NovelToon NovelToon
Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Hantu
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eouny Jeje

​"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."

​Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.

​Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.

BERANI MELEWATI MALAM KE-6?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghapus Bukti

...​"Janji surga di bibir wanita, padahal maut sedang menghitung sisa usia."...

......................

Ketiga pria itu berebut memberi ruang, mata mereka yang merah karena pengaruh alkohol kini terkunci pada sosok Syifa yang tampak terlalu indah untuk menjadi nyata. Syifa duduk dengan anggun di tengah-tengah mereka, membiarkan jemarinya yang dingin menyentuh lengan-lengan berotot itu secara bergantian.

​Setiap kali kulit porselennya bersentuhan dengan mereka, minyak hitam yang mendidih di dalam pori-porinya bereaksi hebat. Aroma bunga pemakaman yang tajam menyeruak, namun indra mereka yang sudah tumpul mengiranya sebagai parfum mahal yang memabukkan.

​Persaingan mulai memanas; mereka bertengkar, saling dorong demi memonopoli perhatian sang bidadari. Syifa hanya tersenyum nakal, sebuah senyuman yang menyembunyikan taring iblis.

​"Jika bisa patungan, buat apa bertengkar hebat?" bisik Syifa merdu, suaranya mengandung sihir yang melumpuhkan logika.

​Kuasa Kukang seketika menghipnotis ketiga pria bodoh itu. Dalam sekejap, mereka setuju untuk berbagi, seolah baru saja menemukan kesepakatan terbaik dalam hidup mereka untuk melahap satu "lauk" segar sekaligus. Mereka merasa sangat beruntung, memuji sang mami club dalam hati karena telah menyediakan wanita baru yang begitu mau melayani.

Pintu ruang VIP itu tertutup dengan bunyi klik yang final, mengunci suara bising club di luar. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram berwarna merah darah, suasana menjadi kental dengan aroma alkohol dan wangi bunga pemakaman yang makin menyengat.

​Syifa duduk bersandar, membiarkan dirinya menjadi pusat pemujaan ketiga pria itu. Mereka sudah kehilangan akal sehat; kuasa Kukang telah melumpuhkan urat saraf mereka, membuat mereka merasa telah memenangkan lotre malam ini.

"Setiap orang mendapat jatah," bisik Syifa lagi, suaranya terdengar seperti desiran angin yang berhembus di tengah kuburan, dingin dan bergaung.

​Ia tak lagi merasa perlu menghargai tubuhnya sebagai sesuatu yang suci. Baginya, raga porselen ini hanyalah wadah sekaligus umpan. Ia sudah terbiasa melayani banyak pria dalam semalam; membiarkan mereka menjamah adalah rutinitas lama yang kini berulang dengan tujuan berbeda. Jika dulu ia melakukannya dengan peluh dan air mata demi mencari sedikit uang untuk menyambung hidup, kini ia melakukannya dalam hening yang mematikan demi memuaskan dahaga Kukang.

​Ketiga pria itu berpesta dalam kegilaan yang menjijikkan, saling menonton rekan mereka telanjang tanpa rasa malu. Bagi mereka, ini adalah cara "patungan" terbaik untuk melahap satu hidangan segar di bawah remang lampu merah VIP.

​Secara bergantian, mereka menjamah tubuh Syifa dengan rakus. Namun, di balik kulit porselen itu, minyak hitam bergejolak liar. Setiap gesekan kulit dan desah napas mereka adalah cara sang Kambe menancapkan taring gaibnya. Syifa hanya mematung, menatap langit-langit dengan mata sehitam sumur, merasakan energi vital mereka tersedot masuk ke dalam rahimnya yang terkutuk.

​Sentuhan mereka yang tadinya panas membara perlahan mendingin menjadi sedingin es. Syifa hanya mematung, merasakan detak jantung ketiga pria itu meredup, berdenyut lemah seperti sayap serangga yang sekarat setiap kali mereka mencoba meraup kenikmatan dari tubuhnya. Mereka merasa puas, menyeringai sombong karena merasa telah menaklukkan "ikan" yang murah dan penurut, tanpa sadar bahwa setiap desah napas mereka adalah embusan terakhir.

​Saat adegan cepat itu berakhir, keheningan mencekam menyergap. Dengan tubuh lunglai dan sisa tenaga yang dipaksakan, ketiganya mulai menjauh untuk merapikan diri. Satu per satu mereka mengenakan kembali kemeja yang berantakan, mengancingkannya dengan jari yang gemetar karena lemas yang tidak wajar. Salah satu dari mereka bahkan sempat menarik ritsleting celananya hingga tertutup sempurna, mengira ia hanya sedang kelelahan setelah pesta hebat.

​Namun, tepat saat mereka berdiri tegak dengan pakaian lengkap—siap untuk keluar dan memamerkan kemenangan mereka—Kukang di dalam tubuh Syifa menagih janji sepenuhnya.

​Suara geraman rendah yang bukan berasal dari kerongkongan manusia bergema di ruangan VIP. Syifa melengkungkan punggungnya hingga tulang-tulangnya berderak mengerikan. Tiba-tiba, tanpa ada sentuhan fisik, ketiga pria itu tersentak hebat secara bersamaan. Seolah ada tangan tak kasat mata yang merogoh ke dalam rongga dada, Kukang mengisap darah kering dan melumat jantung mereka hingga hancur di tempat.

​Nyawa mereka hilang begitu saja. Mereka ambruk di atas sofa dengan pakaian rapi, wajah membiru, dan mata membelalak kosong. Mereka tampak seperti orang yang baru saja tertidur pulas setelah mabuk berat, padahal raga mereka telah menjadi cangkang kosong yang hancur dari dalam.

​Syifa berdiri dengan tenang, merapikan gaun hitamnya sambil menatap tiga mayat yang kini berpakaian lengkap itu. Baginya, mereka kini tak lebih dari piring-piring kotor yang sudah habis santapannya.

Syifa melangkah keluar dari ruang VIP dengan keanggunan yang mengerikan, meninggalkan keheningan maut di belakang pintu yang tertutup rapat. Di dalam sana, tiga raga pria yang tadinya penuh nafsu kini hanyalah onggokan kulit kering dengan jantung yang lumat, seolah habis diperas oleh tangan raksasa. Efek minyak hitam yang mendidih di pori-porinya telah merampas setiap tetes energi vital mereka dalam satu malam yang singkat.

​Di lorong yang remang, ia berpapasan dengan seorang pria tegap berseragam sipil. Fadhil. Polisi itu terpaku, matanya yang liar langsung mengunci sosok Syifa. Dalam benak Fadhil, wanita di depannya ini hanyalah seorang bidadari yang sedang mabuk berat karena langkahnya yang melayang dan wajahnya yang merona—padahal Syifa sedang "mabuk" karena kenyang menghisap tumbal.

​"Nona, Anda mabuk. Berbahaya sendirian di sini," tegur Fadhil dengan suara bariton yang berusaha berwibawa, meski matanya tak bisa berhenti melirik lekuk tubuh Syifa. "Saya antar Anda kembali ke hotel."

Syifa tersenyum tipis—sebuah senyuman porselen yang dingin, menyembunyikan dahaga Kukang yang baru saja terpuaskan oleh nyawa di ruang VIP. Di dalam mobil yang melaju membelah malam. Di balik kemudi, Fadhil sudah kehilangan kendali. Matanya liar melirik belahan gaun hitam Syifa yang tersingkap, menampakkan jenjang paha seputih porselen yang seolah memanggil untuk disentuh.

​Tangan kiri Fadhil berpindah dari persneling, merayap masuk ke dalam celah gaun itu. Ia meraba kulit Syifa dengan rakus, meremas perlahan sambil menahan napas. "Kau terlalu cantik untuk dilepaskan begitu saja, Nona," bisik Fadhil, suaranya parau oleh gairah yang memuncak.

​Syifa tidak berontak. Namum, ia menangkap pergelangan tangan sang polisi dengan lembut. Ia menarik tubuh Fadhil mendekat hingga napas mereka beradu, aroma bunga kamboja dan hawa panas dari tubuh Syifa menyergap indra Fadhil.

​"Nakal sekali tanganmu ..." bisik Syifa sambil menjilat bibir bawahnya sendiri, memberikan tatapan yang begitu intim hingga membuat Fadhil mengerang. "Simpan tenagamu. Aku sedang 'kenyang' malam ini. Tapi aku janji... suatu saat nanti, aku akan membiarkanmu melahapku sepuasmu, sampai kau tidak sanggup bernapas lagi."

​Syifa kemudian mengambil ponsel Fadhil, mengetikkan nomornya dengan jari yang sengaja mengusap telapak tangan pria itu. Bagi Fadhil, ini adalah tiket menuju surga. Bagi Syifa, ini adalah cara menandai list maut cadangan. Fadhil hanyalah mangsa yang ia simpan untuk perjamuan purnama mendatang.

​Keesokan Harinya: Kantor Polisi

​Di tengah tumpukan berkas otopsi yang menyebutkan tiga pria di VIP tewas dengan serangan jantung, diduga akibat overdosis. Fadhil mematung menatap layar CCTV. Ia melihat sosok Syifa yang mempesona keluar dari ruangan itu—orang terakhir yang ada bersama para korban.

​Namun, bayangan kulit porselen dan janji intim di mobil semalam melumpuhkan logika hukumnya. Saat suara Syifa menyapa manja di telepon, "Halo, sayang... sudah merindukanku?", jemari Fadhil bergetar. Bukannya mengamankan barang bukti, ia justru menekan tombol Delete, menghapus rekaman kehadiran Syifa selamanya.

​Fadhil tersenyum puas, merasa telah menjadi pelindung sang bidadari. Ia tidak tahu, bahwa dengan menghapus bukti itu, ia baru saja meresmikan dirinya sebagai menu utama di malam purnama nanti.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh agung akan mati kah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh ini kapan berkahir kasihan jadi tumbal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhhh
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lhaaa trus kemana itu kukang nya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
aduhh gila ini pengeruh iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahhaha perempau memang banyak drama tak ada yg bisa mengerti 😝
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahahahhaha aq ngakak baca artinya juga 🤣🤣🤣
@🏡s⃝ᴿ yayuk
hiiii ngeri sekali ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
iblis twtaplah iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow
karena apa coba
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh piye jal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh bodoh sekali tp apa boelh di katanya kan
Mersy Loni
lanjut thor
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow lgsg kena target
Mersy Loni
aku tuh masih sedih sma broto jd tolong jangan nambah lagi ya, jgn biarkan agung juga pergi Thor.
Jeje: ya jgn ada kepikiran ke situ dlu kasian agungnya
total 3 replies
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lah dalah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
efekmya kok sampe gitu ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
minta sama sifa dia kaya raya lho
@🏡s⃝ᴿ yayuk
g kebanyang ya gimna ngerinya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
kacau sudah berapa harga semua yg ada di etalse itu hadeg berhamburan sudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!