Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Balik di Persimpangan
Malam itu, Jakarta diguyur hujan rintik,rintik yang membuat jalanan tampak berkilau hitam di bawah pendar lampu merkuri yang pucat. Fikar meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang sangat berat, seolah setiap langkahnya menyeret beban berton,ton. Ia tahu benar, perjalanannya kali ini bukan untuk mencari jalan pulang ke masa lalu yang penuh kenangan manis, melainkan untuk membakar jembatan yang selama ini membelenggu kewarasannya.
Di sebuah kafe redup di sudut Menteng, tempat yang dulu sering mereka datangi untuk merayakan hal,hal kecil, Clara sudah duduk menunggu. Dengan segelas wine merah di tangannya, ia tampak sempurna seperti biasa. Namun, di mata Fikar yang sekarang, kesempurnaan itu terasa hampa, seperti lukisan indah tanpa nyawa.
"Kamu datang juga akhirnya," Clara menyapa dengan senyum kemenangan yang terukir di bibirnya saat melihat Fikar mendekat. Ia meletakkan gelasnya, menatap Fikar dengan tatapan yang seolah berkata bahwa ia telah memenangkan segalanya. "Aku tahu kamu tidak akan bisa mengabaikanku begitu saja, Ris. Istrimu itu, dia hanya pelarian sementara karena kamu sedang marah pada dunia, kan?"
Fikar tidak duduk. Ia tetap berdiri kaku di depan meja Clara, membiarkan jaketnya yang sedikit basah karena tempias hujan memberikan kesan dingin yang nyata. Suasana kafe yang hangat dan alunan musik jazz di latar belakang sama sekali tidak mampu mencairkan raut wajahnya yang keras.
"Hentikan, Clara. Jangan sebut,sebut nama Kiki lagi," sahut Fikar dengan suara rendah namun sangat tegas, jenis suara yang membuat orang,orang di meja sebelah sempat menoleh sebentar. "Aku datang ke sini bukan untuk bernostalgia atau mendengarkan hinaanmu terhadap Kiki. Aku datang untuk mengatakan bahwa ini adalah pertemuan terakhir kita. Benar,benar yang terakhir."
Senyum di wajah Clara memudar seketika, digantikan oleh gurat ketidaksenangan dan rasa tidak percaya. "Apa maksudmu? Kamu mencintaiku, Fikar. Kita hanya dipisahkan oleh ego ibumu yang kolot itu. Kamu tahu kita tidak bisa dipisahkan hanya karena selembar kertas kontrak pernikahan."
"Dulu, mungkin iya. Aku memang mencintaimu sampai bodoh," jawab Fikar, matanya menatap lurus ke dalam mata Clara tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi cinta yang tidak diperjuangkan hanya akan menjadi racun yang membusuk. Selama ini aku menyalahkan Kiki atas kegagalanku memilih jalan hidup, padahal dialah yang paling menderita karena keegoisanku. Dia tetap tinggal saat aku mengusirnya dengan kasar, dan dia tetap peduli saat aku mengabaikannya seperti benda mati. Sementara kamu? Kamu hanya muncul saat kamu ingin memuaskan egomu dan melihat apakah aku masih dalam kendalimu."
Fikar mengeluarkan ponselnya dari saku. Dengan gerakan yang tenang namun pasti, ia mencari kontak Clara, menekan tombol blokir tepat di depan mata wanita itu, lalu memasukkannya kembali ke saku tanpa beban. "Jangan hubungi aku lagi. Jangan cari aku lagi. Pernikahanku mungkin dimulai dengan kontrak dan paksaan, tapi aku akan memastikan ia berakhir dengan kenyataan yang tidak akan pernah bisa kamu hancurkan. Selamat tinggal, Clara."
Tanpa menunggu balasan atau makian yang mungkin akan meluncur dari bibir wanita itu, Fikar berbalik dan melangkah keluar menuju hujan. Udara dingin malam itu justru terasa menyegarkan paru,parunya. Ia merasa seolah sebuah beban seberat gunung baru saja terangkat dari bahunya. Namun, perasaan lega itu tidak bertahan lama ketika ponselnya bergetar kuat di saku, bukan dari Clara, melainkan panggilan dari nomor rumah sakit. Jantungnya berdegup kencang, takut jika kondisi mertuanya memburuk lagi.
Di sisi lain kota, di bawah atap rumah sakit yang dingin, Kiki sedang terduduk lemas di kursi taman yang menghadap ke arah gedung perawatan intensif. Napasnya terasa sesak, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena ia baru saja menghadapi konfrontasi sengit yang tidak ia duga.
Tante Fikar, adik dari Ibu Sofia yang terkenal dengan lidah tajamnya, datang berkunjung malam,malam. Bukannya membawa doa atau simpati untuk ayahnya yang sedang berjuang, wanita paruh baya itu justru datang untuk menaburkan garam di atas luka Kiki. Ia menyindir tentang ketidakmampuan Kiki memberikan keturunan bagi keluarga besar mereka, menganggap Kiki hanya membuang,buang waktu dengan urusan keluarganya sendiri yang "merepotkan".
"Jangan pikir karena ayahmu sedang sakit, kamu bisa terus bermanja,manja dan mengabaikan kewajibanmu sebagai menantu. Keluarga kami butuh penerus, bukan cuma istri pajangan yang sibuk menangisi ayahnya di rumah sakit," sindir wanita itu dengan nada angkuh sebelum melangkah pergi dengan bau parfum yang menyesakkan.
Kiki merasa harga dirinya benar,benar di titik terendah. Di saat ayahnya sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana, ia masih harus menghadapi politik keluarga yang kejam dan tidak manusiawi. Ia merasa sendirian di dunia ini, merasa tidak punya siapa pun yang benar,benar bisa ia jadikan tempat bersandar.
Tangisnya pecah tanpa suara. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya, sampai ia merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat merangkul bahunya dari belakang. Kiki tersentak, ia menoleh dengan mata sembab dan menemukan Fikar berdiri di sana. Napas suaminya itu sedikit terengah,engah, dengan sisa tetesan air hujan yang masih menempel di ujung rambut dan jaketnya yang lembap.
"Mas? Kamu, kamu kembali? Bukannya kamu sedang pergi menemuinya?" tanya Kiki dengan nada tidak percaya, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.
Fikar tidak menjawab dengan kata,kata. Ia melihat kehancuran di mata Kiki, dan rasa bersalah kembali menghunjam jantungnya. Ia justru menarik Kiki ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang sangat erat, protektif, dan penuh kehangatan yang belum pernah ia berikan sebelumnya.
"Aku sudah selesai, Kiki. Semuanya sudah benar,benar berakhir," bisik Fikar tepat di telinga istrinya. "Tidak akan ada lagi Clara, tidak akan ada lagi rahasia, dan tidak akan ada lagi dinding di antara kita. Aku di sini untukmu, untuk Ayah, dan untuk masa depan kita. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, termasuk keluargaku sendiri."
Kiki terisak di dada Fikar, namun kali ini bukan tangis kesedihan yang menghancurkan hati. Ia merasakan ketulusan yang murni, sebuah getaran di dada Fikar yang menandakan bahwa pria itu tidak sedang bersandiwara. Dinginnya air hujan yang merembah ke piyamanya dari jaket Fikar justru terasa seperti penyembuh yang menenangkan.
Di bawah langit malam Jakarta yang mendung, di koridor rumah sakit yang sunyi dan berbau obat,obatan, Kiki menyadari satu hal yang fundamental, terkadang sebuah pernikahan memang harus hancur berkeping,keping terlebih dahulu agar sisa,sisanya bisa dibersihkan, dan kemudian dibangun kembali di atas fondasi yang jauh lebih jujur dan kokoh. Sandiwara yang selama ini mereka lakonkan mungkin telah usai, namun kehidupan mereka yang sebenarnya, yang penuh dengan tantangan namun dilalui bersama, baru saja dimulai.
Fikar mengecup puncak kepala Kiki dengan lembut, sebuah janji tanpa suara yang kini telah tertanam di dalam hati mereka masing,masing. Mereka masih akan menghadapi banyak badai di depan, tapi setidaknya malam ini, mereka tidak lagi menghadapinya sendirian.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.