NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anomali Lantai 88

Udara di lantai 88 gedung Athe gard terasa seolah-olah telah melewati ribuan filter perak dingin, steril, dan benar-benar hampa dari bau kehidupan. Di sini, di puncak pencakar langit yang membelah awan Singapura, waktu seakan berhenti berputar secara alami dan beralih menjadi detak digital yang kaku.

Adam Satria duduk terpaku di depan enam monitor melengkung yang memancarkan cahaya biru pucat, membungkus wajah tirusnya dalam aura yang tampak hampir seperti hantu. Di luar jendela kaca yang membentang luas, kota nampak seperti sirkuit raksasa miliaran nyawa di bawah sana hanyalah titik-titik data yang bergerak sesuai algoritma transportasi yang Adam ikut kembangkan.

Bagi dunia luar, Adam adalah seorang Prediksi Architect jenius. Namun, di dalam batinnya sendiri, dia merasa tak lebih dari seorang juru tulis di era modern, yang mencatat takdir sebelum takdir itu sendiri terjadi.

Jemarinya yang panjang dan pucat mulai menari di atas keyboard mekanis. Suara ketukannya, klik-klik-klik, adalah satu-satunya irama yang memecah keheningan ruangan seluas lapangan basket itu. Adam sedang memantau arus data dari The Great Eye, sistem kecerdasan buatan paling mutakhir milik konsorsium elit global yang dikenal dengan nama The Hage mon. Sistem ini tidak hanya memantau apa yang dilakukan manusia, tetapi juga memprediksi apa yang akan mereka pikirkan esok hari.

"Sistem tidak pernah batuk, Adam," suara bariton yang berat dan tenang tiba-tiba muncul dari speaker tersembunyi. Itu adalah Silas, wajah dari suara yang selama lima tahun ini menjadi satu-satunya 'atasan' yang Adam kenal. Silas tidak pernah muncul secara fisik, namun kehadirannya terasa di setiap sudut ruangan melalui kamera-kamera mikroskopis yang tertanam di dinding.

Adam tidak berhenti mengetik. "Bukan batuk, Silas. Ini adalah anomali frekuensi yang belum pernah tercatat dalam sejarah database kita. Sesuatu di dasar Laut Andaman sedang mengirimkan sinyal balik ke konstelasi satelit Star-Link. Masalahnya, sinyal ini tidak menggunakan protokol enkripsi kita. Ini bukan gangguan teknis, ini adalah gangguan pada realitas."

"Jelaskan dengan bahasa manusia, bukan bahasa mesin," Silas menimpali, nadanya sedikit lebih tajam.

Adam menarik napas panjang. Paru-parunya terasa pedih menghirup udara yang terlalu bersih. "Jika data ini dikonversi menjadi audio, ia tidak terdengar seperti kode komputer. Ia terdengar seperti detak jantung. Namun, frekuensinya sangat rendah, sekitar 0.1 Hertz. Getarannya cukup kuat untuk menggerakkan lempeng tektonik, namun cukup halus untuk tidak terdeteksi oleh seismograf konvensional. Seseorang, atau sesuatu, sedang mencoba berkomunikasi dengan satelit kita dari tempat yang seharusnya tidak dihuni oleh siapapun."

Monitor di tengah tiba-tiba berkedip. Grafik garis biru yang biasanya meluncur mulus kini melonjak tajam, berubah menjadi warna merah darah yang mengerikan. Sebuah koordinat muncul, berkedip-kedip seolah sedang memanggil: 10.1245° N, 93.4567° E.

"Itu Palung Andaman," gumam Adam. Tangannya sedikit gemetar. "Zona terlarang yang mereka klaim sebagai wilayah vulkanik aktif. Tapi lihat ini, Silas..."

Adam memperbesar citra satelit termal. Di sana, di kedalaman ribuan meter di bawah permukaan laut yang gelap, nampak sebuah struktur yang mustahil. Itu bukan gunung berapi. Itu adalah sebuah pola geometri sempurna sebuah lingkaran di dalam segitiga raksasa yang memancarkan panas dengan irama yang konsisten. Irama itu sama dengan detak jantung yang baru saja ia temukan.

"Sistem baru saja mengeluarkan prediksi otomatis untuk lima jam ke depan berdasarkan aktivitas di palung itu," suara Adam kini hampir menghilang, tertelan oleh rasa ngeri yang merayap di punggungnya.

"Apa hasilnya?" Silas bertanya, kali ini suaranya terdengar lebih waspada.

"Kematian massal di sepanjang pesisir Asia Tenggara. Namun, metodenya tidak teridentifikasi sebagai tsunami atau gempa. Sistem melabelinya sebagai 'Consciousness Withdrawal' penarikan kesadaran paksa. Silas, ini gila. Ini seperti seseorang di bawah laut sana memiliki sakelar untuk mematikan nyawa manusia seperti kita mematikan lampu."

Hening yang panjang menyusul. Di lantai 88 itu, keheningan terasa seperti beban berton-ton yang menindih bahu Adam. Dia mulai menyadari sesuatu. Selama ini dia bekerja untuk orang-orang yang mengklaim ingin menyelamatkan dunia dari kekacauan melalui kontrol data. Namun, melihat apa yang ada di layar sekarang, dia sadar bahwa mereka bukan sedang mencegah bencana. Mereka sedang menjadwalkannya.

Adam teringat pada ayahnya, seorang guru mengaji di pesisir Jawa yang selalu mengingatkan tentang hakikat kehidupan. "Adam," suara ayahnya terngiang di kepalanya, "dunia ini adalah persinggahan yang sangat singkat. Jangan pernah kau gadaikan napasmu pada mereka yang merasa bisa mengatur matahari, karena pada akhirnya, setiap jiwa akan ditarik kembali ke haribaan Sang Pencipta, bukan ke tangan manusia."

Dahulu, Adam menganggap itu hanyalah nasihat kuno yang tidak relevan dengan dunia algoritma. Namun sekarang, saat dia melihat barisan kode yang mencoba mensimulasikan kematian manusia, Adam merasakan sebuah kerinduan yang mendalam akan sesuatu yang murni. Sesuatu yang tidak bisa dihitung.

Tiba-tiba, monitor Adam mati satu per satu. Kegelapan menyergap. Hanya monitor pusat yang tersisa, namun isinya bukan lagi grafik merah. Sebuah kalimat dalam bahasa Latin muncul, berkedip perlahan dengan warna kuning keemasan yang aneh.

"MORTAL EST FINIS, SED VERITAS SEMPI TERNA."

"Kematian adalah akhir, tapi kebenaran itu kekal," Adam menerjemahkannya dengan suara parau.

"Kau terlalu banyak tahu, Adam," suara Silas kini terdengar berbeda. Bukan lagi melalui speaker, tapi terdengar seolah-olah berasal dari seluruh dinding ruangan itu. "Kesetiaanmu pada angka seharusnya melampaui rasa takutmu pada hal-hal yang tidak logis. Hage mon tidak butuh filsuf. Kami butuh arsitek yang patuh."

Tiba-tiba, suara kunci pintu otomatis berdenting. Klik. Pintu keluar ruangan itu terkunci dari luar. Adam menatap kamera di sudut ruangan. Dia sadar, tempat ini telah berubah dari kantor elit menjadi peti mati digitalnya.

Dia bangkit dari kursi, mendekati jendela kaca raksasa. Dia menatap ke arah laut lepas yang jauh di sana. Di ufuk timur, langit malam yang hitam nampak sedikit terkelupas. Sebuah cahaya ungu gelap, samar namun mengancam, muncul dari balik awan. Itu bukan aurora, bukan pula pantulan cahaya kota. Itu adalah tanda bahwa mesin di dasar laut telah dinyalakan.

Adam tahu, dia harus lari. Namun lari ke mana? Di dunia yang sudah dipetakan oleh satelit, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Kecuali, tempat itu adalah tempat yang selama ini mereka abaikan karena dianggap tidak berharga: jalan-jalan kotor di bawah gedung ini, di antara manusia-manusia yang masih memiliki doa dalam hati mereka.

Dia mengambil tas ransel hitamnya, mengeluarkan sebuah perangkat keras kecil yang selama ini dia sembunyikan sebuah kunci bypass yang dia rakit secara rahasia. Dengan tangan gemetar, dia memasukkannya ke panel kendali pintu.

