Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Sementara itu, di kampus. Shelina baru saja keluar dari ruangannya. Selesai rapat jam 20.00 malam, namun dia harus memeriksa beberapa laporan siswa semester akhir di laptopnya hingga selesai jam 21.00.
Langit sudah benar-benar gelap ketika Shelina melangkah cepat menyusuri koridor fakultas. Lampu-lampu kampus menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Suasana sunyi, hanya suara langkah heels-nya yang terdengar bergaung.
Begitu sampai di parkiran, napasnya tertahan.
Ban mobilnya kembali kempes, Shelina mengembuskan napas kesal.
“Lagi?” gumamnya pelan.
Ia menunduk memeriksa. Bukan sekadar kempes biasa dan ini jelas disengaja. Hatinya mulai tidak enak. Refleks ia meraih ponselnya, berniat menghubungi Kaisar. Namun, ponsel hanya menampilkan layar hitam.
Angin malam berembus pelan, membuat rambut panjangnya sedikit berantakan. Ia berdiri tegak, berusaha tenang.
Tiba-tiba terdengar suara langkah.
Shelina menoleh cepat.
Beberapa meter darinya, Riko bersandar di kap mobil hitam dengan tangan terlipat di dada. Dua anggota Meteor berdiri tak jauh di belakangnya.
“Lembur, Miss?” tanya Riko santai, senyumnya tipis tapi penuh maksud.
Tatapan Shelina tajam.
“Kalau memang kalian yang melakukan ini, cepat akui. Saya tidak punya waktu untuk permainan anak kecil.”
Riko mendorong tubuhnya dari kap mobil dan melangkah mendekat. Setiap langkahnya mantap, membuat jarak di antara mereka semakin tipis.
“Anak kecil?” Riko terkekeh.
“Miss yang datang ke kelas kami, mengamuk, mempermalukan kami di depan satu fakultas.”
Shelina tidak mundur, dia justru berdiri lebih tegak, dagunya terangkat.
“Saya dosen kalian. Kalau kalian tidak bisa bersikap seperti mahasiswa, saya akan perlakukan kalian sesuai.”
Riko berhenti tepat satu langkah di depannya. Angin malam membawa aroma parfum maskulin yang samar dari tubuh Riko. Shelina bisa merasakan hawa panas tatapan pria itu, menelusuri wajahnya tanpa malu.
“Berani sekali, ya, Miss,” ucap Riko pelan, nadanya lebih rendah.
“Sendirian malam-malam begini.”
Shelina menatap lurus ke mata Riko. Ada getar halus di dadanya, bukan karena takut, melainkan karena situasi yang terasa menekan.
“Kalau kamu pikir saya akan takut, kamu salah besar.”
Riko tersenyum miring, tangannya terangkat, seolah hendak menyentuh rambut Shelina yang tertiup angin, tetapi sebelum menyentuh,
“Aku sarankan kalian berhenti!” Suara itu tegas dan dingin, Riko menoleh, Kaisar berdiri beberapa meter di belakang mereka, rahangnya mengeras, matanya menyala penuh amarah.
Dia datang dengan langkah cepat, jaketnya masih terbuka, napasnya sedikit terengah seolah ia berlari sejak masuk gerbang kampus. Tatapan Kaisar beralih pada ban mobil yang kempes, lalu pada Riko.
“Masih belum kapok?” suara Kaisar berat.
Riko tertawa kecil.
“Wah … mantan ketua Kobra muncul juga.”
Shelina menoleh pada suaminya. Ada rasa hangat yang langsung merambat di dadanya melihat Kaisar datang. Emosi tegang tadi perlahan mencair, digantikan rasa aman yang begitu nyata.
Kaisar berdiri di depan Shelina, sedikit menghalangi tubuh istrinya dari Riko. Gerakan protektif yang spontan.
“Masalahmu denganku,” kata Kaisar pelan tapi tajam.
“Jangan pernah sentuh dia.”
Riko mendekat satu langkah. “Lo nggak usah sok suci! Lo dan kita ini sama-sama bangsat!"
Kaisar menoleh sekilas pada Shelina. Mata mereka bertemu.
Tatapan itu berbeda dari tadi pagi dan lebih dalam, lebih possessive, penuh rasa memiliki yang tak bisa disembunyikan.
“Karena dia istriku.”
Kalimat itu meluncur tegas, tanpa ragu.
Shelina menahan napas, jantungnya berdegup lebih cepat mendengar pengakuan itu di depan musuh Kaisar.
Riko terdiam sesaat, rahangnya menegang. Suasana parkiran menjadi semakin panas.
“Lo serius?" gelak tawa Riko menggema.
"Lo tahu kan, resiko menikah sama dosen?" tanya Riko menantang.
"Aku nggak peduli! Pergi atau kalian nggak bisa pergi sama sekali," kata Kaisar, lalu beberapa saat berlalu terdengar suara geng motor kobra memasuki area kampus.
Riko memberi isyarat pada anak buahnya dan mereka pergi meninggalkan area parkiran.
Begitu mereka menjauh, Kaisar berbalik menghadap Shelina. Tangannya langsung meraih pinggang wanita itu, menariknya mendekat tanpa sadar.
“Kamu kenapa sendirian? Kenapa nggak angkat telepon?” suaranya terdengar kesal tapi penuh kekhawatiran.
Shelina menatapnya lembut. “Ponselnya mati … dan aku nggak tahu mereka bakal sejauh ini.”
Kaisar menghela napas panjang, lalu tanpa bisa menahan diri, ia memeluk Shelina erat. Tubuh mereka saling menempel, hangat di tengah udara malam yang dingin.
Shelina bisa merasakan detak jantung Kaisar yang cepat di dadanya. Tangannya perlahan naik mencengkeram bagian belakang jaket suaminya.
“Aku nggak mau kamu dalam bahaya,” bisik Kaisar di dekat telinganya. Suaranya rendah, membuat bulu kuduk Shelina meremang halus.
“Aku baik-baik saja … karena kamu datang,” jawabnya pelan.
Tatapan Kaisar turun pada bibir Shelina. Ada ketegangan halus di udara. Bukan karena marah lagi, tapi karena campuran cemburu, rasa memiliki, dan kekhawatiran yang berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Ia mengusap pelan pipi Shelina dengan ibu jarinya.
“Jangan pernah buat aku cemas seperti ini lagi.”
Shelina tersenyum tipis. “Kalau kamu terus datang tepat waktu seperti tadi … mungkin aku nggak keberatan.”
Beberapa anggota geng kobra menatap mereka dengan tatapan terkejut.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa kaisar..."
"Dan Miss Shelina berpelukan?"
Mereka bertiga nampak bingung dan Kaisar belum menyadari itu.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.