Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Vonis kecerobohan.
Sinar matahari Jakarta terasa lebih terik dari biasanya bagi Nana. Ia melangkah masuk ke gedung firma hukum Aska dengan perasaan bangga, memeluk tas kerjanya yang ia pikir berisi naskah masa depan kariernya. Di ruang rapat utama, suasana sudah formal. Richard, beberapa produser eksekutif, Vanya, dan tentu saja Aska, sudah duduk mengelilingi meja jati panjang itu.
Aska mengenakan kemeja abu-abu gelap yang disetrika sempurna, wajahnya setajam pisau bedah saat ia melirik jam tangannya. "Tepat waktu. Silakan duduk, Nana."
Vanya memberikan senyum tipis, jenis senyum yang kini Nana tahu mengandung racun. "Selamat pagi, Nana. Kami sudah tidak sabar melihat draf final untuk registrasi HAKI hari ini."
Nana mengangguk, mencoba mengabaikan rasa cemas yang tiba-tiba merayapi tengkuknya. "Terima kasih. Saya sudah menyiapkan draf fisik dan cadangan digitalnya di sini."
Nana membuka tasnya. Ia merogoh ke dalam, mencari bundel kertas yang sudah ia jilid rapi semalam. Tangannya meraba dasar tas, namun ia hanya menemukan buku catatan kecil dan peralatan menggambarnya. Ia mengernyit, lalu membuka ritsleting kantong dalam untuk mengambil flashdisk merah yang berisi file digital.
Kosong.
Jantung Nana seakan berhenti berdetak. Ia membongkar isi tasnya dengan gerakan yang mulai panik. Ia mengeluarkan tablet, kabel pengisi daya, kotak pensil, semuanya, tapi bundel naskah dan flashdisk itu tidak ada.
"Ada masalah, Nana?" tanya Aska. Suaranya rendah, namun penuh tekanan yang membuat seisi ruangan mendadak sunyi.
"Tunggu sebentar, Bang ... sepertinya tertinggal di bagian lain," suara Nana bergetar. Ia mulai membongkar tasnya untuk kedua kali, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Semalam sudah saya masukkan... saya yakin sekali sudah di sini."
Vanya menopang dagunya, menatap Nana dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat. "Apa mungkin kau meninggalkannya di kantor, Nana? Ini dokumen yang sangat krusial. Kita sudah menjadwalkan notaris internasional pagi ini."
"Tidak mungkin ... saya sudah merapikannya di meja dan ingat betul memasukkannya ke tas sebelum pulang," Nana membela diri, namun suaranya semakin mengecil saat ia melihat ekspresi Aska.
Wajah Aska perlahan berubah menjadi topeng es yang mengerikan. Ia berdiri, berjalan perlahan mengitari meja hingga sampai di belakang kursi Nana. "Kau bilang kau sudah merapikannya di meja?"
"I-iya, Bang."
"Siska," panggil Aska tanpa menoleh.
Siska melangkah maju dari sudut ruangan. "Ya, Pak?"
"Kau menelepon Nana pukul sebelas malam untuk memastikan dokumen itu ada di mejanya, kan?"
"Benar, Pak. Nona Nana mengonfirmasi dokumen itu sudah siap di meja kerjanya," jawab Siska dengan nada datar nan profesional.
Aska membungkuk sedikit, wajahnya kini sejajar dengan Nana yang masih gemetar di kursinya. "Lalu kau pergi, meninggalkan pintu ruanganmu tidak terkunci, dan membiarkan dokumen bernilai jutaan dolar itu tergeletak begitu saja tanpa pengawasan?"
Nana tertegun. "Bagaimana Abang tahu aku pergi tanpa mengunci pintu ruangan?"
"CCTV kantor Stellar Komik tersambung ke sistemku, Nana. Aku melihatmu keluar ruangan, lalu kau kembali, mengambil tasmu, dan pulang begitu saja tanpa memeriksa kembali apakah dokumen itu masih ada di sana atau tidak," suara Aska kini terdengar seperti vonis hakim. "Kau tidak sadar ada seseorang yang masuk ke ruanganmu dalam jeda waktu itu?"
Nana menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa bodoh. Benar-benar bodoh.
Richard berdehem, tampak tidak senang. "Pak Aska, jika draf aslinya hilang dan bocor sebelum dipatenkan, kita bisa menghadapi tuntutan plagiarisme atau kebocoran ide. Ini bencana profesional."
Vanya menghela napas panjang, memberikan pandangan "kasihan" kepada Richard. "Itulah risikonya bekerja dengan kreator yang belum terbiasa dengan protokol keamanan korporasi, Richard. Bakat memang penting, tapi kedewasaan dalam menjaga aset adalah hal lain."
Nana menatap Vanya, lalu menatap Aska. "Bang, aku ... aku bersumpah aku tidak tahu ada yang masuk. Aku tidak merasa kehilangan apa pun saat mengambil tas semalam."
"Cukup," potong Aska. Ia berdiri tegak kembali, menatap dingin ke arah Nana. "Kecerobohan adalah sifat yang paling aku benci, Nana. Itu menunjukkan bahwa kau tidak menghargai pekerjaanmu, atau lebih buruk lagi, kau tidak memiliki martabat untuk menjaga kepercayaan yang kuberikan."
Kata-kata 'martabat' dan 'Clarissa' yang diucapkan Vanya kemarin mendadak menghujam otak Nana. Ini dia. Ini adalah momen di mana Aska melihatnya sama seperti mantan istrinya, seorang wanita yang tidak bisa diandalkan.
"Pak Richard, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," Aska berbalik ke arah investor dengan wibawa yang tak tergoyahkan. "Proses registrasi akan ditunda 24 jam. Saya akan menangani masalah internal ini. Siska, panggil keamanan kantor Stellar. Aku ingin semua rekaman lift barang dianalisis."
"Baik, Pak."
Aska kemudian menoleh kembali pada Nana. "Pulanglah. Jangan kembali ke kantor atau ke lokasi syuting sampai aku memanggilmu. Kau dilarang menyentuh aset digital apa pun milik Stellar selama masa investigasi."
"Bang, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan—"
"Keluar, Nana," perintah Aska tanpa belas kasihan.
Nana berdiri dengan kaki lemas. Ia mengemasi barang-barangnya yang berserakan di meja di bawah tatapan tajam semua orang. Saat ia melewati Vanya, wanita itu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Nana.
"Sudah kubilang, kan? Kau hanyalah sebuah variabel yang tidak pasti."
Nana berjalan keluar dari gedung firma hukum itu dengan air mata yang tak lagi bisa dibendung. Ia merasa dunianya runtuh. Bukan karena naskahnya hilang, tapi karena ia melihat kilat kekecewaan yang sangat dalam di mata Aska, kilat yang sama yang mungkin muncul saat ia dikhianati oleh Clarissa.
Sesampainya di apartemen, Nana hanya bisa duduk meringkuk di lantai. Ia mencoba mengingat-ingat setiap detik di kantor semalam. Siapa yang bisa masuk? Siapa yang tahu lokasinya?
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Saat ia di kafe bersama Vanya, Vanya sempat menanyakan soal perkembangan naskah. Dan Tris ... Tris selalu butuh uang.
Nana menghapus air matanya. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan menerima label "ceroboh" itu. Ia harus membuktikan bahwa ini bukan kecerobohan, melainkan sabotase.
Namun, sebelum ia sempat bergerak, pintu apartemennya digedor dengan keras. Saat ia membukanya, ia menemukan Tusi berdiri di sana dengan wajah merah padam, didampingi oleh Tris yang tampak berpura-pura cemas.
"Kau!" teriak Tusi sambil menunjuk wajah Nana. "Gara-gara kau, Aska mengamuk di rumah! Dia menuduh Tris yang mencuri naskah sampahmu itu karena dia tahu Tris sedang butuh uang!"
Wanita itu sangat menyayangi Tris sampai ia tega ngomong begitu pada Nana. Nana ingat Tusi memang baik padanya sebelumnya, namun semenjak Aska menekan Tris karena Nana, dia seperti tidak memandang Nana lagi. Pujian dan kelembutan yang pernah Nana rasakan menghilang begitu saja. Tusi terlalu memanjakan Tris, hingga membutakan matanya sendiri.
Nana menatap Tris. Pria itu menghindari tatapannya, namun ada seringai tipis yang tertutup oleh akting cemasnya.
"Apakah memang kau yang melakukannya, Tris?" tanya Nana dingin.
"Jaga bicaramu, Na!" sahut Tris kasar. "Aku bahkan tidak tahu kantormu di mana. Abang benar-benar sudah gila karena membelamu, sampai-sampai dia menuduh adiknya sendiri!"
Tusi mendorong bahu Nana. "Kau memang pembawa sial bagi keluarga kami! Pergi saja kau dari kehidupan Aska sebelum kau menghancurkan hubungan kami lebih jauh lagi!"
Nana terdiam di tengah makian Tusi. Ia menyadari satu hal: Aska ternyata mencurigai adiknya sendiri. Di tengah amarahnya soal kecerobohan Nana, Aska tetap memiliki insting yang tajam.
"Ibu benar," ujar Nana pelan, membuat Tusi terhenti. "Aku mungkin ceroboh semalam. Tapi aku tidak akan membiarkan pencuri yang sebenarnya bersembunyi di balik nama keluarga."
Nana menutup pintu apartemennya dengan keras, meninggalkan Tusi dan Tris yang berteriak-teriak di luar. Ia mengambil ponselnya, mencari satu nama yang mungkin bisa membantunya: Gani.
"Gani," ujar Nana saat telepon diangkat. "Aku butuh kau memeriksa log pengiriman barang di lift belakang Stellar semalam. Aku yakin Tris masuk lewat sana."
Bersambung....