Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang tenang. Jasmine, dengan daster katun berwarna biru pastel yang nyaman, duduk di tepi tempat tidur sambil mencabut kabel pengisi daya dari ponselnya. Ia baru saja ingin mengecek jadwal kontrol dokter yang tersimpan di kalender digitalnya. Namun, begitu layar menyala, rentetan notifikasi masuk seperti air bah.
Ada puluhan pesan dari nomor yang ia kenal—mulai dari teman-teman kuliah hingga kerabat jauh yang bahkan tidak mengabarinya saat Hero meninggal.
"Jas, serius itu anak Hero? Kok gue denger kabar beda ya?"
"Jasmine, beneran kamu udah ada main sama Awan sebelum Hero meninggal?"
"Anak yang kamu kandung itu sebenarnya anak Awan atau Hero? Jawab dong, jangan bungkam gitu."
Jasmine terpaku. Tangannya mulai gemetar hebat, membuat ponsel di genggamannya hampir merosot. Kepalanya pening seketika, jantungnya berdegup hingga ke ulu hati.
"Maksudnya apa ya mereka chat ini ke aku..." gumamnya lirih dengan suara yang pecah. Ia merasa seperti dilempari lumpur di tengah duka yang belum usai. "Aku nggak mungkin... aku nggak pernah..."
Dengan sisa tenaga, ia bangkit dan berjalan keluar kamar. Langkahnya gontai menyusuri koridor lantai atas. Di ujung tangga, ia melihat Awan yang baru saja selesai meneguk kopi hitamnya, sudah rapi dengan kemeja navy yang pas di tubuhnya.
"Kak... Kak Awan..." panggil Jasmine dengan nada penuh ketakutan.
Awan langsung mendongak. Melihat wajah Jasmine yang pucat pasi dan matanya yang berkaca-kaca, ia langsung meletakkan cangkirnya dengan kasar. "Kenapa lo? Perut lo kram lagi?"
Awan melangkah cepat mendekati Jasmine, tangannya sudah bersiap untuk menopang tubuh perempuan itu.
"Bukan... ini..." Jasmine tidak sanggup menjelaskan. Ia hanya menyerahkan ponselnya dengan tangan yang masih gemetar hebat kepada Awan.
Awan membaca pesan-pesan itu satu per satu. Matanya yang tajam menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Ia kemudian membuka salah satu portal berita gosip yang sedang ramai dikirimkan orang-orang. Di sana ada foto dirinya yang sedang menggendong Jasmine masuk ke rumah sakit kemarin, dengan caption provokatif: “Skandal di Balik Kematian Sang Saudara: Benarkah Sang Adik Mengambil Alih Lebih dari Sekadar Warisan?”
"Sialan!" umpat Awan hingga suaranya menggelegar di ruang tamu. Ia membanting ponsel Jasmine ke sofa agar tidak meledakkan amarahnya pada benda itu.
"Ini pasti ulah Celine. Biar gue yang beresin. Lo makan sana! Gak usah dipikirin nanti bayi lo stress!" perintah Awan dengan nada yang sangat tajam, namun matanya menatap Jasmine sejenak dengan kilat protektif.
Tanpa menunggu balasan, Awan menyambar kunci mobil dan jasnya. Ia melesat pergi, meninggalkan deru mesin yang meraung di halaman rumah.
Awan tidak menuju kantor. Ia mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan menuju apartemen mewah Celine. Ia tidak perlu bertanya di mana gadis itu berada; ia tahu Celine pasti sedang merayakan kemenangannya.
Awan sampai di depan unit apartemen Celine. Ia tidak mengetuk, melainkan menekan kode pintu yang ternyata belum diganti. Pintu terbuka dengan sentakan keras.
Di dalam, Celine sedang duduk santai di bar dapurnya sambil menyesap segelas wine, ponselnya tergeletak di meja, menampilkan ribuan likes pada postingan anonim yang ia buat.