"Kalian boleh menguasai dunia melalui layar ini," gumam Adam, matanya berkilat penuh tekad. "Tapi kalian lupa bahwa ada takdir yang tidak pernah kalian tuliskan di dalam database kalian."

Detik berikutnya, seluruh aliran listrik di lantai 88 mati total. Dalam kegelapan itu, Adam bukan lagi seorang arsitek. Dia adalah seorang buronan yang membawa sepotong rahasia tentang kiamat yang direncanakan.

Kegelapan di lantai 88 terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu ikut tersedot keluar bersama matinya aliran listrik. Adam bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri cepat, tidak beraturan, kontras dengan kesunyian mesin yang biasanya berdengung di sana. Di tengah kegelapan, hanya ada satu yang menyala: layar smartphone miliknya yang ia bungkus dengan lapisan timah tipis agar sinyal GPS-nya tidak tertangkap oleh satelit Hage mon. Ia tahu, Silas dan sistem pengawasnya tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Bagi mereka, Adam bukan sekadar karyawan; ia adalah aset sekaligus ancaman hidup yang membawa "kunci" rahasia di dalam ingatannya.

"Kau pikir kegelapan akan menyembunyikanmu, Adam?" Suara Silas kembali terdengar, kali ini melalui sistem pengeras suara darurat yang bertenaga baterai cadangan. Suaranya terdengar pecah dan statis, menambah kesan horor di ruangan luas itu. "Kau tidak bisa lari dari matamu sendiri. Di mana pun kau berada, algoritma kami akan menemukan polamu. Kau adalah data, dan data selalu bisa dilacak."

Adam tidak menjawab. Ia merangkak di bawah meja kerja, mencari lubang ventilasi manual yang pernah ia temukan saat renovasi sistem pendingin dua tahun lalu. Ia tahu lift sudah mati dan tangga darurat pasti dijaga oleh robot keamanan otonom yang diprogram untuk melumpuhkan siapa pun tanpa identitas digital yang valid.

Dengan sekuat tenaga, Adam menendang penutup ventilasi besi itu. Brak! Suaranya menggema di seluruh lantai yang kosong. Ia merayap masuk ke dalam lorong sempit yang berbau logam dan debu kering. Di dalam sana, ia merasa seperti tikus yang berlari di dalam labirin raksasa milik para raksasa teknologi.

Sambil merayap, pikiran Adam kembali melayang pada koordinat di Palung Andaman tadi. Ia bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang mereka hubungi di bawah sana? Apakah itu benar-benar teknologi manusia, ataukah mereka telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur? Ia teringat desas-desus di antara para senior di ethe gard tentang proyek "Nuh Baru" sebuah upaya elit untuk menyaring populasi bumi melalui krisis yang dibuat-buat, menyisakan hanya mereka yang memiliki "skor sosial" tinggi untuk menempati kota-kota bawah tanah atau koloni di laut dalam.

"Ya Tuhan," bisik Adam dalam hati, sebuah doa yang sudah lama tidak ia ucapkan secara lisan. "Jika ini adalah awal dari apa yang mereka rencanakan, jangan biarkan hamba-Mu ini menjadi bagian dari kehancuran ini."

Ia sampai di sebuah persimpangan lorong. Di bawahnya, melalui celah kisi-kisi, ia melihat lampu-lampu merah menyala berputar di koridor lantai 87. Pasukan keamanan Drone mesin terbang kecil bersenjata laser sedang menyisir setiap jengkal ruangan. Cahaya lasernya menyapu dinding seperti mata predator yang lapar.

Adam menahan napas. Ia teringat apa yang kamu katakan tentang "elit global" dan "rahasia laut". Mereka tidak hanya memiliki uang; mereka memiliki kendali atas realitas. Mereka bisa menghapus identitas seseorang dalam hitungan detik. Jika Adam tertangkap, besok dunia akan mengenalnya sebagai seorang teroris atau orang gila yang melakukan bunuh diri dari lantai 88. Narasi selalu milik pemenang.

Namun, Adam juga menyadari satu hal yang tidak dimiliki mesin-mesin itu: Kehendak Bebas.

Setelah merayap hampir selama tiga puluh menit, Adam sampai di ujung jalur ventilasi yang terhubung dengan lift barang di bagian belakang gedung lift mekanis tua yang jarang digunakan karena lambat dan tidak efisien. Lift itu tidak terhubung dengan sistem pusat The Great Eye. Inilah celahnya. Inilah anomali di dalam sistem yang terlalu sempurna.

Adam keluar dari ventilasi dengan tubuh penuh debu dan keringat yang membanjiri kemeja mahalnya. Ia membuka panel kontrol manual lift tersebut, memutus kabel digitalnya, dan menyambungkannya secara manual. Lift itu bergerak turun dengan suara berderit yang menyayat telinga, seolah-olah gedung itu sendiri sedang mengeluh.

Saat lift perlahan turun melintasi lantai demi lantai, Adam menatap angka-angka yang menurun di indikator analog. 80... 70... 60... Setiap lantai yang ia lewati adalah lapisan dari menara gading yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, dan kini ia sedang meninggalkannya menuju "dunia bawah" yang penuh ketidakpastian.

Di lantai 30, lift tiba-tiba tersentak dan berhenti. Jantung Adam hampir copot. Lampu lift berkedip-kedip merah.

"Adam..." Suara Silas muncul lagi, kali ini melalui radio komunikasi lift. Suaranya terdengar sangat dekat, hampir seperti bisikan di telinga. "Kau tidak merasa kasihan pada mereka? Manusia-manusia di bawah sana? Mereka lemah, tidak teratur, dan penuh dosa. Kami hanya memberikan mereka keteraturan. Kami adalah pelindung bumi dari kekacauan mereka sendiri. Tanpa kami, mereka akan saling memakan satu sama lain."

"Kalian bukan pelindung," jawab Adam akhirnya, suaranya mantap meski gemetar. "Kalian adalah sipir penjara yang meyakinkan tawanan bahwa penjara adalah istana. Kalian takut pada kematian, Silas. Itu sebabnya kalian membangun semua ini. Kalian takut karena kalian tahu, di hadapan waktu dan Pencipta, kekuasaan kalian tidak lebih dari debu yang tertiup angin."

Hening sesaat. Lalu terdengar suara tawa kecil yang dingin dari Silas. "Filosofi tidak akan menyelamatkanmu dari peluru, Adam. Selamat tinggal."

Bang! Langit-langit lift meledak. Sebuah drone keamanan mencoba menerobos masuk. Adam dengan cepat menekan tombol pintu darurat dan melompat keluar ke selasar lantai 30 yang masih gelap. Ia berlari sekuat tenaga menuju tangga manual, satu-satunya jalan yang tidak bisa dikunci secara digital dari jarak jauh.

Ia menuruni anak tangga dengan cepat, dua-dua sekaligus. Napasnya tersengal, otot kakinya mulai memprotes. Namun, bayangan koordinat di laut dan "penarikan kesadaran" massal itu menjadi bahan bakar yang membakarnya untuk terus bergerak.

Ketika ia akhirnya mencapai lantai dasar, ia tidak keluar melalui lobi utama yang megah dan dipenuhi sensor wajah. Ia menyelinap melalui pintu pembuangan sampah di basemen keempat. Di sana, bau busuk sampah organik menyengat indra penciumannya bau yang sangat "manusiawi" dibandingkan udara steril di lantai 88.

Adam keluar ke sebuah gang sempit di belakang gedung pencakar langit itu. Hujan mulai turun, membasahi wajahnya. Ia menatap ke atas, ke puncak gedung ethe gard yang tertutup kabut dan hujan. Di sana, di atas sana, para elit mungkin sedang berdiskusi tentang bagaimana memburu dirinya.

Namun di sini, di bawah guyuran hujan, Adam merasa hidup kembali. Ia bukan lagi sekadar data. Ia adalah manusia yang membawa pesan peringatan.

Ia berjalan cepat menuju stasiun kereta bawah tanah tertua yang tidak menggunakan sistem tiket biometrik. Ia harus menghilang. Ia harus menemui seseorang yang pernah ia abaikan seorang pria tua di pinggiran kota yang pernah bicara tentang "Sinyal dari Masa Lalu".

Babak pertama dari pelariannya telah usai, namun perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Adam Satria, sang arsitek masa depan, kini adalah musuh nomor satu dari masa depan itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!