Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu terasa melelahkan
Pagi datang dengan cahaya matahari yang menelusup melalui celah jendela apartemen.
Arka sudah duduk di meja makan ketika Lara keluar dari kamarnya. Rambutnya masih sedikit lembap, wajahnya segar tanpa riasan berlebih. Ia mengenakan rok selutut, kaos yang pas di badan, dipadukan dengan outer kemeja oversize yang lengannya digulung asal, serta sepatu sneaker putih kesayangannya.
Sederhana.
Tapi entah kenapa terlihat—menggemaskan.
Arka melirik sekilas, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke ponselnya. Seolah yang baru saja ia lihat tidak berarti apa-apa.
“Pagi,” sapa Lara ceria.
“Pagi,” jawab Arka singkat.
Di meja makan sudah tersedia dua porsi roti sandwich yang tersusun rapi, lengkap dengan segelas susu dan buah potong. Lara langsung duduk dan meraih sandwich-nya.
“Paman yang bikin ini?” tanyanya sambil menggigit roti.
“Iya.”
“Rajin banget,” puji Lara tulus. “Aku kalau pagi biasanya cuma minum air.”
“Itu bukan sarapan.”
“Tapi aku masih hidup sampai sekarang.”
Arka mendengus kecil. “Keajaiban.”
Lara terkekeh, lalu makan dengan lahap. Arka memperhatikannya tanpa sadar—cara Lara duduk sedikit menyamping, cara kakinya bergoyang kecil di bawah meja, cara matanya berbinar hanya karena roti isi telur dan selada.
Dia selalu begini, pikir Arka. Membuat hal sederhana terasa ramai.
Setelah sarapan, Lara berdiri lebih dulu. Ia meraih tasnya yang sudah siap di dekat pintu.
“Aku berangkat dulu, ya.”
Arka mengangguk. Ia sebenarnya ingin berkata sesuatu. Ingin menawarkan pergi bersama—kantor pusat searah dengan kampus Lara. Pagi ini tidak ada rapat terlalu pagi. Ia bisa mengantar.
Namun sebelum kata itu sempat keluar—
“Dadah!”
Lara sudah nyelonong keluar, pintu tertutup dengan bunyi pelan.
Arka hanya bisa terdiam.
Ia menatap kursi kosong di seberang meja, lalu menghela napas pendek. Ada perasaan aneh yang tertinggal—sesuatu yang tidak sempat ia sampaikan.
Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu melirik jam tangan.
Besok, pikirnya. Mungkin besok.
Namun entah kenapa, ia tahu—hal-hal kecil seperti ini akan terus terjadi. Kesempatan yang lewat begitu saja. Jarak yang tercipta bukan karena jauh, tapi karena ragu.
Kali ini Lara tidak terlambat.
Tidak ada ban kempes. Tidak ada kejadian mengenaskan di jalan. Taksi online melaju mulus dan menurunkannya tepat waktu di depan gedung fakultas.
Lara memasuki kelas dengan napas tenang dan perasaan ringan.
Ia duduk rapi, membuka buku catatan, dan mengikuti pelajaran dengan serius. Meski dikenal manja dan ceria, Lara tidak pernah main-main soal pendidikan. Ia ingin melakukan yang terbaik—untuk dirinya sendiri, dan mungkin juga untuk membuktikan bahwa ia tidak sekadar “anak orang kaya”.
Materi hari itu cukup berat. Lara mengernyitkan dahi, mencatat cepat, dan sesekali menggigit ujung pulpen.
Beberapa puluh menit kemudian, suasana kelas terasa tegang. Lara menghela napas kecil dan memutar lehernya ke kiri… lalu ke kanan.
Dan tanpa sengaja—
Tatapan mereka bertemu.
Axel duduk di seberang ruangan. Matanya sudah tertuju ke arah Lara entah sejak kapan. Saat mata mereka bertabrakan, Lara sempat terdiam sesaat, lalu refleks tersenyum.
Senyum kecil. Jujur. Dan hangat.
Axel membeku.
Ia tidak sempat mengalihkan pandangan. Tidak sempat pura-pura sibuk. Senyum itu terlalu tiba-tiba—dan entah kenapa, membuat dadanya terasa aneh.
Ia hanya bisa membalas dengan anggukan kecil yang nyaris kaku.
Kenapa dia senyum begitu sih…
Setelah kelas usai, mereka kembali berjalan bersama ke kantin. Kali ini lebih santai. Tidak ada kecanggungan seperti sebelumnya.
Lara membuka tasnya dan mengeluarkan sapu tangan yang sudah terlipat rapi.
“Ini,” katanya sambil menyodorkannya. “Maaf baru ngasih. Aku sudah cuci. Sama… aku semprot parfum dikit.”
Axel menerimanya. Ia mengangkat sapu tangan itu ke hidung, mencium samar aroma bersih bercampur wangi lembut yang tidak asing.
“Parfummu?” tanyanya.
Lara mengangguk. “Iya. Kalau nggak suka, maaf ya."
Axel tersenyum. “Suka kok.”
Kata itu keluar terlalu cepat, tapi ia tidak menariknya kembali.
Mereka duduk. Mengobrol ringan. Tentang kelas. Tentang kampus. Tentang hal-hal sepele yang terasa nyaman.
Lalu Axel berkata, seolah baru teringat sesuatu, “Eh… kita belum tukeran nomor, ya.”
“Oh.” Lara tertawa kecil. “Iya juga.”
Mereka mengeluarkan ponsel hampir bersamaan. Lara menyebutkan nomornya, Axel mengetik dengan fokus. Giliran Axel menyebutkan nomornya, Lara mengetik sambil sesekali mengangguk.
“Nama kontak?” tanya Lara.
“Axel.”
“Cuma itu?”
“Kalau kamu mau nambahin, silakan.”
Lara tersenyum. “Nanti.”
Dan di antara bunyi notifikasi kecil itu, satu hal menjadi jelas—hubungan yang awalnya hanya kebetulan, kini mulai menemukan jalannya sendiri.
Ponsel Axel tiba-tiba bergetar di atas meja.
Axel melirik layar—alisnya langsung mengerut.
Papa.
Ia menghembuskan napas pelan sebelum mengangkat panggilan itu.
“Iya, Pa.”
Lara tidak berniat menguping, tapi suara Axel sedikit lebih tegang dari sebelumnya.
“Aku ingat,” jawab Axel singkat. “Iya… aku tahu.”
Ia memejamkan mata sesaat. “Nanti saja kita bahas.”
Panggilan itu ditutup lebih cepat dari biasanya.
Axel menatap ponselnya sebentar, lalu menyimpannya ke saku jaket. Ekspresinya berubah—tidak lagi santai seperti tadi.
Lara memperhatikannya. “Kenapa?” tanyanya hati-hati.
Axel tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Urusan rumah.”
Nada itu terlalu ringan untuk sebuah jawaban yang jujur, dan Lara tahu. Namun ia memilih tidak memaksa.
“Oh,” katanya singkat. “Kalau gitu…”
Bel masuk berbunyi, memotong percakapan mereka. Keduanya berdiri dan kembali ke kelas masing-masing.
Pelajaran terakhir berlangsung lebih cepat dari yang Lara kira. Saat kelas usai, Axel sudah menunggunya di koridor.
“Habis ini kamu langsung pulang?” tanyanya.
Lara menggeleng. “Aku mau ke mall dulu. Ke toko fancy langgananku.”
“Sendirian?”
“Iya. Biasanya juga gitu.”
Axel berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku temenin.”
Lara terdiam.
Ada keraguan kecil di dadanya. Bukan karena Axel membuatnya tidak nyaman—justru sebaliknya. Terlalu nyaman.
Ia punya teman perempuan. Banyak. Tapi bersama Axel, rasanya berbeda. Tidak ada tuntutan. Tidak ada kepentingan. Axel tidak terlihat ingin pamer, tidak juga ingin memikat. Ia hanya… hadir begitu saja.
“Tapi kamu nggak keberatan?” tanya Lara.
Axel mengangkat bahu. “Kenapa harus keberatan?”
Lara tersenyum kecil. Karena sejauh ini… rasanya aman.
“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Ayo.”
Dan tanpa mereka sadari, keputusan sederhana itu akan membawa mereka ke dalam rangkaian peristiwa yang jauh dari kata sederhana.
Sementara itu, di lantai atas gedung perusahaan pusat—
Arka duduk di balik meja kerjanya dengan punggung sedikit bersandar. Jasnya masih rapi, dasinya sudah dilepas, kancing atas kemeja dibuka satu. Wajahnya terlihat lelah, tapi kelelahan itu sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.
Layar laptop di depannya penuh angka dan laporan. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, menandatangani dokumen digital, membalas surel, memeriksa grafik yang seolah tidak ada habisnya.
Seharian penuh. Tanpa jeda.
Arka berhenti mengetik.
Entah kenapa, pikirannya teralihkan.
Ia melirik jam di sudut layar. Sudah lewat jam pulang kampus.
Tangannya refleks meraih ponsel di samping laptop.
Tidak ada notifikasi.
Arka mengernyit. Ia membuka aplikasi pesan, menatap satu nama yang baru tersimpan pagi ini.
Keylara.
Jarinya melayang di atas layar beberapa detik sebelum akhirnya mengetik:
Sudah pulang? Pesan terkirim.
Satu menit berlalu. Dua menit. Lima menit.
Arka kembali mengetik beberapa baris laporan, tapi perhatiannya tidak sepenuhnya di sana. Matanya kembali melirik ponsel.
Sepuluh menit. Belum dibaca.
Ia bersandar lebih dalam ke kursinya, menghela napas pelan. Ada dorongan kecil untuk menekan tombol telepon. Hanya satu panggilan. Sekadar memastikan.
Namun jarinya berhenti.
Terlalu berlebihan, pikirnya.
Dia bukan anak kecil lagi.
Arka meletakkan ponsel kembali ke meja, berusaha fokus. Tapi layar laptop kini terasa lebih buram dari biasanya. Angka-angka tidak lagi tertangkap jelas.
Beberapa menit kemudian, ia kembali melirik ponselnya.
Masih sunyi.
Arka mengusap wajahnya pelan, lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati jendela besar ruangannya. Jakarta terlihat sibuk dari ketinggian—lampu mulai menyala, kendaraan bergerak tanpa henti.
Di antara keramaian itu, satu sosok kecil terus mengusik pikirannya.
Ia tidak menelepon. Ia tidak mengirim pesan lagi. Arka hanya menunggu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa asing—
Menunggu seseorang…
ternyata jauh lebih melelahkan daripada bekerja seharian.