"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Terjaga
Lampu-lampu kota Jakarta berpijar layaknya permata yang berserakan di atas aspal basah. Bagi Ameera Nafeeza, dunia adalah panggung kemewahan yang fana.
Di usianya yang ke-20, ia memiliki segalanya, kecuali satu, ketenangan
Malam itu, langkah kaki Ameera terhenti ketika melihat seorang pria berjaket kumal merampas paksa sebuah benda persegi dari tangan seorang gadis berkerudung lebar yang menjuntai hingga ke lutut.
"Hei! Berhenti!" teriak Ameera. Keberanian yang entah datang dari mana menuntun kakinya mengejar sang pencopet hingga ke gang sempit. Beruntung, pria itu tersandung, menjatuhkan barang curiannya, dan lari tunggang-langgang ketakutan.
Ameera memungut benda terbungkus kain beludru itu. Dompet yang tebal, pikirnya. Ia segera kembali ke tempat gadis tadi berdiri.
"Hey, ini milikmu," ucap Ameera napasnya terengah, menyodorkan benda itu pada sang gadis yang wajahnya tampak setenang telaga di musim fajar.
Syifa tersenyum, namun tak segera mengambilnya. " Terimakasih Ya. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan hidayah-Nya yang seluas samudera."
"Sama-sama. Tapi ambillah, ini dompetmu, kan?"
Syifa menggeleng lembut, matanya berbinar haru. "Itu bukan dompet. Itu adalah Al-Qur'an, surat cinta dari Sang Khalik untuk hamba-Nya. Dan malam ini, sepertinya Allah ingin Qur'an itu untukmu saja. Simpanlah, biarkan ia menjadi pelita di jalanmu yang gelap."
Ameera tertegun. Jemarinya gemetar. Al-Qur'an? Selama ini, kitab itu hanyalah pajangan berdebu di lemari rumah megahnya. Ia baru tau Al Qur'an Banyak Jenisnya, Ameera mengira kebahagiaan ada pada nominal angka, ternyata gadis di depannya justru melepaskan harta paling berharganya demi sebuah alasan yang tak Ameera pahami.
"Syifa! Kau baik-baik saja?"
Sebuah suara bariton yang berat memecah keheningan. Dari kegelapan muncul seorang pria mengenakan kaos longgar dan celana cargo. Wajahnya tampak khawatir, namun memancarkan wibawa yang tak biasa.
Deg.
Jantung Ameera seolah berhenti berdetak sesaat. Pria di depannya memiliki ketampanan yang sangat sempurna, rahang yang tegas namun sorot mata yang teduh. Namun, saat Ameera menatapnya dengan kekaguman yang terang-terangan, Laki-laki itu justru melakukan hal yang tak terduga.
Ia segera memalingkan wajah dan menundukkan pandangannya, seolah-olah sepatu di kakinya jauh lebih menarik daripada paras cantik Ameera yang dipoles make-up mahal.
"Apakah aku begitu tidak menarik?" batin Ameera perih.
Ada rasa ego yang terluka, namun ada rasa penasaran yang membuncah.
"Alhamdulillah, aku tidak apa-apa, Kak Liam. Gadis baik ini yang menolongku," ujar Syifa mengenalkan mereka.
"Terima kasih sudah menjaga adikku," ucap Liam tetap dengan kepala menunduk, suaranya sedingin es namun selembut sutra.
Ameera membeku.
Malam itu, hembusan angin membawa aroma tanah basah. Ameera masih mematung memegang benda yang ia kira dompet itu. Syifa, dengan senyum yang tak luntur, menyentuh lembut lengan Ameera.
"Kamu terlihat pucat. Mungkin karena syok mengejar pencopet tadi? Mari duduk sebentar di sana, ada bangku taman yang cukup terang," ajak Syifa dengan nada suara yang menenangkan, seolah mereka sudah berteman lama.
Ameera hanya menurut. Ia merasa seperti ditarik masuk ke dalam sebuah frekuensi yang belum pernah ia masuki. Mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon beringin yang dihiasi lampu-lampu kecil.
"Namaku Syifa Azzahra," ujar gadis itu sambil membenahi kerudung panjangnya.
"Dan ini Kakak sepupuku, Liam Al-Gazhi. Dia seorang dokter yang kebetulan sedang menjemput ku."
Liam berdiri beberapa langkah di depan mereka. Ia tidak ikut duduk, namun posisinya seolah menjadi pagar pelindung bagi kedua wanita itu. Ia tetap menunduk, sesekali melihat jam tangannya, namun perhatiannya jelas tertuju pada keamanan Syifa.
"A-Ameera. Ameera Nafeeza," jawab Ameera kaku. Ia merasa sangat kontras. Ia mengenakan blus tanpa lengan dengan polesan make-up yang berani, sementara Syifa tampak begitu teduh dengan kesederhanaannya.
Ameera melirik ke arah Liam. Pria itu tampak sangat maskulin dengan kaos longgar dan celana cargo-nya, namun ada sesuatu yang aneh. Setiap kali Ameera mencoba mencuri pandang untuk memulai percakapan, Liam justru membuang muka. Ia lebih memilih memperhatikan ujung sepatunya atau dedaunan yang jatuh.
"Kenapa dia? Apa aku memang terlihat seperti monster?" batin Ameera kesal sekaligus bingung.
Di lingkungan sosialnya, pria biasanya akan berebut mencari perhatiannya. Namun pria bernama Liam ini seolah-olah menganggap keberadaan Ameera adalah sesuatu yang harus ia hindari dengan sopan.
"Maafkan Kak Liam, Ameera," Syifa seolah bisa membaca pikiran Ameera. "Dia memang begini. Bukan karena sombong, tapi dia sedang berusaha menjalankan prinsipnya sebagai seorang Muslim. Menjaga pandangan adalah cara dia menghormati wanita."
Ameera terdiam. Menghormati dengan cara tidak melihat? Logika itu baru baginya.
"Ini," Ameera menyodorkan kembali benda yang ia pegang. "Ambillah. Aku benar-benar mengira ini dompet karena bentuknya yang tebal dan berat."
Syifa menerima benda berbalut beludru itu, mengelusnya dengan penuh kasih sayang seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. "Ini adalah Al-Qur'an, Ameera. Bagiku, nilainya jauh melampaui seluruh isi dompet di dunia ini."
Syifa kemudian menatap Ameera dalam-dalam, lalu menyodorkannya kembali. "Tapi, tidak ada yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Allah menggerakkan kakimu untuk mengejar pencopet itu, dan Allah membiarkan tanganmu yang memegang kitab ini sekarang. Ambillah, Ameera. Untukmu saja. Mungkin ini cara Allah mengetuk pintumu malam ini."
Ameera merasakan getaran aneh di dadanya. Ia memandang benda itu, lalu beralih memandang Liam yang masih berdiri mematung membelakangi mereka, tetap dengan sikap rendah hatinya.
"Tapi aku... aku tidak tahu cara membacanya," bisik Ameera pelan, hampir tak terdengar karena malu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