" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngga ngapa-ngapain
Setelah melewati perjalanan udara yang tenang di First Class di mana Nana benar-benar menikmati setiap fasilitasnya hingga kenyang akhirnya mereka menginjakkan kaki kembali di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Abian melirik jam tangannya yang mewah, lalu menatap Nana dengan serius. "Haruna, terima kasih untuk kerjamu di Bali. Tapi ingat, pekerjaan kita belum selesai. Banyak laporan yang harus kamu rapihkan."
Nana hanya mengangguk lemas sambil memeluk tas rotan oleh-olehnya.
"Satu lagi," tambah Abian dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.
"Besok jangan terlambat. Saya mau semua berkas hasil pertemuan kemarin sudah ada di meja saya pagi-pagi sekali."
Nana menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah Abian dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan antara ingin tertawa atau merasa kasihan pada bosnya yang sepertinya sudah kehilangan konsep waktu.
Nana berdehem pelan, lalu berkata dengan nada santai, "FYI, besok itu hari Minggu, Pak."
Abian langsung terdiam. Kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu perlahan kembali melirik jam tangannya, kali ini fokus pada bagian tanggal.
"Minggu?" gumam Abian pelan, mencoba memastikan.
"Iya, Pak. Hari libur sedunia," lanjut Nana dengan senyum penuh kemenangan.
"Masa Bapak mau saya masuk kantor di hari Minggu? Bapak mau kasih saya lemburan tiga kali lipat atau Bapak memang sudah sangat kangen ingin melihat muka saya lagi besok pagi?"
"Maksud saya... besok lusa. Hari Senin. Jangan terlalu percaya diri, Haruna."
"Halah, bilang saja Bapak sudah terbiasa ada saya di samping Bapak selama tiga hari ini sampai lupa kalau besok kita harus libur dulu," goda Nana sambil tertawa kecil.
Abian memalingkan wajahnya ke arah lain, pura-pura mencari mobil jemputan yang belum terlihat. "Jangan banyak bicara. Cepat masuk ke mobil, jemputan kamu sudah sampai. Sampai bertemu hari Senin... pagi-pagi sekali."
Nana melambaikan tangan dengan riang sambil masuk ke mobil taksi online yang sudah ia pesan. "Selamat istirahat, Pak Bos Jomblu! Jangan mimpiin saya ya!"
......................
Abian melangkah masuk ke rumah orang tuanya dengan langkah yang agak berat. Bukannya kembali ke apartemennya yang sepi di pusat Jakarta, entah kenapa kakinya justru menuntunnya pulang ke rumah keluarga.
"Sudah pulang, Bi?" tanya Mommy Lauren dari arah ruang makan. Ia sedang menata beberapa bunga di dalam vas.
Abian meletakkan kunci mobilnya di atas meja dengan bunyi denting yang khas. "Sudah, Mom," jawabnya pendek.
"Loh, Mommy nggak lihat kamu di sini. Tiba-tiba sudah muncul saja."
Abian mendengus pelan sambil mendekat untuk mencium pipi ibunya. "Mommy nggak lihat aku di sini? Terus yang tadi tanya sudah pulang bi itu siapa kalau bukan buat aku?"
Mommy Lauren tertawa kecil, menepuk lengan Abian. "Ya lihat, tapi kan Mommy kaget. Biasanya kamu langsung mengurung diri di apartemen kalau habis dari luar kota. Kok tumben malah mampir ke sini?"
Abian hanya mengangkat bahu, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Matanya kemudian mengedar ke sekeliling ruangan yang terasa sepi.
"Karel mana, Mom?" tanya Abian lagi.
Mommy Lauren meletakkan gelasnya. "Mereka udah pulang lah, Bi. Baru saja. Davin sama Davina tadi mampir ke sini bawa Karel, tapi karena kamu nggak kunjung sampai, mereka ya pulang ke rumah mereka sendiri. Kasihan Karel sudah jam tidurnya."
Abian terdiam sejenak. Ada rasa sedikit kecewa karena tidak sempat melihat keponakannya yang menggemaskan itu
"Yah... padahal aku mau kasih sesuatu buat Karel," gumam Abian pelan.
Abian baru saja hendak melangkah menuju tangga saat suara Mommy Lauren kembali menghentikannya.
"Bi, tunggu sebentar," panggil Mommy Lauren.
Abian berhenti dan menoleh. "Apa lagi, Mom? Aku capek, mau mandi."
Mommy Lauren berjalan mendekat, melipat tangannya di dada sambil menatap Abian lurus-lurus. "Kamu nggak ngapa-ngapain asisten kamu itu kan pas di Bali?"
Abian hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia membelalak, tidak percaya ibunya bisa melontarkan pertanyaan sefrontal itu.
"Mom! Pertanyaan macam apa itu? Aku di sana kerja, bukan lagi syuting film romance."
"Ya siapa tahu," goda Mommy Lauren dengan senyum penuh arti.
"Mommy kenal kamu, Abian. Kamu itu kaku kalau sama perempuan, tapi asisten yang satu ini... siapa namanya? Nana? Dia kelihatannya beda. Kamu bahkan sampai rela nambah hari di sana gara-gara masalah tiket. Apa benar tiketnya habis, atau kamu yang sengaja menghabiskan waktu sama dia?"
"Mom, fyi ya, yang salah itu Nana. Dia yang teledor pesan tiket," bela Abian dengan wajah yang mulai memanas
"Dan aku nggak ngapa-ngapain dia. Malah aku yang menderita."
"Baguslah, Tapi ingat ya Bi, Nana itu anak baik-baik. Jangan kamu galakin terus, nanti kalau dia resign baru tahu rasa kamu."
"Dia nggak akan resign, Mom. Gajinya saya pegang," jawab Abian asal sambil melanjutkan langkahnya ke atas.
"Oalah, Abian... Abian. Awas ya, jangan sampai nanti Mommy dengar kabar kamu malah apa-apa sama dia karena terlanjur nyaman!" teriak Mommy Lauren lagi dari lantai bawah.
Abian tidak menjawab, ia segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
"Ngapa-ngapain? Yang ada dia yang bikin aku darah tinggi terus," gumamnya.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama