Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan yang Kejam
Kehampaan bukanlah ketiadaan, melainkan adalah awal dari segala sesuatu, dan akhir dari segalanya.
Di pusat semesta yang tengah sekarat, hukum ruang dan waktu melintir seperti kain yang diperas. Retakan-retakan perak menyebar di cakrawala kosmis, membelah galaksi menjadi fragmen-fragmen cahaya yang redup.
Suara retakan itu tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergetar langsung di dalam jiwa.
Di tengah badai dimensi itu, berdiri seorang pria. Jubah hitamnya kini compang-camping dan berkibar liar tertiup angin astral. Darah keemasan menetes dari sudut bibirnya, jatuh ke lantai kehampaan dan segera menguap menjadi debu bintang.
Wajahnya pucat, namun pahatan fiturnya tetap tegas, membawa aura keagungan yang tidak bisa dilunturkan oleh luka sedalam apa pun.
Sosok yang dimaksud itu adalah Dialah Dewa Kehampaan!
Namun, di hadapannya saat ini, berdiri tiga sosok yang kekuatannya mampu menggetarkan fondasi penciptaan.
Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan jantungnya.
“Guru ...”
Suara itu datang dari pemuda di sisi kiri. Murid terkuatnya, sosok yang ia temukan di reruntuhan dunia bawah dan ia asuh dengan sisa kehangatan yang dimiliki.
Pedang perak di tangannya gemetar, membiaskan cahaya dingin yang menyakitkan mata.
“Kekuatanmu ... itu terlalu besar,” lanjut sang murid, suaranya parau namun penuh tekad yang dipaksakan.
“Selama Anda ada, semesta ini tidak akan pernah memiliki kehendak bebas. Anda adalah anomali yang harus dihapus agar keseimbangan tetap terjaga. Maafkan muridmu ini.”
Di sisi lain, seorang pria paruh baya dengan baju zirah emas—sahabat yang pernah bertarung punggung-ke-punggung dengannya melewati jutaan medan perang—melangkah maju.
Tidak terlihat ada penyesalan di wajahnya, yang ada hanya ambisi yang dingin.
“Di puncak tertinggi dunia ini, hanya ada ruang untuk satu kaki, kawan lama,” ucap sang sahabat pelan.
“Persahabatan adalah kemewahan bagi mereka yang lemah. Bagiku, kau hanyalah rintangan terakhir menuju keabadian yang sempurna.”
Namun, yang paling menyayat adalah sosok wanita di tengah. Matanya sebening telaga musim semi, wajah yang pernah menjadi satu-satunya alasan bagi Dewa Kehampaan untuk tidak menghancurkan dunia yang membosankan ini.
Dia menatap sosok Dewa Kehampaan dengan kesedihan yang tampak nyata, namun tangannya memegang segel penghancur jiwa.
“Aku mencintaimu,” bisiknya, suaranya lembut seperti embun pagi, namun mengandung racun yang mematikan.
“Sangat mencintaimu. Tapi aku lebih mencintai hidupku, eksistensiku, dan dunia yang ingin kau biarkan runtuh demi keegoisan kekuatanmu. Tidurlah dalam damai.”
Dewa Kehampaan menatap mereka satu per satu. Matanya tidak memancarkan amarah. Tidak ada raungan kekecewaan yang mengguncang langit. Hanya ada kesunyian yang dalam. Ia melihat pengkhianatan itu bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai sebuah kesimpulan logis dari ribuan tahun pengabdian yang sia-sia.
“Jadi ... beginilah akhir dari kepercayaan,” suaranya tenang, mengalun tanpa riak emosi di tengah badai.
Tanpa peringatan, ketiganya bergerak bersamaan. Cahaya pedang yang mampu membelah dimensi, hukum ruang yang memilin kenyataan, dan serangan jiwa yang menargetkan esensi paling dalam meledak menjadi satu titik.
BOMM!
Cahaya putih menyilaukan menelan segalanya. Tubuh Dewa Kehampaan retak seperti porselen mahal. Inti kehidupannya hancur, jiwanya terkoyak menjadi jutaan fragmen.
Namun, di tengah penderitaan yang tak terbayangkan itu, ia justru tertawa. Tawa yang lirih, kering, dan penuh dengan ejekan terhadap takdir yang berusaha mengikatnya.
“Jika dunia ini menginginkan kematianku ...” ia berbisik di antara deru kehancuran, “maka aku akan menelan dunia ini dalam reinkarnasiku.”
