria itu tidak lagi mengenakan zirah beratnya, melainkan jubah beludru biru tua yang membuatnya terlihat sepuluh kali lebih tampan, dan sepuluh kali lebih berbahaya dari biasanya.
"Untuk apa Anda kesini Grand Duke?" tanya Calista, melihat kehadiran Jayden.
"Belatinya pas?" tanya Jayden tanpa menjawab pertanyaan Calista, di berdiri di samping Calista.
"Lumayan. Lebih baik daripada tusuk konde yang harus ku temukan dari meja rias kusam itu," jawab Calista menepuk pinggangnya, di mana belati permata biru itu terselip dengan apik di balik sabuk gaunnya.
Jayden mengangguk kan kepala nya, tatapan mata nya jatuh pada bayi di pangkuan Calista, dia melihat Lorenzo sejenak, lalu matanya beralih ke Calista.
"Kau tahu apa yang dilakukan ibuku semalam? Dia mengirim puluhan merpati ke seluruh penjuru Florist. Dia juga sedang memanggil keluarga aslimu dari desa," ucap Jayden, melihat ke Calista.
Gerakan tangan Calista yang sedang mengelus pipi Lorenzo terhenti, senyumnya tidak hilang, justru semakin lebar.
"Ah, taktik klasik, menyerang lewat titik emosional," ucap Calista, terkekeh.
"Ibu mu pikir aku akan menangis tersedu-sedu saat melihat ayah dan ibu ku yang mungkin sudah dia suap atau ancam?" lanjut Calista, tersenyum miring.
Bukan nya takut, justru Calista tidak sabar menantikan hari itu, dimana dia kembali mempermainkan Isabella, seperti di ruang sidang kemarin.
"Kau tidak khawatir?" tanya Jayden menyipitkan mata.
"Jika mereka memberikan kesaksian bahwa kau bukan Calista yang mereka kenal, kau benar-benar akan tamat dengan tuduhan kerasukan," lanjut Jayden, mengerutkan keningnya, saat melihat ketenangan di wajah Calista.
Calista berdiri, menyerahkan Lorenzo yang sudah mengantuk kepada pelayan kepercayaan di dekatnya, lalu mendekat ke arah Jayden.
"Bawa Pangeran ke kamar nya, jangan tinggalkan dia sendiri, sebentar lagi aku akan menyusul," ucap Calista, pada pelayan nya.
"Baik Nona," jawab pelayan itu, sopan.
Setelah Lorenzo di bawa pergi oleh pelayan itu, kini tinggallah Calista dan Jayden, berdua.
Calista berdiri cukup dekat dengan Jayden, hingga dia bisa melihat pantulan dirinya di mata Jayden.
"Grand Duke, mari kita buat kesepakatan," bisik Calista dengan nada riang yang menggoda.
"Jika mereka datang, biarkan aku yang menangani mereka, dan jika aku berhasil membuat mereka berbalik menyerang Isabella, kau harus memberiku kunci gudang senjata pribadimu. Aku butuh beberapa mainan baru," lanjut Calista, menyeringai.
"Kamu ingin merampok gudang senjataku di tengah krisis keluarga?" tanya Jayden, tertegun dengan permintaan Calista.
"Bukan merampok, hanya meminjam untuk perlindungan keponakanmu," jawab Calista sambil mengedipkan sebelah matanya.
Jayden mendengus, namun ada binar geli di matanya, yang dia tutupi dengan raut wajah datar nya.
Dasar wanita aneh. Baiklah, sepakat. Tapi jika kau gagal, kamu harus menjelaskan padaku dari mana kamu belajar teknik mematahkan rantai itu," ucap Jayden, tersenyum miring.
"Sepakat," jawab Calista santai.
Setelah kesepakatan itu terucap, suasana di teras yang tadinya tegang berubah menjadi sedikit lebih santai.
Jayden melipat tangan di depan dada, memperhatikan Calista yang tampak sangat percaya diri, seolah ancaman ibunya hanyalah gangguan lalat di musim panas.
"Kamu benar-benar tidak punya rasa takut, ya?" tanya Jayden, suaranya kini lebih rendah, tidak lagi sedingin es.
"Takut tidak akan membuat perutku kenyang atau Lorenzo aman, Grand Duke. Lagi pula, rasa takut itu untuk orang-orang yang punya sesuatu untuk dipertaruhkan. Sementara aku? Aku hanya punya nyawa dan belati pemberianmu ini," jawab Calista tertawa kecil, suara tawanya renyah namun menyimpan nada berbahaya.
"Dan ambisi untuk merampok gudang senjataku," sindir Jayden, mendengus.
"Itu namanya bonus kerja," jawab Calista cepat.
"Oh ya, soal perjamuan teh sore nanti, apa aku harus memakai gaun yang mekar seperti bunga krisan? Karena jujur saja, itu akan sangat menyulitkan ku jika tiba-tiba aku harus menendang kepala seseorang," ucap Calista, yang memang berjiwa petarung, yang tidak terlalu suka dengan hal-hal yang membatasi pergerakan nya.
"Gunakan apa pun yang membuatmu nyaman untuk pamer, tapi ingat, para bangsawan itu punya mata yang lebih tajam dari pisau dapur, mereka akan mencari celah sekecil apa pun," jawab Jayden, tidak terlalu perduli dengan penampilan.
"Biarkan saja mereka mencari, paling-paling mereka hanya akan menemukan bahwa selera tehku jauh lebih mahal daripada status sosialku," jawab Calista mengibaskan rambutnya dengan gaya anggun yang dibuat-buat, membuat Jayden mendengus pelan.
"Satu hal lagi, Calista, ibu ku tidak hanya mengirim merpati. Dia juga mulai menyisir catatan sipil di desa asalmu, dia mencari tahu siapa teman masa kecilmu, siapa mantan kekasihmu-"
"Mantan kekasih?" potong Calista dengan tawa mengejek.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.