"Wah, cepat juga ya sampainya," ucap Celine dengan nada mengejek, bibirnya yang merah melengkung membentuk senyum kemenangan. "Gimana, Awan? Suka sama kejutan pagi ini?"
Awan tidak membuang waktu. Ia melangkah maju dan mencengkeram meja bar itu hingga tangannya memutih. "Lo bener-bener iblis, Celine. Gue pikir lo cuma matre, ternyata lo sampah."
"Aku sampah? Terus apa kabar sama janda kesayangan kamu itu?" tantang Celine sambil berdiri, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Awan. "Seluruh dunia sekarang tahu kalau dia itu perempuan murahan yang tidur sama saudara iparnya sendiri!"
BRAK!
Awan memukul meja di samping Celine, membuat gelas wine itu terguling dan cairannya tumpah mengotori lantai.
"Tarik semua omongan lo di media, atau gue pastikan hari ini adalah hari terakhir lo bisa tinggal di negara ini dengan tenang!" gertak Awan. Suaranya rendah namun penuh otoritas yang mengerikan.
"Nggak akan! Aku mau liat dia hancur, Awan! Aku mau liat anak haram itu nggak punya masa depan!"
Mendengar kata "anak haram" untuk keponakannya, Awan tertawa pendek—tawa yang membuat bulu kuduk Celine merinding.
"Lo lupa siapa gue, Celine?" Awan merogoh ponselnya, menekan sebuah nomor. "Halo, tim legal? Jalankan semua bukti transaksi penggelapan dana kantor yang dilakukan Celine selama dua tahun ini. Ya, kirim ke kepolisian sekarang juga."
Wajah Celine mendadak pucat pasi. "A-apa? Kamu... kamu nggak mungkin lakuin itu..."
"Gue punya semua bukti setiap sen yang lo curi dari akun perusahaan lewat kartu kredit yang gue kasih dulu," ucap Awan dingin. "Pilih sekarang. Lo bikin klarifikasi kalau semua berita itu fitnah dan lo pergi jauh-jauh dari hidup kami, atau lo bicara sama pengacara gue dari balik jeruji besi. Gue nggak main-main, Celine."
Celine terduduk lemas di lantainya yang mewah. Ia tahu Awan tidak pernah menggertak sambal. Pria ini adalah hiu di dunia bisnis, dan ia baru saja membangunkan sisi buasnya.
Awan kembali ke rumah dengan napas yang masih memburu. Begitu masuk, ia menemukan rumah itu sunyi. Ia langsung menuju kamar Jasmine dan menemukannya sedang duduk meringkuk di pojok tempat tidur, memeluk lututnya sambil menangis tanpa suara.
Awan merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Ia yang biasanya kaku dan tidak suka kontak fisik, kali ini tidak bisa menahan diri. Ia duduk di tepi ranjang dan menarik Jasmine ke dalam dekapannya.
Jasmine sempat memberontak kecil. "Kak... orang-orang bilang aku jahat... mereka bilang anak ini..."
"Diem." Awan menekan kepala Jasmine ke dadanya, membiarkan daster perempuan itu basah oleh air mata. "Jangan dengerin mereka. Gue udah urus semuanya. Celine nggak akan berani lagi."
Awan mengelus punggung Jasmine dengan canggung namun tulus. Tangannya yang lain kembali mengusap perut Jasmine yang kini mulai menonjol di balik dasternya.
"Nggak ada yang bakal berani nyentuh lo atau anak ini selama gue masih napas," bisik Awan di puncak kepala Jasmine. "Gue udah janji sama Hero. Dan lebih dari itu... gue sendiri yang nggak akan biarin itu terjadi."
Jasmine perlahan mulai tenang. Detak jantung Awan yang stabil di telinganya seolah menjadi melodi yang paling aman yang ia miliki sekarang. Ia tidak tahu apa yang dilakukan Awan pada Celine, tapi ia tahu, pria kaku di depannya ini baru saja membakar jembatan masa lalunya demi melindunginya.