Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Syakil yang spontan melangkah satu langkah ke depan, akhirnya berhenti. Namun Arsy tidak melihatnya kehadirannya. Pandangan Arsy terlihat kosong. Tatapannya lurus ke depan, seolah-olah tidak benar-benar melihat apa pun di sekitarnya. Ia berjalan pelan, hampir tanpa arah, seperti seseorang yang baru saja menerima kabar paling buruk dalam hidupnya.
Di kepalanya, suara dokter itu kembali terngiang.
Kamu harus siap dengan segala kemungkinan.
Kalimat itu seperti pisau yang terus mengiris jantung Arsy berulang-ulang. Membuat Arsy menggenggam tas kecil di tangannya erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh di tempat. Ayahnya kritis. Ayahnya bisa pergi kapan saja.
Dan ia benar-benar sendirian. Langkah Arsy sedikit goyah. Ia hampir tersandung, tapi berhasil menahan dirinya supaya tidak jatuh. Bibirnya bergetar, namun ia menahannya. Ia tidak boleh menangis lagi. Air matanya sudah habis di ruang dokter tadi.
Syakil memperhatikannya tanpa berkedip. Setiap hal yang dirasakan oleh Arsy sekarang, bagaimana kepala perempuan itu yang menunduk, dadanya yang naik turun menahan napas, dan bagaimana tangannya yang terlihat gemetar, menghantam dada Syakil lebih keras daripada apa pun. Perempuan yang dulu selalu terlihat ceria dan kuat. Yang selalu tersenyum meskipun dirinya merasa lelah, sekarang berdiri di hadapannya sebagai seseorang yang nyaris hancur.
Jarak mereka hanya beberapa meter, tapi Syakil merasa seperti dipisahkan oleh jurang yang dalam. Syakil ingin memanggil namanya. Ingin melangkah dan menghentikannya. Ingin mengatakan bahwa dia tidak sendirian. Bahwa ada dia di sini. Tapi kakinya terasa berat. Tenggorokannya tercekat. Arsy terus berjalan, masih dengan pandangan matanya yang kosong, tanpa menyadari bahwa takdir sedang mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya—seseorang yang diam-diam selalu mencintainya.
Syakil akhirnya melangkah satu langkah ke depan tanpa sempat berpikir. Namun langkah itu terhenti begitu saja ketika Arsy sudah hampir melewatinya. Jarak mereka tinggal satu ayunan tangan, tapi perempuan itu tetap tidak menyadari keberadaannya. Seolah dunia di sekelilingnya telah mengabur, menyisakan satu ruang kosong yang hanya berisi ketakutan dan kehilangan.
“Arsy…” panggil Syakil dengan suaranya yang nyaris bergetar dan membuat langkah Arsy terhenti.
Untuk sesaat, ia terdiam seperti sedang memastikan apakah apa yang ia dengar itu nyata atau hanya permainan pikirannya yang sedang dilanda kelelahan. Nama itu disebut dengan nada yang terlalu familiar. Perlahan, Arsy menoleh. Dan di detik itu juga, dunia disekitarnya seakan berhenti berputar. Matanya membesar. Nafasnya tertahan di tenggorokannya. Wajah yang selama ini hanya muncul dalam potongan ingatan lama kini berdiri nyata di hadapannya. Lebih dewasa, tegas dan juga asing.
“Sy… Syakil?” suaranya nyaris tak keluar. Seperti takut jika ia mengucapkannya lebih keras, sosok di depannya akan menghilang.
Syakil mengangguk pelan. Tatapannya lurus dan penuh emosi yang tidak ia sembunyikan.
“Iya, ini aku, Arsy. Syakil”
Arsy mengedipkan matanya berkali-kali. Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ia menatap Syakil dari ujung rambut hingga sepatu pantofel mahal yang dikenakannya, memastikan bahwa ini bukan halusinasi akibat kurang tidur dan terlalu banyak menangis.
“Apa… apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arsy akhirnya. Suaranya terdengar rapuh dan jauh dari Arsy yang biasanya.
Syakil menelan ludah. Melihat kondisi Arsy dari dekat jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan. Mata sembab. Wajah pucat. Bahu yang turun seolah menahan beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
“Aku dengar tentang hal yang menimpa pak Rahman,” jawab Syakil jujur. “Aku datang kemari untuk menjenguk beliau. Aku… aku khawatir.”
