NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi SERUNI (Kembang Desa)

Terpaksa Menikahi SERUNI (Kembang Desa)

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Romansa pedesaan / Trauma masa lalu / Bertani / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:122.2k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.

Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.

Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.

Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.

Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.

Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Pillow Talk

"Lupakan. Ayo masuk," ajak Bastian sengaja mengalihkan perhatian Seruni. "Hari ini sepertinya kita akan lembur karena tugas bebenah rumah masih banyak," imbuhnya.

"Iya, Bang. Semangat," ujar Seruni seraya tersenyum manis di depan Bastian.

Sejenak Seruni melupakan ucapan Bastian sebelumnya. Si kembang desa ini memang begitu lugu dan polos terutama menyangkut hubungan dengan lawan jenis. Walaupun begitu ia sangat menjaga marwah atau kesuciannya selama ini sebagai wanita.

Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah. Tanpa sadar Bastian setia menggandeng lengan Seruni. Tampak hangat dan mesra.

Mereka berdua segera melakukan banyak pekerjaan. Mulai dari membersihkan sawang laba-laba yang ada di langit-langit karena rumah pengasingan tersebut lama tak berpenghuni.

Seruni juga mulai berkutat di dapur. Ia tengah asyik memotong daun pakis dari hasil memetik di kebun belakang rumah ayahnya. Rencananya pakis tersebut akan ditumis oleh Seruni.

Sedangkan lauk hari ini Seruni berencana membuat ayam dan tempe goreng serta sambal penyetan ala kadarnya. Jangan tanya bumbu-bumbu yang dipakai Seruni. Di sana semua bumbu dan bahan makanan berasal dari alam sekitarnya. Bumbu instan hanya ada di kota jika kita ingin membelinya.

Seruni tipikal perempuan yang suka rasa tradisional dan terbiasa hidup sederhana. Ia kurang menyukai makanan atau bumbu aroma instan. Seruni lebih rela tangannya pegal karena mengulek bumbu daripada kesehatannya dipertaruhkan jika terlalu banyak makan yang berbau instan.

Sebab, di desanya tak ada dokter. Di sana hanya ada bidan, mantri su_nat dan du_kun saja. Puskesmas terdekat saja harus menempuh 3-4 jam perjalanan dengan naik motor, lalu naik perahu ge_tek menyeberangi sungai. Apalagi mencari rumah sakit. Pasti lebih jauh daripada sekadar menggapai Puskesmas.

Perjuangan hidup yang tak mudah di desa pelosok. Namun, warga di sana tak pernah mengeluh karena sudah terbiasa.

"Bang, ayo makan." Panggil Seruni kala makan siang sudah tersaji dan siap disantap.

"Iya bentar, Run. Aku lagi asyik nimba air."

Seruni tersenyum simpul menatap dari pintu belakang rumah mereka, Bastian yang awalnya membereskan bagian kamar dan teras depan, kini sudah ada di dekat sumur.

Lelaki yang menjadi suaminya itu kini justru lagi asyik belajar nimba. Padahal beberapa jam yang lalu, Bastian mengeluh tangannya memerah akibat menimba air sumur.

"Makan dulu, Bang. Biar badan ada tenaga,"

"Oke,"

Bastian akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah dan makan siang bersama dengan sang istri.

☘️☘️

Mereka berdua duduk di ruang tamu dengan alas tikar ala sederhana. Semua makanan telah disajikan oleh Seruni. Bastian menatap semua hal itu.

Sejenak Bastian terdiam dan hak tersebut ditangkap oleh pandangan mata Seruni.

"Kenapa Bang? Apa makananku tak cocok dengan selera abang?" tanya Seruni seraya menatap lekat wajah Bastian.

"Ehm, itu sayur apa?" balas Bastian bertanya seraya jarinya menunjuk ke arah mangkuk sayur.

"Itu tumis pakis, Bang." Jawab Seruni. "Apa sebelumnya abang tak pernah makan ini?"

Bastian pun menjawabnya dengan gelengan kepala kecil di depan Seruni.

"Maaf ya, Bang. Ading tak tau kalau abang gak suka sayur pakis,"

"Aku nggak bilang kalau nggak suka. Cuma aku belum pernah makan. Jadi nggak tau rasanya seperti apa," jelas Bastian.

"Abang coba dulu. Siapa tau cocok," tawar Seruni.

"Apa sayur ini kamu beli di pasar atau tetangga?"

"Aku tadi ambil dari ladang Apak. Di sekitar sini juga ada, hampir sama seperti ladang Apak. Banyak ditumbuhi pakis dan tanaman liar lainnya," jawab Seruni apa adanya.

Perlahan tangan Bastian menyendok sedikit tumis sayur pakis tersebut.

"Lumayan," ungkap Bastian jujur.

"Gimana Bang? Apa makanan ading bisa diterima lidah abang?"

"Ayo makan," ucap Bastian sebagai jawaban.

Keduanya pun akhirnya makan siang dalam diam. Bastian tetap berusaha menelan semua makanan Seruni untuk masuk ke perutnya.

Rasa masakan Seruni sebenarnya enak untuk sekelas makanan rumahan. Hanya saja Bastian yang notabene belum terbiasa dengan masakan sederhana ala desa, lidahnya masih perlu beradaptasi.

Setiap hari Bastian makan dari warung atau restoran. Ia akan menelan makanan rumahan saat ke Jakarta tepatnya di rumah sang ibu. Elsa cukup pandai memasak makanan khas rumahan yang selalu cocok di lidah Bastian.

