“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga Sejak Kecil
...“Kita tetangga. Sejak kecil.” — Eleanore Moreau...
Sejak ditolak mentah-mentah oleh Elios, Lea tak pernah lagi memaksakan perasaannya. Hubungan mereka mendadak renggang. Sarapan, makan siang dan makan malam yang biasanya bersama, kini sudah tak lagi menjadi rutinitas bersama.
Alasannya hanya satu. Elios sibuk dengan tugasnya di luar sana.
Mereka bertemu hanya saat berpapasan tanpa sengaja. Dan setiap kali Elios ingin menyapa Lea, gadis itu selalu memalingkan wajahnya—bahkan kerap kali Lea berpura-pura tak tahu dengan kehadiran Elios.
Malam itu, Elios mengetuk pintu kamar Lea.
“Lea... boleh aku masuk?” Elios memutar gagang pintu. Tapi tertahan—karena dikunci.
Tidak seperti biasa. Sudah hampir sebulan seperti itu. Elios hanya bisa menarik nafas dalam, lalu ia berlalu pergi meninggalkan kamar Lea.
Saat di taman, ia menyalakan rokoknya, lalu mengetik sebuah pesan pada Lea. “Sudah tidur?” Meskipun ia tahu, pesan kali ini juga tak akan dibalas oleh gadis itu.
Jempolnya mengulir layar ponsel—melihat kembali puluhan pesan-pesan yang ia kirimkan dan tak pernah dibalas selama sebulan terakhir.
Sementara Lea... gadis itu berbaring di atas ranjang dengan kegalauan yang tak bisa ia hindari. Ucapan Elios saat itu terus menerus bermain di kepalanya.
“Sampai kapanpun, aku tak akan pernah mengubah perasaan ini.”
Lea tertawa getir. “Sabar Lea... malam ini adalah malam terakhir bertemu dengannya.”
Keesokan harinya, Lea berpamitan dengan Martin. Ia bersiap sedia menuju ke kampus. Hari pertamanya di antarkan oleh Andrew.
“Kau yakin?” tanya Martin memastikan. Pasalnya, sepulang dari kampus nanti... Lea sudah tak lagi pulang ke Residence De Geulle. Tapi ke apartemen yang sudah ia sediakan untuk cucunya.
“Iya, Kakek. Tenang saja, aku bisa jaga diri.”
Martin menghela nafas—mencoba menenangkan perasaannya. “Baiklah. Semua kebutuhanmu sudah ada di sana. Dan sisanya, pagi ini akan dibereskan oleh Andrew.”
“Thank you, Kakek. Hanya kau yang paling memahamiku.”
Sebelum meninggalkan Residence De Geulle, mata Lea sempat berkeliling sesaat. Ia mencari sosok yang tak nampak di ujung matanya—Elios Leopold. Tapi gengsi mengalahkan segalanya. Dan pagi itu... ia pergi tanpa bertemu dengan cinta pertamanya.
“Elios... kupastikan kau menyesal,” batin Lea bertekad.
Saat di kampus, tepatnya hari pertama Lea sebagai mahasiswa, ia duduk di kursi baris tengah. Tangannya terasa dingin dan membeku. Rasanya begitu canggung melihat ruangan itu ramai, tapi ia merasa sendiri. Pasalnya, selama ini Elios selalu menjadi segalanya untuknya, sampai-sampai ia lupa seperti apa rasanya bersosialisasi.
Namun kini... ia harus melakukannya sendiri. Tanpa Elios.
Di depannya ada dua orang gadis yang sedang bercakap-cakap santai diselingi tawa ringan. Pikir Lea, mereka terlihat seperti sudah berteman lama.
Lea menelan ludah. “Aku harus mulai dari mana?” pikirnya sambil mencari-cari cara untuk membuka pembicaraan.
Ia menarik napas pelan, lalu sedikit condong ke depan, bersiap menyapa. Saat ia ingin membuka mulutnya, bersiap-siap ingin memanggil dua orang gadis di depannya. Tiba-tiba...
“Apa kursi ini kosong?”
Suara pria itu membuat tubuh Lea menegang. Bukan karena takut—tapi karena ia terkejut dan belum siap. Ia pun mendongak ke arah pria yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kursi kosong yang ada di dekatnya.
Seorang pria berambut coklat muda dengan mata biru. Ia sedang menyandang tas selempang dengan santai. Pria itu tersenyum ringan ke arahnya. Senyum yang mempesona—meskipun ia yakin, tak ada yang mampu mengalahkan pesona Elios yang ia suka.
