NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: JURUS KEDUA

Seminggu telah berlalu sejak ritual Hati Naga.

Lembah tersembunyi itu kini terasa seperti rumah. Setiap pagi, Ha-neul bangun sebelum matahari terbit, duduk bersila di tepi danau, bermeditasi merasakan aliran Qi di tubuhnya. Rasanya berbeda sekarang—seperti sungai yang semula kering kerontang kini dipenuhi air jernih yang mengalir deras. Setiap meridian terasa hidup, berdenyut dengan energi yang selama ini terpendam.

Soo-ah juga sibuk dengan dunianya sendiri. Ia menemukan kebun kecil di belakang paviliun—tanaman-tanaman langka yang dulu ditanam Baek Ah-jin, murid pertama Hyeol-geon. Dengan bimbingan arwah tua itu, Soo-ah belajar merawat dan memanfaatkan tanaman-tanaman itu untuk ramuan. Setiap sore, ia sibuk di dapur paviliun, merebus, menumbuk, dan mencampur ramuan-ramuan percobaan.

Hari ini, Hyeol-geon memutuskan sudah waktunya Ha-neul mempelajari jurus kedua.

"Kau sudah menguasai Bayangan Meridian dengan baik," kata Hyeol-geon pagi itu. Mereka berdiri di tepi danau, kabut tipis masih menyelimuti permukaan air. "Tapi jurus itu hanya untuk pertarungan jarak dekat. Lawan yang lebih kuat akan menjaga jarak dan menyerang dari jauh."

Ha-neul mengangguk. Ia sudah memikirkan hal itu. Selama ini ia hanya bisa menyerang jika sudah dekat dengan lawan. Jika menghadapi pemanah atau pengguna energi jarak jauh, ia akan kesulitan.

"Jurus kedua bernama Bayangan Seribu Pedang."

"Seribu pedang?"

"Bukan pedang sungguhan, tentu saja. Tapi proyeksi energi yang berbentuk pedang. Dengan jurus ini, kau bisa menyerang dari jarak jauh, bahkan mengenai banyak lawan sekaligus."

Ha-neul membayangkan dirinya mengeluarkan puluhan pedang energi dari tubuhnya. Keren, tapi juga sulit dibayangkan.

"Tapi untuk bisa melakukannya, kau harus bisa mengendalikan Qi di luar tubuh. Itu level yang lebih tinggi dari sekadar mengalirkan di dalam tubuh."

"Bagaimana caranya?"

"Pertama, kau harus bisa mengeluarkan Qi dari ujung jari. Coba."

Ha-neul mengangkat tangan kanannya, fokus. Ia merasakan energi di dalam tubuhnya, mengalirkannya ke lengan, ke pergelangan, ke telapak, ke ujung jari. Lalu ia mendorong.

Tidak terjadi apa-apa.

"Lagi."

Ha-neul mencoba lagi. Masih tidak ada.

"Lagi."

Satu jam kemudian, Ha-neul masih duduk di tepi danau dengan tangan terulur, jari-jari kesemutan karena terlalu lama berkonsentrasi. Belum ada tanda-tanda Qi keluar dari ujung jarinya.

"Istirahat," perintah Hyeol-geon. "Kau memaksa terlalu keras."

Ha-neul menghela napas, menjatuhkan tangan. "Kenapa susah sekali?"

"Karena selama ini kau hanya menggunakan Qi di dalam tubuh. Mengeluarkannya ke luar butuh kontrol yang berbeda. Bayangkan seperti... kau biasa memegang air di dalam mangkuk. Sekarang kau harus menuangkannya ke luar tanpa tumpah."

Ha-neul mengangguk paham. Ia butuh latihan, bukan memaksa.

---

Sore harinya, saat Ha-neul sedang istirahat di paviliun, Soo-ah datang dengan secangkir ramuan hangat.

"Ini, Oppa. Ramuan buatan Soo-ah. Katanya bisa menguatkan saraf."

Ha-neul menerima cangkir itu, mencium aromanya. Wangi herbal yang khas. Ia mencoba seteguk—rasanya pahit tapi hangat di tenggorokan.

"Enak?"

"Pahit," jawab Ha-neul jujur.

Soo-ah cemberut. "Yang penting khasiatnya, Oppa."

Ha-neul tertawa, meneguk habis ramuan itu. "Iya, iya. Makasih, Soo-ah."

Adiknya duduk di sampingnya. "Oppa, tadi Soo-ah lihat Oppa latihan. Susah ya?"

"Iya. Guru bilang butuh waktu."

"Oppa pasti bisa." Soo-ah tersenyum yakin. "Oppa kan hebat."

Ha-neul tersenyum. Dukungan adiknya selalu menjadi penyemangat terbesar.

Malam harinya, Ha-neul duduk di tepi danau sendirian. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan air yang tenang. Ia kembali mencoba latihan, kali dengan cara berbeda.

Alih-alih memaksa Qi keluar, ia mencoba merasakannya lebih dulu. Ia memejamkan mata, membayangkan Qi sebagai air di dalam tubuhnya. Lalu perlahan, ia membayangkan air itu mengalir ke ujung jari, dan membentuk tetesan di ujung sana.

Ia membuka mata.

Di ujung jari telunjuknya, samar-samar, ada titik cahaya kecil. Hanya sebesar biji wijen, hampir tidak terlihat. Tapi itu ada.

Ha-neul tersenyum lebar.

"Bagus." Hyeol-geon muncul di sampingnya, tersenyum bangga. "Kau mulai mengerti."

"Masih kecil, Guru."

"Tapi itu awal. Besok kau latihan memperbesar. Lusa memperbanyak. Seminggu lagi mungkin kau bisa membentuk satu pedang kecil."

Ha-neul mengangguk. Ia tahu perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, langkah pertama sudah diambil.

---

Dua minggu kemudian, Ha-neul berhasil.

Ia berdiri di tepi danau, tangan kanan terulur. Di depannya, melayang tiga buah pedang energi—masing-masing sepanjang lengan, berkilauan merah samar di bawah sinar matahari. Tidak besar, tidak sempurna, tapi itu nyata.

"Ayo!" teriaknya.

Ketiga pedang itu melesat, menghunjam batang pohon besar di seberang danau. BRAAK! Pohon itu terguncang, kulitnya terkelupas di tiga titik.

Soo-ah bertepuk tangan dari pinggir. "Hebat, Oppa!"

Ha-neul tersenyum puas. Tapi ia merasakan kelelahan luar biasa—hanya tiga pedang sudah menguras setengah energinya.

"Untuk pemula, itu sudah luar biasa," puji Hyeol-geon. "Dulu Ah-jin butuh sebulan untuk bisa satu pedang."

Ha-neul tersenyum bangga. Tapi ia juga sadar, ini baru awal. Ia harus bisa lebih banyak, lebih kuat, lebih cepat.

"Guru, berapa lama sampai aku bisa mengeluarkan seratus pedang?"

Hyeol-geon tertawa. "Seratus? Itu level dewa, Ha-neul. Tapi mungkin suatu hari nanti, jika kau terus berlatih."

Ha-neul memandangi danau, membayangkan dirinya suatu saat bisa mengeluarkan ratusan pedang, menghancurkan musuh-musuhnya dari kejauhan. Itu mimpi yang jauh. Tapi bukankah semua mimpi butuh waktu?

Malam harinya, saat makan malam, Soo-ah bertanya, "Oppa, kalau Oppa sudah kuat nanti, Oppa mau balas dendam ke klan?"

Ha-neul berhenti makan. Pertanyaan itu kembali. Ia merenung sejenak.

"Aku tidak tahu, Soo-ah. Bagian dari diriku ingin membuat mereka membayar. Tapi bagian lain..." Ia menatap adiknya. "Aku hanya ingin hidup tenang. Bersamamu."

Soo-ah tersenyum. "Soo-ah juga pengin hidup tenang. Tapi Soo-ah juga pengin mereka tahu, Oppa bukan sampah."

Ha-neul tertawa kecil. "Mereka mungkin sudah tahu. Dae-ho sudah lihat sendiri."

"Iya, tapi yang lain belum. Mereka masih ingat Oppa yang dulu."

Ha-neul diam. Mungkin adiknya benar. Tapi untuk saat ini, yang terpenting adalah menjadi kuat. Kekuatan akan memberi mereka pilihan. Dengan kekuatan, mereka bisa memutuskan—mau membalas dendam atau melupakan.

Malam itu, Ha-neul berlatih lagi sampai larut. Ia ingin segera menguasai Bayangan Seribu Pedang. Bukan karena dendam, tapi karena ia ingin bisa melindungi satu-satunya orang yang berarti di hidupnya.

Di tepi danau, di bawah sinar bintang, seorang pemuda berlatih dengan tekad baja. Dan di sampingnya, seorang arwah tua tersenyum bangga, menyaksikan muridnya tumbuh.

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!