Ada jeda hening di antara mereka. Suara langkah kaki orang-orang di lorong rumah sakit dan panggilan perawat terdengar samar. Namun bagi Arsy, semua itu seperti suara yang datang dari dunia lain.
“Tidak perlu,” ucap Arsy tiba-tiba dan cepat seolah takut jika ia diam terlalu lama, pertahanannya akan runtuh. “Kamu sebaiknya pulang saja.”
Syakil terdiam. Alisnya berkerut pelan.
“Arsy—”
“Tolong,” potong Arsy. Tangannya mencengkeram tali tas kecilnya semakin erat. “Aku… aku tidak ingin ada siapa pun di sini. Aku tidak ingin—” suaranya tertahan. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya tetap berdiri tegak. “Aku tidak ingin kamu melihatku seperti ini.”
Syakil melangkah satu langkah mendekat, cukup dekat untuk membuat Arsy merasakan kehadirannya.
“Jangan minta aku pergi,” katanya tegas, tapi suaranya lembut. “Aku tidak bisa.”
Arsy menggeleng cepat. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menahannya mati-matian.
“Aku baik-baik saja,” pinta Arsy dengan lirih. “Aku ingin sendirian.”
Syakil menggelengkan kepalanya dengan tegas.
“Tidak. Kamu tidak baik-baik saja,” katanya. “Dan aku tidak akan membiarkanmu melewati semua ini sendirian.”
Kata-kata itu sederhana. Tapi entah kenapa, justru itu yang menjadi retakan terakhir di dinding pertahanan Arsy. Ia menghela napas panjang. Bahunya bergetar. Bibirnya berusaha tersenyum, tapi gagal. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
“Aku takut…” suaranya pecah. “Aku benar-benar takut, Syakil.”
Tubuh Arsy melemas. Tangannya yang gemetar akhirnya terlepas dari tas kecil itu. Dadanya naik turun tidak beraturan. Tangis yang sejak tadi ia pendam akhirnya meledak begitu saja, tanpa bisa ditahan lagi.
Tanpa berpikir panjang, dalam satu gerakan cepat namun hati hati, Syakil meraih Arsy dan menariknya ke dalam pelukannya yang erat dan juga protektif, Seolah ingin memberitahu Arsy bahwa ia ada di sana bersamanya. Untuk sesaat Arsy dibuat terkejut, Namun di detik berikutnya, ia menyerah. Tangannya mencengkeram jas Syakil. Wajahnya terbenam di dada laki-laki itu. Tangisnya pecah sepenuhnya, mengguncang tubuhnya dengan isak yang tertahan terlalu lama. Membuat Syakil memeluknya lebih erat sementara satu tangannya mengusap punggung Arsy perlahan dan tangannya yang lain menahan kepala Arsy di dadanya.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau berada dalam kondisi seperti ini, Arsy? Kenapa kau lebih memilih menanggung dukamu sendirian daripada membaginya denganku?" Pinta Syakil yang semakin membuat Arsy mengeluarkan semua beban di hatinya.
"Aku tidak mau orang lain tahu apa yang kurasakan saat ini, A-aku tidak mau membebani mereka dengan permasalahan yang kuhadapi." Jawab Arsy dengan sesenggukan yang semakin membuat dada Syakil terasa semakin perih saat mendengarnya.
"Kenapa? Kenapa kau selalu berpikiran seperti itu, Arsy? Tidak tahukah kau bahwa di dunia ini masih ada seseorang yang benar-benar peduli dengan mu." Pinta Syakil dengan lembut yang kemudian membuat Arsy melepaskan pelukannya dari tubuh Syakil setelah ia merasa cukup tenang.
"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak mau menyusahkan orang orang yang peduli padaku." Ucap Arsy dengan lirih.
Arsy masih berdiri di hadapan Syakil dengan bahunya yang sedikit turun, napasnya belum sepenuhnya stabil. Wajahnya basah oleh air mata yang belum sempat ia usap. Matanya merah, sembab, dan menyimpan kelelahan yang teramat dalam. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap tanpa suara.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit