NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Jakarta, Debu, dan Darah Lama

​Langit Jakarta menggantung rendah, berwarna abu-abu kusam akibat polusi dan mendung yang tak kunjung pecah. Aroma udara yang lembap, bau asap knalpot, dan siri masakan pinggir jalan menyambut Aruna begitu ia melangkah keluar dari terminal kedatangan jet pribadi di Bandara Halim Perdanakusuma.

​Sudah hampir sepuluh tahun sejak ia meninggalkan tanah ini sebagai tawanan. Kini, ia kembali bukan sebagai gadis yatim piatu yang ketakutan, melainkan sebagai seorang wanita yang membawa nama paling ditakuti di Eropa.

​"Identitas kalian sudah aktif," bisik Marco yang berjalan di belakang mereka. Penampilannya kini lebih mirip seorang konsultan bisnis internasional daripada seorang algojo. "Tuan Dante adalah Mr. Victor Thorne, investor properti. Nona Aruna adalah istrinya, Elena. Dan Tuan Muda Leonardo adalah putra kalian."

​Leonardo, yang memakai hoodie hitam dan headphone di lehernya, menatap sekeliling dengan mata tajam. Ia tidak tampak seperti turis. Ia mengamati posisi kamera CCTV, jumlah petugas keamanan, dan jarak antara pintu keluar dengan mobil yang menunggu.

​"Panas sekali di sini," komentar Leonardo pendek.

​"Ini adalah panas yang akan membuatmu tetap waspada, Leo," sahut Dante sambil mengenakan kacamata hitamnya. Sebuah mobil Alphard hitam dengan kaca antipeluru sudah menunggu di depan lobi.

​Mereka tidak langsung menuju panti asuhan. Dante memilih sebuah rumah aman di kawasan Menteng yang disamarkan sebagai kantor firma hukum. Di dalam ruangan yang kedap suara dan penuh dengan peralatan penyadap, mereka mulai membedah informasi tentang Nadia.

​"Panti Asuhan Kasih Bunda di Depok," Marco membentangkan peta digital di layar besar. "Nadia dikirim ke sana lima tahun lalu setelah ibunya—wanita bernama Sari—meninggal karena sakit. Tidak ada yang tahu siapa ayahnya. Di catatan panti, dia hanya tercatat sebagai anak tanpa wali."

​Aruna menatap foto Nadia di layar. Gadis kecil itu tampak kurus, namun matanya memiliki kilatan yang sama dengan matanya. "Bagaimana dengan satelit The Consortium?"

​"Mereka sudah ada di sana, Nona," suara Marco berubah berat. "Kami mendeteksi dua unit tim bayaran yang menyewa rumah di seberang panti asuhan tersebut sejak empat puluh delapan jam yang lalu. Mereka sedang menunggu sinyal aktivasi penuh dari sistem Adrian."

​"Kenapa mereka menunggu?" tanya Aruna.

​Dante yang sedang merakit senjatanya di pojok ruangan menjawab tanpa menoleh. "Karena mereka tahu sistemnya, Aruna. Bintang di kaki Nadia tidak akan bisa dipindai secara sempurna jika 'Katalisnya' tidak ada di dekatnya. Mereka menunggu kita muncul. Mereka membiarkan Nadia sebagai umpan agar Kunci Pertama—yaitu kau—mendekat."

​Aruna mengepalkan tinjunya. "Jadi, jika aku masuk ke panti itu, aku justru mengaktifkan bahaya bagi Nadia?"

​"Secara teknis, ya. Begitu kau berada dalam radius lima puluh meter dari Nadia, frekuensi biometrik kalian akan beresonansi. Data di server bayangan akan mulai mengalir turun ke chip di liontinmu. Saat itulah, mereka akan menyerang untuk mengambil kalian berdua sekaligus," jelas Dante.

​"Lalu apa rencananya?" Aruna menatap Dante. "Kita tidak bisa membiarkannya di sana."

​Dante berdiri, ia memeriksa magasin pelurunya. "Kita akan melakukan Extract and Erase. Marco akan memimpin tim pengalih perhatian di depan panti. Aku dan kau akan masuk melalui jalur belakang. Leonardo tetap di mobil dengan dua pengawal terbaik."

​"Aku tidak mau di mobil!" protes Leonardo.

​"Leo," suara Dante merendah, penuh otoritas. "Di mobil, kau adalah garis pertahanan terakhir kami. Jika terjadi sesuatu di dalam, kau adalah satu-satunya yang bisa memicu protokol evakuasi. Kau mengerti?"

​Leonardo menggertakkan gigi, namun akhirnya mengangguk. "Ya, Papa."

​Pukul dua pagi. Hujan mulai turun membasahi jalanan Depok yang sempit dan berlubang. Mobil Alphard hitam itu berhenti satu blok dari panti asuhan.

​Aruna merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia meraba pergelangan tangannya. Kosong. Namun, saat mereka mulai berjalan mendekati pagar panti, ia merasakan sensasi aneh. Sebuah denyut halus mulai muncul di telapak tangannya. Bukan tanda melati yang lama, melainkan sebuah getaran frekuensi tinggi yang membuat bulu kuduknya berdiri.

​"Dia dekat," bisik Aruna. "Aku bisa merasakannya."

​"Resonansi dimulai," Dante memeriksa alat pemindai di pergelangan tangannya. "Sinyal satelit mulai mengunci koordinat kita. Kita punya waktu tujuh menit sebelum tim Konsorsium menyadari bahwa kita bukan sekadar pengamat."

​Mereka melompati pagar belakang panti yang penuh dengan tanaman merambat. Suasana di dalam panti sangat sunyi, hanya terdengar suara rintik hujan di atap seng. Dengan bantuan kacamata night vision, Dante memandu Aruna menyusuri lorong asrama anak-anak.

​Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu tua dengan stiker bunga matahari yang sudah pudar.

​"Kamar nomor tujuh," bisik Dante.

​Aruna membuka pintu itu perlahan. Di dalam ruangan sempit dengan tiga tempat tidur tingkat, ia melihat seorang anak perempuan kecil sedang meringkuk di bawah selimut tipis.

​Aruna mendekat. Saat jaraknya hanya tinggal satu meter, pergelangan tangan Aruna mengeluarkan cahaya perak yang redup namun jelas—sebuah sisa residu biometrik yang bereaksi dengan kehadiran Nadia. Di saat yang sama, telapak kaki Nadia yang menyembul dari balik selimut mulai bersinar merah.

​Nadia terbangun. Ia menatap Aruna dengan mata besar yang penuh ketakutan.

​"Sstt... jangan takut," bisik Aruna dalam bahasa Indonesia, suaranya bergetar karena emosi. "Aku kakakmu. Aku di sini untuk membawamu pulang."

​Nadia tidak berteriak. Ia menatap wajah Aruna, lalu menatap liontin melati yang tergantung di leher Aruna. "Kakak... Melati?"

​Aruna tertegun. "Kau tahu nama itu?"

​"Ibu bilang... suatu hari Kak Melati akan datang menjemput kalau bintang di kakiku mulai panas," suara Nadia kecil dan parau.

​Aruna segera memeluk Nadia. Rasanya begitu nyata. Begitu emosional. Ia merasa seolah-olah sedang memeluk dirinya sendiri versi kecil. Namun, momen itu hancur ketika suara tembakan pecah di depan panti.

​DOR! DOR! DOR!

​"Mereka bergerak!" teriak Dante melalui radio. "Aruna, bawa dia keluar! Sekarang!"

​Dante berdiri di depan pintu kamar, melepaskan tembakan ke arah lorong saat dua pria berseragam hitam muncul dari kegelapan.

​"Ayo, Nadia! Pegang tangan Kakak!" Aruna menggendong Nadia.

​Mereka berlari melalui koridor yang kini dipenuhi debu dari rontokan plafon akibat peluru. Di luar, suara ledakan granat cahaya membutakan pandangan. Aruna terus berlari, tidak peduli pada rasa perih di kakinya akibat pecahan kaca.

​Saat mereka mencapai halaman belakang, sebuah helikopter tanpa lampu melayang rendah di atas mereka. Cahaya lampu sorot yang sangat kuat tiba-tiba mengunci posisi mereka.

​"Dante! Di atas!" teriak Aruna.

​"Lari ke mobil! Marco sudah membuka jalan!" Dante membalas tembakan ke arah helikopter, mencoba mengalihkan perhatian penembak runduk di atas sana.

​Aruna berlari menembus hujan, mendekap Nadia seerat mungkin. Nadia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aruna. Di saat itulah, resonansi biometrik mencapai puncaknya. Chip di liontin Aruna mulai mengunduh data dengan kecepatan luar biasa.

​"Data Recovery: 40%... 60%..." suara robotik terdengar dari liontin itu.

​"Aruna! Buang liontin itu!" teriak Dante.

​"Tidak bisa! Jika prosesnya terputus sekarang, sistem akan memicu thermal overload di kaki Nadia! Dia bisa cacat!" Aruna terus berlari menuju Alphard yang sudah menunggu dengan pintu terbuka.

​Leonardo berdiri di ambang pintu mobil, memegang sebuah alat pengacau sinyal (jammer) yang diberikan Marco. "Mama! Cepat masuk!"

​Begitu Aruna dan Nadia melompat masuk, Leonardo langsung menekan tombol maksimal pada alat pengacaunya. Sinyal satelit terputus seketika. Lampu sorot dari helikopter kehilangan jejak mereka.

​Dante melompat masuk terakhir, tepat saat mobil itu tancap gas meninggalkan panti yang kini terbakar.

​Di dalam mobil yang melaju kencang menuju pelabuhan Tanjung Priok, suasana sangat tegang. Nadia gemetar di pelukan Aruna. Leonardo menatap adik tirinya itu dengan rasa ingin tahu yang besar.

​"Jadi dia kuncinya?" tanya Leonardo.

​Aruna mengangguk, ia mengusap rambut Nadia yang basah. "Dia adikku, Leo. Dan mulai sekarang, dia adalah bagian dari keluarga kita."

​Dante memeriksa luka di lengannya, lalu menatap Aruna. "Proses unduhannya berhenti di delapan puluh persen karena jammer Leo. Itu artinya data Valerius belum pulih sepenuhnya, tapi Konsorsium sekarang punya alasan lebih kuat untuk mengejar kita. Kita sudah memegang separuh dari 'nyawa' mereka."

​Aruna menatap pergelangan tangannya, lalu telapak kaki Nadia. Cahaya merah di kaki Nadia mulai meredup, namun meninggalkan bekas luka bakar kecil berbentuk bintang.

​"Ayah tidak hanya ingin data itu kembali, Dante," ujar Aruna dengan suara yang lebih dingin dari biasanya. "Dia ingin aku dan Nadia menjadi satu sistem yang tak terpisahkan. Dia ingin memastikan bahwa aku tidak akan pernah bisa meninggalkan dunia ini, karena nyawa adikku kini terikat pada keberadaanku."

​Dante menggenggam tangan Aruna. "Kita akan mencari cara untuk menghapusnya, Aruna. Kali ini kita tidak sendiri. Kita punya Marco, kita punya kekuatan yang lebih besar, dan kita punya satu sama lain."

​"Ke mana kita sekarang?" tanya Leonardo.

​"Singapura terlalu berisiko. Yunani sudah terendus," Dante menatap ke arah pelabuhan yang mulai terlihat di cakrawala. "Kita akan pergi ke tempat di mana ayahmu dulu menyimpan rahasia paling gelapnya. Kita pergi ke pedalaman Kalimantan. Di sana ada fasilitas lama Adrian yang tidak ada dalam catatan digital siapa pun."

​Aruna menatap Nadia yang mulai tertidur karena kelelahan.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!