Dengan sisa energi terakhir, ia tidak mencoba bertahan. Sebaliknya, ia menghancurkan sisa-sisa inti kehampaan di dalam dadanya secara sengaja.
Tindakan itu memicu sebuah lubang hitam yang tak masuk akal—lorong reinkarnasi terlarang yang hanya ada dalam mitos para dewa kuno.
Kesadarannya tersedot ke dalam pusaran tanpa warna. Ingatannya mulai memudar, kekuatannya tercerai-berai di arus waktu yang liar, dan kegelapan mutlak menyelimuti segalanya.
***
Enam belas tahun kemudian ...
Hujan deras yang turun di kota kecil itu tidak pernah terasa sesedih ini. Langit seolah-olah sedang meratap, mengirimkan ribuan jarum air yang menghantam atap-atap kayu yang rapuh.
Petir menyambar, menerangi wajah seorang wanita yang tengah berjuang di antara hidup dan mati di dalam sebuah gubuk tua.
Oekk ... Oekk ...
Tangisan itu sangat lemah, hampir tenggelam oleh suara guntur.
Seorang bayi laki-laki lahir dengan kulit pucat yang hampir transparan. Ketika ia membuka matanya untuk pertama kali, bidan tua yang menggendongnya tersentak.
Mata bayi itu tidak fokus, namun ada kedalaman yang mengerikan di sana—dingin dan sunyi, seperti menatap dasar jurang yang tak berujung.
Sang bidan bergidik, bahkan hampir menjatuhkan sang bayi karena rasa takut yang tidak rasional.
Setelah melakukan pemeriksaan cepat, bidan itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala ke arah sang ibu.
"Nyonya, anak ini tidak memiliki akar spiritual. Meridiannya sepenuhnya tersumbat sejak lahir. Tubuhnya sangat lemah, mungkin tidak akan bertahan melewati musim dingin pertama."
Di luar gubuk, beberapa tetangga yang berteduh mulai berbisik-bisik jahat.
“Anak pembawa sial. Lihatlah cuaca ini, dia lahir saat langit murka.”
“Tanpa bakat, dia hanya akan menjadi beban bagi klan.”
“Mungkin lebih baik jika dia dibuang saja sebelum malapetaka benar-benar datang.”
Namun, wanita di atas ranjang itu, meski wajahnya pucat pasi karena kehilangan banyak darah, mengulurkan tangannya yang gemetar. Ia memeluk bayi itu erat-erat ke dadanya dan memberikan kehangatan yang tersisa dari tubuhnya yang lelah.
"Aku akan memberinya nama Ye Chenxu," bisiknya dengan suara serak. “Dia anakku. Dia bukan sampah. Dia adalah hidupku.”
Waktu berlalu seperti arus sungai yang tak kenal ampun. Enam belas tahun kemudian, Ye Chenxu tumbuh menjadi pemuda yang sering disebut sebagai sampah di Klan Ye.
Di halaman belakang klan yang becek karena hujan semalam, Ye Chenxu berdiri dengan punggung melengkung. Ia memikul tumpukan kayu bakar yang tingginya hampir melebihi kepalanya sendiri.
Tubuhnya kurus, tulang selangkanya menonjol, dan wajahnya selalu pucat seolah-olah tidak pernah melihat sinar matahari.
Setiap langkahnya adalah perjuangan. Napasnya tersengal, meninggalkan uap putih di udara pagi yang dingin. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan debu kayu.
Rasa sakit menusuk-nusuk paru-parunya, namun matanya tetap menatap tanah, datar dan tanpa harapan.
“Hei, lihat si sampah ini! Masih saja mencoba menjadi berguna?”
Suara tawa mengejek memecah keheningan. Seorang pemuda berpakaian sutra biru, yang merupakan sepupu jauh dari cabang samping klan, berdiri menghalangi jalannya bersama dua pengikutnya.
Ye Chenxu tidak menjawab. Ia mencoba bergeser untuk lewat, namun pemuda itu tidak membiarkannya.
“Kau menghalangi jalanku. Dan kau tahu apa yang aku lakukan pada sampah yang menghalangi jalan?”
DUAKK!!!
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di punggung Ye Chenxu. Tubuh kurusnya terlempar ke depan. Kayu-kayu bakar berserakan di tanah, terendam dalam lumpur.
Wajah Ye Chenxu menghantam tanah yang keras, rasa anyir darah segera memenuhi mulutnya.
“Hahaha! Lihat dia, seperti anjing yang merangkak di lumpur!” pemuda itu tertawa terbahak-bahak, sementara murid-murid lain yang lewat hanya melirik sekilas dengan tatapan meremehkan.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