Ia berusaha menjaga perasaan Seruni. Tak mungkin ia frontal mengatakan tak menyukai makanan ala kampung.

☘️☘️

Tanpa terasa hari sudah malam. Saat ini jam dinding sederhana yang menempel di bilik bambu rumah mereka telah menunjukkan pukul sembilan malam.

Keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur. Namun kedua mata sepasang pengantin baru itu belum terpejam.

Ada sebuah guling sebagai pemisah di antara mereka. Seruni masih canggung bila ingin menyingkirkan guling tersebut. Apalagi harus memeluk Bastian saat tidur, sungguh ia belum berani melangkahi pembatas dalam dirinya tersebut yang malu-malu.

Sedangkan Bastian juga tak tau akan pernikahan dengan Seruni kelak berakhir seperti apa. Tak ada cinta untuk wanita desa tersebut.

Bastian membangun pernikahan ini semata-mata simbiosis mutualisme. Seruni dapat suami sekaligus memutus kepercayaan atau tradisi yang katanya pembawa sial bagi kehidupan masyarakat desa di sana. Sedangkan dia bisa bersembunyi dengan baik dari kejaran pihak berwajib.

Namun semua itu hanya Bastian yang tau. Rahasia dirinya serta kasus pembunuhan Rossa, Seruni dan yang lain tidak ada yang tau.

Hening tercipta, Bastian memutuskan untuk membuka obrolan.

"Run,"

"Iya, Bang.

"Maaf kalau abang cuma kasih mahar pernikahan ke kamu sebesar uang lima puluh ribu rupiah saja,"

"Enggak apa-apa, Bang. Ading terima dengan ikhlas berapapun maharnya. Yang terpenting keihklasan abang memberinya untukku," tutur Seruni menjawabnya.

"Maaf juga abang belum kasih uang nafkah banyak ke kamu. Uang di dompet abang hanya sedikit,"

"Ading tak masalah akan hal itu. Alhamdulillah ading masih ada tabungan untuk bantu urusan rumah tangga kita. Semoga abang tak marah," ucap Seruni sejenak menjeda ucapannya dan terlihat hati-hati.

"Ading bukan bermaksud meremehkan isi dompet abang. Ading yakin abang adalah suami yang bertanggung jawab. Bukankah harta bisa dicari bersama. Suami-istri adalah tim yang saling bantu satu sama lain. Yang terpenting iman dan akhlak abang," lanjutnya.

Sungguh, Bastian merasa saat ini hidupnya beruntung karena bertemu gadis desa sederhana dan baik seperti Seruni. Dominan wanita kota yang sering ditemuinya adalah tipikal matre dan mudah bergonta-ganti pacar serta selingkuh.

"Sementara ini abang bantu kamu di ladang. Nanti kamu ajari abang ya,"

"Pasti bang,"

"Nanti abang juga sambil cari kerja yang lain,"

"Semangat, Bang. Ading pasti selalu dukung dan doain abang,"

"Apa di sekitar sini ada pabrik?" tanya Bastian.

Bersambung...

🍁🍁🍁

1
Tuti Tyastuti
𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘴 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩"𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘮𝘶
Wardi's
akhirnya ada orang yg tulus mau bantu bastian.., semangat bas.., hadapi jgn pengecut.,.
Ruwi Yah
benar banget yg dikatakan pk danu masalah harus kamu hadapi Bas bukan kamu hindari
Patrick Khan
iya bang buk.. ayo lah cerita ke seruni apa yg terjadi sm km.. jgn lari trs lah
Dew666
💐💐💐💐💐
Eni Istiarsi
ayolah Bastian,mungkin memang benar sudah saatnya kamu jujur dan menghadapi yang sudah terjadi
Al Fatih
Alhamdulillah...,, bang Bastian...,, tuh ad orang baik yang pengen bantuin...,, daripada dirimu sama Maura...,, dia ingin membantumu tapi dengan pamrih yang sangat jahat.
Bunda Idza
siapa yaa pak Danu???
Ayu Ayuningtiyas
ayolah bas ,mulai hadapi masalahmu ,jangan terus lari dan sembunyi .Pak Danu datang mau bantu kamu menyelesaikan masalahmu lho.
Ayesaalmira
ayo bas,hadapi smuanya..smpai kpn bersembunyi..
Retno Fitriyaningsih
semakin menarik
Nena Anwar
semoga Pak Danu bisa membantu Bastian ayo Bas semangat mumpung ada yg mau bantu kamu
Shee_👚
pak danu aja tau masalah itu di hadapi bukan di hindari, mau sampai kapan menghindar terus yang ada itu masalah semakin lama semakin pelik
Shee_👚
pak danu antara polisi, detektif atau pengacara🤔🤔
Shee_👚
saking kuatnya itu tenaga ampe roboh itu pintu 🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga pak Danu bis membantu Bastian..
Nena Anwar
semoga do'amu dikabulkan ya Bas
Sugiharti Rusli
bisa jadi kebaikan Bastisn menolong putri pak Danu malah memang jalan yang sudah Allah bukakan bagi dia melalui pak Danu nanti,,,
Sugiharti Rusli
apa pak Danu salah seorang aparat yah, semoga saja dia bisa memberikan solusi atas permasalahan yang menimpa Bastian saat di Surabaya kemaren
Sugiharti Rusli
wah sepertinya pertemuan Bastian dengan pak Danu akan berdampak besar yah bagi kasus yang sedang dia hadapi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!