“Oh... ya. Kosong,” jawab Lea dengan nada sedikit kaku.
Pria itu mengangguk kecil. “Terima kasih.” Ia mulai menurunkan tasnya ke kursi kosong di sebelah Lea.
Tapi... tepat sebelum tas itu menyentuh kursi, tiba-tiba ada sebuah tas lain yang jatuh lebih dulu—menempati kursi itu dengan sengaja.
“Ini kursiku.” Suara yang rendah, datar dan tanpa emosi.
Tanpa menolehpun... Lea tahu suara siapa itu. Seketika tubuhnya membeku. Aroma maskulin yang tak asing mendadak mengusik indra penciumannya.
Elios Leopold. Cinta pertama yang tak pernah bisa ia sentuh.
Pria itu tiba-tiba duduk tanpa izin, dan tanpa menatap siapa pun. Seolah-olah kursi itu memang miliknya sejak awal.
Hal tersebut membuat pria tadi terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis. “Oh. Maaf. Saya kira kosong.”
Elios akhirnya menoleh. Mata elangnya terlihat tidak ramah, tapi juga tidak marah. Hanya saja, ia sedang memperingatkan pria itu untuk tidak mendekati permata berharga miliknya. “Sekarang tidak kosong.”
Udara di antara Elios dan pria itu mendadak berubah. Sampai-sampai Lea bisa merasakan dua gadis di depannya ikut menoleh ke belakang. Suasana yang tadinya ringan, kini mendadak menjadi kaku.
“Di sebelahku masih kosong,” ucap salah satu gadis, mencoba mencairkan suasana.
Pria itu mengangguk pelan. “Terima kasih.” Lalu ia pun duduk tepat di depan Lea—membelakanginya.
“Anyway,” gadis berambut pendek sebahu itu tersenyum pada Lea, mencoba mengembalikan suasana sambil mengarahkan tangannya kepada Lea. “Aku Jodie.”
Lea hampir lupa rasanya bernapas. Tapi ia tak mau terlihat aneh. Terlepas dari rasa terkejutnya karena kehadiran Elios yang belum terpecahkan, ia lebih memilih untuk memanfaatkan kesempatan untuk berkenalan dengan Jodie. Ia meraih tangan gadis berambut pendek itu sambil tersenyum. “Lea.”
“Aku Kezia,” ucap Kezia—teman Jodie.
“Lea.”
Pria tadi ikut menoleh ke belakang—tak ingin kehilangan kesempatan. Ia juga ikut menyodorkan tangannya. “Brian.”
Lea hampir saja menjabat tangan itu. Tapi ternyata Elios tak kalah cepat menyambar tangan Brian. Ia menggenggam tangan Brian dengan tekanan yang terlalu kuat untuk disebut santai. “Elios.”
Brian menaikkan alisnya sesaat. Tapi tidak langsung melepaskan genggaman tangannya dengan Elios. “Senang berkenalan.” Ia menatap Elios dengan penuh tanda tanya.
“Apa kalian saling kenal?” imbuhnya penasaran.
Lea merasa saat ini ia sedang berada di puncak tertinggi roller coaster sebelum wahana itu ingin terjun bebas ke bawah. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Ia takut jika teman yang baru ia kenal itu tahu siapa sebenarnya Elios.
Elios membuka mulut.
“Ki—kita tetangga,” Lea memotong cepat sebelum Elios bersuara. Suaranya terlalu cepat untuk terdengar alami. “Sejak kecil.”
Tiba-tiba suasana mendadak hening selama beberapa detik.
Lea tahu, mata elang Elios sedang meliriknya, tapi yang paling penting saat ini adalah... tiga orang teman barunya tidak tahu siapa Elios sebenarnya. Bisa-bisa tak ada yang mau berteman dengannya jika tahu siapa identitas asli Elios.
Dan tepat saat Elios hendak bersuara... pintu kelas terbuka dengan sebuah suara langkah berat yang penuh wibawa. Dosen masuk. Saat itu juga obrolan antara mereka terputus. Brian, Jodie dan Kayla kembali memutar badan menghadap kedepan. Sementara Lea, ia langsung menoleh ke samping—ke arah Elios.
Lea mendekatkan tubuhnya ke arah Elios, kemudian ia berbisik dengan nada penuh penekanan. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Sama sepertimu.”
“Hah? Untuk apa kau mengikutiku?”
“Menjagamu.”
...****************...
Bersambung....
EL jika kamu bicara. baik2 dg Martin pastinya Martin akan mempertimbangkan niat baik kamu. jangan berpikir pendek dulu ok