NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Kultivator Lain

Karena kemarin dia tidak berkultivasi sedikitpun, Leon memutuskan untuk lanjut melelahkan tubuhnya setelah selesai berlari. Leon melakukan pull up, push up, sit up, dan jenis pelatihan lain.

Berkultivasi tidak hanya menempa bagian dalam tubuh, melainkan juga bagian luarnya. Keduanya juga saling berkorelasi. Men sana in corpore sano, men sano in corpore sana. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Dan dengan pikiran yang sehat, terdapat tubuh yang kuat.

Dering..... Dering..... Dering.....

Alarm ponselnya berbunyi memperingatkan Leon waktu kelas adiknya berakhir. Karena tidak ingin terlalu banyak berkeringat ketika bertemu adiknya, dia memutuskan untuk istirahat.

"Kakak!"

Tidak lama, adiknya dan juga Elisa datang ke lapangan olahraga.

"Halo kalian berdua."

"Halo kak Leon."

"Kamu bau keringat kak!"

"Aku sudah menggunakan deodorant!"

Leon memukul kepala Wilona dengan ringan.

"Waaah, bukankah tubuh kakakku terlihat kekar, Elisa?"

"Y-ya..."

Wilona tertawa melihat sahabatnya memerah.

"Jangan menggoda Elisa."

Leon mengetuk kepala Wilona lagi sebelum melanjutkan.

"Aku kehabisan air. Ayo ke kantin itu dulu."

Sementara Leon hanya membeli air mineral, Wilona memesan dua gelas jus dan memberikan Elisa satu. Wilona tahu Elisa enggan menerima traktiran Leon terus menerus. Karena itu, Wilona hanya perlu pura-pura tidak memperhatikan dan membuatnya sedikit terbiasa dengan traktiran kakaknya.

"Ini adalah markas-markas unit, klub, dan perkumpulan mahasiswa lainnya kak."

Setelah melewati terowongan dan menaiki tangga, Wilona menjelaskan sekeliling kepada Leon. Ada klub pecinta alam, klub budaya, komunitas agama, dan masih banyak yang lain.

Tidak jauh di depan, seorang gadis seusia adiknya melambai ke arah mereka.

"Wilona, Elisa, itu kakak kalian?"

"Pacar Elisa sekaligus kakakku."

Wilona menyombongkan dengan bangga.

"Tidak... Apa yang kamu katakan Wilona!"

"Woaaah, pantas saja Elisa selalu mengabaikan semua orang itu..."

"Apa kalian masih melakukannya?"

"Iya. Apa kakak tampan mau mencoba?"

"Tentang apa ini?"

Leon tidak dapat mengikuti percakapan mereka.

"Kami mengadakan adu panco berhadiah...."

Beberapa hari yang lalu, anak pemilik warung yang berada di tangga yang baru saja dilalui Leon jatuh ketika bermain di tangga dan mengalami patah tulang. Karena itu, perkumpulan mahasiswa yang bermarkas di sini memutuskan untuk sedikit membantu ibu warung tersebut dengan melakukan permainan adu panco.

"Untuk mencobanya, kakak tampan harus membeli sebuah snack dari warung itu dan menyerahkannya kepada kami sebagai biaya pendaftaran. Bebas yang mana saja. Setiap kali kakak tampan berhasil mengalahkan tiga orang kami, kakak tampan bisa memilih sepuluh snack yang telah kami kumpulkan."

Hmm.... Setidaknya ini bukanlah sebuah taruhan. Terlebih lagi, niat mereka adalah membantu ibu warung tersebut agar orang-orang membeli barang dagangannya!

"Ayo coba kak! Aku dan Elisa mau bang-bang itu."

"Benarkah Elisa?"

"Kalau kak Leon yang memberinya...."

Suara Elisa mulai mengecil, dan wajahnya juga memerah. Para pria yang melihatnya bersumpah tidak akan membiarkan Leon memenangkan adu panco.

