Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - KOMPETISI DAN KONFRONTASI TERAKHIR
ENAM BULAN KEMUDIAN - DOJO AKSELIA JAKARTA
"Kak Akselia! Surat undangan datang!" Rina berlari masuk ke kantor dengan amplop besar berwarna emas.
Akselia mengambil amplop itu, membukanya dengan penasaran. Matanya melebar saat membaca isinya.
"Kejuaraan Bela Diri Nasional Perempuan?" gumamnya. "Mereka mengundang Kinanti Dojo untuk ikut?"
"Bukan cuma ikut, Kak. Mereka minta Kakak jadi peserta kehormatan, kategori mantan juara yang kembali bertanding!"
Akselia menatap surat itu lama. Terakhir kali dia ikut kompetisi resmi tiga tahun lalu, sebelum Kinan meninggal. Dan sejak itu, dia tidak pernah naik ring kompetisi lagi.
Pak Dharma masuk dari pintu belakang, seperti tahu ada yang penting terjadi. "Kejuaraan nasional? Kamu akan ikut?"
"Saya... saya tidak tahu, Pak. Sudah lama sekali sejak terakhir kali..."
"Justru karena itu kamu harus ikut." Pak Dharma duduk di hadapannya. "Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal menunjukkan pada dirimu sendiri dan pada semua muridmu, bahwa kamu tidak lari lagi. Bahwa kamu benar-benar sudah kembali."
Akselia menatap mentornya. "Tapi kalau saya kalah..."
"Lalu kenapa kalau kalah? Kalah di ring bukan berarti kalah dalam hidup." Pak Dharma tersenyum. "Yang penting kamu punya keberanian untuk naik ring lagi."
***
DUA MINGGU KEMUDIAN - JAKARTA CONVENTION CENTER
Hari kejuaraan tiba. Gedung penuh dengan atlet dari seluruh Indonesia, pelatih, penonton, dan media. Akselia datang dengan tim. Pak Dharma sebagai pelatih, Sari sebagai asisten, Rina dan beberapa murid senior sebagai pendukung.
Di ruang ganti, Akselia mengenakan seragam kompetisi, hitam dengan logo Kinanti Dojo di punggung. Tangannya sedikit gemetar saat memasang pelindung.
"Gugup?" tanya Sari sambil membantunya.
"Sangat. Rasanya seperti pertama kali ikut kompetisi dulu."
"Normal. Tapi kamu sudah latihan keras dua minggu ini. Kamu siap."
Pak Dharma masuk, membawa strategi terakhir. "Lawanmu di babak pertama, Dina Safitri dari Surabaya. Umur dua puluh lima, spesialisasi tendangan cepat. Kamu harus jaga jarak dan tunggu dia lelah."
Akselia mengangguk, mencoba fokus.
Di luar, pengumuman berkumandang. "Peserta kategori mantan juara, Akselia Kinanti dari Jakarta, harap bersiap di ring tiga!"
Ini saatnya.
***
RING KOMPETISI
Akselia naik ke ring dengan sorak-sorai penonton, banyak yang ingat namanya dari tiga tahun lalu. Lawannya, Dina, sudah menunggu dengan tatapan fokus.
Wasit memberi instruksi terakhir. "Pertandingan tiga ronde, masing-masing dua menit. Tidak ada pukulan di bawah pinggang. Mengerti?"
Keduanya mengangguk.
"Mulai!"
Dina langsung menyerang dengan kombinasi tendangan kiri, kanan, berputar. Akselia mundur, bertahan, mengamati pola.
Tenang. Jangan terburu-buru.
Tendangan Dina meleset, kehilangan keseimbangan sekilas. Akselia langsung ambil kesempatan, tendangan rendah ke kaki, Dina terhuyung.
Bagus. Lagi.
Ronde pertama berakhir dengan skor hampir seimbang.
Di sudut ring, Pak Dharma memberi instruksi cepat. "Dia mulai lelah. Ronde kedua kamu serang lebih agresif. Tapi tetap kontrol."
Ronde kedua, Akselia lebih dominan. Kombinasi tangan dan kaki yang presisi. Dina kewalahan bertahan.
Ini dia. Feeling-nya kembali.
Di ronde ketiga, Akselia mengunci kemenangan dengan bantingan sempurna teknik judo yang dia kuasai dulu. Dina jatuh, tidak sempat bangkit sebelum hitungan sepuluh.
"Pemenang... Akselia Kinanti!"
Sorak-sorai memenuhi arena. Rina dan murid-murid lain melompat kegirangan. Pak Dharma tersenyum bangga dari sudut ring.
Akselia mengulurkan tangan pada Dina, membantu lawannya berdiri. "Pertandingan bagus. Kamu kuat."
Dina tersenyum meski kecewa. "Kamu lebih kuat. Pantas jadi legenda."
***
SEMIFINAL - DUA HARI KEMUDIAN
Akselia lolos ke semifinal dengan mudah. Lawannya kali ini lebih tangguh Rita Andini, juara bertahan dua tahun berturut-turut.
Pertandingan berjalan sengit. Akselia dan Rita seimbang, keduanya pengalaman, keduanya cerdas.
Di ronde terakhir, skor imbang. Siapa yang dapat poin terakhir akan menang.
Rita menyerang dengan kombinasi brutal jab, hook, uppercut. Akselia bertahan, tapi salah satu pukulan menembus kena rahang, Akselia terhuyung.
Bangkit. Ayo bangkit.
Akselia menggelengkan kepala, fokus kembali. Rita maju lagi, tapi kali ini Akselia siap. Dia hindari, pivot, lalu counter dengan tendangan putar sempurna kena kepala Rita.
Rita jatuh.
Wasit mulai hitung. "Satu... dua... tiga..."
Rita mencoba bangkit tapi tidak sempat.
"Sepuluh! Pemenang... Akselia Kinanti!"
Final. Akselia lolos ke final.
***
MALAM SEBELUM FINAL - HOTEL
Akselia duduk sendirian di balkon kamar hotel, menatap kota Jakarta yang berkilauan.
Besok final. Besok dia akan bertanding melawan juara muda berusia dua puluh dua tahun. Sinta Dewi, atlet berbakat yang belum pernah kalah.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang sudah lama tidak muncul, tapi dia langsung tahu siapa.
[Aku lihat kamu di berita. Kamu di final besok. Aku tahu kamu akan menang. Semangat, Akselia. - Kevin]
Akselia menatap pesan itu lama.
Kevin masih di penjara, masih dua setengah tahun lagi sebelum bebas. Tapi entah bagaimana dia dapat akses berita dan bisa kirim pesan.
Dia tidak membalas. Tapi untuk pertama kalinya, dia tidak langsung hapus pesan itu juga.
Cukup dibiarkan di sana. Sebagai pengingat bahwa orang bisa berubah atau setidaknya mencoba.
***
HARI FINAL - STADION UTAMA
Stadion penuh sesak ribuan penonton, kamera televisi, media nasional. Final kejuaraan bela diri nasional perempuan, Akselia Kinanti versus Sinta Dewi.
Di ruang ganti, Akselia menutup mata, menarik napas panjang.
Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal membuktikan pada diri sendiri bahwa aku sudah kembali.
Pak Dharma meletakkan tangan di bahunya. "Apa pun yang terjadi di ring, aku sudah bangga. Kamu sudah buktikan semuanya hanya dengan sampai sini."
"Terima kasih, Pak."
"Sekarang keluar sana dan tunjukkan pada dunia siapa Akselia Kinanti sebenarnya."
Akselia berdiri, berjalan menuju ring dengan kepala tegak.
Sorak-sorai penonton memekakkan telinga. "AKSELIA! AKSELIA! AKSELIA!"
Di sisi lain ring, Sinta menunggu, muda, segar, penuh semangat.
Mereka berhadapan di tengah ring. Wasit memberi instruksi.
"Pertandingan lima ronde. Aturan standar. Bertanding dengan sportif. Mengerti?"
Keduanya mengangguk.
Wasit mundur. "Mulai!"
Sinta langsung menyerang cepat, agresif, tanpa ragu. Akselia bertahan, mengamati pola.
Dia muda. Energinya besar. Tapi dia tidak sabar.
Ronde pertama dan kedua Sinta dominan. Pukulan demi pukulan mengenai Akselia. Penonton mulai khawatir.
Tapi Pak Dharma tetap tenang di sudut. "Kamu tahu apa yang harus dilakukan. Sabar."
Ronde ketiga Akselia mulai balik menyerang. Sinta mulai lelah, serangannya melambat.
Sekarang.
Akselia melancarkan kombinasi yang sudah dia latih bertahun-tahun, jab-jab-hook-tendangan rendah-bantingan. Sinta jatuh, tapi bangkit cepat.
Ronde keempat keduanya seimbang. Saling serang, saling bertahan. Penonton berteriak histeris.
Ronde kelima ronde terakhir. Skor masih hampir imbang. Siapa yang dominan di ronde ini akan menang.
Akselia dan Sinta sama-sama tahu ini semua atau tidak sama sekali.
Mereka bertarung dengan segala yang mereka punya. Setiap pukulan, setiap tendangan, setiap pertahanan semua diperhitungkan.
Di detik-detik terakhir, Akselia melihat celah. Sinta lelah, pertahanannya turun sekilas.
Akselia ambil kesempatan, tendangan putar tinggi, sempurna, kena kepala Sinta.
Sinta jatuh.
Wasit mulai hitung.
"Satu... dua... tiga... empat... lima..."
Sinta tidak bangkit.
"Enam... tujuh... delapan... sembilan... SEPULUH!"
Wasit angkat tangan Akselia. "Pemenang dan juara baru... AKSELIA KINANTI!"
Stadion meledak. Sorak-sorai, tepuk tangan, teriakan. Murid-murid Akselia berlari masuk ring, memeluknya.
Pak Dharma naik ring, memeluk muridnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu berhasil. Kamu benar-benar kembali."
Akselia menangis, air mata kebahagiaan, air mata lega, air mata penerimaan.
Dia menunduk pada Sinta yang sudah bangkit, salaman sportif.
Lalu mengangkat trofi ke udara... bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua orang yang mendukungnya. Untuk Pak Dharma. Untuk Sari. Untuk Rina. Untuk murid-muridnya.
Dan untuk Aksana, adiknya yang melihat dari surga.
"Ini untuk kita semua!" teriaknya di tengah sorak-sorai.
Dan malam itu, Akselia Kinanti benar-benar tahu...
Dia sudah menang.
Bukan cuma di ring.
Tapi dalam hidup.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
semangat❤️