"Karena Elisa yang meminta, maka aku harus memenangkannya. Tunggu sebentar, aku akan membeli snack dari warung itu dulu."

Lawan yang akan dihadapi Leon adalah para pria dari perkumpulan mahasiswa yang bermarkas di area itu. Mereka juga dilarang untuk ikut berkompetisi, karena mereka sendirilah yang membuat perlombaan ini.

"Aku duluan! Aku tidak akan membiarkan orang ini memberikan hadiah kepada para gadis!"

"Tenang kawan. Kamu dari komunitas mahasiswa Buddha."

"Iya, tapi aku bukan biksu!"

Suasana menjadi tawa melihat orang itu dan teman di sebelahnya membuat lelucon. Karena lawan pertama muncul, Leon langsung menyiapkan tangan di atas meja.

"Tidak ada pegangan. Tangan kiri harus berada di punggung."

Ini bukanlah turnamen resmi. Jadi peraturan dibuat secara bebas, asal masih terlihat seperti adu panco pada umumnya.

"Bersedia.... Siap.... Mulai!"

Walaupun Leon baru saja berolahraga berat selama lebih dari tiga jam, perlawanan yang dirasakan tangan kanannya sangat ringan. Secara perlahan, Leon menekan tangan lawan agar tidak terlihat dimenangkan dengan mudah.

"Lawan pertama KO. Ayo kawan-kawan, apa kalian berniat membiarkan pemuda tampan ini meluluhkan hati sang putri?"

"""Tidak mungkin!"""

"Aku selanjutnya."

Sama seperti lawan pertama, Leon menekan tangan lawan secara perlahan. Ditambah, dia juga menunjukkan ekspresi wajah yang kesulitan agar tidak terlihat menang dengan sangat mudah.

"Lawan kedua KO. Apakah mungkin sang pangeran akan memberikan perhiasan pertamanya kepada sang putri?"

"""Putri milik semua orang!"""

Wilona tertawa geli melihat Elisa yang menutup wajah dengan kedua tangan.

Lawan ketiga adalah pria yang berbicara dengan lawan kedua sebelumnya. Pria ini terlihat sedikit lebih kuat dibandingkan lawan pertama dan kedua.

"Bersedia.... Siap.... Mulai!"

Namun hanya itu saja. Leon dengan mudah mengalahkan pria tersebut.

"Lawan ketiga KO... Kalian sekumpulan pria lemah! Kini sang pangeran telah berhasil mengamankan perhiasan pertama bagi sang putri. Apakah pangeran tampan itu juga akan membagikannya sedikit kepada pelayan yang sudah kehabisan suara?"

Leon terkekeh mendengar gadis itu. Setelah memilih sepuluh snack, Leon membagikannya kepada Wilona, Elisa, dan gadis itu.

"Sungguh pangeran yang bijaksana. Gadis-gadis dari seluruh penjuru negeri, ayo kita dukung sang pangeran menjadi raja!"

Kemenangan hadiah pertama masih belum menarik minat bagi orang lain. Lawan Leon sejauh ini hanyalah para pria yang berasal dari perkumpulan yang sedang bertugas menjaga stan.

Namun setelah Leon mengalahkan lawan ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan berhasil mengamankan sepuluh snack untuk yang ketiga kalinya, semua komunitas di area tersebut mulai memperhatikan.

"Aku cinta padamu pangeran."

"Semangat pangeran. Berikan kami lebih banyak makanan!"

Sementara para gadis yang berkumpul ikut menikmati makanan ringan hasil kemenangan Leon. Semua pria merasa seolah menelan pasir tajam.

Lawan ke 17.

Lawan ke 18.

Lawan ke 19.

"Lawan ke 20 K...Ooo.... Satu lagi sampai kami memperoleh berkah lain sang pangeran!"

"Aku selanjutnya."

"Kamu yakin?"

"Tidak masalah kalah. Setidaknya aku akan melelahkan otot lengan atasnya."

Sementara gadis pembawa acara sudah memiliki mic dan speaker, semakin banyak orang yang berkerumun.

Ketika Leon mengalahkan lawan ke 30, para pria bahkan mulai menghubungi orang-orang terkuat anggota perkumpulan mahasiswa mereka.

Lawan ke 40

"Meskipun tidak ada pencatatan rekor sebelumnya, ini adalah rekor terbaru kita. Ayo para gadis, teruskan dukungan kita kepada sang pangeran."

"Pangeran, aku cinta padamu..."

"Semangat pangeranku."

"Kalahkan semua kodok itu!"

"Maaf teman-teman, aku akan berhenti setelah memenangkan 60 pertandingan."

"Kamu dengar para prajurit, masih ada 20 kesempatan bagimu untuk menjatuhkan sang raja dan memperoleh cinta semua gadis di kota ini!"

Para pria sudah tidak lagi bersemangat mendengar penyemangat palsu dari gadis yang tengah menikmati snack di mulutnya.

Pria ke 53 adalah seorang pria berotot kekar dengan tinggi hampir dua meter.

"Ayo Julio. Kalahkan orang ini..."

Namun pria itu tetap kalah.

Setelah Leon mengalahkan orang ke 57, seorang pria berbadan tinggi dan besar muncul. Berbeda dengan pria ke 53 yang berotot kekar, pria ini memiliki perut buncit. Namun lengan atasnya tidak memperlihatkan kelenturan lemak sedikitpun, melainkan sebuah daging berotot yang sangat kuat. Pria ini dikatakan merupakan pemain adu panco terkuat yang merupakan anggota komunitas di areal tersebut.

Perbedaan ukuran lengan antara Leon dan pria tersebut sangat terlihat. Namun dengan mudah, Leon mengalahkan anggota terkuat mereka.

Karena tidak ada lagi yang diyakini lebih kuat, lawan selanjutnya hanya orang acak untuk memenuhi kapasitas sesuai jumlah yang disebutkan Leon, yaitu 60 orang.

"Lalu siapakah prajurit yang bersedia menjadi lawan terakhir sang raja?"

"Kalau begitu aku saja. Prajurit pertama yang gugur di medan pertemuan kini telah bangkit sebagai ksatria tengkorak."

Yang berbicara adalah pria lucu yang pertama kali dikalahkan oleh Leon. Seorang pria dari komunitas mahasiswa Buddha.

"Bersedia.... Siap.... Mulai!"

Leon menatap lurus ke depan ketika tangannya terdorong mundur. Bahkan setelah mengerahkan seluruh tenaga, dia tidak dapat menekan tangan lawan.

Baru kali ini kerumunan melihat lawan Leon berhasil menekan tangannya ke sisi lain. Namun ketika sudut sudah mencapai 45 derajat, Leon mengerahkan mana ke tangan kanannya.

Krak!!!

Untungnya hanya Leon dan pria dihadapannya yang menyadari bunyi retakan di meja. Setelah Leon mengerahkan mana, meski ada sedikit perlawanan, akhirnya Leon memenangkan pertandingan terakhir.

"Lihat itu. Bekas siku pria itu sedikit tertanam."

"Mungkin mejanya sudah lapuk? Dia sudah mengalahkan 60 orang dan membuat bekas siku yang tertanam di meja lapuk tersebut."

Leon dan pria tersebut berdiri. Ketika Leon menatap pria tersebut secara langsung, pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangan.

"Ternyata aku benar-benar kalah. Kamu sungguh hebat. Perkenalkan, namaku Frank."

"Namaku Leon."

"Tolong jaga aku ketika kita bertemu lagi di luar sana."

"Oke."

Sebenarnya, Leon sangat gugup dan bingung. Karena itu, dia membalas perkataan Frank dengan ucapan singkat.

Ya. Dia merasakannya tadi. Orang ini dapat mengedarkan mana!

Berdasarkan apa yang Leon rasakan, Frank berada pada tahap kedua pemurnian qi!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!